
Hari ini tepat 10 tahun usia pernikahannya dengan suaminya. Savira Iskandar saat ini akan memasuki usia 9 tahun. Si kembar Zainab Iskandar dan juga Zidan Iskandar yang sudah berusia 2 tahun.
Arumi tersenyum memandang wajah suaminya yang bangun tidur. "Mas Hari ini ulang tahun pernikahan kita,” ucapnya mengingatkan.
“Terus.” Habibi yang sedikit tersenyum memandang wajah istrinya. Mata pria itu belum terbuka sempurna.
“Pengen ngerayain,” usul Arumi.
“Boleh, ngerayain di mana,” tanya Habibi yang beranggapan bahwa istrinya ingin membuat pesta ulang tahun pernikahannya. Habibie melingkarkan tangannya di pinggang istrinya hingga istrinya begitu dekat dengannya.
Arum tersenyum dan memejamkan matanya ketika ingin mengucapkan permintaannya.
“Kenapa,” tanya Habibi.
“Arum pengen ngerayain kita berdua aja,” ucapnya.
Habibi memandang wajah istrinya yang saat ini sudah merona.
“Mimpinya pengen bermesraan berdua ya?" Habibi sedikit menarik hidung istrinya.
Arum menganggukkan kepalanya, “pengennya di momen ini nggak ada yang gangguin termasuk si kembar,” ucapnya sedikit tertawa.
“Si kembar udah nggak mimik ASI lagi ya?" Habibi tersenyum dan memastikan.
“Udah dua minggu stop ASI,” jelas Arumi.
“Kalau begitu sudah bisa kita tinggalkan sama Oma atau neneknya,” ucapnya.
“Iya ditinggalin sama Ibu atau sama mami ya,” ucap Arum.
“Sepertinya sama mami aja, Mami sering minta agar si kembar diantar ke rumah,” ucapnya.
“Ya udah kalau gitu kita antar si kembar ke rumah Mami,” ucap Arumi ketika mendengar ide dari suaminya.
****
Arumi berdandan sangat cantik ketika akan menghabiskan malam bersama dengan suaminya. Momen seperti ini sangat begitu jarang bisa didapatkannya. Mertuanya datang membawa anak-anaknya untuk keluar kota 2 hari. Kesempatan ini begitu sangat ingin dinikmati Arumi dan suaminya.
Habibi memeluk pinggang istrinya dari belakang. Pria itu mencium leher istrinya.
“Mau ke Villa?" Tanya pria yang tampan tersebut. Awalnya Habibi berencana mengajak istrinya menginap di hotel 1 malam. Namun karena kedua orang tuanya membawa cucu-cucunya ke Bandung menghadiri acara nikahan teman maminya, dan juga sekaligus membawa cucunya jalan-jalan. Kesempatan seperti ini dimanfaatkan Habibi untuk mengajak istrinya menghabiskan waktu di puncak.
__ADS_1
Arum menganggukkan kepalanya.
“Ya udah kita akan langsung ke Villa berangkat sekarang,” Habibi mencium pipi istrinya.
“Iya Mas Arum nggak nyangka Mami datang ke sini bawa Vira, Rangga dan juga si kembar ke Bandung."
Mami bawa cucu banyak nggak apa-apa, dia juga bawa baby susternya 4 orang." Habibi tersenyum.
Arumi tersenyum mendengar ucapan suaminya. “Sebenarnya baby sister empat untuk apa ya Mas. Vira sama Rangga udah nggak perlu pakai baby sister lagi,” ucapnya.
“Biasa, Mami itu segala sesuatunya harus di lebihkan." Habibi tersenyum ketika mengingat sifat maminya.
Arum tersenyum ketika mendengar ucapan suaminya. “Arum pakai jilbab Arum dulu,” ucapnya ketika suaminya mencium lehernya.
Habibi tersenyum dan mencium istrinya cukup keras, sehingga istrinya sedikit mencubitnya. “Mas jangan kayak gitu,” ucap Arumi.
Pria itu hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dipandanginya leher istrinya yang sudah meninggalkan jejak berwarna merah.
“Mas kenapa buat merah,” omel Arum.
“Di buat merah juga gak ada yang lihat.
Adek pakai jilbab, jadi gak keliatan,” ucap Habibi yang membalikkan tubuh istrinya dan mencium bibir istrinya.
“Biasanya enggak bebas, gitu dapat bebas ya jadi kayak gini,” ucap Habibi yang kemudian melepaskan pelukannya dari istrinya, “udah cepat pakai jilbabnya,” ucapnya yang takut akan membatalkan rencana mereka.
