
Yuli memandangi Rangga yang bermain bersama dengan Vira. Rasa rindunya begitu sangat besar. Andaikan dia bisa memeluk Rangga satu kali saja, mungkin rasa itu sudah bisa melunturkan rasa rindunya bertahun-tahun. Namun jangankan memeluk, untuk berbicara saja rasanya Dia tidak berani.
Yuli duduk di taman sambil tersenyum ketika melihat Rangga yang berlari-lari bersama dengan Vira. Yuli tidak bisa mendekati anaknya karena di sana ada beberapa orang bodyguard yang mengawasi kedua anak tersebut.
Beberapa hari lagi Yuli akan keluar dari rumah sakit ini. Yuli selalu mengintip Rangga yang bermain di areal Rumah Sakit bersama dengan Vira. Namun terkadang Arum tidak membawa anak-anaknya. Ingin rasanya ia bisa memeluk Rangga. Yuli menangis ketika harus mengurungkan niatnya. Saat ini Rangga begitu sangat dekat dengannya, namun tidak bisa disentuhnya. Rasa malu begitu sangat besar ketika ia harus mengakui semuanya.
Rangga sudah bahagia bersama dengan dokter Arumi. Yuli tidak ingin merusak kebahagiaannya. "Aku orang yang melahirkannya. Aku ibunya. Namun dokter Arumi yang telah membesarkan dan merawatnya. Dia terlihat begitu sangat tulus menyayangi Rangga. Rangga begitu sangat bahagia dengan keluarga dokter Arumi,” ucapnya penuh keikhlasan.
***
Arum masuk ke dalam ruang perawatan Yulia bersama dengan dokter Dira.
"Bagaimana Mbak Yulia kondisinya?” tanya Arumi.
Yuli tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “saya sudah sangat baik dok,” ucapnya.
“Mbak Yulia sudah boleh pulang besok. Apakah ada pihak keluarga yang menjemput,” tanya Arum.
“Saya tidak memiliki keluarga di sini dok,” ucapnya.
Arum diam dan menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan wanita tersebut.
"Apakah saya boleh keluar dulu dari sini dok, nanti setelah saya pulang ke kampung saya akan datang lagi ke sini, untuk membayar tagihan Rumah Sakit saya, atau saya boleh minta nomor rekening rumah sakit ini, biar saya bisa mentransfernya nanti,” ucapnya.
Dira diam saat mendengar ucapan pasien tersebut.
"Bagaimana caranya Mbak Yuli pulang ke kampung,” tanya Arum.
Yuli menggelengkan kepalanya, “saya belum tahu Dok, karena saya juga tidak memiliki apa-apa untuk ongkos pulang ke sana,” ucapnya.
“Saya akan membantu ongkos Mbak Yuli untuk pulang ke kampung, dan bila keluarga Mbak Yuli di sana tidak punya biaya untuk bayar rumah sakit tidak apa-apa, saya ikhlas,” ucap Arum kepadanya.
Yuli sudah tidak mampu lagi menahan dirinya. Yuli bersimpuh di kaki Arum.
Arum begitu sangat terkejut saat melihat apa yang dilakukan wanita tersebut. “Mbak Yuli nggak perlu seperti ini,” ucap Arumi yang berusaha membantunya untuk berdiri.
Yuli menangis dan menggelengkan kepalanya. Yuli menolak saat Arumi memintanya untuk berdiri.
Dira yang berdiri di samping Arumi tampak terkejut, namun dia bersikap setenang mungkin.
"Saya tahu dokter Arumi orang yang sangat baik. Saya sangat berterima kasih dan bersyukur bisa berjumpa dengan dokter Arumi. 5 tahun yang lalu saya datang ke sini melahirkan,” ucapnya dengan suara tangisnya.
__ADS_1
Arum sangat terkejut saat mendengar cerita yang disampaikan.
“Saya melahirkan di tanggal 23 April,” ucap Yuli yang memberikan informasi saat dia melahirkan.
Arum merasa detak jantungnya berdegup dengan sangat hebatnya ketika mendengar apa yang disampaikan oleh wanita tersebut. Wajahnya memucat, kakinya gemetar.
“Saya meninggalkan putra Saya di Rumah Sakit dok,” ucapnya.
Arumi hanya diam tanpa menjawab apa yang disampaikan oleh wanita tersebut.
“Saya dengar dari para perawat di sini tanggal lahir Rangga sama dengan tanggal lahir anak yang saya tinggalkan,” ucapnya.
Arum masih diam tanpa menjawab ucapan wanita tersebut.
"Saya sangat berterima kasih Dokter Arumi sudah mau menerima anak saya. Saya mohon jangan sampaikan ini kepada anak saya. Lebih baik dia tidak mengenali saya sama sekali,” ucapnya.
Arumi menangis saat mendengar ucapan wanita tersebut.
“Setelah ini saya janji saya tidak akan muncul lagi di sini. Saya akan di kampung bersama dengan kedua orang tua saya. Saya sangat bersyukur anak saya memiliki kehidupan yang layak. Saya yakin saya tidak akan bisa menjadi orang tua yang baik seperti dokter Arumi,” ucapnya.
