Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 89


__ADS_3

Saat pintu terbuka, Habibi melihat senyum manis gadis tersebut.


“Cepat sekali buka pintunya?” kata Habibi.


“Iya udah nungguin mas soalnya. Mas, sarapan dulu ya. Arum udah masak.”


“Buat sarapan apa dek?”


“Cumi, dan udang saus padang mas.”


“Udah dingin ya?”


“Kok tau mas, soalnya Arum masak sebelum solat subuh.”


“Iya tau dong. Soalnya jauh dari padang.” Kata Habibi sambil tersenyum.


“Mas, Arum serius ini.” Sambil ngomel.


Mereka menuju meja makan.


“Enak sepertinya dek.”


“Insyaallah. Mas coba aja.” Kata Arumi dengan senyum yang memamerkan gigi putihnya.


Arumi tahu kalau Habibi memang suka seafood. Setelah menyantap sarapan, Arum bersiap mengambil barang-barang miliknya dan membawa sedikit oleh-oleh. Habibi mengendarai mobilnya menuju ke kampung Arum, jalan ibu kota yang masih belum padat membuat mobil bisa melaju dengan sempurna.


“Apa kamu sudah ngasi kabar ke ibuk dek, kalau kita mau datang?”


“Belum, Arum mau kasi ibu kejutan.”


Habibi mengangguk-anggukkan kepalanya. Habibi menghidupkan video musik di dalam mobilnya. Iya fokus dengan jalan yang ada di depannya. Di dalam mobil yang terdengar hanya suara musik. Saat ia melihat ke samping gadis tersebut sedang tidur.


“Derita supir.” Guman dalam hatinya.


Saat melintas daerah pantai yang pemandangan pantai langsung terlihat jelas dari dalam mobil. Habibi melihat kafe yang dibagun di pinggir pantai. Jalan raya yang mereka lewati berada di bibir pantai. Ia memberhentikan mobilnya ingin melepaskan lelah dan buang air kecil. Setelah lebih 3 jam mengemudi.


“Dek, bagun.”


Arum mulai membuka matanya.


“Dek, mas udah gak tahan.”


“Mas, jangan mesum.”


“Siapa yang mesum sih. Emang udah gak tahan. Ini kunci mobil dek. Nanti kalau keluar jangan lupa kunci mobil.”


Arum terdiam seakan masih mengumpulkan nyawanya yang masih beterbangan. Habibi keluar dari mobil dan langsung menuju ke dalam kafe.


“Masak sih mau kencing aja di bilang mesum.” Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Arum keluar dari mobil sambil mengunci mobil dengan remote. Arum masuk ke dalam kafe. Memilih meja yang langsung mengarah kepantai. Terasa angin dari pantai yang terasa membelai-belai di kulit wajahnya. Terasa sangat nyaman dan tentram. Ombak yang terlihat berkejar-kejar. Tak lama Habibi datang setelah keluar dari toilet. Habibi duduk di depan Arumi yang masih asik melihat pantai.


“Udah pesan dek?”


“Belum mas, itu pelayannya baru mau ke sini.” Dengan tatapan masih tertuju ke depan.


Setelah melihat daftar menu Arum memesan bakso dan capuccino dingin sedangkan Habibi memesan nasi goreng dan jus melon.


“Ini di daerah mana mas? Pemandangannya bagus sekali.”


“Lihat aja di hp pintar kamu dek.”


Arum memajukan bibirnya saat jawaban yang di dapat tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.


Habibi hanya senyum. Dia memang tidak tahu daerah mana saat ini mereka singgahi. Habibi memakai aplikasi google maps sejak dari tadi. Cukup lama mereka ada di kafe tersebut. Menikmati keindahan pantai. Sudah cukup banyak foto Arum yang di ambil oleh Habibi


“Mas, mau gantian bawa mobilnya?”


“Gak usah dek, mas aja.”


“Mas capek gak, dari tadi belum istirahat.”


“Gak usah sayang. Mas masih kuat.” Kata Habibi sambil masuk ke dalam mobil.


Mereka kembali melanjutkan kan perjalanan. Mobil sudah memasuki desa Arum. Terlihat pergunungan, dan sudah mulai tampak perkebunan-perkebunan yang luas.


