
Habibi hanya diam duduk di kursi pelastik berwarna hijau tanpa sandaran tersebut. Pria itu duduk sambil memandang istrinya yang begitu enaknya makan ayam gecak. "Sayang, kalau sambalnya terlalu pedas jangan di makan," ucapnya mengingatkan istrinya.
Habibi mendegar pengawal pribadinya yang tidak mampu memakan ayam gecak tersebut.
Namun istrinya terlihat begitu sangat menikmati ayam gecak nya.
"Gak kok mas," ucapnya saat meminum teh es di gelas besar. Bibirnya sudah begitu sangat merah kepedasan.
Habibi hanya diam memandang istrinya sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"Gak apanya itu bibirnya sudah merah banget," ucap Habibi.
"Ini merah karena liptik Arum," ucapnya yang seperti menahan pedas.
Habibi hanya diam memandang istrinya. "Udah ya makannya," ucapnya Ketika istrinya melanjutkan makan ayam gecak nya.
"Gak boleh buang-buang makanan Mas mubazir. Nanggung tinggal dikit," ucapnya. memasukkan ayam kedalam mulutnya.
Habibi hanya diam sambil memandang istrinya.
"Mas masih enak karena Arum ngidamnya cuman makan ayam gecak. Teman Arum ngidamnya makan terasi yang cuma di bakar, terus dimakan gitu aja seperti makan biskuit" ucapnya yang memasukkan ayam kedalam mulutnya.
Habibi menelan air ludahnya saat mendengar ucapan istrinya. Ia cukup tahu seperti apa keanehan selera wanita hamil
"Mas Mau coba nggak?" ucapnya yang mengarahkan ayam yang di tangannya.
"Mas mau yang enggak pakai cabe," ucapnya yang tidak sanggup makan cabe rawit.
Arum menganggukkan kepalanya dan memasukkan ayam yang di tangannya kedalam mulutnya. Arum mencubit daging ayam dan memasukkannya ke mulut suaminya.
"Sudah, pulang?" ucap Habibi saat melihat istrinya yang sudah mengantuk setelah selesai makan.
Arum menganggukan kepalanya sambil menguap.
*
"Mas, Arum ngantuk," ucapnya.
Habibi menyandarkan kepala istrinya di dadanya. "Selesai makan ngantuk ya si kembar," ucapnya saat mereka sudah duduk di kursi belakang supir.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mas, ayamnya pedas banget," ucapnya sambil memeluk pinggang suaminya.
"Waktu makan katanya gak pedas?" ucap Habibi yang mengusap kepala istrinya.
"Arum takut mas larang makannya," ucapnya yang menempelkan hidung kecil yang sedikit mancung itu di dada suaminya dan mencium aroma wangi tubuh suaminya.
"Nanti sakit perut gimana. Sudah tau lagi hamil" ucap Habibi yang tidak dijawab istrinya.
__ADS_1
Habibi tersenyum saat melihat istrinya yang sudah tertidur. "Alamat mengendong lagi," ucapnya yang mencium kening istrinya. Hampir setiap hari ia akan menggendong istrinya saat pulang dari rumah sakit
"Pak sudah sampai ucap Aldo ketika mobilnya sudah berada di parkiran rumahnya.
Habibi menganggukkan kepalanya dan mengangkat wajah istrinya. "Mimi Arumi udah sampa,"i ucapnya.
Habibi tersenyum Ketika istrinya tidak menjawab sama sekali Istrinya tidur begitu sangat nyenyak. "Enak ya minta digendong terus ucapnya yang kemudian turun dari mobil dan mengendong istrinya dengan sangat berhati-hati agar kepala istrinya tidak terbentur.
**
Arum membuka matanya ketika suaminya membangunkannya. "Apa udah mau magrib ya?" ucapnya.
Iya jawab Habibi yang menarik hidungnya
"Arum belum mandi," ucapnya.
