Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 119


__ADS_3

Arum duduk memanjangkan kakinya dan bersandar di sandaran tempat tidur. Ardi sibuk mengupayakan buah untuknya sedangkan Habibi menyuapkan cake black forest ke mulutnya.


“Arum masih bisa makan sendiri mas.”


“Udah jangan protes.”


Pada akhirnya gadis tersebut memasukkan cake tersebut kemulutnya. Arum sangat bingung melihat tingkah kedua pria di depannya. Setelah buah di kupas, Ardi menyodorkan buah dengan menyucikan buah tersebut di sendok garpu dan menyodorkan buah ke mulut Arum.


“Arum bisa makan sendiri.”


“Kamu lagi sakit jangan banyak protes.”


Tapi kalau cuman untuk makan cake dan buah Arum masih bisa. Gadis tersebut mulai mengomel. Bahkan Omelan gadis tersebut tidak dihiraukan pria-pria di depannya.


“Cepat buka mulut.”


Dengan terpaksa Arum menerima dan memakannya. Padahal dia bisa melakukan


semua itu sendiri. Bahkan kedua pria tersebut berebutan agar pemberiannya yang duluan di makan. Arum sangat bingung melihat tingkah kedua pria di depannya.


Aisah dan Azzam duduk di sofa sambil menonton. Siti menonton TV dan sekali-sekali ekor matanya melihat tingkah 2 pria tersebut dengan putrinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Udah dong. Arum udah kenyang ini.” Sambil memanjangkan bibirnya ke depan.


“Mau mas ambilin minum?”


“Kamu mau minum apa. Aku buatin.” Ardi memberikan penawaran.


Arum Tampak bingung. “Air putih aja.”


Dengan cepat kedua pria itu mengambilkannya dan menyodorkan ke Arum.


Arum jadi binggung mau minum yang mana. Pada akhirnya air putih tersebut tidak di minumnya satu pun. Di letakkannya di atas nankas di samping tempat tidur.


“Kok gak di minum.” Tanya Habibi.


“Entar lagi,” jawab si gadis.


“Arum mau nanya.”


“Nanya apa?” Kedua pria tersebut berbicara dengan serentak.


Arum menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gak jadi.”


“Kok gak jadi.”


Arum kembali memandang dua pria tersebut. Habibi yang jauh lebih dewasa tapi kenapa seperti anak-anak. Ardi yang biasanya terlihat santai dan cuek kenapa jadi mendadak over perhatian banget.


“Hari ini Arum jadi pulang kan mas?”


“Iya nunggu dokter ngecek kamu dulu.”


“Arum udah bosan banget ini.”


“Tangan kamu apa masih sakit,” tanya Ardi


“Masih tapi udah jauh lebih enak. Jahitannya juga udah dibuka,” sambil melihat tangannya.


“Dada gimana rasanya.”


“Masih nyeri kalo digerakin.”


Mereka kembali melanjutkan perdebatan-perdebatan ringan. Tidak lama kemudian dokter datang mengecek kondisi Arum. Setelah dipastikan kondisi Arum membaik dan tidak ada masalah maka ini sore ini Arum bisa pulang. Terlihat rona bahagia di wajah cantik gadis tersebut.


“Kondisi mobil kamu gimana?” Tanya Habibi


“Gak apa kok mas, ada tertembus peluru di bagian dinding.”


“Saya ganti baru mau?”


“Gak usah mas gak apa kok. Di bawa ke ketok magic juga bagus lagi. Lagian mobil aku udah di nego 1 M mas.”


“Di nego 1 M?” Tanya Habibi.

__ADS_1


“Iya mas.”


“Kok bisa?”


“Ada orang kaya yang sudah nego mobil aku. Dia janji ketemu 2 Minggu lagi. Karena orangnya sedang di luar negeri. Dia juga udah bayar dp 50 JT.”


“Jadi mau kamu lepas?”


“Iya mas. Lihat job tempat duduk Arum masih ada rasa trauma mas. Sepertinya aku harus belajar nembak deh mas.”


“Mas juga.”


Mata mereka tampak menerawang.


“Jadi mobil kamu apa mau di perbaiki dulu sebelum di jual?”


“Gak mas orang yang mau beli, minta asli tanpa ada yang di rubah. Sebenarnya rame mas yang minat, tapi untuk harga yang fantastis yang ini.” Jelas Ardi.


Habibi menganggukkan kepalanya. “Kamu mau mobil apa?”


“Pengen ganti Honda jazz sih mas.”


Bagus itu. Mau warna apa?”


“Merah mas.”


“Kamu suka merah.”


“Iya mas.”


“Arum cocok putih ya.”


“Kalau Arum warna apa aja cocok mas.”


Setelah selesai perbincangannya. Mereka membantu ibu Arum yang sedang membereskan barang-barang yang mau di bawak pulang. Arum sudah keluar dari kamar mandi. Sudah Menganti baju pasien dengan baju santai. Beberapa pengawal masuk ke dalam mengangkat barang-barang untuk di bawak ke mobil. Saat mereka keluar dari kamar, pengawal pribadi Habibi sudah menunggu di luar.


