
Imam mengangkat sambungan video call yang dilakukan oleh calon istrinya.
Pria itu tersenyum saat memandang layar ponselnya. Wajah calon istrinya yang cantik sudah memenuhi layar ponselnya.
"May kangen mas." May sarah tersenyum.
"Adek harus sabar sebentar lagi kita nikah." Imam tersenyum memandang wajah calon istrinya.
May menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana event organizernya di sana?" Tanya Imam.
"Mereka sudah mulai mempersiapkan gedung dan juga konsep untuk acara nanti." May menjelaskan.
"Adek jangan capek-capek, agar nanti saat acara resepsi adek tetap sehat," saran pria itu.
May tersenyum dan menganggukkan kepalanya. May tidak tahu harus berbicara apa. May hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan calon suaminya.
"Mas rindu banget sayang," ucap Iman yang menatap layar ponselnya.
"May akan langsung datang ke sana." May Sarah yang tersenyum lebar.
Mata Imam terbuka lebar saat mendengar ucapan calon istrinya. Imam menanggapi serius perkataan calon istrinya. "Nggak usah datang ke sini," ucapnya.
"Kenapa nggak boleh? Masak sih Mas nggak mau dikunjungi calon istri." May Sarah sengaja menggodanya.
Imam tidak mampu berkata apa-apa saat mendengar ucapan calon istrinya yang sudah sangat pandai menggodanya. "Adek sudah mulai genit ya sekarang," ucapnya.
May tertawa saat mendengar ucapan calon suaminya tersebut. "Godain calon suami bolehkan Mas," ucapnya yang tersenyum manja. May melihat suaminya yang bersikap salah tingkah saat digodanya.
Iman tersenyum. "Boleh sayang," ucap Imam yang memandang layar ponselnya.
"Kalau minta cium boleh nggak Mas," ucap May Sarah yang kembali menggodanya.
Imam menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat sikap calon istrinya yang sudah mulai manja kepadanya.
"Adik pandai seperti ini dari mana?" tanyanya mengingat calon istrinya itu berwatak serius.
"Biar jangan grogi Mas." May Sarah tertawa dengan menutup mulutnya.
Iman memejamkan matanya dan mengusap wajahnya. "Menunggu itu ternyata lama sayang," ucapnya yang sudah tidak sabar menunggu hari pernikahannya.
May tersenyum saat mendengar ucapan calon suaminya. "Iya rasanya lama banget," ucap May dengan nada suara yang begitu sangat pelan.
"Adek sudah makan belum?" tanya Imam.
__ADS_1
May menggelengkan kepalanya.
"Kenapa belum makan?" tanya Imam.
"Katanya harus diet sebelum acara nikahan," jelas May.
"Nggak ada diet-diet, makan," perintah Imam yang terlihat begitu sangat marah mendengar jawaban calon istrinya.
"Nanti bajunya nggak muat,"'ucap May.
"Kalau bajunya nanti nggak muat, Mas bakalan cari baju yang lain," ucapnya.
May tersenyum saat mendengar ucapan calon suaminya. "Apa Mas nggak malu kalau lihat istrinya gendut?" Tanya May.
Imam menggelengkan kepalanya. "Mas lebih nggak mau lagi kalau lihat calon istri mas sakit." Imam memandang wajah May.
May hanya tersenyum saat mendengar ucapan calon suaminya tersebut. "Mas udah makan?” tanyanya.
"Belum, Mas rindu adek jadi nelpon dulu," jawab Imam.
"Mas jangan telat makan," ucap May.
"Wajib sayang, Mas dengar dari banyak yang cerita tentang pengalaman teman-teman, katanya laki-laki harus kuat," ucapnya yang membuat wajah calon istrinya memerah.
May benar-benar sangat malu saat mendengar jawaban calon suaminya. Calon suaminya begitu sangat jujur tanpa pandai merahasiakan apapun darinya.
***
"Bagaimana kondisi pasien yang bernama Yulia itu,” tanya Arumi saat dokter Dira masuk ke dalam ruangannya.
"Masih tahap penyembuhan. Tangannya juga sudah selesai di operasi," jelas dokter Dira.
"Arum benar-benar kasihan," ucapnya.
"Sebaiknya dokter Arumi jangan terlalu banyak pikiran, jangan emosi dan juga jangan mikir yang aneh-aneh. Nanti mual terus pusing dan pingsan lagi," ucap Dira menyindirnya.
Arum tertawa saat mendengar ucapan temannya tersebut.
"Dokter Naura kapan datangnya?" tanya Dira.
"Katanya besok mereka pulang ke sini," jelas Arum.
"Kalau gitu udah nggak bisa mesra-mesraan lagi dong sama Ayang Bibi," sindir Dira.
