
Eka membuka pintu mobil di bagian belakang kemudi. Kedua anak kecil tersebut masuk ke dalam mobilnya. Heri memberikan kedua ponsel nya kepada kedua anak kecil tersebut. Cara ini paling jitu agar kedua anak itu aman dan anteng-anteng saja di belakang.
Ia kemudian duduk di kursi kemudi sedangkan Eka duduk di kursi sebelahnya.
Ia kemudian memakai sabuk pengaman, begitu juga dengan Eka.
Heri memandang Eka yang menundukkan kepalanya. Ia melihat wanita itu berusaha untuk menahan Isak tangisnya.
Orang lain saja yang tidak memiliki hubungan darah dengan nya, tidak mau menghinanya. Mereka begitu sangat peduli kepadanya, bahkan berusaha agar Ia bisa bangkit. Membantu nya untuk membangkitkan rasa kepercayaan dirinya kembali.
Bahkan Arum menawarinya untuk memakai jasa psikolog agar Ia bisa dengan cepat melupakan rasa trauma nya.
Disaat Ia sudah mulai berlahan-lahan membangkitkan rasa percaya dirinya, namun kini Ia kembali seperti terjatuh di dasar jurang terdalam. Saat Ia mendengar hujatan dan hinaan serta cacian dari kedua orangtuanya.
Eka mengusap air matanya, Ia tidak menyangka orang tuanya datang dan berkata seperti itu kepadanya. Bila orang lain yang berbicara sakit itu pasti ada, namun tidak sesakit saat Ia mendegar ucapan yang dikeluarkan oleh keluarganya sendiri.
Ia merasakan hatinya begitu sangat pedih. Di depan mereka, Ia berusaha menunjukkan sikap nya yang begitu sangat tegar dan kuat. Ia berusaha untuk tidak terlihat lemah dan cengeng. Ia begitu sangat ikhlas memberikan apa yang diminta oleh kedua orang tuanya tersebut, namun yang membuat Ia merasa begitu sangat sedih saat melihat kedua orang tuanya datang hanya untuk meminta uang tanpa menghiraukan nya. Tampa mempedulikan nya beserta anaknya.
Ia berusaha untuk mengangkat kepalanya menatap wajah kedua orang tuanya yang menghinanya. Ia mengusap air matanya.
Heri memandang wajah calon istrinya yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya. Ia memegang tangan calon istrinya dan kemudian mencium tangan calon istrinya tersebut. " Tidak usah dengarkan ucapan mereka," ucapnya.
" Mas sudah lihat sendiri kan seperti apa keluarga Eka. Apa Mas masih yakin untuk menikah dengan Eka?" ucapnya yang mengusap air matanya.
Heri memandangnya dan kemudian mengusap kepalanya. " Mas akan menikahi kamu bukan menikah dengan bapakmu, ataupun ibumu," ucapnya kepada calon istrinya.
Eka memandangnya. " Apa mas mampu menghadapi mertua seperti keluarga Eka?" ucapnya.
__ADS_1
" Setelah kita menikah, kamu seutuhnya menjadi tanggung jawab Mas. Apapun itu pengabdian kamu, surga kamu semuanya ada di tangan suami kamu. Mas selaku suami harus mampu membimbing istri mas. Apapun nanti yang istri mas lakukan mas yang akan mempertanggung jawabkan semua nya. Tanggung jawab suami, dunia dan akhirat.
Kita akan membangun rumah tangga kita. Ibarat membangun sebuah rumah kita yang membeli bahan untuk rumah kita. Kita yang mencari model untuk rumah kita, kita mengisi rumah kita dengan berbagai barang didalam nya . kita juga yang akan menikmati dan berada di dalam rumah tersebut. Kita yang akan tidur di dalam rumah itu, kita yang akan berteduh di dalam rumah kita. Seperti itulah rumah tangga, orang yang ada itu bukan isi dari rumah kita. Mereka hanya menjadi penonton yang mungkin akan memberikan komentarnya, atau hanya sekedar diam dan melihat saja. Semuanya kita menjalankan nya. Jadi hal seperti itu sebenarnya tidak perlu kamu pikirkan," ucapnya kepada calon istrinya.