Arum tersenyum dan memakai jilbabnya, “sudah mas,” ucapnya setelah memakai jilbabnya dengan sangat rapi.
Habibi memegang tangan istrinya dan mencium tangan istrinya tersebut. “Nggak terasa 10 tahun sayang,” ucapnya penuh syukur.
“Iya Mas,” ucap Arumi yang tersenyum haru melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
“Terima kasih sudah mendampingi Mas selama ini,” ucap Habibi.
“Terima kasih juga karena Mas udah sayangi Arum selama ini,” ucap Arumi.
“Terima kasih sayang untuk semua kebahagiaannya. Terima kasih udah jadi istri yang baik, ibu yang baik, dan udah memberi kebahagiaan yang sempurna untuk Mas,” ucap Habibi yang mencium kening istrinya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Arumi memeluk suaminya dengan sangat erat. “Arum mau kita seperti ini sampai tua nanti,” ucapnya yang masih begitu sangat manja terhadap suaminya.
“10 tahun berlalu sayang tapi istri mas tetap jadi istri yang manja,” ucapnya yang mencubit hidung istrinya.
Arum hanya tersenyum saat mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
“Sudah ya kita mau ke puncak,” ajak Habibi yang memegang tangan istrinya.
Mereka keluar dari dalam kamar dan menuju mobilnya yang saat ini terparkir di halaman rumahnya.
Beberapa orang bodyguardnya sudah menunggu di luar dengan mobil yang berbeda.
Arumi dan Habibi naik mobil yang dikemudikan langsung oleh bodyguard khususnya yang bernama Satrio. Pengawal setia yang selalu menjadi pelindungnya. Pengawal yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri, sedangkan Aldo dan yang lain berada di mobil yang di belakang.
Habibi memakai pembatas mobilnya agar bodyguardnya tidak memandang ke arahnya.
Arumi sangat menikmati perjalanannya menuju ke puncak. Ia tidak ada henti-hentinya tersenyum dan juga tertawa saat bercerita dengan suaminya. Mereka menceritakan tentang segala sesuatu kenangan-kenangannya di masa lalu.
“Apa ngantuk,” tanya Habibi Ketika istrinya sudah mulai menguap.
“Iya Mas, Arum ngantuk,” jawabnya.
Habibi menyandarkan kepala istrinya didadanya. “Ayo tidur,” ucapnya yang mengusap kepala istrinya.
Arum memeluk pinggang suaminya dan memejamkan matanya.
"Nanti kalau sudah sampai puncak bangunin Arum,” ucapnya.
“Iya,” jawab Habibi. Habibi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sedangkan tangannya memeluk istrinya. Tangannya yang sebelah kanan digunakannya untuk memegang kepala istrinya agar kepala istrinya berada di posisi yang nyaman.
Mobil yang dikemudikan Rio masuk ke dalam villa mewah milik Habibi keluarga Iskandar.
"Sudah sampai pak,” ucap Rio ketika Habibi membuka kaca pembatas mobilnya.
“Iya, saya akan turun,” ucapnya yang memandang istrinya yang tidur dengan begitu sangat nyenyak.
Rio sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu turun dari dalam mobil. Seperti ini sudah biasa dilakukannya, pria itu akan memeriksa kondisi disekitar Villa, walaupun sebelumnya ia sudah meminta anggotanya untuk melakukannya.
Habibi membuka pintu mobilnya. Ia tidak membangunkan istrinya ketika mobil itu sudah berada di depan villanya. Habibi lebih memilih untuk menggendong istrinya masuk ke dalam villa.
Habibi masuk kedalam kamar yang berukuran sangat besar. Pria itu merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Habibi tersenyum memandang wajah istrinya yang tertidur dengan sangat lelap. “Dari dulu sampai sekarang kalau tidur nggak sadar,” ucapnya yang mencium kening istrinya.
“Pria itu membuka jilbab istrinya dan juga sepatu yang melekat di kaki istrinya tanpa membangunkan istrinya sama sekali.
Habibi membuka sepatu yang dipakainya. Ia juga membuka kancing baju kemejanya dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya Habibi hanya tersenyum sambil memandang wajah istrinya yang begitu sangat cantik. Rasa cintanya untuk istrinya tidak pernah berkurang, bahkan ia selalu merasa cintanya yang semakin bertambah. Memiliki istri seperti Arumi merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya.
****
__ADS_1