Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 296


__ADS_3

"Apa aku boleh menghubungimu nanti?" Imam bertanya dengan memandang wajah cantik gadis tersebut. Dengan sangat cepat, Imam menundukkan kepalanya. Saling bertatapan mata seperti ini membuat Jantungnya berdegup dengan hebatnya.


May Sarah menganggukkan kepalanya.


Cukup lama pria itu diam, menetralkan degup jantungnya. "Apa aku boleh tahu sesuatu? tanya Imam.


May Sarah memandangnya. "Tanya apa?"


"Kamu pernah mengatakan bahwa kamu anak yang tidak diharap. Aku tidak mengerti apa maksudnya?" ucap Imam yang bertanya dengan sangat berhati-hati. Ia takut pertanyaan itu akan membuat May sarah marah.


May Sarah memandangnya. Ia kemudian tersenyum saat mendengar pertanyaan Imam. "Saya bingung harus senang atau sedih dengan takdir yang saya jalani. Namun Jujur saja saya sangat bersyukur dengan hidup saya." May tersenyum memandang Imam. Ia kemudian kembali memandang ke depan.


Imam mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan gadis tersebut. "Mengapa begitu?"


"Saya anak yang tidak diharapkan dari orang tua saya." May diam tanpa melanjutkan kalimatnya.


"Maksudnya?" tanya Imam yang mengerutkan keningnya. Ia sudah mulai memiliki asumsi sendiri mengenai gadis tersebut. dipandangnya gadis itu, pikiran buruk bahwa Gadis itu mungkin anak yang lahir diluar nikah sudah bermunculan di benak pikirannya.


"Waktu mengetahui hal itu saya sangat sedih namun saya bersyukur karena saya memiliki orang tua yang banyak. Saya anak kelima dari lima orang bersaudara. Saya anak yang paling kecil. Saya memiliki dua orang saudara perempuan dan dua orang saudara laki-laki. Sewaktu ibu saya mengetahui bahwa dia sedang hamil saya, dia begitu sangat frustasi. Mengingat anaknya sudah banyak. sedangkan ayah saya hanya seorang buruh pabrik tebu di kampung. Ayah dan ibu tidak memiliki sawah seperti kebanyakan orang yang berada di kampung saya. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarga saya memang hanya mengandalkan uang gaji dari pabrik. Karena alasan itu Ibu tidak ingin menambah anak lagi. Apalagi jarak saya dengan kakak saya itu sangat dekat. Kami hanya jarak 2 tahun. Pada saat itu Ibu berusaha untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata saya bandel saya ngotot pengen lahir. Berulang kali ibu mencoba menggugurkan kandungannya, berulang kali juga gagal. Ibu sangat stress saat ia tidak bisa mengeluarkan saya. Ia mencoba berbagai macam ramuan yang bisa untuk menggugurkan kandungan namun semuanya gagal. Kemudian ayah saya bilang ke ibu, kalau memang tidak bisa dibuang jangan di paksakan. Ayah takut ibu akan sakit, ayah juga mengatakan kepada ibu agar membiarkan saya hidup. Karena sudah seperti ini mau tidak mau saya pasti akan hidup karena saya tidak ingin dibuang. Saya terlalu bandel," ucapnya.


Imam tersenyum lega saat mendengar cerita May sarah. Ternyata Gadis itu bukan anak yang lahir diluar nikah. Ia mendengarkan cerita May sarah dengan sangat berkonsentrasi.


"Ayah Kemudian bercerita dengan sahabatnya yang ada di pabrik. Sahabat nya itu tidak memiliki anak padahal sudah 10 tahun menikah. Pada saat papa dengar ayah cerita tentang ibu yang mengandung. Papa langsung senang dan dia minta agar nanti saya akan diambilnya. Papa mengatakan akan membayar seluruh biaya persalinan dan uang untuk kontrol ke bidan akan diberikan Papa. Begitu mendengar apa yang disampaikan Papa kepada ayah, Ayah sangat senang saat pulang Ayah menceritakan semuanya kepada ibu. Ibu sangat senang saat mendengar ucapan dari ayah. Walau bagaimanapun Ibu tidak siap menerima keberadaan saya. Begitu Saya lahir saya langsung diambil oleh mama dan papa.


