
“Arum,” kata Habibi.
“Iya mas,” jawab Arumi.
“Kamu tau kan perasaan mas.”
“Perasaan yang mana.”
Habibi tampak mulai kesal “ini cewek beneran polos, tahu atau gak tahu beneran,” gumamnya dalam hati. Namun dilihatnya mata gadis tersebut terlihat gadis tersebut jujur dengan ucapannyanya.
“Arum sayang, kamu tahukan kalau mas itu sayang banget sama kamu.”
“Terus?”
“Mas mohon, walaupun hubungan kita seperti ini, tapi jangan beri harapan sama yang lain. Tolong jaga hati mas.”
“Arum sama Ardi tu sahabat sejak kecil. Waktu ayah masih hidup, ayah salah satu pekerja di perkebunan orang tua Ardi. Dan tuan Androw, Arum udah berusaha untuk menghindar dan menjauh. Tapi dia yang dekatin Arum terus, jadi gimana dong.”
“Jangan kasi harapan.”
“Arum tahu mas. Insyaallah Arum akan jaga hati Arum. Kalau jodoh itu kuasa Allah.”
“Mas akan minta sama Allah, supaya kamu jadi jodoh mas.”
“caranya.”
“Tahajud tiap malam.”
Arumi ketawa
******
Arumi yang baru selesai mandi dan sholat, terlihat sangat segar. Habibi masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Kamar mandi yang kecil, dan memakai penampungan air pakai ember. Habibi mengambil air wudhu dan melanjutkan sholat.
Habibi duduk di samping Arumi. Arumi langsung bergeser untuk memberi jarak. Mereka memang tidak pernah duduk dengan jarak yang sangat dekat, mereka selalu duduk berjak minimal 50 cm.
“Gak apalah yang, aku duduknya agak dekat dengan kamu.” Kata Habibi.
__ADS_1
Arumi hanya tersenyum, “sedangkan dengan jarak seperti ini aja, para setan udah seneng mas. Tinggal merayu sedikit lagi.”
Habibi melihat wajah gadis cantik di sampingnya.
“Ujian mas berat dek.”
“Berat gimana mas?”
“Dekat sama kamu, tapi gak punya status, mau nikahin kamu, kamunya gak mau.”
“Siapa suruh suka sama anak di bawah umur.” Sambil menjulurkan lidahnya.
“Jangan buat macam itu dek. Mas, beneran gak bisa nahan nanti.”
“Buat apa? Gak tahan apa?”
“Itu melet-meket lidah dan gak tahan untuk cium.”
Arum langsung melototkan matanya. “Mas, udah sore, mas pulang ya.”
“Beneran gak apa nih mas pulang?”
“Kalau ada apa-apa telpon mas ya.”
“Siiippp bos.”
“Ya udah mas pulang ya. Untuk makam ntar di antar pak Diman.”
“Gak usah mas, nanti Arum minta teman di kos belikan aja.
“Kalau gak ada yang bisa beli, telpon mas ya.”
“Iya mas.”
Arum masuk ke dalam kamarnya setelah mobil Habibi mulai menghilang dari pandangannya.
******
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara Ardi memanggil.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Arumi sambil membuka pintu.
Ardi yang tampak baru pulang dari kampus, masih memakai baju yang sama sewaktu dia ke kampus.
“Baru pulang?”
“Iya, hari ini aku sampai jam 6.” Saat Ardi sampai di kos Arum sudah jam 7.
“Kenapa gak langsung pulang aja istirahat. Kamu pasti capek.” Mengingat Ardi yang hanya tidur beberapa jam dan sibuk untuk merawatnya.
“Fisik aku gak sama dengan kamu. Aku lagi visit malam, pasien. Udah baring. Aku mau cek kamu.”
“Serius amat, pakai visit malam.”
“Antisipasi, takut di telpon tengah malam. Semalam masih untung jam 10,” kata Ardi sambil mengecek suhu tubuh, dan mengecek tensi Arumi.
Arum senyum.
“Udah oke semua. Ini aku udah bawain makan malam untuk kamu. Mau aku suapin?”
“Apaan sih kamu. Aku bisa makan sendiri.”
“Ini P3k dan ada beberapa jenis obat. Seperti parasetamol, cimitiden, obat sakit kepala, diare, batu, flu dan milanta. Tangal expirednya sudah aku tulis.” Kata Ardi sambil menyerahkan obat-obatan tersebut ke Arumi.
“Makasih ya. Kamu sudah makan?”
“Sudah, makan siang.” Jawab Ardi sambil tertawa..
“Kamu tu, untuk aku kamu pikirkan. Tapi untuk kamu, gak kamu pikirkan.”
“Aku bisa makan di kos,” jawab Ardi sambil senyum. “Aku gak bisa lama-lama. Banyak tugas. Ingat ya habis makan minum obat.” Sambil mengelus kepala Arum. “Aku gak mau lihat kamu sakit lagi.”
Arum mengangguk. Ardi membereskan barang-barangnya yang ada di kos Arum memasukan ke mobil.
“Kalau ada apa-apa. Telpon aku ya.”
__ADS_1
Arumi menganggukkan kepalanya.