
“Setelah aku bekerja. Aku sudah jarang jumpa dengan dia. Dia juga sibuk dengan kuliahnya.” Kata Arumi melanjutkan ceritanya.
“Apa dia tau perasaan kamu?” tanya Tiar.
“Aku rasa tidak. Aku tidak pernah menunjukkan rasa suka ku padanya.”
“Kenapa kamu gak kasih tau kalau kamu suka sama dia.” Tanya Tiar.
“Aku tidak mau kalau cinta ku mengantarkan dia ke depan pintu neraka.”
“Bagaimana kalau dia di ambil cewek lain. Apa kamu gak nyesel. Cinta itu harus di kejar.” Seru Tiar dengan berbagai pertanyaan.
“Kalau dia diambil cewek lain. Itu artinya dia bukan jodohku.” Sambil tersenyum. “Sekuat apa pun untuk mengejar cinta nya. Sekuat apa pun untuk mendapatkannya. Sekuat apapun untuk mempertahankannya. Kalau yang namanya tidak jodoh. Dia tetap akan pergi dengan yang lain. Namun kalau dia memang jodoh aku. Aku tidak perlu mengejarnya. Allah akan punya cara untuk menyatukan kami.” Jawab Arumi meyakinkan.
“Aku beneran kagum dengan kamu. Sepertinya di zaman sekarang, dari 1000 orang wanita. Hanya ada satu seperti kamu.” Kata Tiar.
“Kamu berlebihan Tiar,” jawab Arumi.
“Aku serius lah Arum.”
“Dah magrib. Sholat yuk.” Ajak Arumi.
Mereka menjalankan kewajiban terhadap sang pencipta . Setelah selesai sholat mereka kembali bersiap untuk kelas selanjutnya.
Jam 11 malam. Arum baru selesai kelas mengemudi. Yuda sudah duduk di parkiran menunggu Arum datang. Prima berjalan mendekatinya.
“Saya harap tuan muda berhenti mendekati wanita itu,” kata Prima memulai pembicaraan.
__ADS_1
“Aku tidak pernah berhenti mendekatinya.” Seru Yuda.
“Tuan tau saya di sini di utus tuan besar untuk melindungi anda dari apa pun,” seru Prima.
“Kau tidak usah memikirkan itu. Aku tau apa yang seharusnya aku lakukan.” Jawab Yuda.
“Anda tidak tau siapa wanita itu. Apa tujuannya datang ke sini. Dan siapa dia sebenarnya. Siapa bos yang sudah mengirim dia ke sini.” Kata Prima mengingatkan.
“Aku tidak perlu tau itu. Bagi ku dia sangat baik.”
“Anda terlalu mudah mengambil kesimpulan. Hanya melihat dari luarnya saja tuhn.” Kata Prima lagi. “Aku sudah katakan kepada mu jangan ganggu dia.” Dia bukan wanita lemah tuan seperti yang anda cemaskan. Yang harus anda pikirkan nasip anda sendiri. Saya akan melakukan apa pun untuk melindunggi anda.
“Jangan pernah kau sentuh atau meresahkannya. Kau mengerti.” Kata Yuda.
Prima tersenyum sinis melihat Yuda. Perima pergi dari parkiran saat melihat sebuah mobil yang semakin mendekat.
Prima salah seorang, pengawal terlatih yang di kirim dedy Yuda untuk melindungi putra mereka.
Mobil yang di kendarai Arum sudah masuk ke pagar sekolah dan berhenti di parkiran. Arum turun dari dalam mobil.
“Terimakasih instruktur.” Kata Arumi.
“Sama-sama nona.”
“Arum,” terdengar suara seseorang memanggil Arumi. Arum mencari sumber suara yang di dengarnya . Arum melihat Yuda yang berjalan semakin mendekat kepadanya.
“Gimana apa sudah selesai latihannya Rum,” tanya Yuda.
__ADS_1
“Sudah ak. Aak lagi ngapain di sini.” Tanya Arumi.
“Nunggu kamu. Ini!” Sambil menyodorkan air mineral dan sebuah anduk kecil.
“Arum emang haus ak, gak keringat juga,” kata Arumi.
Yuda tersenyum dengar protes polos Arum.
“Ak, kaki Arum masih gemetaran ak.” Kata Arumi.
“Ya udah, kita duduk dulu. Mereka duduk di taman sekolah yang sangat luas.
“Ak.”
“Iya rum.”
“Gimana pipi aak apa masih sakit ak?” tanya Arumi.
“Masih rum, tenaga kamu kuat sekal,” jawab Yuda.
“Itu sudah tenaga yang paling lemah itu.”
“Ayuk kita makan?” ajak Yuda.
“Dimana ak.”
“Ya di kantin lah.” Mereka berjalan ke arah kantin.
__ADS_1
Prima selalu mengawasi Yuda dari jarak yang cukup dekat namun tidak di ketahui orang lain. Tidak ada yang mengetahui siapa Prima dan hubungannya dengan Yuda.