“Petani di sini, biasanya nanam apa aja dek?”


Habibi langsung ngakak ketika mendengarkan gadis itu menjelaskan.


“Lucu kamu dek.”


Arum hanya senyum. “Mas, itu, rumah yang warna biru.”


Habibi memberhentikan mobilnya. Arum langsung membuka mobil dan berlari menuju rumah tersebut dan mengetuk pintu.


“Assalamu’alaikum. Ibu....ibu...” teriak Arumi sambil mengetuk-ngetuk pintu.


“Wa’alaikumsalam.” Seperti suara Arum pikir Ibunya. Ibu langsung ke depan dan membukakan pintu.


Betapa terkejutnya ibu, saat melihat putri kesayangannya sudah berdiri di depan pintu. Ia langsung memeluk tubuh putrinya. Ibu Siti sangat bingung saat melihat seorang pria datang mendekat ke arahnya.


“Arum kamu ke sini sama siapa?” Berbisik ketelinga putrinya.


“Arum ke sini sama bos Arum bu.”


“Apa bos kamu?”


“Iya bu.”

__ADS_1


Habibi yang berjalan semakin mendekat.


“Assalamu’alaikum buk.” Sapa Habibi.


“Wa’alaikumsalam.”


Tiba-tiba saja perasaan ibu siti tidak enak. Habibi datang menyalami tangan wanita paruh baya tersebut


“Ibuk, saya Habibi.”


“Nak Habibi. Bos Arum?”


“Saya atasan Arum buk.”


Bagaimana Arum bisa bersama dengan bosnya. Mengapa dia datang dengan laki-laki. Tiba-tiba saja, wajah ibu tampak panik. Semua pertanyaan sudah mulai berkumpul di benak kepada ibu siti.


“Pak Habibi, silahkan masuk.”


“Terimakasih buk.”


“Maaf pak, rumah kami sangat sederhana.”


“Gak apa buk.”


“Pak, saya tinggal dulu. Saya kebelakang akan buat minuman.”


“Iya buk.” Balas Habibi yang duduk di lantai yang beralaskan karpet plastik.


Ibu langsung menarik tangan Arum untuk masuk ke dalam pintu kamar dan menutup pintu kamar tersebut.


“Nak, ada apa kamu datang ke sini dengan bos kamu. Ada apa nak.” Tampak wajah ibu, yang menyimpan kecemasan.


“Ya gak ada bu.”


“Nak, kamu udah buat apa nak?” Tampak air mata mulai keluar dari celah-celah mata siti.


“Ibu, Arum gak berbuat apa-apa.” Arum mulai bingung melihat ibunya. Ia ingin memberikan kejutan. Tapi mengapa saat ini, respon ibunya mahal jadi seperti itu. “Ibu, ibu kenapa?”


“Nak kamu sudah buat apa? Kenapa bos kamu bisa ikut ke sini. Apa yang ingin kamu sampaikan kepala ibu.”


Arum tampak sedang bingung dengan apa yang di maksud oleh ibunya. Ia tidak tau apa yang harus dijawabnya. Karena Arum memang tidak mengerti maksud sang ibu. Arum hanya diam mematung. Kemana arah pembicaraan sang ibu. Ia memang tidak ada mengabari ibu tentang kedatangannya. Sudah pasti. Arum ingin membuat kejutan. Tapi mengapa tanggapan ibunya jadi seperti ini.


“Nak, kamu sudah lakuin apa?” Suara tangis Siti semakin terdengar.


“Bu, Arum gak ngerti maksud ibu.”


“Nak, kamu mendadak datang ke sini bersama pria. Atau bos kamu. Apa yang sudah kamu lakukan nak? Apa kamu hamil nak? Apa kamu ke sini bersama bos kamu ingat menikah nak.” Siti semakin memperjelas pertanyaan dengan suara yang semakin tersedu-sedu.


********

__ADS_1


tinggalkan jejak ya reader.


like dan komen nya author harap kan. maaf gak di balas satu persatu. tapi author baca dan like ya. masuk kan nya. pasti author pertimbangan. thank you reader😍🙏


__ADS_2