
Habibi masuk ke dalam ruangan istrinya. Matanya menyapu ruangan yang terlihat kosong dan sepi. Habibi tidak melihat istrinya di dalam ruangan yang berukuran besar tersebut.
"Pak Habibi," ucap Rangga yang berdiri atas kursi.
Habibi tersenyum saat melihat anak laki-laki tersebut. Awalnya Habibi tidak melihatnya karena tubuhnya yang kecil sehingga terlindung dari sandaran kursi yang jauh lebih tinggi daripada tubuhnya nya. "Rangga," ucapnya.
Rangga melompat dari atas kursi Ia berlari mendekati Habibi dan mencium punggung tangan Nya.
"Kapan sampai di sini?" ucap Habibi yang mengusap rambutnya.
"Belum lama Pak Habibi," ucap Rangga yang tersenyum dan merapikan rambutnya dengan jarinya. Rangga akan merapikan rambutnya bila ada yang mengusap kepalanya atau mengacak-ngacak rambutnya karena mereka geram melihat sikapmu. "Apakah Pak Habibi mencari dokter Arumi?" tanyanya.
"Iya di mana dokter Arumi?" tanya Habibi yang sengaja membungkukkan tubuhnya didepan anak tersebut.
"Dokter Arumi sedang visit pasien," ucapkan Rangga.
Habibi tersenyum dan kemudian menggendong anak tersebut. Habibi duduk di sofa dan memangkunya. "Bagaimana di sana?" tanya.
"Enak," ucap Rangga.
Habibi menatap mata Rangga saat Rangga berbicara. Wajah Rangga tidak terlihat senang saat bercerita.
"Tapi saya lebih senang di sini," ucap Rangga.
"Nanti bila Rangga tidak mau ikut dengan dokter-dokter yang ada di sini ataupun perawat yang ngajak Rangga, maka Rangga tolak. Ingat seorang laki-laki harus punya prinsip," ucap Habibi.
Rangga menganggukan kepalanya. "Tadi dokter Arumi juga berkata seperti itu," ucapnya.
"Seorang laki-laki akan menjadi pemimpin, maka seorang laki-laki harus bisa menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk menjadi pemimpin dan di hormati," ucap Habibi.
Rangga menganggukan kepalanya dan tersenyum. "Baik pak Habibi saya akan melaksanakan itu. Apakah Pak Habibi capek?" tanyanya.
Habibi menggelengkan kepalanya.
Rangga memandang wajahnya dengan tatapan yang begitu sangat penuh dengan kerinduan. Tiga hari tidak bertemu dengan Habibi membuat ia begitu sangat merindukan pria yang saat ini memangkunya.
"Mau tidur di rumah?" tanya Habibi.
Rangga menganggukkan kepalanya. "Saya sangat rindu dengan Savira," ucapnya.
"Siapkan baju-bajunya," ucap Habibi.
Rangga tersenyum dan menganggukkan kepalanya memandang pintu ruangan yang terbuka.
"Mas sudah datang?" ucap Arum yang duduk di sebelah suaminya.
Habibi tersenyum memandang istrinya dan menganggukkan kepalanya. Arum tersenyum begitu manis memandang wajah suaminya. Di ciumnya pipi Rangga yang bulat. "Rangga ambil tasnya ," ucapnya.
"iya," ucapnya yang begitu sangat ragu memangil dengan sebutan Mimi. Rangga takut pak Habibi tidak menyukainya.
__ADS_1
"Pak Habibi, saya permisi untuk ambil baju dulu," ucap Rangga.
Iya," jawab Habibi yang menurunkan anak tersebut.
Arum melingkarkan tangannya di lengan suaminya. Hidungnya yang kecil dan sedikit mancung tersebut mencium dada suaminya.
Habibi diam saat melihat sikap istrinya yang berubah manja. "Ada apa,"ucapnya.
Arum mengangkat kepalanya dan memandang wajah suaminya. Di ciumnya bibir suami dengan sangat lembut. "Gak ada," jawabnya yang memeluk suaminya dan mencium aroma Wangi tubuh suaminya.
Habibi tersenyum dan mengusap kepala istrinya.
***
Arum duduk di dalam mobil dengan menyandarkan kepalanya di dada suaminya dan mencium aroma wangi suaminya.
Sedangkan Rangga duduk di depan di sebelah supir.
Habibi hanya diam saat melihat sikap manja Istrinya. "Sayang sudah sampai," ucapnya yang baru menyadari ternyata Istrinya sudah tidur.
"Ya ampun ini kalau sudah tidur susah di bangunkan," ucap Habibi saat istrinya tidak bergerak sama sekali.
"Pak Habibi, apa dokter Arum tidur?" ucap tangga yang memandang ke belakang.
"Iya," jawab Habibi.
