Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 232


__ADS_3

Author minta maaf ya Reader. Bukannya niat untuk menggantung-gantungkan ceritanya atau sengaja membuat reader merasa penasaran atau kecewa. Hanya saja author up hingga 1500 kata. dan jujur saja mata author sudah sangat lelah dan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan. jadi mohon maaf ya reader. untuk Ardi dan Aisah bisa langsung kunjungi di Novel author yang berjudul Aisah jodoh ku. sudah up hingga capter 72 .


😊😊😊


*****


" Rio," ucap Habibi ketika pria bertubuh tegap tersebut duduk di kursi yang ada di depannya.


" Iya pak," jawab Rio.


" Maya sudah mendapatkan informasi serta bukti tentang pelaku yang merencanakan untuk membunuh Saya. Saya minta kamu jemput Maya sekarang juga," ucap Habibi.


" Baik pak," jawab Rio. Pria itu langsung pergi.


Habibi sudah sangat kesal dan marah. Ia menghubungi papinya. Jhoni langsung mengangkat panggilan telepon dari putranya tersebut.


" Halo assalamu'alaikum," ucap Jhoni.


" Wa'alaikum salam Pi. Bibi sudah mendapatkan informasi tentang pelaku yang berencana untuk membunuh Bibi . Maya sedang menuju ke kantor Bibi membawa bukti-bukti tersebut.


Setelah kamu melihat bukti-buktinya, Papi ingin kamu datang ke kantor Papi. Papi juga ingin melihat bukti yang dilakukan oleh pelaku tersebut ucap Jhoni.


Bibi akan datang ke kantor Papi setelah melihat bukti-bukti itu," ucap Habibi.


" Papi akan menunggu kamu. Papi juga sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa pelakunya," ucap Jhoni yang sudah sangat geram.


" Iya Pi," sambungan telepon terputus setelah mereka mengakhiri panggilan tersebut.


" Habibi duduk di kursinya Ia sudah tidak sabar untuk menunggu Maya datang dengan membawa bukti-bukti yang sudah didapatkannya. Ia memutar-mutar kursinya. Ia juga memijat-mijat kening nya.

__ADS_1


Habibi sudah bertekad untuk tidak akan memberikan ampunan kepada orang tersebut Ia sudah tidak memikirkan lagi hubungan keluarga dan sebagainya.


Suara ketukan dari pintunya membuat Habibi langsung mengangkat kepalanya . " Masuk," ucapnya kemudian.


Ia melihat Rio dan Maya yang baru datang.


Maya dan juga Rio duduk di kursi yang ada di depannya.


" Ternyata dugaan Istri bapak benar. Bahwa orang yang sudah merencanakan pembunuhan tersebut adalah Deni dan juga Bobby ayahnya. Saya sudah mencetak foto-foto pertemuan mereka dan ini foto-fotonya," ucap Maya mengeluarkan foto-foto yang sudah dicetak nya semalam.


Habibi melihat foto-foto itu, Ia benar-benar sangat marah saat melihat foto-foto yang ada di atas mejanya. Dari foto-foto yang diambil Maya, Itu tampak jelas Wajah Deni dan juga Bobi yang tersenyum sinis. Ini rekaman CCTV nya ucap Maya sambil memberikan flashdisk kepada Habibi. Saya juga sudah print out hasil chat dan juga sudah saya screenshot pesan chat tersebut," ucap Maya yang mendapkan hasil chat tersebut dari WhatsApp milik Deni.


Habibi membaca chat yang dikirimkan oleh Deni kepada Gilang yang mana isi chat tersebut, Doni meminta agar bertemu langsung dengan Gilang dan juga Fathan.


" Saya juga sudah berhasil menemukan lokasi tempat dimana mereka membeli senjata api tersebut. Deni memberikan dua pucuk senjata api untuk Fatan dan juga Gilang. Deni juga berjanji akan memberikan imbalan tiga kali lipat bila misi mereka sukses untuk menembak Pak Habibi," ucap Maya.


" Saya akan pergi ke kantor Papi saya. Saya harap kamu bisa ikut," ucapan Habibi kepada Maya.


