Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 338


__ADS_3

Habibi masuk ke dalam ruangan istrinya. Istrinya duduk di mejanya, masih memakai jas putihnya. "Apa dokter Arumi sudah selesai?" ucapnya yang duduk di depan istrinya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baru aja selesai visit pasien," ucap Arum yang membuka jas putihnya.


"Gimana si genit di sana?" tanya Habibi.


"Apa Vira gak ada hubungi mas?" tanya Arum.


"Sudah tadi, Vira menghubungi mas waktu belum jumpa sama Ardi dan Aisah. Dia masih nunggu di dalam apartemen," ucap Habibi.


"Si genit buat aunty nya ketakutan," ucap Arum.


Habibi memandang istrinya dan mengerutkan keningnya. "Mas sudah bilang mereka itu pengantin baru, malah disuruh jagain anak. Ya wajarlah Aisah takut," ucap Habibi.


Arum tertawa saat mendengar ucapan suaminya. "Bukannya takut karena itu," ucapnya.


"Jadi takut apa?" tanya Habibi.


"Dikirainnya hantu," ucap Arum.


"Kenapa gitu?" tanya Habibi.


"Vira sendirian didalam apartemen jadi dikiranya itu hantu bukannya Vira," ucap Arum sambil tersenyum.


"Yang benar aja, anak mas yang cantik gitu dibilangin hantu. Mas yakin Vira usil," ucap Habibi yang menggalang gelengkan kepalanya. "Nanti dirumah kita telepon Vira," ucap Habibi yang menarik hidup istrinya.


Arum menganggukkan kepalanya dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Tapi sepertinya anak-anak nggak ada yang ingat sama kita lagi Mas," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Habibi.


"Buktinya gak ada yang menghubungi Arum," ucap Arum.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Besok si kembar Jangan gitu ya," ucapnya mencium perut istrinya.


"Mas mau yang cewek dan cowok, cowok-cowok atau cewek semua," ucap Arum memandang suaminya. Tangannya mengusap perutnya.


"Cewek dan cowok boleh, cowok-cowok boleh. Tapi kalau cewek semua mas juga gak apa," ucap Habibi yang terlihat pasrah.

__ADS_1


Arum tertawa saat melihat wajah suaminya.


"Kenapa gitu?" tanya Arum.


"Yang penting istri sama anak mas sehat dan selamat. Hanya saja mas harusnya menghadapi miminya yang manja luar biasa. Vira yang paket komplit. Cerewet, genit, pintar, cantik plus manjanya jangan di tanya. Ditambah lagi kalau sempat yang kembarnya cewek-cewek," ucapnya.


Arum tertawa mendengar ucapan suaminya. "Mas gak sendiri, ada Rangga yang super sabar dan bijaksana," ucap Arum.


"Iya syukurnya Rangga itu sudah seperti orang dewasa. Sehingga Mas punya teman untuk bertukar pikiran," ucapnya.


Arum tersenyum memandang suaminya. "Walaupun dia masih kecil, tapi sifatnya seperti orang dewasa," ucapnya.


"Waktu itu cepat berlalu Sayang, tanpa terasa mereka akan besar," ucapnya Habibi yang menurunkan gaya Androw. Mengingat putrinya sering mengatakan hal tersebut.


Arum tertawa saat mendengar ucapannya yang menirukan perkataan suami dari temannya.


"Mas sudah sama seperti Vira. Nanti kalau Vira sudah besar gimana ya Mas?" ucapnya.


"Jaga anak gadis lebih susah daripada jagain ayam," kecap Habibi.


"Loh kenapa di bandingin anak sama ayam?" ucap Arum.


Arum memandang suaminya dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Memang seperti itu kebanyakan," ucapnya.


"Dulu sewaktu Mas belum jadi orang tua. Mas tidak pernah berfikir untuk seperti ini. Namun setelah sudah jadi ayah, semakin mas mengerti dan mempelajari tentang agama. Mas semakin paham seperti apa seharusnya kita menjaga anak gadis, menjaga anak-anak, membimbing anak-anak dan mendidik anak-anak," ucapnya.


Arum menganggukkan kepalanya.


"Bila kita memiliki anak gadis yang kita takutkan, anak kita melakukan sesuatu yang dilarang sebelum menikah, dan sebagainya. Anak laki-laki sebenarnya tugas kita lebih berat lagi. Kita takut, anak kita menghamili anak orang. Terlibat pergaulan yang tidak wajar, berkelahi, ikut balapan," Habibi kemudian menghembuskan nafasnya saat mengingat bila nanti anaknya sudah tumbuh dewasa maka tugasnya sebagai orang tua akan semakin berat.


Arum tersenyum memandang suaminya. "Yang terpenting saat ini kita memberikan mereka pendidikan agama dan pendidikan rumah tangga yang baik Mas, agar anak kita nanti tau membedakan mana yang baik dan yang buruk. Berprilaku sopan dan santun. Mereka juga bisa menjaga tutur bahasanya," ucapnya.


"Iya sayang, pulang yuk sayang," ucap Habibi memandang istrinya


"Iya nanti Arum mau makan dulu," ucapnya.


"Apa tadi belum makan?" tanya Habibi.


"Sudah tapi Arum lapar lagi. Arum pengen makan ayam gecak yang di pinggir jalan," ucap sambil tersenyum lebar. Rasa pedas cabe ulek ayam gecak tersebut membuat air ludahnya menetes.

__ADS_1


Habibi diam saat mendengar ucapan istrinya.


"Arum pengen makan ayam gecak yang di pinggir jalan itu mas," Ucapnya yang kembali mengulang perkataannya.


"Jangan yang di pinggir jalan, kita makan restoran aja," ucapnya yang tidak mungkin mau membawa istrinya makan di pinggir jalan.


Arum menggelengkan kepalanya. "Arum bosan makan di restoran, Arum pengen makan di pinggir jalan," ucapnya.


"Sayang, jangan minta yang aneh-aneh," ucap Habibi.


"Arum gak aneh mas, Arum pengen makan ayam gecak yang di pinggir jalan," ucapnya


Habibi diam memandang istrinya.


"Mas udah janji sama Arum, bakalan nurutin permintaan Arum. Arum boleh makan di mana saja dan makan apa aja. Sekarang Arum mintanya makan ayam gecak," ucapnya.


"Iya sayang tapi maksud mas makan di restoran," ucapnya


"Arum enggak mau di restoran, Arum maunya di pinggir jalan," ucap Arum yang sedikit membesar suaranya.


Habibi mengusap wajahnya dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya udahlah Mas nurut aja sama ibu bunting," ucapnya mengusap perut istrinya.


Arum tersenyum manis saat mendengar ucapan suaminya ia memajukan bibirnya


Habibi mencium bibir istrinya.


"Arum hamil Mas bukan bunting," ucapnya.


"Samakan!" ucap Habibi.


"Bunting itu kucing, Arum manusia," ucapnya.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya dan kemudian mencium bibir istrinya.


***


Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.


Terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


😊😊🙏🙏


__ADS_2