"Saya akan membukakan pintu," ucap Rangga ucap Rangga yang turun dari mobil. Tubuhnya yang masih pendek membuat anak itu sedang kesulitan membuka pintu mobil mengingat mobil yang saat ini mereka pakai cukup tinggi. Namun Rangga juga melarang Aldo untuk membuka pintu mobil tersebut.
"Iya pak," jawab Rangga dengan sedikit ngos-ngosan karena dia harus melompat-lompat terlihat dahulu.
Habibi masuk ke dalam rumah sambil menggendong istrinya dan masuk ke dalam lift untuk naik kedalam kamar.
Habibi meletkan tubuh istrinya dengan sangat berhati-hati. "Gak biasanya Istrinya tidur di dalam mobil," Pikirnya. Sambil membuka jilbab istrinya. Habibi juga membuka sepatu serta kaus kaki istrinya.
"Pipi," ucap Vira yang masuk ke dalam kamar.
"Sayang pipi," ucap Habibi yang mengendong putrinya. Pria itu menciumi pipi putrinya yang sudah sangat wangi dan menempel bedak bayi.
"Wangi sekali, sudah mandi ya," ucapnya.
"Iya Pi," Vira sudah mandi," jawabnya yang mencium pipi kanan dan kiri Habibi.
Habibi tersenyum ketika putri kecilnya mencium wajahnya dengan sangat banyak.
"Mimi Kenap Pi?" tanyanya.
"Mimi tidur," ucapnya yang mengecilkan suaranya.
Vira memandang pipinya. "Tidak seperti biasanya," Ucapnya yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Habibi meletkan telunjuk tangan di atas bibir. "Jangan ribut, nanti Mimi bangun," ucapnya.
Vira menganggukkan kepalanya.
"Di bawah ada Rangga. katanya rindu Vira," ucap Habibi.
Mata Vira terbuka lebar saat mendengar ucapan nya. "Apa Rangga sudah pulang," ucapnya dengan suara yang sangat kecil.
"Iya sudah," jawab Habibi.
"Pi Vira mau main sama Rangga. Kami Boleh ya Pi main ke rumah Vino," ucapnya.
"Iya boleh, nanti PIpi minta om Aldo yang mengawasi," ucap Habibi yang menurunkan putrinya.
"Pi, Vira pakai jilbab dulu," ucapnya.
"Iya," pipi mandi sebentar ya," ucapnya.
"Iya Pi," jawab Vira yang sudah berlari ke pintu.
Habibi menghubungi pengawalnya untuk meminta agar menjaga anak-anaknya. Biasanya tugas ini May Sarah yang bertanggung jawab. Namun sekarang pengawal pribadinya itu kemudian akan berhenti.
Habibi membuka jasnya dan dasinya. Ia duduk di bibir tempat tidur dan memandang wajah cantik istrinya yang sedang tertidur. Di rapikan nya rambut istri dan di ciumnya kening istrinya.
***
Pagi-pagi May sarah sudah sampai di hotel tempat Imam menginat. May melihat Imam yang duduk sendiri di lobby sambil memandang layar ponselnya. May masih tidak percaya melihat pria yang tampan dan gagah itu adalah calon suaminya. May memandang penampilanmya yang begitu amat biasa. Jauh berbeda dengan calon suaminya. Pria itu selalu terlihat sangat gagah dengan berpenampilan yang sangat elegan. May tidak pernah tau berapa harga barang yang melekat di tubuh pria tersebut. Namun apa saja yang di pakai calon suaminya, terkesan semuanya mewah dan mahal. May melihat imam yang begitu sangat fokus dengan ponsel di tangannya. Bila dia balik badan calon suaminya mungkin tidak tau. pikirnya yang begitu sangat ragu untuk mendekati imam. Padahal sebelum berangkat May sudah yakin dengan penampilan nya yang menurutnya sudah sangat bagus. Namun sekarang melihat calon suaminya yang begitu sangat sempurna membuat May minder sendiri.
May duduk di sebelahnya namun dia tidak berbicara. May hanya diam dan memandang wajah tampan calon suaminya.
Imam tersenyum memandang calon istrinya yang sudah duduk di sebelahnya.
"Apa sendiri," ucapnya ketika tidak melihat keluarga May.
"Iya ibu, mama segan mau ikut. Ayah dan papa juga kerja. Dimas sibuk ngurusin wisudanya Besok," ucap nya.
Imam tersenyum memandang wajah calon istrinya. "Mas semalam gak bisa tidur sayang," ucapnya.
"Kenapa?" tanya May. Hatinya terasa begitu sangat senang saat mendengar calon suaminya mengatakan sayang.
"Ingat kamu terus," jawabnya dengan sangat jujur.
Wajah May memerah saat mendengar jawaban nya.
"Kita jalan-jalan?" tanya May.
Iya jawab Imam.
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