Habibi merasa sangat marah saat melihat bukti-bukti yang diberikan oleh Maya.


selama ini Ia selalu memaafkan paman tiri berserta keluarganya, walaupun Bobby bukanlah paman kandungnya. Namun bagi Habibi Ia sudah menganggap Bobby seperti pamannya sendiri.


Kali ini Ia tidak akan memaafkan keluarga pamannya tersebut. Ia sudah berencana untuk menghabisi keluarga Bobby sampai ke akar-akarnya.


Habibi datang ke kantor Jhoni diantar oleh para pengawal nya. kantor papinya ini sama besarnya dengan kantor yang dipegangnya. para karyawan yang ada di sana langsung menyambut Habibi saat melihat pria muda yang berwajah tampan itu datang.


Habibi masuk ke ruangan Papinya Ia sudah ditunggu oleh Anita Herman dan juga Lasmi.


Habibi duduk di kursi di depan papinya. Wajah Jhoni tampak begitu sangat marah sebelum Ia melihat bukti yang dibawa oleh putranya.

__ADS_1


" Ini Pi bukti-bukti nya," ucap Habibi yang


mengeluarkan bukti-bukti tersebut Jhoni dan juga Anita melihat bukti-bukti yang diserahkan oleh putranya.


" Mami tidak akan tinggal diam lagi kalau sudah seperti ini. selama ini Mami diam Karena orang itu adalah saudara tiri Papi, tapi kalau sudah seperti ini Mami nggak akan kasih ampun kepada keluarga mereka sekalipun," ucap Anita dengan nada yang sangat tinggi setelah Ia melihat bukti yang dibawa oleh putranya. Mereka juga sudah melihat rekaman cctv tersebut. Sebagaini seorang ibu, tidak ingin ada orang sedikitpun yang menyakiti putranya.


" Kamu serahkan bukti-bukti ini ke kantor polisi seret mereka ke dalam penjara detik ini juga. untuk keluarga Bobby selesaikan," ucap Jhoni yang begitu marah.


Herman tahu bahwa pria itu begitu sangat marah dia sangat mengenal sifat dan jiwa Jhoni yang terlalu banyak kasihan kepada lawan ataupun orang yang selalu ingin mencelakai nya. Biasanya Jhoni tidak akan pernah mau melakukan tindakan apa-apa selain menyerahkan orang itu kepada pihak yang berwajib. Jhoni juga tidak akan pernah menyeret pihak keluarga orang terkait. Namun kali ini ia tampak memang sudah sangat marah. Herman tahu apa yang akan dilakukannya.


" Baik," jawab Herman.


Dalam waktu singkat polisi berhasil menangkap Deni dan juga Bobby. Deni ditangkap di kantor miliknya.


" Anda tidak bisa sembarangan menangkap saya," ucap Deni yang berencana untuk melawan polisi.


Polisi yang datang 5 orang tersebut langsung mengunci tangan Deni dan memborgolnya.


" Kami sudah menemukan bukti-bukti tentang kejahatan yang Anda sudah lakukan. Untuk membela diri sebaiknya nanti anda lakukan di kantor polisi ," ucap Briptu fatir


Para karyawan Deni berkumpul melihat polisi menangkap bos mereka yang sombong. Mereka bertanya-tanya kejahatan apa yang sudah dilakukan bos nya itu.


Bobby diringkus di kediaman rumahnya. Saat polisi datang dan menangkapnya, Bobby hanya diam saja. Ia tidak melawan sama sekali. Ia tidak menyangka rencana yang sudah dibuatnya sedemikian rupa ternyata bisa diketahui oleh pihak Jhoni.


Kedua ayah dan anak itu dimasukkan ke dalam 1 tahanan yang sama. Deni masih menyangkal tentang peristiwa perencanaan pembunuhan tersebut. Namun polisi memberikan bukti-bukti kepada Deni sehingga Ia sudah tidak bisa lagi untuk mengelak.


****


Jangan Like, komen dan votenya ya reader.

__ADS_1


terimakasih atas dukungan nya.😊😊🙏🙏


__ADS_2