
Habibi yang merasa sangat lelah setelah membaca laporan-laporan di atas mejanya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi empuk yang terempuk di perusahaan itu. Tapi ya wajar aja, kursinya sangat nyaman sesuai harga kursinya saja Rp.30.000.000,- asli dari Itali.
Tak tau entah berapa lama Habibi tertidur, ia terbangun saat mendengar suara kumandang adzan ponselnya. Ternyata sudah jam sholat ashar. Habibi bergegas masuk ke kamar mandi pribadinya dan sholat di ruang istirahat atau bisa di bilang kamar. Setelah selesai sholat, Habibi berdo’a memohon ampunan dan begitu panjang doa yang di panjatkan. Dia mulai membuka hal pertama Al-Qur'an yang sudah di siapkannya di atas sejadah sebelum sholat.
Habibi mulai membaca ayat demi ayat. Entah kapan terakhir kali dia membaca Al Qur’an. Ia sendiri tidak mengingatnya. Walaupun pembacaannya masih cukup baik, namun terdengar masih banyak kekurangan saat dia membaca. Setelah selesai membaca Al Qur’an Habibi melipat sejadahnya dan akan keluar dari kamar tersebut. Betapa terkejutnya Habibi saat melihat dua sosok orang yang sangat di kenal tersebut duduk di sofa.
“Mi, Pi. kapan datangnya?” tanya Habibi.
“Waktu kamu sholat,” jawab papi.
“Di ruangan kamu ada mukenah ya mami lihat,” kata maminya.
“Iya ada mi.”
“Mami belum sholat Ashar. Mami Sholat di sini aja.” Kata mami.
__ADS_1
“Iya papi juga belum sholat.” Papinya menimpali.
“ya udah mami dan papi langsung sholat aja.”
Mami dan papi langsung sholat. Selesai sholat,
“Sejak kapan ada mukenah di kamar kamu bi?” tanya mami.
“Sejak tadi mi.”
“kok bisa?” tanya maminya heran.
“OOO jadi karena itu para karyawan bergosip di bawah,” kata papinya.
“Biar aja lah Pi.” Habibi harus mengakui kalau dia tidak mampu untuk menutupi perasaannya yang kehilangan Arumi.
__ADS_1
“Bulan depan, gedung kita sudah selesai. kantor kamu akan pindah kelokasi yang baru. Kantor yang jauh lebih besar dari pada kantor yang sekarang. Gedungnya memiliki 32 lantai.” Jelas maminya.
“Iya mi.” Jawab Habibi.
Habibi pulang bersama setelah habisnya jam kantor. Bibi di antar oleh bodyguardnya, sedangkan mami dan papi sudah di tunggu asisten pribadinya masing-masing. Asisten pribadi Jhoni, pria yang usianya lebih tua beberapa tahun dari usianya. pria itu telah menjadi asistennya sejak dia di angkat menjadi direktur di perusahaan central grup. Kini perusahaan itu sudah memiliki banyak anak perusahaan dan cabang yang bergerak hampir di segala bidang. 30 tahun Herman mendampingi Jhoni. Herman salah seorang kepercayaan Jhoni. Dia salah satu orang yang sangat berpengaruh di CG.
Hari ini mereka pulang dengan satu mobil. Asisten Anita duduk di kursi bagian depan di sebelah Herman. wanita yang tinggi langsing dan sudah berusia hampir 50 tahun. Begitu lama mereka bersama hingga tak terasa usia mereka sudah tidak ada yang muda. kebersamaan mereka begitu terasa sangat lama. Suka duka mereka jalani bersama. Tanpa ada satu rahasia pun yang mereka sembunyikan satu sama lain. Mereka tidak hanya menganggap hubungan mereka hanya sebatas kerja, tetapi juga saudara. Di dalam mobil tak ada kata-kata yang mereka keluarkan. Mereka hanya diam, seperti sedang berperang dengan pikiran masing-masing. Tak terasa Jhoni sudah sampai di kediamannya yang sangat besar.
“Bagaimana keadaan putri kamu her?” tanya Jhoni.
“Sangat baik pak.”
“Apa dia jadi kuliah?” tanya Anita
“Tahun depan insyaallah buk, saat ini dia Putri kami masih ingin bersenang-senang dengan hobinya.” Jelas Herman.
__ADS_1
“Namanya juga anak muda,” kata Anita. “Kami turun dulu ya.”
“Iya buk.”