Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 261


__ADS_3

" Permisi bu, bu Eka ada di depan," ucap bik Ani.


" Iya bik, kami akan langsung kedepan. Buat minum ya bik," ucap Arum.


" Baik buk," jawab bik Ani.


" Daffa datang ya mi?" tanya Vira.


" Iya ada Daffa di depan," ucap Arum yang memandang putri kecil nya.


" Mi, Pi, Vira mau ke kamar dulu ya mau ambil jilbab," ucapnya yang berlari menuju ke kamarnya.


Arum dan Habibi tersenyum saat melihat putri kecil mereka sudah pintar untuk menuntut auratnya.


Mereka kemudian berjalan ke depan menuju ke ruang tamu untuk menemui Eka beserta abangnya.


Habibi terkejut saat melihat Imam. Begitu juga dengan imam. mereka sama-sama tidak menduga bahwa mereka akan berjumpa di rumah ini.


" Pak Imam," ucap Habibi menyapanya.


Imam tersenyum. " Pak Habibi," ucap nya Kemudian.


Mereka saling berjabat tangan dan Imam memeluknya." Saya tidak menyangka Bahwa kita akan berjumpa di sini. Saya juga tidak menduga bahwa keluarga yang sudah menolong adik saya adalah keluarga Pak Habibi" ucapnya dengan tubuhnya yang bergetar.


Habibi menepuk-nepuk pundak pria itu.


" Semuanya karena jodoh, Kami di pertemuan dengan adik pak Imam," ucap Habibi.


" Saya tidak tau bagaimana cara saya untuk membalas budi Keluarga pak habibi," ucapnya.


Habibi tersenyum memandang pria tersebut. " Kami tidak mengharapkan balas budi, kami ikhlas membantu nya. Tidak ada unsur yang lainnya," ucapnya kepada Imam.


" Saya tahu, hanya saja sebagai manusia Saya pasti merasa berhutang budi," ucapnya kemudian.


" Silakan duduk pak Imam," ucap Habibi.


Imam kemudian duduk di kursi sofa tersebut.


" Mas kenal dengan abang nya kakak Eka?" tanya Arum.


Eka juga sangat terkejut saat melihat Abang nya ternyata sudah mengenal Habibi.


" Iya kami rekan bisnis," ucap Habibi.

__ADS_1


Imam tersenyum. " Maaf ya pak Habibi, saya membatalkan pertemuan kita," ucapnya .


" Tidak apa-apa pak Imam, ternyata kita berjumpa di sini," ucap Habibi.


" Perusahaan saya melakukan kerja sama dengan perusahaan Pak Habibi. beberapa proyek pembangunan sedang di pegang perusahaan pak Habibi." ucap Imam.


Habibi tersenyum dan kemudian mengangukan kepanya.


Mas kami tinggal ya ucap Arum.


Habibi memandang istrinya. Arum kemudian tersenyum. " Arum mau ngobrol sama Kak Eka di belakang," ucapnya.


Imam memandang Arum, bila Ia menebak usia wanita itu sama dengan adiknya. mungkin juga lebih kecil dari adiknya.


" Kamu yang namanya Arumi?" tanya kepada Arum.


Arum menganggukkan kepalanya. " Iya Mas, saya Arumi," ucapnya.


" Kamu temannya Eka," tanya Imam.


" Kak eka gak seperti teman lagi bagi Arum, tapi sudah seperti saudara sendiri," jawabnya.


Imam tersenyum memandangnya. " Terima kasih, Mas benar-benar mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah mau membantu Adik Mas," ucap Imam.


Imam dan Habibi menganggukkan kepala mereka.


" Om Heri," ucap Vira yang baru datang dari belakang.


" Om kirain Vira nya sudah tidur," ucap Heri.


" Ini baru jam 8 malam om, emangnya Om kirain kami ini anak bayi apa yang tidurnya jam 8 malam," ucap gadis kecil tersebut.


" Pintar ya kamu," ucap Heri yang mengusap kepala gadis kecil tersebut.


Melihat Vira yang datang, Daffa tampak begitu sangat senang.


" Kamu belum tidur ya cie?" ucap Daffa yang memandang gadis kecil tersebut.


" Ya belum lah," jawab Vira.


" Kita main ke taman yuk," ucapnya mengajak Daffa bermain di taman samping rumahnya.


" Boleh," jawab Daffa.

__ADS_1


Om Heri temani kami main," ucap kedua anak itu yang menarik tangannya.


Habibi dan Imam hanya tersenyum memandang pria tersebut.


Heri hanya tersenyum sambil mengikuti kedua anak itu menarik-narik tangan nya.


" Saya baru tahu ternyata Eka punya Abang laki-laki," ucap Habibi.


