
Dilema Arumi. Setelah Habibi pulang Arum masih duduk di tepi kolam. Perkataan yang disampaikan Habibi masih terngiang di telinganya.
“Mas mau adek terima lamaran mas.”
“Tapi Arum baru kuliah mas.”
“Kuliah sambil nikah gak masalah dek.”
“Tapi Arum takut ganggu kuliah Arum.”
“Mami juga kuliah sambil nikah. Kata mami gak masalah.”
“Ada apa, Siti duduk di sebelah putrinya.” Sambil mengusap pundak sang putri.
Arum mengangkat kepalanya dan melihat sang ibu.
“Ibu. Kapan turun?”
“Waktu calon suami kamu mau pulang.”
Arum menundukkan kepalanya.
“Anak ibu kenapa?”
“Arum bingung Bu.”
“Bingung kenapa?”
“Mas Bibi ngajak Arum nikah.”
“Bagus dong.”
“Kok bagus sih Bu.”
“Ya bagus lah. Ibu gak perlu khawatir lagi kalau kamu dekat dengan nak Habibi.”
“Tapi Arum kuliah Bu. Arum takut, kalau Arum gak bisa cepat tamat.”
“Kenapa gak bisa cepat tamat?”
“Iya, sibuk ngurusin rumah tangga dan terus hamil punya anak.”
“Yang kuliah sampai 7 tahun dan di DO itu rata-rata gak nikah, mereka gak ngurus anak, mereka juga gak kerja. Mereka fokus kuliah. Tapi tamatnya udah semester terakhir.”
Arum diam. Emang bener yang disampaikan ibunya.
“Menurut ibu gimana?”
“Kalau menurut ibu sebaiknya lamarannya jangan di tolak. Ganteng, pintar, baik, keluarganya juga orang-orang hebat. Keluarga mereka sangat baik dan darmawan. Ibu lihat nak Habibi juga rajin sholat. Lagi pula, kalau nanti anak Arum lahir. Bisa ditinggal di sini sama ibu. Adek-adek kamu juga udah pada besar-besar. Kamu cintai sama dia, dan nak Habibi sangat cinta sama Arum, ibu rasa udah gak perlu di pertanyakan. Jadi kenapa gak di terima. Waktu kamu di ruang operasi, ibu kasihan lihat nak Habibi. Ia Tampak begitu hancur. Dia tampak sangat menghawatirkan kamu.”
Arum diam. “Apa gak kecepatan bu?”
“Ya kalau di bilang cepat, emang cepat. Tapi ibu rasa gak masalah. Waktu jaman ibu muda-muda dulu. Teman ibu ada yang nikah umur 13 tahun.”
“Apa Bu 13 tahun?”
“Iya 13 tahun. Gitu dapat haid pertama langsung hamil.”
“Apa masih hidup sampai sekarang Bu?”
__ADS_1
“Iya masih hidup sampai sekarang.”
“Suaminya masih yang itu Bu?”
“Iya masih yang itu. Kalau jalan sama anaknya, seperti jalan sama adeknya. Waktu dia Nikah aja belum haid. Susunya juga masih baru tumbuh.”
“Terus Bu.”
“Untuk pakai baju kebaya ahkad nikah, di sumpel pakai sapu tangan biar keliatan besar. Tapi anaknya tinggi dan badannya juga berisi. Makanya penghulu gak nanya umur.”
“Pas MP nya gimana bu?” Apa suaminya gak terkejut lihat sumpelannya.” Sambil ketawa.
“Iya kagetlah. Tapi suaminya baik banget. Mungkin tahu nikahnya sama anak kecil. Suaminya juga sabar sekali. Teman ibu tu, kalau ada yang dimintanya suaminya gak mau beliin. Dia bakalan nagis duling-guling di tanah. Waktu hamilnya juga, suaminya sampai frustasi ngadapain istrinya. Dia gak mau jalan, karena susah jalan. Suaminya yang harus gendong kemana-mana. Perutnya kram dia nagis teriak-teriak. Lihat perutnya makin besar dia takut perutnya meledak. Kalau mood nya lagi baik, dia manjat pohon mangga, sampai buat suaminya panik.”
Arum ketawa-ketawa saat mendengarkan ibunya cerita. “Suaminya umur berapa Bu? Tapi masak sih Bu, umur segitu udah dinikahin.”
“Iya namanya juga orang dulu. Gitu ada yang melamar anak gadis nya maka langsung di nikahin. Suaminya 25 tahun. Lagi pula, keluarga Habibi orang hebat. Mereka orang berpendidikan. Sudah pasti mereka akan merasa pendidikan paling utama.”
Arum mengangkat kan kepalanya. Mendengar yang di sampaikan ibu nya, hatinya merasa lebih tenang.
“Udah istirahat. Kamu kelihatan nya capek sekali.”
Arum menganggukkan kepalanya. “Iya Bu.”
“Bawa sholat istikharah. Biar kamu lebih mantap dengan pilihan kamu.” Sambil mengusap pundak anak gadisnya.
“Iya Bu.”
***********
Setelah mandi, Arum merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya baru tadi ketemu Habibi. Tapi ia sudah merindukan pria tersebut. Dering ponselnya mengalikan pandangan gadis tersebut. Iya mengambil ponselnya yang ada di nakas. VC Habibi.
“Hallo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Terlihat wajah tampan Habibi yang memenuhi layar ponselnya.
“Mas lagi ngapain?”
“Mas lagi kangen dek.”
“Kenapa gak tidur?”
“Gimana mau tidur. Lagi kangen gini.”
Arum senyum.
“Adek gak kangen sama mas.”
“Baru ketemu tadi.”
“Iya baru ketemu tadi. Tapi sekarang mas kangen legi. Gimana coba.”
Arum senyum melihat pria yang didepannya. Yang sebenarnya ia juga sangat merindukan pria tersebut bahkan sangat rindu. Ingin rasanya selalu di dekat pria tersebut.
“Apa gak panas?”
“Emangnya kenapa?”
__ADS_1
“Itu adek di dalam selimut.”
“Gak, Arum baru siap mandi.”
Mereka hanya diam.
“Dek,”
“Iya mas.”
“Gimana, adak mau kan nikah sama mas.”
Arum diam.
“Udah ngomong sama ibuk?” tanya Habibi.
“Sudah.”
“Ibu bilang apa?”
“Ibu bilang bagus.”
Terlihat senyum mengembang di wajah tampan pria tersebut. Kebahagiaan memiliki gadis yang dicintainya sudah menari-nari di pelupuk matanya.
“Kalau nanti kita sudah nikah, kalau adek belum siap punya anak, kita bisa tunda.” Kata Habibi lagi.
Arum diam.
“Kalau adek siap. Mas bakalan bilang ke mami dan papi. Untuk datang melamar adek.”
“Mas.”
“Iya sayang.”
“Apa benar mas cinta sama Arum?”
“Iya sayang. Mas cinta sama adek. Cinta banget malah.”
Arum senyum. “Sejak kapan?”
“Sejak nabrak adek di pantry. Terus tiba-tiba adek hilang seperti di telan bumi. Waktu adek ngilang mas sampai stres. Waktu mas cari adek gak nemu. Udah minta bantuan om Herman. Tapi tetap aja gak nemu. Eh ternyata kerjaan mami.”
Arum ketawa. “Besok adek kantorkan?”
“Iya mas. Besok Arum kuliah jam 11.”
“Mau mas jemput?”
“Gak usah Arum berangkat sendiri aja.”
“Ya udah. Istirahat ya sayang.”
“Iya. Mas. Mas juga ya.”
“Iya sayang.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
__ADS_1
*********