
Habibi berdiri melihat Arum yang sedang memasak.
“Mas, kamu duduk di ruang makan aja.”
“Gak, mas cuman mau lihat kamu aja kok.”
“Arum serasa lagi ikut audisi masak mas.”
“Kenapa dek?”
“Di saat sedang masak, di lihat sama juri, jantung deg-degan dan kaki gemetaran.” Kata Arumi sambil tertawa.
Habibi langsung ketawa. “Bisa aja kamu dek.” Entah sejak kapan, pria ini memanggil Arum adek.
“Makanya mas ke depan. Biar konsentrasi Arum gak pecah.”
“Tapi mas mau lihatin kamu dek. Gimana dong?”
“Udah gak usah lihat prosesnya. Tapi nikmat saja rasanya.”
“Kamu gak sedang godain mas kan dek?”
“Godain gimana sih mas?” kata Arumi dengan wajah yang cemberut, bibir maju ke depan.
“Dek, nikah aja yuk.”
“Tapi mas sudah bilang tunggu Arum.”
“Gak tahan mas seperti ini dek. Rasanya nyiksa banget. Kalau sudah halal mas gak menderita gini dek. Jangankan mau yang lain-lain, pegang tangan aja gak boleh dek.”
Arum menatap pria tersebut dengan tatapan tajam.
“Tapi kalau adek belum siap. Mas tunggu kok dek.” Dengan nada lirih. “Tapi boleh ya dek mas cium. Janji dek. Cuma cium aja.”
“Gak boleh.” Jawab Aruimi dengan memberikan tatapan tajam.
“Ya Allah dek galak amat. Mas cuman nawar kok dek.😂”
Arum benar-benar gak sanggup nahan ketawanya. Kenapa cowok ini jadi lucu gini. Pikirnya, selama ini Habibi selalu menunjukkan jiwa kepemimpinan yang tinggi, berwibawa dengan bertutur kata yang sangat sopan.
Terdengar suara pintu terbuka.
“Non Arum, den Habibi?”
“Iya mbak.”
__ADS_1
“Ada yang bisa mbak bantu non?” Tanya mbak Keke dengan nada yang sangat sopan.
“Gak ada mbak. Arum cuman masak tomyam aja untuk mas Bibi. Tadi Arum ketiduran, mas Bibi juga.” Jelas Arum.
“Iya non. Tadi saya mau bangunkan. Tapi saya gak enak. Kelihatannya capek sekali. Tidurnya juga sangat nyenyak.”
“Iya mbak gak apa-apa.”
“Mbak keke menyiapkan makanan malam di atas meja.”
“Gak apa mbak, lanjut aja tidur nya.” Kata Arum.
“Iya non. Saya pamit non. Den, saya pamit.”
“Iya mbak.”
*****
“Enak masakan kamu yang.”
“Mas, sabtu jadi jemput ibu?” tanya Arumi.
“Iya jadi. Ceritain tentang Ardi dong.” Pinta Habibi tiba-tiba.
“Ardi?”
“Ardi itu teman Arum sejak kecil. Ayahnya, Camat di kampung Arum. Ayahnya juga pemilik perkebunan terbesar di kampung Arum. Hampir seluruh penduduk di kampung Arum, bekerja di perkebunan ayah Ardi. Dulu sewaktu ayah Arum masih hidup. Ayah Arum juga bekerja di perkebunan ayahnya Ardi. Bunda Ardi juga sangat baik. Sewaktu ayah Arum meninggal, pak Handoko Wijaya menawarkan ibu untuk tinggal di rumah perkebunan keluarga Ardi. Tapi ibu menolak. Takut hutang budi.” Jelas Arumi.
“Jadi karena itu, kamu gak mau menerima apertemen dari Androw,” potong Habibi tiba-tiba.
“Mas kok bisa tau kalau Androw nawarin Arum apertemen?”
“Iya tau lah. Sebenarnya mami sudah lama ingin memberikan kamu rumah. Tapi lokasi yang ada, semuanya jauh dari rumah mas. Sedangkan mami maunya rumah kamu dekat dengan rumah mas. Sehingga kamu antar jemput mas gak jauh. Makanya mami milih rumah ini. Yang lokasinya hanya 10 menit kalau pakai motor atau mobil. Makanya mami minta rumah ini bisa cepat di selesaikan. Target selesai 3 sampai 6 bulan, menjadi 2 bulan. Apalagi waktu dengar kamu sakit. Mami sampai panik mengingat kamu sendiri di kos.” Jelas Habibi.
