Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 115


__ADS_3

Siti meneteskan air matanya saat dilihatnya putrinya yang selalu mementingkan keselamatan orang lain.


Dokter datang beserta perawat.


“Udah bangun ya dek Arum.” dokter muda tersebut menyapa dengan sangat lembut.


“Sudah dok.”


“Gimana perasaannya?”


“Masih belum ada yang bisa di gerakan dok. Masih mati rasa.”


“Iya efek bius. Tadi kita pakai bius total.”


Arum menganggukkan kepalanya. “Tadi Arum di apain aja dok?”


Senyum terukir di wajah dokter tersebut. “Tadi langsung dilakukan tindakan operasi. Kamu kena berapa kali tembakan?” Dokter tersebut bertanya dengan santai.


“2 dok.”


“Saya kirain kamu gak tau. Tapi bersyukur peluru tidak ada yang menembus jantung. Penyembuhan sedikit lebih lama. Luka di tangan sudah di jahit semua.”


“Makasih dok.”


Diperhatikan dokter tu wajah Arumi. “Wajah kamu sangat kalem. Tapi kamu ternyata sangat hebat. Kamu cocok jadi Agensi rahasia.”


“Dokter kebanyakan nonton film secret agency.” Arum tertawa.


“Dalam kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda.” Dokter tersebut tertawa. “Iya saya sangat suka film itu.” Jawabnya. “Film itu sangat memegangkan. Umur kamu baru 19 tahun?”


“Iya dok.”


“Kuliah di mana.”


“Baru masuk dok. Fakultas kedokteran.”


“Calon dokter cantik ya.”


Arum senyum.

__ADS_1


“Oh iya tadi mau minum ya?”


“Iya dok.”


“Minum boleh, makan juga boleh.” Setelah dokter tersebut memeriksa terlebih dahulu


“Makasih dok.”


“Cepat sehat ya.”


“Iya dok.”


Dokter tersebut pergi.


Habibi menatap Arum seakan tidak percaya. “Jadi kamu kena tembak 2 x tanyanya.”


Arum menganggukkan Kepalanya. “Mas, Arum haus.”


“OOO iya. Mas lupa.”


Habibi mengambilkan air mineral.


“Ibuk aja yang ngambilkan nak.”


“Gak usah buk.” Bibi aja.


Habibi membawa air hangat dengan gelas dan memberikan ke Arumi. Arum menghabiskan air yang ada dalam gelas tersebut. Perawat rumah sakit masuk dengan membawa makan malam serta susu dalam cangkir serta buah. Habibi membawa bubur di dalam piring ke dekat Arum.


“Makan ya dek. Untuk sementara makan nasi dari rumah sakit dulu ya.”


Arum menganggukkan kepala. Habibi menyuapkan bubur tersebut ke mulut Arumi sampai bubur tersebut habis.


“Jadi gimana mas? Apa sudah lapor polisi?”


“Sudah.”


“Terus pelayan yang di restoran, apa masih hidup?”


“Masih, mereka diikat dan dikurung di dalam ruang lantai 3.”

__ADS_1


Arum menutup mulutnya. Suara ketukan pintu pintu mengalihkan pendangan mereka ke arah pintu tersebut. Terlihat Ardi membuka pintu. Aldi memberikan senyum terbaiknya saat ia melihat Arum sudah sadar. Ia mendekati Arum.


“Gimana? Apa yang sakit.” Tanya nya.


Arum memajukan bibirnya. “Belum ada yang sakit, kan masih di bius.”


“Ibuk ini Ardi bawakan nasi, Mas juga. Makan dulu.” Ardi memberikan bungkus makanan yang dibawanya. Sejak kejadian tersebut, Habibi dan Siti belum ada makan sama sekali. Siti mengambil bungkusan makan yang di bawa Ardi.


“Makasih ya Ardi.” Habibi berbicara dengan kaku.


Walaupun Ardi berstatus sahabat Arum. Namun dapat dilihat bahwa perhatian pria tersebut terhadap Arum tampak begitu berbeda. Cara ia memandang Arum. Perhatiannya. Walaupun Ardi memang sangat baik dan Ramah. Ia juga terlihat sangat perduli kepada siapa saja. Kalau dilihat Ardi dan Arum memiliki sifat 11, 12. Habibi dan Siti makan di sofa setelah mengucapkan terima kasih.