Eka memandang nya, pria itu begitu sangat dewasa. Ucapnya pria itu sungguh mampu untuk membuat hati nya menjadi lebih tenang. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. " Terima kasih ya Mas," ucapnya.
Heri tersenyum memandang calon istrinya itu. " Iya sayang," ucap nya sambil tersenyum.
" Eka yakin kalau bapak tidak akan mau jadi wali Eka saat menikah nanti," ucapnya kepada Heri.
" Tidak apa, nanti kita akan cari wali hakim," ucap Heri.
" Eka sebenarnya bukan anak pertama, Eka memiliki seorang Abang laki-laki," ucapnya.
Heri diam saat mendengar ucapan wanita tersebut. " Kenapa tidak pernah cerita?" tanya.
Sekarang dimana Dia?" tanya Heri
" Mas imam pernah menghubungi Eka Ia mengatakan bahwa Ia di Jakarta. Ia sempat meminta alamat kos-kosan Eka dan berjanji akan datang ke kos-kosan bila dia ada waktu libur. Dia memang tidak memberitahu Di mana alamatnya dan juga tempat Ia bekerja, Mungkin Dia takut kalau Eka memberitahu hal tersebut kepada ibu juga bapak," ucap Eka.
" Apa dia sudah menikah?" tanya Heri.
" Waktu itu belum sekarang gak tahu," jawab Eka.
Apa dia sudah tidak berhubungan dengan keluarga kamu?" tanya Heri
Eka menganggukkan kepalanya." Mas imam pergi dari rumah saat Eka SMA. Waktu itu Mas Imam sudah tamat SMA dan dia bekerja di suatu supermarket. Ia bekerja sebagai penjaga gudang di sana dengan gaji yang cukup kecil. Mas imam gak tahan karena ibu selalu membanding-bandingkan kan Mas Imam dengan anak-anak temannya yang memiliki penghasilan jutaan. Tidak seperti Mas Imam yang memiliki gaji kecil sehingga ibu dan bapak mengusir mas Imam setelah mereka berkelahi. Mas imam diusir Bapak dari rumah karena dianggap tidak berguna. dan Mas imam pergi dan setelah itu mas imam tidak pernah pulang-pulang ke rumah.
__ADS_1
Ia juga merasakan bagaimana sikap orang tuanya. Saat Ia masih merantau ke Jakarta dan kerja di toko pakaian. Eka selalu mengirimkan gaji nya untuk ibu serta bapak nya di kampung. Bila Ia kurang mengirimkan uang, maka ibu nya akan marah. Bahkan Ia hanya meninggalkan uang gaji nya untuk ongkos ojek kemudian bayar uang kos dan kebutuhan bulanan seperti sabun deterjen bedak-bedak dan uang makan. Bila sudah dekat akhir bulan Eka selalu makan Indomie agar uangnya cukup. Ia juga naik ojek bila berangkat kerja. saat pulang, Ia akan jalan kaki ke kosnya.
" Mas akan mencari Mas Imam," ucapnya Heri
" Tapi Eka takut ketemu sama Mas Imam. Eka takut Mas Imam marah terus kecewa sama Eka," ucapnya sambil mengusap air matanya.
" Mas yang akan menjelaskan semuanya ke Mas Imam," ucap Heri.
Eka mengangukan kepalanya.
" Mau makan apa?" tanya Heri yang mengarahkan kepalanya ke kursi penumpang yang ada di belakang
" Om aku mau steak daging," ucap Daffa.
" Vira juga Om," jawab Vira.
Harry tersenyum dan kemudian mengarahkan mobilnya menuju warung steak. Ia kembali menggendong dua anak kecil itu untuk masuk ke dalam warung steak tersebut.
Selama ini Heri begitu sangat menyayangi Vira ada juga Daffa Bahkan, Ia selalu meluangkan waktunya untuk bisa bertemu dengan Dafa.
Ia memberikan seluruh perhatian serta kasih sayang nya untuk Daffa. Ia begitu kasihan melihat anak laki-laki tersebut.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.
😊😊🙏🙏
__ADS_1