Arum berusaha menahan kestabilan tubuhnya ketika ia merasa akan jatuh.
"Saya akan bantu dokter Arum keruangan,” ucapnya yang sangat mencemaskan dokter pemilik Rumah Sakit tersebut.
Arum mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana saya tahu bahwa Mbak Yuli adalah ibunya Rangga,” ucapnya.
“Bila masih ada berkas data pasien, dokter Arum boleh mencocokkan dengan saya, nama saya Yulia Arita, nama ayahnya Dendy Firman,” ucap Yulia menjelaskan.
"Mbak Yuli duduk, Saya tidak ingin Mbak Yuli seperti ini,” ucap Arumi ketika wanita itu hanya bersujud dikakinya.
Yuli mengikuti apa yang diminta Arumi, ia kemudian duduk dengan kepala yang tertunduk.
“Saya adopsi Rangga secara resmi dan sah menurut Negara,” ucapnya. Dalam artian apa yang disampaikannya merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan bila suatu saat nanti orang tua kandung anak itu, tidak bisa seenaknya mengambil anaknya.
Yuli mengusap air matanya, dia menangis dan mengangkat kepalanya. “Saya tidak akan mengambil Rangga, saya janji dan saya akan pastikan itu. Saya juga tidak akan memberitahukan hal ini kepada ayahnya nanti. Saya percaya kehidupan Rangga jauh lebih baik bila dia bersama dengan dokter Arumi. Waktu itu saya masuk ke sini bersama dengan Dendi ayahnya Rangga. Kami datang ke sini karena kebetulan rumah sakit ini yang kami lewati. Setelah itu saya melahirkan dan berusaha mencari uang untuk membayar uang persalinan di sini. Namun kami tidak memiliki uang sama sekali. Dendi hanya mengambil pekerjaan tukang bangunan, itu pun bagian pembantu tukang. Kami juga tidak punya uang untuk membeli perlengkapan bayi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan anak kami di sini. Kami berharap memiliki rezeki untuk mengambilnya lagi. Namun ternyata semuanya tidak semudah yang kami bayangkan,” ucap Yuli sambil berusaha untuk menahan tangisannya.
“Saya hanya ingin memeluk Rangga, hanya memeluknya, saya tidak akan mengatakan apapun kepadanya, karena saya tidak ingin dia mengetahui siapa saya. Saya tidak ingin merusak kebahagiaannya,” ucap Yuli.
Arumi menganggukkan kepalanya. “Saya akan bawa besok Rangga ke sini, tapi ingat jangan katakan apapun,” ucapnya. Arumi tidak mampu menahan sesak didadanya. Arum tidak bisa membayangkan bagaimana asal-usul anak tersebut.
__ADS_1
Yuli mengangkat kepalanya, “terima kasih dokter Arumi,” ucapnya.
Arum sedikit menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan kamar tersebut.
Dokter Arumi
***
Habibi masuk ke dalam ruangan Istrinya. Ia melihat istrinya yang sedang duduk di meja kerjanya. Pria itu sangat terkejut ketika melihat istrinya yang menangis. "Sayang kenapa?" Tanya Habibi yang mendekati istrinya.
Arum memeluk suaminya yang berdiri di depannya, air matanya semakin deras membasahi pipinya.
“Kenapa Dek,” tanya Habibi yang begitu heran saat melihat istrinya menangis hingga terisak. Habibi tidak pernah melihat istrinya menagis seperti ini.
"Sayang ada apa,” ucapnya mulai mencemaskan istrinya.
Arum mengusap air matanya dengan punggung tangannya. "Mas ibu Rangga ternyata Mbak Yuli,” ucapnya.
“Yuli mana,” tanya Habibi.
“Pasien Arum yang waktu itu datang ke sini," ucap Arumi berusaha menjelaskan kepada suaminya.
Habibi menganggukkan kepalanya saat mendengarkan penjelasan dari istrinya. “Adek tahu dari mana,” tanyanya.
“Mbak Yuli itu langsung ngomong ke Arum Mas,” ucapnya.
Habibi hanya diam saat mendengar ucapan istrinya. Tubuhnya terasa membeku dan tidak bisa bergerak. Begitu juga dengan otak yang berhenti bekerja. Habibie tidak mampu untuk berkata apa-apa. Apa yang akan dilakukan oleh Yuli, sedangkan dia dan juga istrinya sudah begitu sangat menyayangi Rangga.
“Apa yang Dikatakannya,” ucapnya setelah bisa mengembalikan pikirannya.
“Dia akan kembali kekampungnya Mas, dia juga meminta agar bisa memeluk Rangga. Dia berjanji hanya memeluk saja dia tidak akan cerita apapun,” ucapnya.
“Kapan dia keluar dari rumah sakit ini,” tanya Habibi.
“Besok,” jawab Arum.
“Kalau begitu besok kita bawa Rangga kesini, tapi sebelum itu mas ingin bertemu dengan dia secara langsung,” ucapnya.
“Arum siapkan barang Arum dulu Mas,” ucap Arumi.
***
__ADS_1