
Arum keluar dari kamar mandi setelah memakai lingerie yang diberikan oleh suaminya. Matanya menatap tajam memandang suaminya.
"Mas lingerie nya Kenapa yang seperti ini?" ucap Arum yang memprotes lingerie yang berikan suaminya.
Habibi tersenyum saat mendengar pertanyaan istrinya. Dia sudah bisa menebak bahwa istrinya akan protes saat memakai lingerie yang diberikannya. "Biar beda sama yang lain," ucapnya sambil tersenyum menatap tubuh istrinya yang begitu sangat menggoda.
Arum memandang suaminya."Mas kita itu nikah udah lebih 7 tahun tapi masih juga kayak gini," ucapnya.
"Mau sampai 50 tahun juga, mas akan tetap seperti ini," ucap nya yang memeluk istrinya.
Arum tertawa geli saat mendengar ucapan suaminya. " Tapi kalau 50 tahun usia pernikahan kita. pastinya kita sudah jadi nenek dan kakek mas," ucapnya.
"Terus," tanya Habibi.
"Sudah pada kendor," ucapnya yang membayangkan saat sudah menjadi kakek dan nenek.
"Adek akan tetap menjadi nenek yang paling cantik di dunia," ucapnya.
"Mas kenapa sih pilih lingare kayak gini," ucap Arum memakai lingare yang berjaring-jaring warna merah dan stocking jaring-jaring.
Habibi tersenyum saat mendengar proses istrinya. "Mas lihat fotonya di iklan terus Mas pesan," ucapnya.
"Tapi Risih mas," ucap Arum.
"Mas suka," ucapnya yang merambah paha istrinya.
"Tapi Arum geli," ucap istrinya.
"Kalau kayak gini adek kelihatan nakal dan lebih menantang," ucap nya yang mencium bibir istrinya.
***
May Sarah bangun saat subuh. Dijangkau nya ponsel yang diletaknya di atas meja belajar di samping tempat tidur nya. May sarah menelan air ludah nya ketika tidak melihat nomor baru yang masuk di ponselnya. "Mengapa aku jadi berharap sama dia, kenapa waktu itu aku tidak meminta nomornya," sesalnya sambil meremas rambutnya.
Di zaman seperti sekarang bila meminta nomor ponsel sepertinya bukan hal yang memalukan, Pikirnya.
"May, apa sudah bangun," ucap Pipit yang mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sudah ma," ucapnya yang menyahut dari dalam. May Sarah bangun dan berjalan membuka pintu kamarnya.
"Sudah subuh salat dulu," ucap pipit yang berdiri di depan pintu kamar putrinya.
"Papa salat di masjid atau di rumah?" ucap May sarah.
"Papa salat di rumah biar bisa jadi imam kita," ucap Pipit yang sudah memakai mukena.
__ADS_1
"May ambil wudhu dulu ya ma," ucapnya yang berlari ke kamar mandi.
"Cepat ya," ucap Pipit yang berjalan menuju ruang keluarga tempat mereka akan melakukan salat berjamaah.
May mengambil posisi di sebelah mamanya saat mereka akan memulai salat. Mereka salat subuh berjamaah.
May Sarah merapikan tempat salat mereka dan menyimpan perlengkapan salat itu di lemari yang ada di ruang setelah selesai merapikan tempat salat May langsung ke dapur untuk membantu mama nya menyiapkan sarapan.
"Mama masak apa?" ucap May yang berdiri di samping mamanya.
Mama lagi goreng bakwan," ucap Pipit yang memasukkan adonannya dengan memakai sendok kedalam kuali.
May aja yang goreng nya," ucap May.
Boleh ucap Pipit yang memberikan adonan yang ada di dalam baskom kecil tersebut.
"May nanti kita ke salon," ucap pipit yang mengajak putrinya.
"Apa Mama mau potong rambut?" ucap May.
Pipit tersenyum memandang putrinya.
"kok mama sih," ucapnya.
