Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 304


__ADS_3

Di hari Minggu ini Vino dan juga androw melakukan lari pagi. Vira begitu sangat hafal kebiasaan Vino. Sehingga tidak sulit baginya untuk memanggil pria kecil itu.


VIra berlari menuruni anak tangga dengan kaki kecilnya.


"Vira turun jangan lari-lari ucap Arum yang menasehati putrinya.


Vira berhenti dan memandang ke belakang. "Iya Mi," jawabnya.


"Savira, Berhati-hati saat menuruni anak tangga," ucap Rangga yang memarahinya dan memegang tangannya.


Vira tersenyum memandangnya. Gadis kecil itu kemudian berjalan mulai memperlambat langkah kakinya. Vira cukup takut bila Rangga memarahinya.


Setelah sampai di bawah, Vira berlari ke luar rumah saat pintu rumahnya di buka oleh pekerja di rumahnya. Vira berdiri di depan pagar rumahnya yang masih terkunci. Matanya mencari sosok pria kecil yang tinggal di depan rumahnya."Vino," Suara Vira yang berteriak dari dalam pagar rumahnya.


Vino yang baru melakukan lari-lari kecil di depan rumahnya berlari mendekati pagar rumahnya. "Vira mau ke mana , "ucapnya yang berbicara dari dalam pagar rumahnya sambil memegang besi pagar tersebut.


"Vira mau pergi free day sama Pipi, Mimi dan juga Rangga. Semalam Rangga tidur di sini," ucapnya.


Vino menganggukkan kepalanya.


"Vino mau ikut free day?" ucapnya.


Vino tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ke mana?"ucapnya.


"Ke taman mini, "jawab Vira.


"Tunggu sebentar aku akan meminta izin sama papi dan mami," ucap Vino yang berlari masuk ke dalam.


VIra berdiri di depan pagar rumahnya menunggu Vino kembali.


"Kata papi aku boleh ikut. Papi dan Mami juga mau ikut," ucap Vino yang begitu sangat senang.


Vira tersenyum saat mendengar ucapan Vino.

__ADS_1


Habibi, Arum dan juga Rangga keluar dari dalam rumah.


Arum tersenyum memandang kedua anak kecil yang saling berbicara dari dalam pagar rumahnya masing-masing


Vino menyebrang ke rumah Vira setelah menoleh ke arah kanan dan juga kiri. Walaupun mereka tinggal di perumahan namun Androw dan juga Ara selalu mengingatkan putranya agar melihat ke arah kanan dan juga kiri terlebih dahulu sebelum menyebrang. Vino berlari setelah ia memastikan kondisi jalan dalam keadaan aman. Vino berlari ke rumah Vira saat pagar rumahnya sudah di buka security.


Penampilannya begitu sangat keren. Vino memakai jaket yang tidak kancing dan memakai baju kaos berwarna putih didalamnya. Vino memakai celana training berwarna hitam dan juga topi. "Vino keren," ucap Vira yang memujinya.


"Vira, apakah kamu tau bahwa kamu begitu sangat cantik dan juga imut bila kamu memakai jilbab pink ini," ucap Vino yang memandang sekilas.


Vira tertawa saat mendengar ucapannya. "Vino mirip papi Androw kalau lagi gombalin mami Ara," ucap Vira yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Vira begitu sangat hafal bagaimana sikap papi Androw nya saat mengombal mami Ara.


"Aku mungkin menuruni sifat romantis papi, tapi percayalah aku tidak mengambil jiwa pleyboy yang dimilikinya," Ucap Vino yang melipatkan tangannya di bawah dadanya.


Vira tertawa mendengar ucapan pria kecil berwajah tampan tersebut.


"Berhentilah bergosip mengenai papi mu yang ganteng ini," ucap Androw yang sudah berdiri di belakang putranya.


.


Vira tertawa saat mendengar perdebatan antara bapak dan anak tersebut.


