Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 27


__ADS_3

Arumi menikmati suasana di sekolah barunya. Di tempat yang berbeda. Dalam beberapa hari ini central grup sangat sibuk mempersiapkan acara pelantikan direktur utama di anak perusahaan central grup. Perusahaan yang sedang di pegang Habibi Iskandar Center abadi. Beberapa hari ini begitu banyak yang di siapkan. Bahkan Bibi baru pulang setelah jam 10 malam.


Sore ini di saat dia sedang sangat suntuk dan sedikit stres memikirkan strategi perusahaan selanjutnya. Pekerjaan yang masih belum terselesaikan. Terlintas senyum manis Arumi. Ia terkadang lebih memilih untuk menundukkan kepalanya sambil tersenyum.


Habibi keluar dari ruangan, menuju pentri.


“Pak habibi,” suara seseorang terdengar memanggil.


“Iya. Kamu?”


“Saya Riri pak. Cleaning servis yang baru. Ada yang bisa saya bantu pak?”


“Saya sedang cari Arum?” jelas Habibi.


“Arum sudah beberapa hari ini gak masuk pak,” jawab Riri.


“Kenapa?”


“Saya juga kurang tau pak,” kata Riri.


“O... Makasih ya.”


“Iya pak.”


Dengan sedikit lemas, Bibi kembali ke ruangnya. Duduk di kursi kebesarannya. “Apa dia sakit?” Kenapa dengan ku. Mengapa aku melupakannya. Apa kondisinya bertambah parah atau bagaimana. Bibi memukul-mukul kepalanya pelan sambil mencari jawaban. Ah mengapa tidak terpikir untuk menelponnya. Diambilnya hp yang terletak di atas meja. Di cari kontak arumi. Secepat kilat nama itu muncul. Bibi langsung menghubunginya. Namun yang di dengar hanya suara lembut operator telepon yang mengatakan no yang anda tuju sedang tidak aktif.


Bibi menulis pesan wa nya.


Arum kamu di mana?


Apa kamu sehat-sehat saja.

__ADS_1


Mas sangat khawatir sama kamu.


Namun pesan yang terkirim hanya contreng 1.


Bibi menelpon Widi, pegawai yang bertanggung jawab terhadap karyawan


“Halo.” Widi mengangkat telponnya.


“Halo Wid. Ke ruangan saya.”


“Baik pak.”


Tidak lama widi datang mengetuk pintu.


“Masuk,” teriak Habibi.


“Ada apa pak.”


“Yang di bagian cleaning servis pak?” tanya Widi.


“Iya.” Sambil berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya. Habibi sudah tidak dapat mengontrol emosinya, sehingga Widi terkejut melihat reaksi bos besarnya tersebut.


“Sudah 3 hari pak,” kata Widi dengan pelan karena takut.


“Apa keterangannya tidak datang?”


“Tidak ada keterangan pak.”


“Kenapa tidak kasih tau saya,” bentak Habibi.


Widi diam. “Mana mungkin saya laporkan sama bapak urusan kecil seperti ini. Apa lagi dia hanya cleaning servis.” Guman widi dalam hati.

__ADS_1


“Keluar.”


“Ba... Baik pak. Saya permisi.” Sambil widi keluar dari ruangan.


Jam 4 sore, walaupun belum jam pulang. Habibi memilih pulang terlalu dahulu. Diikuti oleh bodyguardnya. Bibi menyuruh bodyguard ke kos Arumi.


Begitu sampai di kos Arumi. Bibi mulai mengetok pintu. Namun tidak ada yang menjawab.


Seseorang keluar dari kamar sebelah Arumi. Seorang gadis yang memakai baju kaos ketat tanpa lengan dan celana yang sangat pendek.


Cari siapa bang?


“Arum.”


“Ooo yang menepati kamar itu namanya Arum ya.”


“Iya,” jawab Habibi.


“Sudah hampir 4 hari gak pernah pulang.” Ucapan gadis itu benar-benar membuat Habibi terkejut.


“Terimakasih ya.” Sambil pergi naik mobil.


“Kita kemana tuan muda?” tanya bodyguard.


Bibi teringat warung pecel lele mbak Ina tempat Arum bekerja bila malam. Sesampainya di warung makan tersebut, nampak kalau mereka masih baru siap-siap untuk membukanya.


“Permisi mbak. Apa arumi kerja di sini?” Bibi bertanya kepada mbak Ina.


“Iya mas. Tapi sudah 3 hari Arum gak ada masuk. Biasanya kalau dia gak masuk, maka dia menghubungi saya. Tapi saya hubungin arum hp nya di luar jangkauan.” Jelas mbak Ina.


“Apa mbak tau arum ke mana?” tanya Habibi.

__ADS_1


“Gak tau mas. Mungkin pulang kampung.” Jawab mbak Ina.


__ADS_2