
"Assalamu'alaikum," ucap Maya yang membuka pintu ruangan Eka.
Arum tersenyum ketika melihat Maya yang datang bersama dengan Akila.
"Akila Apa kabar?" ucapnya yang tersenyum memandang gadis kecil nan cantik tersebut.
"Baik mimi Arumi," ucap Akila yang mengalami tangan nya dan mencium pipi kiri dan kanan nya.
Eka tersenyum memandang Akila. Eka mengembangkan tangannya dan memeluk gadis kecil tersebut. "Akila harum banget," ucap Eka saat mencium pipi gadis kecil tersebut.
Akila tersenyum dan menganggukkan kepalanya." Kila tadi pakai parfum, kata mami ada Rangga," ucapnya.
Arum memandang gadis kecil itu. "Kalau ada Rangga Kenapa?" tanya Arum yang mengerutkan keningnya.
"Kalau nanti kila nggak pakai parfum, Rangga bakalan bilang kila bau," Ucapnya polos.
Arum dan Eka tertawa saat mendengar ucapan gadis kecil tersebut.
Maya hanya tersenyum memandang putrinya.
"Rangga itu selalu baik dengan Kila, tapi kalau di depan Mimi Arum, Mami, Papi depan Pipi Habibi. Pokoknya di depan orang dia bakalan baik Mi, tapi kalau nggak ada orang dia nggak baik sama Kila. Rangga itu seperti bunglon yang bisa berubah berubah warna," ucapnya yang memajukan bibirnya yang kecil dan bulat ke depan.
Arum tertawa saat mendengar ucapannya.
"Masa sih Abang Rangga nya seperti itu?" ucap Arum yang seakan tidak percaya. Namun Arum yakin bahwa Akila tidak sedang berbohong mengingat gadis kecil itu selalu menagis dan mengadu di buat Rangga.
Dengan membulatkan bibir kecilnya ke depan Akila menganggukkan kepalanya.
Arum hanya tersenyum saat mendengar jawaban gadis kecil tersebut.
"Kalau bang Rangga gak mau sama Akila, Akila sama bang Daffa aja,". ucap Eka yang tersenyum memandang gadis kecil yang bermata bening tersebut.
Akila mengelengkan kepalanya. "Bang Daffa itu cuma fokus sama kak Vira. Dia gak mau dekat sama Kila. Lebih baik bang Rangga," ucapnya.
Arum hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan gadis kecil tersebut.
Eka meminta agar karyawan yang mengganti baju Akila untuk mengikuti sesi pemotretan bersama dengan Rangga, Daffa data dan Vira.
__ADS_1
Eka masih diam saat mengingat apa yang disampaikan oleh Arum. "Waktu Mas Heri pergi ke acara Aisah. Mas Imam minta mas Heri untuk pindah mobil sama pengawal pribadi Arum," ucap Eka yang mengingat suaminya mengadu saat pulang dari Semarang.
Maya yang baru duduk bergabung ikut mendengarkan pembicaraan mereka. "Mas Rio juga ngomong gitu. Katanya kak May sarah dekat sama Mas Imam," ucapnya.
"Arum kok nggak tahu ya," ucapnya.
"apa kak May sudah jadian sama mas Imam tanya Maya.
"Kata Arum kak mau di jodohkan," ucap Eka.
"Coba aja Eka tanya mas imam tentang hubungan nya dengan Kak May," ucap Maya.
Eka mengangukan Kepalanya. "Tadi kakak minta Mas Heri beli es rumput laut apa ada yang mau nggak?" tanya Eka.
"Arum mau," ucapnya.
"Kak juga," ucap Maya.
"kakak telepon Mas Heri sebentar ya," ucap Eka yang menghubungi suaminya.
"Iya sayang," jawab Heri.
"Mas es rumput laut nya ditambah 2 lagi ya," ucap Eka.
"Tadi mintanya 1," ucap Heri.
"Iya tapi di sini ada Arum sama Kak Maya Jadi kami mau makan es rumput laut sama-sama," ucap Istrinya.
Heri menghempaskan nafasnya saat mendengar ucapan istrinya. "Ya udah Mas beli lagi," ucapnya yang kemudian memutuskan sambungan telepon.
"Kak Eka, Kak Maya injak jempol kaki Arum," ucap Arum kepada kedua wanita hamil tersebut.
Eka tersenyum memandangnya. "Boleh," ucapnya.
"Kaos kaki buka dulu," ucap Arum yang membuka kaos kakinya.
"Arum percaya," ucap Maya.
__ADS_1
Arum tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu juga tapi kalau yang baik-baik kita harus diaminkan, " ucapnya yang berharap tertular hamil seperti kedua wanita tersebut.
Eka membuka kaos kakinya dan memijak jempol kaki Arum.
Maya membuka kaos kaki nya dan
menginjak jempol kakinya.
"Ini mitos siapa yang buat sih," ucap Maya.
"Sepertinya nenek moyang kita juga kak," ucap Arum sambil tertawa.
"Semoga nular," ucap Eka dan Maya.
***
Pipit dan juga ga Wati ibu kandung May sarah sibuk mempersiapkan kan masak kan kan untuk menjamu calon menantu mereka.
begitu banyak yang disiapkan oleh kedua wanita tersebut yang dibantu tetangga tetangga dekat rumahnya. Mengingat rombongan dari pihak laki-laki akan datang cukup ramai.
suasana di dalam rumah itu begitu sangat ramai.
*
May ingin membantu di dapur, namu dilarang Pipit dan wati. May akhirnya hanya diam di dalam kamar. May duduk di tepi tempat tidur dengan kaki yang menjuntai ke kelantai. mesara mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Rambutnya pendeknya yang panjang seleher di acak-acak nya. z
Saat ini dirinya sudah seperti orang gila di dalam kamar.
May melihat ponselnya, diambilnya ponsel tersebut dan bersiap-siap untuk melemparkan ponsel itu ke lantai. Namun dia membatalkan niatnya dan melemparkan ponsel tersebut ke atas tempat tidur. "Sayang," ucap.
May sudah tidak mampu menahan tangisnya. dan pada akhirnya dia menagis. "Pak imam, kamu jahat," ucap May yang memegang dadanya sambil menagis. Bila saat ini pria itu ada di depannya, ingin rasanya dihajar nya habis-habisan.
"Dasar cowok PHP," ucapnya yang meninju udara.
***
Jangan lupa like dan votenya ya reader. terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏
__ADS_1