
“Setelah ayah Arum meninggal. Saya sampai depresi. Saya shock waktu itu. Ayah Arum sangat sehat tanpa ada sakit sedikit pun. Hari itu saya masak pindang ikan patin. Ayah Arum makan dengan sangat lahapnya bahkan dia bertambah-tambah makannya. Tidak seperti biasa. Jam 6 sore, dia kembali makan dengan lahapnya. Ikan pindang yang saya masak habis padahal waktu itu saya membeli ikan 1 kg. Biasa kalau saya masak pindang ikan patin 1 kg bisa tahan 2 hari. Saya sampai berfikir, bahwa masakan saya sangat enak. Saat azan maghrib. Kami sholat berjamaah. Waktu itu Arum kelas 6 SD, Azzam berumur 6 tahun dan Aisah 3 tahun lebih. Kami sholat berjamaah saat sujud di rakaat ke 3 sangat lama saya sujud. Namun tidak ada tanda-tanda dia akan mengatakan Allahhu Akbar. Sangat lama dan saya menepuk tangan 3 kali. Namun, tetap dia tidak bergerak. Saya angkat kepala saya dia masih tetap sujud. Terdengar saya Arum bertanya. Bu, kenapa ayah sujudnya lama sekali. Saya langsung berdiri. Saya panggil dia tetap tidak bergerak. Saya tepuk-tepuk bahunya namun tubuhnya jatuh ke samping. Melihat seperti itu. Saya panik. Saya terus memanggil-mangil namanya. Saya letakkan jari saya ke hidungnya untuk memastikan bahwa dia masih bernafas. Namun ternyata tidak ada hembusan nafas dari hidungnya. Saya duduk seakan tidak percaya. Arum sudah mulai menangis, begitu juga dengan Azzam. Aisah yang begitu kecil belum mengerti. Kemudian saya kembali mendekat dan terus menguncang-guncang tubuhnya tetap dia tidak bergerak. Saya buka mulutnya saya memberikan nafas buatan. Sudah habis rasanya nafas saya untuk mengembus mulutnya. Namun tetap dia tidak bergerak. Saya duduk sambil berkata ke Arum untuk panggil tetangga. Tidak ada yang percaya kalau dia sudah meninggal. Hari itu dia masih pergi bekerja ke perkebunan milik pak Handoko. Kembali saat makan siang. Sore itu dia memang pulang lebih cepat. Biasanya dia baru sampai di rumah jam 5 lewat. Hari itu dia sampai di rumah jam 4.30. Setelah bersih-bersih. Jam 6 dia minta makan. Biasanya kami makan jam 8 malam setelah sholat Isya. Malam itu saya tidak melepaskan tubuhnya. Saya terus memeluk walaupun tubuhnya sudah dingin dan kaku. Seakan dia sedang tidur. Air mata tak ada hentinya untuk keluar. Keesokan harinya, saya yang langsung memandikan jenazahnya. Saat dia di kafani saya seakan tidak iklas melihat tubuhnya yang terbungkus oleh kain kafan. Saat tanah mulai menimbun tubuhnya saya serasa ingin melompat masuk ke dalam. Kemudian, pandang saya mulai buram dan saya pingsan. Saya bagun ketika saya lihat saya sudah di rumah. Saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Selama ini saya hidup sebatang kara. Hanya dia satu-satunya tempat saya bergantung. Saat dia meninggal saya tidak punya siapa-siap lagi. Saya lupa bahwa ada anak-anak saya yang harus saya perjuangkan. Arum mengurus adik-adiknya dan saya. Tidak pernah dia menangis. Dia selalu berusaha menguatkan saya. Arum terlihat begitu kuat. Saat adik-adiknya bertanya tentang ayah mereka, Arum akan bercerita bahwa ayahnya sangat bahagia di surga dan menunggu kita di sana. Dia bercerita kepada adik-adiknya dengan senyum yang sangat meyakinkan. Namun dia hanya gadis umur 11 tahun yang sebenarnya dia tidak sekuat yang terlihat. Saya sungguh malu terhadap anak saya. Sejak saat itu saya sakit-sakitan. Dokter memvonis saya sakit jantung. Tidak boleh kerja berat dan stres. Saat itu saya baru menyadari bahwa anak-anak saya sangat membutuhkan saya. Namun apa yang bisa saya lakukan. Kondisi saya sudah tidak bisa untuk banting tulang. Arum support saya. Dia menjadi penguat saya. Dia tahu bahwa saya pandai memasak. Jadi dia meminta saya untuk membuat gorengan untuk di jual di sekolah. Sejak kelas 6 SD dia sudah berjualan goreng di sekolah sampai dia tamat SMA. Gorengan yang di bawaknya selalu saja habis. Kalau liburan sekolah, dan setiap minggu. Dia akan bekerja ke rumah orang-orang kaya di desa saya. Membersihkan rumah, cuci dan gosok. Kalau tidak ada kerjaan di rumah-rumah. Maka dia akan bekerja di perkebunan untuk memanen. Dulu waktu ayah Arum masih hidup beliau sangat berharap agar Arum bisa jadi dokter. Ayahnya pernah kuliah kedokteran namun tidak tamat karena kedua orang tuanya meninggal sehingga tidak ada biaya.” Jelas Siti menceritakan jalan hidupnya.
Anita mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Siti.
“Jadi ayah Arum pernah kuliah kedokteran buk?” Tanya Anita.
“Iya dia kuliah di UI. Kalau dia masih hidup mungkin seumurnya sama dengan ibuk Anita.”
__ADS_1
“Siapa nama ayah Arum buk,” tanya Anita. “Kalau seumuran mungkin adek tingkat atau abang tingkat yang tidak jauh beda dan mungkin saya kenal.”
“Mardi Erlangga.”
“Siapa....” tampak Anita terkeju mendengar nama itu.
“Tunggu sebentar ya buk Siti.”
__ADS_1
“Iya buk.”
Anita pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya. Iya membawa beberapa album foto yang tampak album foto lama. Anita mulai membuka album foto tersebut.
“Apakah ada ayah Arum di sini.” Kata Anita sambil melihatkan foto seorang perempuan yang tampak sangat cantik, dan duduk di tengah. Di sebelah kiri dan kanannya pria. Wajah gadis yang terlihat tersebut mirip dengan Anita. Yang di sebelah kanannya terlihat wajah Jhoni saat masih muda mirip dengan Habibi. Di sebelah kiri.... Air mata Siti langsung bercucuran saat yang di lihatnya adalah ayah Arumi.
“Ini...ini... Ayah Arum.” Kata Siti sambil tidak bisa lagi menahan tangisnya.
__ADS_1