
“Alhamdulillah sudah kepala 3. Aku selalu menunggu di panti. Menunggu ibu datang menjemput ku. Setiap ada yang datang ke panti. Aku akan berlari melihatnya. Berharap itu ibu ku. Namun tidak pernah ibu ku datang. Aku selalu menangis menunggu ibu datang menjemput ku.”
“Sampai berbulan-bulan aku masih menunggu. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Usia ku juga sudah 8 tahun. Ibu tidak pernah datang mendekat ku. Bahkan menjenguk ku 1 kali saja. Arum pindah posisi. Memilih duduk di atas tempat tidur Tiar, dan duduk di sampingnya."
"Pada suatu ketika sepasang suami istri ke panti dengan memakai mobil sedan hitam. Mereka mengadopsi aku. Mereka sangat menyayangi aku. Mereka sangat jarang ada di rumah karena pekerjaan mereka sebagai pengawal pribadi. Mereka di rumah dalam satu minggu paling hanya sehari. Aku tinggal di rumah dengan asisten rumah tangga. Tapi disaat mereka berada di rumah. Mereka menghabiskan semua waktu nya untuk bersama ku. Disaat mereka tidak di rumah. Mereka selalu menghubungi aku. Menanyakan aku lagi apa sudah makan, gimana di sekolah, sudah belajar dan apa saja yang aku kerjakan. Mereka benar-benar menyayangi ku. Sekarang mereka sudah tua. Rambut putih sudah muncul di antara rambut hitam papi. Jadi aku mau jadi bodyguard. Agar bisa melindungi mami dan papi.”
“Jadi ibu kamu dimana sekarang,” tanya Arumi.
“Tidak tau. Papi dan mami sempat berusaha untuk mencarinya. Namun di panti ibu ku hanya meninggalkan nama ibu dan ayah saja. Mami dan papi tidak dapat menemukannya karena tidak ada sedikit pun petunjuk lain yang di tinggal kan.”
“Apa kamu masih merindukan nya?” tanya Arum lagi.
“Tidak. Bahkan aku sudah lupa wajahnya, suaranya. Aku sudah tidak mengingatnya.aku sangat bersyukur di beri orang tua pengantin seperti papi dan mami. Sebenarnya mereka nyuruh aku kuliah. Tapi aku gak mau. Aku mau masuk ke sekolah ini. Tapi aku sudah janji. Aku bakalan kuliah tahun depan.”
“Semangat ya,” kata Arumi menyemangati.
“Makasih. Kamu bilang gak pernah punya pacar. Apa itu benar?” Tiar balik bertanya.
__ADS_1
“Iya.”
“Apa kamu gak mau punya pacar?” tanya Tiar lagi.
“Aku sudah bilang. Kalau aku mau pacaran setelah menikah.” Sambil tersenyum.
“Apa kamu gak pernah suka sama cowok?” tanya Tiar penasaran.
Mendengar pertanyaan tiar, Arum langsung ketawa.
“Siapa?” Tiar tampak semangat.
“Teman sekolah aku.”
“Di mana dia sekarang?”
“Dia lulus kedokteran UI melalui jalur prestasi.”
__ADS_1
“Keren,” Tiar kaget mendengarnya.
“Iya keren.”
“Kenapa kamu suka sama dia? Apa dia ganteng?” tanya Tiar.
“Sangat ganteng.” Dengan mata yang penuh kerinduan terpancar dari raut wajah cantik arumi.
“Jadi kamu suka dia karena ganteng dan pintar?” tanya Tiar.
“Aku sejak SD sudah satu sekolah dengannya. Dia teman ku yang paling baik. Yang tidak pernah merasa malu dengan keadaan ku. Walaupun seburuk apapun keadaan ku. Saat aku SMP ayah ku meninggal. Sejak saat itu ibu selalu sakit-sakitan. Adik ku yang paling kecil. Baru umur sekitar 3 tahun. Yang satu lagi umur 6 tahun. Ibu di indikasi sakit jantung. Tidak boleh kerja berat. Pada saat itu aku yang harus berjuang demi ibu dan adik-adik ku. Jam 4 malam aku sudah membuat gorengan bersama ibu di dapur. Gorengan itu aku jual di sekolah saat jam istirahat. Aku sudah di depan kelas. Berlahan-lahan teman-teman mulai menjauhi aku karena malu lihat aku jualan gorengan. Namun dia tidak pernah meninggalkan aku. Apa bila gorengan aku gak habis. Dia yang selalu memborong dan memberikan untuk teman satu kelas. Dan peristiwa itu berlangsung sampai aku tamat SMA.” Jelas Arumi mengenang masa lalunya.
“Dia baik sekali.” Kata Tiar.
“Iya. Dia sangat baik.”
“Apa kamu masih sering jumpa dengan nya?” tanya Tiar penuh rasa penasaran.
__ADS_1