Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 111


__ADS_3

“Kita belum aman.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Arum.


“Maksudnya?” Rasid mengeluarkan pertanyaannya.


“Kita diikuti tiga mobil hitam di belakang.” Jawab Arum.


Ardi melihat dari kaca spionnya. Dilihatnya tangan Arum yang mencucurkan banyak darah. Wajah gadis itu semakin tampak pucat. Ardi tahu bahwa luka tangan Arum tampak sangat dalam. Di tambah luka sobek yang lebar dibagian lengan gadis tersebut. Baju kemeja putih yang dipakainya sudah basah oleh darah.


“Dibawa tempat duduk kamu ada kotak P3k.”


Arum menundukkan badannya dan mengambil kotak putih kecil tersebut di bawah tempat duduknya.


“Pak Habibi tolong perbankan tangan Arum.” Pinta Ardi.


Habibi yang belum hilang rasa terkejutnya saat mendengar bahwa mereka belum aman baru teringat akan tangan Arum yang terluka.


“Gak usah, Arum perban sendiri aja.”


“Sini mas perbankan.”


Arum memiringkan badannya agar mengarah ke belakang. Tampak wajah Habibi pucat saat melihat tangan gadis tersebut. Dalam hatinya, ia bersumpah akan membalas pelaku tersebut. Ia melilitkan perban dengan tangan yang gemetar. Wajah Habibi Tampak masih ketakutan. Rasid merasa ngeri saat melihat tangan Arum.


Mobil hitam yang mengikuti mereka sudah berada di depan mobil Sasa. Ardi mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa bertanya tujuan mereka. Setelah di rasanya tangannya cukup kuat untuk menekan platuk pistot setelah diperban Habibi, Arum meminta Rasid untuk pindah ke tengah agar ia bisa duduk ke belakang.


Rasid menggeser tempat duduknya. Arum pindah kebelakang dari tempat duduknya dengan memiringkan badan agar bisa lolos melewati ruang kecil yang menjadi penghubung pembatas depan dan belakang. Arum duduk di samping Rasid.


“Tundukkan kepala,” perintah Arumi.


Mereka langsung menundukkan kepala kebawah. Mobil tersebut semakin mendekat sambil menembak ke mobil Ardi. Beberapa kali mereka menembak mobil tersebut. Kalaulah mereka ada di mobil Habibi pasti jauh lebih aman.


Arum membuka jendela mobilnya. Terlihat seseorang dari dalam mobil mengeluarkan pistol menembak ke mobil mereka. Arum menembak ban mobil yang melaju kencang tersebut membuat kondisi mobil oleng dan terbalik berputar-putar di jalan. 2 mobil lagi sudah berada di belakang mereka. Arum menembak mobil yang berada di belakang mereka. Tembakan tersebut menembus dada pengemudi mobil hitam tersebut. Arum kembali menembak ban mobil membuat jalan mobil tidak terarah dan menabrak pohon.


Ardi mengemudi dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


“Kita mau kemana dek?” tanya Rasid


“Mereka bukan orang sini bang. Makanya dia gak tau tujuan kita. Kalau mereka tau. Mereka pasti sudah berhenti mengejar.” Balas Ardi.


Kelegahan terlihat dari wajah mereka saat mereka sudah berada di depan kantor polisi. Mobil yang mengikuti mereka langsung pergi. Ardi yg terlihat santai saat mengemudikan mobilnya, namun sebenarnya sangat cemas. Apa lagi saat ia melihat wajah pucat Arum.


Mobil masuki kantor polisi. Polisi yang melihat mobil mereka langsung mendekat dan memberikan pertolongan untuk Arum yang tampak tangannya berdarah. Namun begitu sampai di kantor polisi Arum tampak tidak sadarkan diri. Ardi terlihat sangat panik, begitu juga Habibi dan Rasid. 3 pria tersebut terlihat sangat cemas. Ardi berfikir bahwa kondisi tersebut karena luka di tangannya.


Namun Saat dia akan mengangkat Arum d lihatnya disandaran mobilny sudah penuh dengan darah. Diangkatnya jilbab Arum yang membuat Ardi semakin lemas. Saat ia tahu ternyata dada gadis tersebut tertembak.


Habibi tampak panik ia memegang tangan gadis tersebut yang sudah terasa dingin.


“Langsung larikan ke rumah sakit besar mas.” Polisi yang ada didekat mereka langsung memberikan saran. “Cepat mas, mobil patroli akan mengawal.” Pinta polisi tersebut.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Dengan sangat kencang mobil melaju ke rumah sakit terdekat. Mobil patwal berada di depan mereka. Mereka sampai di rumah sakit terdekat Habibi mengendong Arum keluar dari mobil dan langsung menuju ruang UGD. Dengan sangat cepat dokter memberikan pertolongan. Ruang operasi langsung di siapkan. Habibi tampak sangat frustasi.


**********


“Hallo.”


“Hallo pak Hendra.”


“Iya ada apa mbak Sasa?”


“Maaf pak, pertemuan kita tidak bisa di lanjutkan hari ini. Kami mengalami kecelakaan.”


“Kecelakaan?”


“Iya pak kecelakaan kecil. Kita akan atur ulang kembali ya pak untuk pertemuan selanjutnya.”


“Baiklah mbak Sasa. Nanti sekretaris saya akan menghubungi anda.”


“Terimakasih pak.”

__ADS_1


Kemudian Sasa menghubungi Rasid.


“Hallo.”


“Hallo mas Rasid. Kalian di mana?”


“Kami di rumah sakit. Alamat mas serlok ke kamu.”


“Iya mas.”


Telpon terputus.


Sasa masih sangat shock dengan apa yang baru dialaminya. Ia masih menyandarkan kepalanya di atas stir mobil. Setelah ia berhasil mengatur nafasnya Sasa kembali menjalankan mobilnya dan membuka aplikasi google maps untuk memudahkan dirinya menemukan rumah sakit tersebut yang sudah di serlok Rasid.


*********


Herman dan Jhoni berseserta beberapa bodyguard sampai di restoran tersebut, keadaan restoran tampak sunyi. Terlihat beberapa orang yang sudah pingsan di lantai. Ia menghubungi polisi. Dengan cepat polisi mendatangi tempat tersebut.


Jhoni menghubungi Habibi. Saat telpon tersambung suara seseorang terdengar dari seberang.


“Hallo pi.”


“Kamu di mana nak?” Suara jhoni terdengar begitu gemetar.


“Di rumah sakit pi.”


“Bagaimana kondisi kamu nak?”


“Bibi baik Pi. Arum kritis.”


“Apa,” terdengar suara Jhoni sangat terkejut. Bagaimana Arum bisa sama dengan Habibi. Setaunya Arum kuliah. “Kamu sekarang di mana?”


Setelah mendengar alamat rumah sakit tersebut. Jhoni dan Herman langsung menuju rumah sakit. Herman menugaskan anggotanya untuk melakukan penyelidikan dan melaporkan apa yang terjadi di sana. Mereka melanjutkan mobilnya menuju rumah sakit. Anita yang sudah di hubungi Jhoni langsung menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2