
Pipit memandang May Sarah yang sedang dirias oleh seorang perias make up yang tinggal di dekat rumahnya. Pipit sengaja membayar perias make up tersebut agar putrinya terlihat begitu sangat cantik di malam ini. Pipit tahu bila tidak seperti itu maka putri nya tidak akan mau berdandan. Apalagi perjodohan ini memang tidak diinginkan oleh putrinya.
pipit tersenyum saat melihat wajah putrinya yang begitu sangat cantik.
May sarah memakai baju gaun berwarna biru pekat dengan rok yang mengembang.
Saat ini wajahnya cantik bak boneka Barbie. Jilbab yang dipakainya dibuat begitu sangat simpel namun cantik. Sesuai dengan keinginan nya yang tidak mau dibuat model yang ribet. Wajahnya yang cantik tanpa sedikitpun senyumman yang terlihat.
Pipit tersenyum memandang wajah putrinya yang sangat cantik yang cantik dan cemberut. Pipit menjepitkan jarinya pipi putrinya. Dinaikkan nya pipi putrinya ke atas agar terbentuk seperti senyumman. "Senyum sedikit sayang biar manis," ucapnya yang tersenyum memandang putrinya.
Air mata May serasa akan meluncur turun saat mendengar ucapan mamanya. Ada rasa sedih saat May menyadari apa yang dilakukan mamanya merupakan bentuk dan bukti bahwa mamanya begitu sangat menyayanginya . "Haruskah May menerima pria itu nanti," ucapnya didalam hati.
May sedikit memaksakan senyum di wajahmu yang cantik.
pipit tersenyum lebar saat melihat senyum di wajah putrinya. Diciumnya pipi putrinya kiri dan kanan. "Mama dan papa sudah tua. Papa sudah mulai bungkuk dengan rambut yang sudah putih di kepala. Mama juga begitu, kulit Mama juga sudah keriput sekarang. Harapan terakhir Kami ingin melihat May menikah. Impian untuk melihat Dimas menjadi sarjana sudah di depan mata dan sekarang impian kami adalah menyaksikan pernikahan May," ucapnya memegang pipi putrinya.
May sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Walaupun nanti May sudah menikah, May tidak mau bila suami May mengatur May," ucapnya.
Pipit menggelengkan kepalanya. ,"Kamu tidak bisa masuk surga nak kalau tidak menuruti suami kamu," ucapnya.
May memandang mamanya
"Setelah kamu menikah surga kamu ada ditelapak kaki suami kamu. Kamu harus ingat itu. Bila May bisa menjadi istri yang Solehah, maka itu merupakan surga untuk papa dan mama. Ibu dan ayah," ucap pipit yang mengusap kepala putrinya.
May menangis memeluk mamanya. "Bila mama waktu itu tidak mau menerima kehadiran May mungkin May tidak akan ada seperti saat ini. Apa yang harus May lakukan agar May bisa menunjukkan bahwa May sayang mama dan papa. Bagi May , mana dan papa adalah pahlawan untuk May," ucapnya yang menagis.
__ADS_1
"Apa yang kami lakukan untuk May, semuanya ikhlas tulus karena Mama, Papa sayang May. mama papa mendapatkan balasan pahala dari Allah dan syarat kami masuk surga adalah memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Yang akan menjadi bukti kami sudah menjalankan amanah yang diberikannya," ucap Pipit yang mengusap air matanya.
May menagis memeluk mamanya yang bertubuh jauh lebih rendah dari nya.
"May jangan nangis, mama udah bayar mahal untuk make up ini. Kalau mau menangis nanti naik makeup nya Jadi berserah," ucap Pipit yang menghapus air mata putrinya.
May yakin kalau orang itu sudah jumpa May dia bakalan nggak akan mau nikah sama May," ucapnya.
"Anak Mama sangat cantik, tidak mungkin dia mau menolak," ucap Pipit.
"May heran, kenapa dia nggak pernah mundur untuk lamar May?" ucapnya. Mengingat selama 3 tahun pria itu bertahan untuk selalu menunggu lamarannya diterima May sarah dan ini adalah pertemuan pertamanya dengan pria yang bertahan melamarnya itu.
Pipit hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Cuman dia yang bodoh yang mau lamar kamu," ucap pipit sambil tersenyum.
"Pihak laki-laki sudah datang," ucap Wati yang masuk ke dalam kamar May sarah.
Air matanya serasa akan menetes keluar, dadanya begitu sangat sesak. Kakinya terasa berat untuk melangkah. May sarah semakin memajukan bibirnya ketika mendengar pihak laki-laki sudah datang.
Wati memandang putranya dan mencium kening putrinya. "Untuk kali ini May tidak boleh menolak," ucapnya yang memberikan ultimatum untuk putrinya.
May hanya diam tanpa menganggukkan kepalanya.
"Orangnya cakep kok," ucap Wati.
"Tapi May enggak suka," ucapnya.
__ADS_1
"Yang namanya nikah dijodohkan itu tidak ada yang cinta sama cinta," ucap Wati.
"May hanya diam dengan wajah cemberutnya.
"May itu sudah dewasa, May bukan anak-anak lagi. Jangan seperti anak kecil yang dipaksa nikah," ucap Pipit kepada putrinya.
May diam ketika kedua wanita yang berstatus ibunya itu mengeroyok nya.
"Kak May di suruh keluar, kak May sudah dipanggil papa," ucap Dimas yang datang ke kamarnya.
May diam sambil memajukan bibirnya. wajah terpaksa nya tidak bisa di sembunyikan nya.
May keluar dari kamarnya dan melihat ruang tamunya yang sudah penuh diisi oleh keluarga dari pihak laki-laki.
May duduk di tempat yang sudah di sediakan untuknya. May masih menundukkan wajahnya tanpa melihat orang yang sudah duduk di ruang tamu tersebut.
May kenalan dulu sama calonnya," ucap Abdul yang memperhatikan putrinya yang selalu menunduk.
"Assalamu'alaikum," ucap pria tersebut.
May mengangkat kepalanya saat mendengar suara Pria tersebut. Darahnya terasa mendidih ketika melihat sepasang suami istri yang duduk di sebelah pria yang akan menjadi suami. Pria yang duduk memangku gadis kecil yang berusia 5 tahun itu begitu sangat dikenalnya. Wajahnya yang kaku tanpa ekspresi terlihat jelas ketika matanya memandang pasangan suami istri tersebut.
***
jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏
__ADS_1