Arum diam dan terharu. Dia gak menyangka kalau wanita yang menjadi bosnya itu sangat memperhatikan segala sesuatu untuk dirinya, bahkan mempertimbangkan segala sesuatu sekecil apapun. Betapa iya ingin memeluk tubuh wanita yang sangat tulus menyayanginya.
“Lanjut dek ceritanya. Mas mau dengar.”
“Mas, Arum heran. Waktu Arum nginap di rumah mas, kenapa ada baju ukuran Arum?”
Habibi tertawa. “Mami tuh lebih ingat sama adek dari pada mas dek. Setiap kali dia belanja, gitu lihat baju, sepatu, tas yang cocok sama adek. Dia bakalan langsung membelinya. Bahkan dia gak beliin untuk mas. Rumah ini, di desain, dan selalu isinya semuanya mami yang pilih.”
Arum terlihat sangat tidak percaya.
“Kamu nolak apertemen dari Androw. Tapi kenapa kamu terima jam tangan dari Androw?” tanya Habibi lagi.
__ADS_1
“Arum gak sampai hati nolaknya. Lagian jam tangan bukan barang mewah jugakan. Cuma barang biasa.”
Habibi senyum. “Jam tangan ada yang harganya sama dengan 1 mobil Avanza dek.”
Arum tertawa, “kalau harganya sama dengan harga Avanza, mending beli mobil dari pada beli jam tangan.” Gadis tersebut menjawab dengan polosnya.
Habibi hanya tersenyum mendengar jawaban polos gadis tersebut. Kalau gadis tersebut tau harga jam tangan tersebut. Sudah pasti dia tidak akan menerimanya. Gadis tersebut bukanlah gadis yang tahu tentang berbagai barang-barang mewah.
“Lanjut dek ceritanya.”
“Sampai mana tadi ya mas?” Sambil mengingat.
“Hutang budi,” jawab Habibi
“Oh iya. Setelah ayah meninggal, ibu sakit-sakitan. Ibu punya riwayat sakit jantung sehingga dokter menyarankan ibu tidak bekerja keras dan tidak boleh banyak pikiran. Waktu itu Aisah baru berumur 3 tahun lebih dan Azzam sudah mau masuk SD. Arum kelas 6 SD. Arum mulai jualan gorengan di sekolah. Ardi itu pelanggan setia Arum. Dia selalu menjadi, pembeli terakhir. Dia akan memborong semua gorengan Arum dan memberikan untuk teman satu kelas. Setelah tamat sekolah, Arum memutuskan untuk ke Jakarta. Sebenarnya ibu gak ngasi. Tapi setelah Arum meyakinkan ibu bahwa Arum sudah dewasa dan bisa menjaga diri dan sudah bisa membedakan yang baik dan buruk. Akhirnya ibu mengizinkan Arum untuk ke Jakarta.” Jelas Arumi.
“Waktu mas lamar, kamu ngakunya masih kecil. Tapi saat mau merantau, kamu ngakunya udah dewasa. Gimana sih kamu dek.” Protes Habibi.
Arum tersenyum. Arum bercerita banyak tentang Ardi.
Setelah selesai makan.
“Dek sholat tahajud yuk.”
“Ayuk.” Mereka mengambil wudhu dan shalat berjamaah.
Setelah selesai sholat.
“Mas, Arum udah gak ngantuk.”
“Sama dek. Kita nonton aja ya dek. Nunggu pagi.”
“Boleh.”
Mereka nonton Habibi duduk di sofa. Arum duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu yang tebal dengan jarak yang cukup jauh.
Pilihan mereka film laga barat. Saat ada aksi semi sex, Arum memilih untuk menundukkan kepalanya.
“Kenapa gak lihat dek?”
“Dosa mas.”
“Untuk referensi aja dek. Biar adek pintar.”
“Ganti aja mas.”
__ADS_1
“Seru dek. Adek nunduk aja nanti gak usah dilihat.”
**********