Imam menganggukkan kepalanya. " Saya juga gak menyangka bahwa ternyata adik yang saya cari selama ini Sekarang sudah sangat sukses," ucapnya.


" Alhamdulillah pak Imam, semuanya tergantung niat Pak Imam," jawab Habibi.


" Saya sangat berterima kasih kepada keluarga pak Habibi. Karena jasa anda dan keluarga anda, adik saya bisa seperti sekarang. Jika bukan karena kalian saya tidak tahu seperti apa nasib adik serta keponakan saya," ucapnya yang mulai meneteskan air matanya.


Habibi mendegar kan pria itu bercerita tentang dirinya. Imam menceritakan alasan Ia tidak berjumpa dengan adik nya. tanpa ada yang di tutup-tutupi pria tersebut.


" Pak Imam tidak perlu menyesali apapun, semuanya sudah takdir. Segala sesuatu itu terjadi karena kehendak Allah dan segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Jadi Pak Imam tidak perlu menyalahkan diri sendiri ucap Habibi.


" Awalnya saya tidak menduga bila keluarga yang menolong adik saya itu adalah Pak Habibi. Saya dengar Eka menceritakan tentang Arumi," ucapnya.


" Arumi itu istri saya,"ucap Habibi.


" Saya tidak terpikir untuk menanyakan siapa nama suami Arumi," ucapnya sambil tersenyum.


Habibi tersenyum. " Saya menikah dengan istrinya saya saat dia berusia 19 tahun. waktu itu Ia masih mahasiswa semester awal. Istrinya mahasiswa kedokteran, dan di umur 21 tahun Anak kami lahir. Istri saya selelai kuliah kedokterannya satu tahun yang lalu. Sama dengan Eka, mereka wisuda hanya beda minggu nya saja. Saat ini istri saya sedang Koas. Dari dulu yang membuat saya sangat mengagumi istri saya, karena sikapnya yang selalu perduli dengan siapa saja," ucap Habibi.


" Dulu sewaktu saya belum menikah dengan Arum, saya beberapa kali jumpa sama Eka di kos-kosan Arum. Sewaktu Arum menceritakan tentang Eka di rumah sakit saya sudah tahu orangnya dan karena melihat kondisinya seperti itu istri saya meminta agar Eka menjadi tanggung jawab kami," ucapnya.


" Saya benar-benar gak menyangka ternyata di dunia ini masih ada manusia yang berhati sangat tulus dan juga baik seperti keluarga Pak Habibi. Saya tidak tahu bagaimana cara untuk mengucapkan terima kasih saya. Saya juga tidak tahu bagaimana cara untuk membalas Budi Pak Habibi kepada keluarga saya," ucapnya.


" Eka itu sudah seperti adik saya sendiri. Saya menganggap nya sudah seperti keluarga saya sendiri. Kami juga tidak ada membedakan Daffa dan juga Vira. Kami sama-sama menyayangi mereka dan sekarang Pak Imam juga sudah seperti keluarga saya," ucap Habibi.


Air mata pria itu menetes saat mendengar ucapan Habibi tersebut. Ia merasa terharu saat mendengar ucapan Habibi. " Selama ini saya merasa hidup saya hampa. Saya merasa hidup sendiri di dunia. Saya memiliki keluarga namun keluarga saya mungkin tidak pernah memikirkan saya. Setelah saya pergi dari rumah saya menjalani hidup sendiri. Susah senang saya telan sendiri. Bahkan dalam hidup saya, saya belum pernah merasakan senang, bahkan saya tidak bisa untuk menolong adik saya. Tidak ada tempat untuk mengadu, bagi saya semua yang saya lakukan berjuang sendiri untuk hidup saya. Setelah saya mendapatkan semua nya, saya masih merasa tidak tenang. jiwa saya hampa, saya seakan tidak memiliki tujuan hidup. Hingga saya hanya menghabiskan waktu saya di dalam pekerjaan saya. Hidup saya pekerjaan saya. hanya itu yang ada di dalam benak pikiran saya. namun kali ini saya merasa saya memiliki keluarga saya memiliki keluarga yang baru setelah saya mengenali anda" ucapnya yang mengusap air Matanya.


" Heri mengatakan ingin Melamar Eka," ucap imam.


Habibi menganggukkan kepalanya. Saya sangat mengenali Heri . Sudah sangat lama dia bekerja dengan saya. Sebenarnya saya pernah menawarinya untuk bekerja di dalam perusahaan namun dia menolak dia itu sebenarnya sarjana ekonomi. Dia lebih nyaman dengan pekerjaannya menjadi pengawal pribadi. Dia itu sangat baik saya yakin dia bisa menjaga Eka dan juga Daffa ucap Habibi.


****


Jangan lupa like komen dan vote nya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.


πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

__ADS_1


__ADS_2