Arum dan Habibi hanya tertawa melihat Androw dan putranya yang memiliki sifat yang sama. Vino sama persis seperti Androw.


"Mas, mungkin sewaktu mas Androw masih kecil mirip banget ya seperti Vino," ucap Arum.


Habibi tersenyuman dan menganggukan kepalanya.


"Sepertinya aku sedang malas berdebat dengan mu," ucap Androw yang meninggalkan putranya. "Habibi, Anak laki-laki ku meminta ingin ikut di mobil kalian. Dia ingin satu mobil dengan anak perempuan mu," ucapnya yang memandang Habibi dan menitipkan putranya.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan Androw. "Iya mas Vino biar sama kami," ucap Habibi.


"Baiklah aku akan mengikuti mobil kalian dari belakang," ucapnya. Androw sangat senang bila putranya satu mobil dengan Habibi, dengan begitu ia punya banyak waktu untuk bermesraan dengan istrinya. Androw kemudian kembali ke rumah nya.

__ADS_1


***


Imam membangunkan May sarah yang tertidur begitu sangat nyenyak. Bahkan kepala gadis itu berada di bahunya. sudah sejak tadi gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu imam. Imam yang melihat kepala gadis itu di bahunya, sengaja tidak ingin memindahkannya. Bahkan ia semakin menurunkan kecepatan mobilnya. "May bangun," ucapnya.


Gadis yang tidur di sebelahnya tidak bergerak sama sekali saat ia membangunkan nya.


"May bangun," ucap Imam kembali memanggil namanya.


Namun gadis itu tetap tidak bergerak.


Imam sedikit mencubit-cubit pipi gadis tersebut. Kalau boleh jujur, sebenarnya dirinya tidak bernyali menyentuh gadis itu. Namun entah keberanian dari mana yang datang sehingga imam berani untuk mencubit-cubit pipi gadis yang tertidur sangat nyenyak di bahunya. "May kalau nggak mau bangun juga, jangan salahkan saya kalau saya cium kamu," ucapnya.


May Sarah langsung membuka matanya dan duduk dengan posisi yang benar.


"Ternyata Dari tadi kamu tahu ya saya membangun kamu," ucap Imam yang memandangnya.


May Sarah menggelengkan kepalanya. " Saya baru tahu bapak memanggil saya saat bapak mencubit-cubit pipi saya," ucap May sarah dengan wajah yang memerah menahan malu. Setelah ia sudah bangun sejak tadi. Namun rasa malunya begitu sangat besar, saat menyadari bahwa saat ini posisi kepalanya bersandar di bahu pria yang berwajah tampan tampan tersebut. May Sarah berharap pria itu memindahkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan pria itu akan pergi meninggalkan nya. Pada saat itu May sarah berencana untuk bangun dan turun.


"Kita makan dulu," ucap imam yang memandang rumah makan yang ada di depannya.


May salah menganggukkan kepalanya. May Sarah turun dari dalam mobil dan mengikuti Iman yang berjalan lebih dulu dari nya. May Sarah terkejut ketika pria itu berhenti mendadak hingga ia menabrak tubuh pria tinggi nan tegap tersebut.


Imam dengan cepat menangkap tubuh gadis tersebut saat gadis itu hampir terjatuh. "Maaf," ucap Imam yang reflek mengusap kening May Sarah. Sebelah tangan nya masih memegang pinggang gadis yang berdiri mematung di depannya.


Imam melihat May sarah yang diam mematung menatap nya. Ia kemudian tersenyum dan melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang gadis tersebut. Imam memegang tangan May Sarah hingga gadis itu baru menyadari apa yang terjadi dan berjalan mengikutinya.


Mereka masuk ke dalam restoran yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di depan halaman restoran tersebut.


Perutnya terasa lapar, menu yang terhidang begitu mengunggah selera. Namun setiap kali apa yang dimakannya selalu terasa tidak enak di lidahnya. Apa lagi pria itu selalu mencuri-curi pandang memperhatikan setiap gerak geriknya.


***


Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2