"Iya untuk kamu lah biar perawatan wajah," ucap Pipit.
"Perawatan apa?" tanya May.
Pipit menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat putrinya . "May akan dilamar. Apa mau saat di lamaran nanti mukanya terlihat kusam," ucap Pipit.
"Nggak perlu perawatan ma, kalau dia nggak suka ya udah pergi. Lagi pula May udah cantik juga," ucapnya yang kepedean.
Pipit hanya diam sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap putrinya yang terlalu cuek dengan penampilannya. "Syukurnya seperti itu jadi masih ada juga yang mau sama kamu," ucapnya
May sedikit tersenyum saat mendengar ucapan mamanya.
May meletakkan goreng bakwan yang sudah selesai di gorengnya ke atas meja makan.
May meletak teh yang dibuatnya didalam ceret. Pipit meletkan nasi goreng.
"Kenapa Papa masih kerja?" tanya May saat dilihatnya papanya yang sudah duduk di meja makan dengan memakai seragam kerjakannya.
"Papa masih dipakai perusahaan sampai umur 60 tahun. Jadi papa masih bisa cari uang," ucap Abdul yang tersenyum memandang putranya.
May memandang papanya." Bukanya sekarang umur Papa sudah lewat 60 tahun," ucapnya yang menatap pria yang berambut putih dengan uban.
__ADS_1
"Iya hanya saja sampai sekarang tenaga Papa masih dibutuhkan," ucap Abdul yang memasukkan nasi goreng kedalam piringnya.
"Papa nggak usah kerja lagi May akan selalu kirim uang," ucap May sarah.
Abdul tersenyum memandang putrinya. Di iusapnya kepala putrinya. "Papa akan berhenti kerja Kalau adek May sudah kerja," ucapnya.
"Kenapa seperti itu?" ucap May.
"Imay itu anak perempuan, setelah May menikah semuanya tergantung suami May. Bila suami May nanti mengizinkan May tetap bekerja maka May akan bekerja. Bila nanti suami May mengizinkan untuk memberi orang tua, May akan memberi untuk kami. Namun bila suami May tidak mengizinkan. Maka May tidak bisa memberi untuk kami. Sebaig orang tua, kami tidak ingin merusak rumah tangga anak kami hanya hanya karena masalah memberi orang tua," ucap Abdullah.
May dian saat mendengar ucapan papanya.
"Kalau gitu May gak usah nikah," ucapnya.
"Bicara apa kamu mau," ucap Pipit yang memeluk pundak putrinya
May hanya diam sambil memajukan bibirnya.
"Bila May tidak menikah, itu artinya tugas kami sebagai orang tua tidak terlaksana," ucap Abdul dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"kenapa seperti itu?" ucap May.
"Tugas terakhir kami adalah menikahkan anak perempuan kami. Saat akad nikah nanti, pada saat itu kami memberikan serah terima putri kami kepada suaminya. Segala tanggung jawab terhadap kamu akan dipikul oleh suami May," ucap Abdul.
May diam saat mendengar ucapan pria yang sudah berjasa membesarkan nya. "Uang tabungan May masih ada, Papa bisa pakai uang itu untuk buka usaha. Papa jangan kerja lagi," ucapnya yang mencium tangan papanya.
Abdul memandang wajah putihnya.
"Papa jangan kerja lagi, Papa sudah tua. papa wajib banyak istirahat di rumah," ucapnya.
Abdul diam memandang wajah putrinya, tak ada kata-kata yang bisa diucapkan nya.
"Kamu nanti butuh banyak uang," ucap Pipit yang mengusap punggung putrinya.
"May masih bisa kumpulkan uang. mama gak usah pikirkan," ucap May.
Pipit mengelengkan kepalanya. "Kita bahas nanti saja. sekarang kita sarapan dulu," ucapnya yang mengusap kepala putrinya.
****
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
Terimakasih atas dukungan nya.
😊😊🙏🙏
__ADS_1