Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 26


__ADS_3

Prima masih memandang Arum yang berjalan semakin jauh darinya. “Sedikit saja kau salah melangkah. Kau akan tau akibatnya,” gumamnya sambil jalan menuju lapangan.


Arum kembali ke kantin. Iya kembali duduk di kursinya semula. Sambil menghabiskan teh es yang tinggal setengah gelas.


“Dah ya, aku duluan masih ada kelas 10 menit lagi.” Sambil melihat jadwalnya di kertas yang di pegang Arum. Apa kalian masih ada jam.”


“Nanti jam 2 baru lanjut. Kami istirahat dulu.” Kata Tiar.


“Kalau gitu aku duluan ya.”


“Arum mau aku antar,” Yuda mencoba menawarkan jasa.


“He....he.... Boleh. Lagipula Arum gak tau ini tempatnya,” jawab Arumi sambil tersenyum.


Mereka berjalan berdua di koridor kelas.


“Rum,” sapa Yuda memulai pembicaraan.


“Iya.”


“Kamu dosa kalau manggil aku Yuda,” kata Yuda.


“Kenapa?”


“Karena umur aku jauh lebih diatas kamu.”


“Emangnya umur kamu berapa?” tanya Arumi.


“23 tahun. Aku sudah tamat kuliah dan wisuda,” jelas Yuda.


“Maaf Arum gak tau. Kalau gitu Arum harus manggil apa?”


“Aak aja.”


“O baiklah ak Yuda. Terus kenapa aak di sini,” tanya Arumi.

__ADS_1


“Biar lebih cepat dapat kerja.”


“Kenapa bisa begitu,” tanya Arumi penasaran.


“Iya, zaman sekarang persaingan tinggi. Jadi biar bisa bersaing maka kita harus punya nilai jual yang lebih,” jelas Yuda.


“Benar banget ak”


“Kalau kamu?” Yuda balik bertanya.


“Karena uang ak”


Yuda memandang Arum


Arum mulai tertawa. “Iya ak. Kalau bukan karena uang. Arum gak mungkin di sini. Hehe....he....”


“Kenapa begitu?”


“Arum ingin kuliah. Tapi arum tidak ada biaya. Jadi arum pergi ke Jakarta untuk bekerja. Dan Arum di terima sebagai cleaning servis. Jadi Arum kerja pagi sampai sore jadi cleaning servis. Dan sore sampai malam Arum kerja di warung makan pecel lele.” Jelas Arumi.


“Capek sih ak. Tapi Arum harus semangat ak. Demi cita-cita Arum. Arum harus mengirimkan uang untuk ibu dan adek-adek arum di kampung. Dan Arum juga harus menabung untuk biaya kuliah tahun depan.” Jelas Arumi pelan.


Yuda serasa tidak percaya mendengar penuturan gadis tersebut. Namun dia melihat mata gadis itu. Gadis itu masih sangat muda dan polos. Tidak mungkin iya berbohong. Dan dari sorotan matanya, tidak nampak kebohongan sama sekali.


“Terus,” Yuda masih penasaran dengan cerita Arum. Dia masih menunggu kelanjutan cerita Arum.


“Bos Arum tau tentang permasalahan Arum. Bos Arum memberikan tawaran pekerjaan ini. Jadi Arum ditawarkan gaji yang besar. Jadi gaji tersebut bisa Arum tabung. Dan saat kuliah. Uang tabungan Arum cukup biaya Arum sampai tamat.” Jelas Arumi lagi.


“Terus.”


“Mana mungkin Arum menolak kesempatan emas ini ak. Karena kesempatan seperti ini mungkin hanya datang sekali seumur hidup.” Jawab Arumi.


“Kamu luar biasa.”


“Makasih ak.” Kata Arumi.

__ADS_1


“Arum mau kuliah di mana?” tanya Yuda.


“Mimpi Arum UI.”


“Susah sekali bisa masuk ke sana. Fakultas apa?” tanya Yuda penasaran.


“Iya ak arum tau. Fakultas kedokteran ak.”


Yuda melotot.


“Tapi kalau gak bisa di UI Arum ambil kuliah di universitas lain ak.”


“Ini ruang kelas kamu,” kata Yuda setelah mereka sampai di suatu ruangan.


“Ya allah. Arum lupa ak. Tas make up Arum masih di kamar. Arum jemput dulu ya ak.”


“Ya udah aak antarin kamu.”


Dengan jalan secepat mungkin Arum mengambil tas make up dan tas sandangnya. Di dalam kamar. Sedangkan yuda masih berdiri di depan pintu kamar.


“Udah ak.”


“Sini tas kamu.” Yuda mengambil dua tas di tangan Arum. Sambil menyandarkan tas ke bahunya yang satu lagi di tenteng.


“Gak usah ak. Arum bisa sendiri.”


“Udah jangan protes.”


Arum senyum lihat Yuda yang memakai tas cewek.


“Makasih ya ak. Dah antarin Arum,” sambil masuk ke kelas make up.


“Iya Rum”


Tak jauh dari mereka, seseorang sedang mengawasi mereka.

__ADS_1


__ADS_2