Arum memandang dokter cantik di depannya. "Dira di sini Arum adalah pemilik Rumah Sakit jadi jangan ejek-ejek Arum," ucapnya yang memanggil nama dokter tersebut.
__ADS_1
Dira tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan dari temannya tersebut.
"Bukannya dokter Arumi sengaja mengirimkan 2 kurcaci itu ke Amerika, biar nggak gangguin," ucapnya.
Arum membesarkan mata memandang temannya. "Arum ingin melihat kondisi pasien yang bernama Yulia itu," ucapnya.
Dira menggelengkan kepalanya "Sebaiknya jangan," cegahnya.
"Kenapa,” tanya Arumi.
"Kondisinya masih sama kayak yang kemarin nanti dokter Arumi nggak tahan."
Arum mengerti maksud temannya tersebut ia kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ini sudah mau pulang, lagian sebentar lagi ayang Habibinya datang." Dira melihat jam yang melingkar ditangannya.
Arum hanya tersenyum saat mendengar ucapan temannya tersebut. "Makanya cepat nikah biar punya ayang juga," sindirnya.
"Cariin dong," ucap Dira yang tersenyum dan kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Dokter disini berserak yang ganteng-ganteng sok jual mahal," ejek Arum.
"Bukannya sok jual mahal dokter Arumi, hanya saja mereka belum dapat celahnya," kilah Dira yang sedikit memicingkan sebelah matanya.
Arum hanya diam sambil memajukan bibirnya.
***
Wanita yang berusia 24 tahun itu Hanya berbaring di atas tempat tidur pasien.
Wajah cantiknya sudah tidak terlihat lagi, bahkan dia sendiri tidak mengenali bentuk wajahnya saat ini. Yuli hanya memejamkan matanya ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Tubuhnya bergetar dengan keringat yang bercucuran. Wajahnya memucat seketika saat mengingat peristiwa yang terjadi padanya saat pagi itu. Air matanya menetes dengan sendirinya. Hanya karena masalah kecil saja suaminya sampai begitu sangat marah kepadanya.
"Kamu jahat Mas kamu kejam. Kenapa hanya masalah sepele saja kamu tega berbuat seperti ini dengan aku," ucap Yuli yang meneteskan air matanya.
Yuli menangis saat mengingat bagaimana suaminya dengan sangat gigih memintanya untuk menjadi istrinya. "Pada saat itu aku mengira aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Saat aku mengenal pria sebaik kamu. Aku sudah menceritakan semua masa lalu ku kepada kanu, tanpa ada yang aku tutupi. Aku begitu sangat bahagia saat mendengar kamu mau menerima segala kekurangan yang aku miliki. Walaupun aku memberikan kamu kesempatan untuk pergi meninggalkan aku, disaat kamu telah mengetahui masa lalu ku. Namun Kamu tidak mau melakukannya. Kamu berhasil menunjukkan ketulusan cinta kamu untuk ku."
Yuli menangis saat mengingat perubahan sikap suaminya. Sikap suaminya perlahan-lahan mulai berubah disaat rumah tangga mereka menginjak usia satu tahun pertama.
Yuli juga tidak tahu apakah karena suaminya sangat mengharapkan anak darinya. Yuli hanya bisa menangis saat mengingat bayangan indah bersama dengan suaminya. Berulang kali diusapnya air matanya yang mengalir dengan derasnya. Setelah peristiwa ini Yuli tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia sudah tidak sanggup untuk pulang ke rumah suaminya. Ia hanya bisa menangis di atas tempat tidur itu sendiri, ia berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh pasien yang berada di tempat tidur sebelahnya.
Yuli merasakan sakit di ulu hatinya. Di saat menghadapi masalah seperti ini, dia hanya bisa menyelesaikannya sendiri. "Mana janji kamu mas. Dulu sebelum kita menikah kamu mengatakan bersedia menerima masa lalu ku. Namun setelah menikah, kamu selalu menyiksa ku dengan alasan masa lalu ku yang begitu sangat buruk. Aku tidak akan marah bila kamu ceraikan aku. Bila kamu tidak suka dengan aku, Aku tidak akan memaksa. Aku menerima bila kita berpisah. Namun kamu tidak pernah mau melakukan itu, kamu lebih senang menyiksa ku," ucap Yuli yang menangis.
“Hampir saja aku kehilangan mataku Mas," ucapnya saat mengingat suaminya yang melempar piring yang mengenai pelipis matanya.
__ADS_1
"Dulu aku berharap bisa hidup bahagia dengan kamu Mas, namun ternyata harapan aku semuanya punah, sekarang semuanya sirna," ucap Yuli yang mengusap air matanya.
****