Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 357


__ADS_3

Arum tersenyum mendengar ucapan suaminya. “Kalau mas gendong itu malah kami semakin rawan,” ucapnya.


“Rawan kenapa,” tanya Habibi.


“Kalau Mas gak tahan nanti kami bisa jatuh,” ucapnya yang mengusap perutnya.


"Iya bahaya," ucapnya.


Habibi tidak ada henti-hentinya tersenyum ketika membayangkan keluarganya yang akan bertambah.


“Bentar lagi rumah kita bakalan tambah rame,” ucapnya.


“Satu minggu itu rasanya begitu sangat lama untuk Arum. Sekarang duduk pinggang sakit, baring dada sesak, pokoknya nggak ada yang enak Mas, kalau makan juga makan dikit rasanya udah kenyang, kadang mual lagi,” ucapnya yang mengeluh dengan kehamilannya.


“Sabar sayang 7 hari lagi dia bakalan launching, kita akan mendengar suara tangisnya,” ucap Habibi yang selalu memberikan semangat untuk Istrinya.


“Iya Mas,” jawab Arum.


“Mau Mas kasi hadiah apa nanti setelah melahirkan,” ucapnya.


“Itu mobil mewah Arum yang kemarin dikasi waktu hamil paling jarang Arum bisa pakai. Berangkat dan juga pulang dari rumah sakitnya sama mas,” ucapnya.


“Nanti kalau si kembarnya udah lahir adek bakal sering pakai untuk bawa si kembar jalan-jalan, sekaligus antar jemput Rangga dan juga Vira ke sekolah,” ucapnya.


“Kok semuanya Mas kasi sama Arum," protes Arumi.


Habibi tertawa saat mendengar proses yang diberikan istrinya.


“Tapi katanya pengen sering-sering pakai mobil mewahnya, ya itu dipakai untuk antar jemput anak-anak sekolah, terus juga si kembar masih mimik sama Miminya, jadi nggak bisa jauh-jauh dari miminya," ucap Habibi.


“Arung nggak mau. Mas mau seenak-enaknya jadi cowok tanpa ada ekor, sedangkan Arum diikuti sama 4 ekor,” ucapnya.


“Ya udah kalau gitu tiap ke rumah sakit sama mas, pulang juga sama Mas, antar Vira dan Rangga ke sekolah juga sama mas. kita sama-sama seperti biasa,” ucap Habibi yang tersenyum memandang istrinya. Pria itu mencium kening serta pipi istrinya yang cubby .

__ADS_1


Arum memandang suaminya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Ternyata suaminya itu sangat pandai menjebaknya.


****


Arum memandang ruangan operasi Di mana tempat ia saat ini berbaring. Arum tersenyum memandang suaminya yang berada di dalam ruangan operasi bersama dengannya. Melihat raut wajah suaminya begitu sangat pucat dengan telapak tangannya dingin Arum sangat tahu bahwa saat ini suaminya begitu sangat cemas dan takut.


"Sayang mas jangan takut,” ucap Habibi yang berusaha menguatkan istrinya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tapi kenapa yang dingin tangan mas ya,” ucapnya yang sengaja bercanda dengan suaminya.


Habibi memandang wajah istrinya dengan sedikit memaksakan senyumnya. “Adek yang baring di sini tapi mas yang rasa takut,” ucapnya.


“Mas do’ain Arum dan anak-anak kita. Mas ada di sini temani Arum seperti ini aja sudah buat Arum semakin kuat," ucap Arumi yang mencium punggung tangan suaminya.


Habibi mengusap air mata Istrinya dan mencium kening istrinya. “Mas selalu do’ain adek dan anak-anak kita," ucapnya.


"Dokter Arumi, kita mulai ya,” ucap dokter Dina setelah yakin bahwa obatnya sudah bekerja.


Habibi hanya diam memandang wajah istrinya. Dia seakan sudah tidak mampu untuk bicara. Berada di dalam ruangan operasi ini membuat dadanya terasa begitu sangat sesak dan kakinya gemetar. Habibi tidak ingin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh tim Dokter tersebut. Pria itu hanya fokus memandang wajah istrinya.


Arum tersenyum memandang suaminya.


Habibi sedikit tersenyum dan mengusap kepala istrinya, “Adek jangan takut,” ucapnya.


Arum mengelengkan kepalanya. “Arum nggak takut kok mas, karena ada mas di sini,” ucapnya


“Iya sayang," ucap Habibi, pria itu tidak ada hentinya berdo’a di dalam hatinya.


Suara tangis bayi yang didengarnya membuat Habibi memutar kepalanya dan melihat bayi yang diangkat oleh dokter tersebut.


“1 sudah keluar sayang," ucap Habibi yang mencium kening istrinya dengan air mata yang menetes.


“Perempuan,” ucap dokter Dina.

__ADS_1


“Iya udah tahu dok,” ucap Arum.


“Ini yang ke-2 ya, berdo’a semoga dapat lonceng,” ucap dokter Dina.


“Kalau dapat perempuan lagi nggak apa-apa,” ucap Habibi yang tersenyum memandang wajah istrinya.


“Bismillahirrohmanirrohim,” ucap dokter Dina yang mengeluarkan bayi yang kedua. “Laki-laki,” ucap dokter Dina saat mengangkat bayi yang kedua, suara tangis bayi itu memenuhi seluruh isi ruangan tersebut. Kedua bayi kembar itu menangis seakan saling berlomba menunjukkan suara yang paling besar.


Arum seakan tidak percaya saat mendengar ucapan dokter Dina. “Dokter Dina tidak sedang bercandaan?” tanyanya.


“Enggak beneran ini, beneran kembaran pipinya,” ucap dokter Dina.


Habibi tersenyum dan memeluk istrinya, “akhirnya kita dapatnya cowok sayang,” ucapnya yang mencium bibir istrinya.


Dokter Dina memberikan bayi tersebut kepada pipinya setelah ia memotong tali pusar dan juga membersihkan bayi tersebut.


Dengan tangan yang bergetar Habibi mengendong bayinya. Pria itu mengadzankan bayinya. Habibi mencium pipi bayi mungilnya kanan dan kiri. Pria itu kemudian meletakkan bayinya di atas dada ibunya.


“Satu lagi,” ucap dokter Dina yang menyerahkan bayi yang kedua.


Habibi melakukan hal yang sama, ia mengadzankan bayinya dan mencium pipi bayi itu kanan dan kiri. Ia meletakkan bayinya di sebelah dada kiri istrinya.


Arum memandang suaminya dengan air mata yang menetes. “Mereka pintar buat kita penasaran mas," ucapnya yang mencium rambut bayi kembarnya.


“Apa namanya sudah ada,” tanya dokter Dina.


“Kemarin bila perempuan dua-duanya namanya mau dikasi Zainab dan juga Zahira. Namun karena dia perempuan dan laki-laki namanya Zainab dan juga Zaidan,” ucapnya.


“Alhamdulillah, nama yang cowoknya sudah disediain,” ucap dokter Dina yang tersenyum memandang pasangan suami istri yang begitu sangat bahagia tersebut.


“Alhamdulillah di buat stok walaupun gak yakin,” Arum tersenyum.


****

__ADS_1


__ADS_2