Pintu kembali di ketuk dan ternyata Wahyudi dan Sasa yang datang membawa buah. Sasa memeluk Arum. Walaupun wajah Arum sudah tidak tampak pucat namun kondisinya masih lemah.


“Mbak tadi langsung buru-buru ke sini dengar kamu udah sadar.”


Arum senyum. “Makasih ya mbak.”


“Mbak yang mestinya terimakasih sama kamu.”


Anita, Jhoni dan Rasid juga sudah datang. Mereka berkumpul di kamar inap Arum sambil bercerita-cerita.


Mendengar suara ketukan pintu, Sasa membuka pintu tersebut, ternyata yang datang polisi yang manangani kasus tersebut.


“Pak, silahkan masuk pak.” Sasa memperhatikan polisi tersebut dengan sopan.


3 polisi tersebut masuk kedalam kamar. Polisi yang bernama Firman tersebut, begitu penasaran dengan Arum sehingga ia menyempatkan datang begitu tahu Arum sudah sadar.


“Malam dek Arum.”


“Iya malam.”


“Saya firman Hermansyah. Yang memegang kasus yang adek Arum hadapi siang tadi. Ini rekan-rekan saya. Saya sudah dapat informasi tentang peristiwa tersebut namun belum secara keseluruhan. Apa adek Arum sudah bisa memberikan keterangan?” Senyum terukir di wajah polisi hitam manis tersebut.


“Bisa pak. Apa yang ingin bapak tanya?”


“Keseluruhannya. Bisa dek Arum cerita?”


“Saya berserta teman-teman saya masuk kerestoran tersebut. Karena posisi restoran dekat kampus kami. Rasanya juga sangat enak. Setelah kami masuk dan memesan pesan kami, Pak Habibi datang bersama mbak Sasa, dan mas Rasid. Mereka sedang menunggu klien. Arum menghampiri mereka. Arum memang bekerja di perusahaan pak Habibi. Saat mereka mau masuk ke ruang yang sudah di pesan, ruangan VIP, Arum melihat 2 laki-laki yang berpakaian santai duduk di meja depan. Pandangan mereka mengintai pak Habibi. Arum lihat ke sekeliling restoran. Awalnya Arum mengira restoran ramai karena jam makan siang. Namun Arum perhatikan, tidak ada satu meja pun yang ada hidangannya. Walaupun Arum belum sering datang ke restoran tersebut, namun saya beserta teman-teman sudah masuk kerestoran tersebut 1 kali. Saat kami masuk pelayan sudah datang dengan membawak teh goyang dan air cuci tangan. Siang tadi kami sudah pesan, pesan kami tetap belum diantar. Mereka yang duduk di meja tampak bukan sedang menunggu makan tapi menunggu orang. Mereka terlihat memang sedang menunggu kedatangan pak Habibi. Karena itu saya mengajak pak Habibi duduk di meja tempat kami, yang posisinya di bagian tengah sehingga apa yang kami bahas, mereka tidak tahu. Posisi mereka semua jauh dari meja yang kami duduki. Kemudian saya meminta teman saya untuk membawa teman-teman yang berada di restoran tersebut untuk kembali ke kampus. Mas Rasid mengantar mbak Sasa ke mobil dengan harapan mbak Sasa akan membawa mobil ke tempat kami. Di saat itu yang saya pikirkan bagaimana kami bisa keluar dari restoran dan bagaimana kami bisa sampai keparkiran. Mas Rasid kembali ke dalam sepertinya mereka sudah tahu bahwa kami sudah mengetahui keberadaan mereka. Saya lihat dari dalam sudah ada yang berdiri didekat mobil dan memukul kaca mobil. Kami berdiri dari tempat duduk kami untuk keluar. Namun sebelum kami keluar mereka sudah menghadang kami. Jumlah mereka sangat banyak. Mereka juga tampak sangat terlatih.”

__ADS_1


*********


__ADS_2