"Gak usah mandi lagi, ini sudah mau magrib. Ganti aja bajunya cuci muka," ucap Habibi memberitahu istrinya.
"Gerah Mas," ucapnya.
"Yang nyuruh tidur sore-sore siapa. Sampai rumah juga nggak bangun," ucap Habibi.
"Bawaan Mas," ucapnya berkilah.
Habibi tersenyum memandang Istrinya. "Sudah jangan protes," ucapnya yang mencubit hidung istrinya.
"Cium dulu," ucapnya yang memajukan bibirnya.
*
Arum duduk di depan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya saat mereka selesai salat magrib.
Habibi mencium kening istrinya dan kemudian bibir istrinya. "Sepi Sayang ucapnya saat anak-anaknya tidak ikut salat berjamaah bersamanya.
"Enggak kok kita kan salatnya tetap berempat sama si kembar," ucap Arum yang mengusap perutnya.
Habibi tersenyum dan mengusap perut Istrinya.
"Si kembar Sudah belajar salat ya," ucapnya yang kemudian mencium perut istrinya tersebut.
"Arum di kamar aja ya baring-baring," ucapnya yang begitu sangat malas sekali untuk melakukan aktivitas apapun bila sudah di dalam rumah.
"Ya boleh, Mas mau ke ruang kerja sebentar," ucapnya.
Arum memegang tangan suaminya dan menggelengkan kepalanya. "Mas enggak boleh ke ruang kerja. Kerja itu pagi sampai sore kalau malam di rumah istirahat santai," ucapnya yang memeluk suaminya.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Sejak kapan peraturan ini dibuat?" ucapnya.
__ADS_1
"Sejak hari ini," ucap Arum.
"Jadi Mas di kamar ngapain, peluk-peluk aja?" ucapnya yang menarik hidung istrinya.
"Arum bakalan buat 3 hari ini, waktu Mas cuman untuk Arum" ucapnya yang mencium bibir suaminya.
"Jadi ini tujuannya, makanya Rangga dan Vira di ungsikan," ucap Habibi yang mencium bibir istrinya
"Arum gak sekejam itu mas, arum cuman memanfaatkan situasi," ucapnya tersenyum lebar.
***
"Mau mas antar sampai ke ruangan?" tanya Habibi saat mengantarkan istrinya ke rumah sakit.
"Gak usah, sampai di sini aja," ucap Arum saat berada di depan pintu masuk rumah sakitnya.
"Tumben si manja gak minta di antarin?" Ucapnya yang mengusap kepala istrinya.
"Iya, ada yang mau Arum cek," ucapnya yang tersenyum lebar.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Pantes aja, mas berangkat dulu ya," ucapnya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di ciumnya punggung tangan suaminya. "Mas hati-hati," ucapnya
"Iya, jangan capek-capek. Jagain si kembar," ucapnya yang mengusap perut Istrinya.
"Iya," jawabnya.
Arum masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakitnya dan memandang suaminya yang berjalan menuju parkiran mobilnya
Pandangan matanya tertuju ke Arah wanita yang turun dari gojek. Wanita itu memegang kepalanya yang bercucuran darah. Wajahnya sudah terlihat pucat dan lebam.
Dengan cepat Arum memegang wanita tersebut. "Ayo langsung ke UGD," ucapnya memapah tubuh sempoyongan wanita tersebut.
Perawat rumah sakitnya berlari masuk ke ruang UGD.
"Kepalanya koyak Bu," ucap perawat yang bernama Rani itu saat membersihkan darah yang menetes di kepala wanita tersebut.
"Cukur rambut yang di dekat luka, agar langsung di jahit," ucap Arum.
"Baik Bu," ucap Rani.
****
Terjerat cinta om om sudah up hingga capter 41 ya di channel YouTube Novel Liazta. Insyaallah nanti malam up capter 42.
Jangan lupa ya singgah.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