Mata arum terbuka lebar, melihat pengawal pribadi Habibi. Kemudian ya senyum. Tampak pengawal pribadi tersebut tersebut membalas senyum Arum sangat tipis sehingga tidak terlihat jelas bahwa mereka sedang senyum, mereka kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi. Reaksi Arum tidak lepas dari tatapan Habibi dan juga Ardi.


********


“Masih sakit dek?”


Arum menggelengkan kepalanya.


“Besok kalau udah masuk kuliah, mau mas kasih pengawal?”


Arum ketawa, “gak ada yang mau cegat Arum mas. Insyaallah Arum bisa jaga diri kok.”


“Iya mas tahu. Adek gak usah cemaskan mas lagi. Mas udah pakai pengawal terlatih. Beberapa orang dari mereka penembak jitu. Mereka orang-orang terbaik yang direkom dari sekolah bodyguard.”


“Rio?” Tanya Arum.


“Iya kamu kok tau?”


“Iya Arum tau. Beberapa dari mereka Arum kenal.”


“Siapa?”


“Rio, Heri dan Yudi. Rio itu sangat terlatih dia salah satu siswa terbaik.”


“Iya mas lupa kamu dari sana. Makanya kamu tadi langsung senyum lihat mereka.”


Arum menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau dia akan bertemu kembali dengan teman-temannya. Walaupun ia belum tahu kapan bisa berjumpa dengan Tiar. Satu-satunya teman cewek yang di temui Arum.


Arum sudah mengetahui siapa pendonor darah untuknya.


“Besok kalau Arum ketemu dengan mas Rasid. Arum mau minta terimakasih.”


Habibi menganggukkan kepalanya.


Mobil memasuki halaman rumah Arum. Tampak Anita dan Jhoni sudah menunggu di sana. Arum lihat dua mobil terparkir di halaman depan rumahnya. Tapi yang nampak hanya Anita dan Jhoni yang duduk di teras.


“Kok ada mobil mas, siapa yang datang?”


Habibi Tampak senyum. Setelah mereka turun dari mobil, pengawal pribadi Habibi berjaga di sekitar pagar dan beberapa dari mereka, berjalan mengelilingi rumah. Untuk memastikan kondisi di rumah tersebut aman.

__ADS_1


Arum menyalami Anita dan Jhoni. “Tante sama siapa?”


“Gak ada Tante cuman sama om aja.”


Dilihat Arum mobil yang terparkir, tampak tidak ada orang di dalamnya. Mobil tersebut masih memakai plat toko, jok mobil yang masih di bungkus pelastik.


“Gimana, apa masih sakit?” Tanya Anita.


Arum kembali melihat Anita yang ada di depannya. “Masih nyeri kalau tangan digerakin.” Balasnya.


Saat semuanya sudah turun dan berkumpul, Habibi mengeluarkan STNK dari saku celananya.


“Ini Ardi,” kata Habibi.


Ardi mengerutkan keningnya. “Apa ini mas.”


“Lihat aja. Ini untuk adek,” sambil memberikan STNK ke Arum.


Arum melihat STNK tersebut.


“Mas, Ini?” sela Ardi.


“Iya untuk kamu,” Habibi langsung memotong ucapan Ardi.


“Mas, jangan berlebihan.” Balas Ardi.


“Itu bentuk syukuran dari mas. Berkat bantuan kamu, mas masih bisa berdiri di sini.”


Ardi senyum. “Tapi aku iklas mas.”


“Mas juga iklas.”


“Gak ada do’a nolak Reski.” Balas Anita sambil menepuk pundak Ardi dengan lembut.


Ya Allah, tapi mimpi apa ini. Honda jazz warna merah. Jadi mas Habibi nanya tadi untuk ini.


Pikir nya.


“Kamu wajib terima, mas udah capek-capek cari sesuai keinginan kamu. PPKBnya keluar 3 bulan lagi.”


Ardi memeluk Habibi. “Makasih mas.”


Habibi menepuk pundak Ardi pelan. “Mas yang mestinya terima kasih sama kamu.”


Arum, masih gak percaya melihat mobil yang terparkir miliknya.


“Punya Arum yang mana?” Tanyanya.


“Yang putih,” balas Habibi.


“Arum boleh coba?”


“Bilang makasih dulu dong,” balas Habibi.


“Arum mau coba dulu. Kalau ok baru Arum bilang makasih.”


Habibi menggeleng-gelengkan kepalanya. Siti mencubit pinggang anak gadisnya membuat sang anak menjerit.


“Ibu sakit. Ibu lupa, Arum belum sembuh.”


“Jangan mentang-mentang sakit, kamu kebanyakan tingkah ya.”


Arum memajukan bibirnya.


“Iya, yuk kita coba.” Balas Habibi.


Arum Tampak sangat senang, Ayo di kita uji trek.”


***********


maaf ya reader author baru up.


terima kasih ya atas dukungan, saran dan like nya. 😍😍😍😘😘😘😘


semoga kita sehat selalu ya reader

__ADS_1


__ADS_2