Namun ibu yang selalu memberikan asinya untuk saya. Ibu tidak ingin saya minum susu formula. Pernah mama mencoba memberikan saya susu formula, karena mama merasa tidak enak dengan ibu, yang selalu mengantarkan asi kerumah setiap 2 jam sekali. Namun ternyata saya alergi dengan susu formula. Saya seperti orang keracunan dengan bibir yang membiru. Pada saat itu Mama begitu sangat panik Mama menangis dan menggendong saya. Ia melarikan saya ke rumah bidan yang ada di dekat rumah kami. Bersyukur saya dapat ditolong dan pada saat itu mama tidak berani lagi membelikan saya susu formula. Saya selalu mendapatkan asupan ASI dari dari ibu kandung saya. Ibu saya juga sering membawa kakak-kakak dan abang-abang saya bermain dengan saya. Saat Mama ada keperluan pergi maka mama menitipkan saya dengan Ibu saya. Waktu itu saya tidak mengetahui bahwa ibu saya adalah ibu kandung. Walaupun saya memanggilnya ibu karena saya hanya sekedar ikut-ikutan saja. Namun Mama selalu mengajarkan saya memanggil ibu dengan ibu kandung saya.

__ADS_1


Di saat saya sedang sakit maka mama, papa, Ayah dan Ibu semuanya sibuk mengurus saya. Mereka semua begitu sangat sayang dan perhatian dengan saya. Bila ibu datang, ibu akan membawakan saya makanan yang banyak. Mungkin Ibu merasa menyesal karena dulu pernah berniat untuk menggugurkan saya,"


Imam hanya diam mendengarkan cerita gadis tersebut. Ia begitu fokus mendengarkan setiap apa yang disampaikan oleh gadis itu. Ia begitu sangat tertarik dengan kehidupan gadis yang duduk disampingnya.


Saat saya berusia 5 tahun mama hamil.


pada saat itu mungkin ketulusan dari mama dan papa sehingga mereka dipercaya untuk mendapat anak kandung sendiri. Padahal mereka sudah menikah 15 tahun. Namun rasa sayang mereka tidak pernah berubah dengan saya. Saya baru mengetahui bahwa Mama dan Papa ternyata bukan orang tua kandung saya, sewaktu saya SMP. Waktu itu saya terkena DBD dan pada saat itu hanya Ayah yang bisa mendonorkan darah dengan saya. Karena golongan darah ayah dan saya sama. Setelah saya keluar dari rumah sakit Papa memberitahu saya kenyataan sebenarnya. Ada rasa sedih saat mendengar cerita tersebut. Namun Saya berusaha menerima kenyataan Kalau ini adalah takdir saya. Karena ini saya memiliki orang tua yang lebih banyak dari pada orang lain," ucap May Sarah.


Imam tersenyum saat mendengar cerita dari May sarah tersebut. "Kamu anak yang sangat beruntung ucapnya.


May Sarah menganggukkan kepalanya.


"Jadi nanti saya akan datang ke mana untuk melamar kamu?" tanya Imam.


Imam memandang May sarah yang diam. Ia kemudian memajukan wajahnya ke depan dan memandang wajah gadis tersebut.


May sarah langsung menjauhkan wajahnya saat melihat wajah Imam yang begitu sangat dekatnya.


"Kenapa diam?" tanya Imam.


"Apa?" ucap May Sarah yang tampak sangat cukup.


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, bilang saya ingin melamar kamu, maka saya harus datang ke mana?" ucap imam yang memperjelas pertanyaannya.


May sarah menelan air ludahnya yang mendadak kering. Ia memejamkan matanya. jantungnya terasa akan lepas dari tempatnya. "Bila Bapak ingin melamar saya, saya akan memberitahukan hal ini kepada ibu, ayah, mama jadi gak papa. Mereka akan kumpul di rumah Papa," ucapnya yang sedikit ragu untuk menjelaskan.

__ADS_1


Imam merasa sangat senang saat mendengar jawaban gadis tersebut. " Sudah lama kita duduk sini ayo pulang," ucapnya.


May sarah menganggukkan kepalanya. Ia kemudian berdiri. Begitu juga dengan imam.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil.


Imam memandangnya saat May sarah sudah duduk di sebelahnya. "Pengen makan di luar nggak?" tanya.


May Sarah tersenyum saat mendengar pertanyaan pria itu. "Di sini tidak ada restoran," jawabnya.


Imam tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jadi Di mana tempat makan?" tanya.


"Di sini yang laris itu warung bakso ada dekat Simpang sana," ucapnya menunjukkan tempat tersebut.


"Apa kamu suka bakso?" tanya Imam.


May Sarah menganggukkan kepalanya.


"Ya udah kalau gitu kita makan bakso," ucapnya yang kemudian menjalankan mobilnya tersebut.


****


Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.


😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2