Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 77.


__ADS_3

Karena memang merasa sangat lelah akhirnya Arumi masuk ke dalam kamarnya. Dia mencuci wajah kemudian berwudhu dan sholat Isya. Setelah selesai sholat Arum langsung menarik selimut dan tertidur. Arum mematikan hpnya ketika alaram di hpnya berbunyi jam 3,30 dia bangun dan kemudian sholat tahajud. Besok hari Senin, Arum puasa sunnah dan Arum mau sahur. Arum membuka pintu kamarnya menuju ruang makan. Begitu Arum melihat ke ruang makan, Arum terkejut ketika melihat Habibi ada di meja makan untuk sahur


“Arum.” Sapa Habibi kaget.


“Mas lagi apa?” tanya Arumi.


“Sahur. Kamu mau sahur juga?” jawab Habibi.


“Iya mas. Apa yang ada mas?” tanya Arumi.


“Ini, tadi mas minta bibik masak untuk sahur sebelum si bibik pulang.”


Arum melihat menu yang terhidang di atas meja. Sayur asam, tahu bacem, ayam rica-rica dan seafood saus tiram.


Arum begitu semangat melihat menu yang yang ada di atas meja. “Sepertinya enak mas.”


“Iya, kamu coba aja.” Kata Habibi.


Arum mengambil piring, gelas dan sendok untuknya. Kemudian dia membuat 2 gelas susu. “Minum susu mas, biar puasanya gak lemas.” Mereka makan berdua. Mereka makan gak banyak bicara. Setelah makan Arum bersihkan meja makan dan menyimpan ke dalam lemari penyimpanan.


“Mas, Arum ke kamar ya.” Kata Arumi.


“Gak nunggu sholat subuh. Nanti kita sholat di mushola belakang.” Kata Habibi.


Arum kembali duduk di depan Habibi. Mereka tidak banyak bicara. Seakan larut dalam pikiran masing-masing .


“Tadi ke mana aja sama mami?” tanya Habibi memecah keheningan diantara mereka.


“Mall, butik, toko sepatu, tas dan salon.” Jawab Arumi.


“Pantas lama pulangnya. Papi tadi senang banget. Gak ikut sama mami.” Jelas Habibi.


“Kenapa gitu mas?”


“Kalau dah pulang nemani mami shopping terus ke salon. Gitu pulang. Papi langsung tepar.”


Arum ketawa begitu mendengar cerita Habibi. Gimana gak tepar, si ibuk memang gak kenal lelah kalau udah shopping.


“Kamu gak capek jalan shopping sama ibuk?” tanya Habibi.


“Capek juga mas. Tapi habis belanja kami kesalon, Massage, Kemudian mandi sauna pokonya asik deh.”


Dalam diam Habibi selalu memperhatikan Arumi. “Mas tau bahwa apa yang mas lakuka Arum marah dan mas juga tau itu salah. Namun mas hanya ingin Arum tau akan perasaan mas.”


“mas, Arum wudhu dulu ya bentar lagi azan,” kata Arumi.

__ADS_1


“Iya, mas juga,” jawab Habibi.


Arumi naik ke atas tangga dan Habibi mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke kamar masing-masing. Setelah selesai mandi, langsung memakai mukenanya. Saat keluar dari kamar, Anita sudah ada di depan kamarnya.


“Ayo kita sholat ke mesjid,” ajak Anita.


“Iya buk,” jawab Arum.


Tak lama kamar Habibi terbuka. Dia sudah siap dengan baju koko, Peci dan sarung. Mereka menuju ke mesjid yang berada di kawasan perumahan mewah tersebut.


Mesjid yang besar dan sangat megah. Memiliki desain bangunan yang sangat menarik dengan taman yang luas, bunga yang terawat, dan ruang yang ber AC. Ternyata Arum memperhatikan nama mesjid tersebut. Mesjid Habibi al-karim. “Apa ini mesjid milik keluarga mas Bibi?”


Mesjid tersebut di bangun Jhoni saat Habibi baru lahir. Nama mesjid tersebut diambil dari nama Habibi. Mesjid tersebut dibangun dengan tanah hak milik Jhoni dan biaya pembangunan, perawatan, peralatan, gaji pengurus mesjid, qarim mesjid, tukang bunga, para ustad dan guru-guru MDA yang mengajar di mesjid tersebut, gaji mereka semuanya dibiayai oleh Jhoni.


Pertanyaan-pertanya dari para warga tidak pernah ada habisnya. Menanyakan, apakah Arumi calon mantu Anita. Anita selalu menjawab, iya ini calon mantu saya. Dengan bangganya memamerkan calon mantunya.


Setelah pulang dari mesjid. Arum bersiap-siap untuk ke kantor bersama Habibi. Selesai sarapan bersama, Arum dan Habibi langsung menuju kantor. Arum yang langsung memakai baju koleksi dari butik terkenal. 😊


**********


Habibi tampak sibuk dengan map-map yang ada di mejanya. Seketika, langsung menghentikan pekerjaannya.


“Arum,” panggil Habibi.


“Iya mas,” jawab Arumi.


“Mas mau nanya,” kata Habibi.


“Nanya apa?”


“Mas mau halallin kamu,” kata Habibi langsung tanpa basa basi.


Deg ... Jantung Arum langsung berdetak dengan kuat seakan sedang di pukul oleh genderang.


Wajah yang putih seketika menjadi pucat.


“Mas sayang sama kamu. Mas mau manikahin kamu. Mas juga yakin, mami dan papi pasti gak keberatan,” lanjut Habibi lagi.


Arum diam tak satu kalimat keluar dari mulutnya.


“Arum...”


“Iya mas.”


Arum berusaha untuk menenangkan perasaannya. Ia mencoba mengatur kembali nafasnya. Habibi tampak masih menunggu jawabannya.

__ADS_1


“Mas umur Arum masih 18 tahun.”


“Mas tau,” jawab Habibi ringkas.


“Mas, Arum masih mau menjalin mas remaja Arum sama seperti remaja-remaja yang lain. Sejak ayah meninggal, Arum tidak pernah lagi merasa menjadi anak kecil. Arum selalu berusaha membantu ibu cari uang. Arum belum siap untuk menikah. Arum belum dewasa, sifat Arum masih kekanak-kanakan, egois Arum masih sangat tinggi, sifat untuk tidak mau mengalah sangat besar. Arum benar-benar belum siap. Arum masih ingat berusaha mengejar cita-cita Arum. Arum benar-benar belum siap. Pernikahan itu bukan main-main.” Jawab Arumi.


“Mas ngerti. Kapan kamu siap?” tanya Habibi.


“4 atau 5 tahun lagi,” balas Arumi


“Gak bisa di percepat.”


“Percayakan semua pada takdir,” jawab Arumi.


Habibi menarik nafasnya dan menghempaskan sangat kuat.


“Kalau kamu gak mau jadi istri mas. Jadi pacar mas ya.” Rayu Habibi.


“Nikah dulu baru pacaran, jangan di balek.” Protes Arumi.


“Kalau gak mau jadi pacar. Jadi tunangan mas ya.” Balas Habibi tidak mau menyerah.


“Dalam islam tunangan sebelum menikah itu di sebut khitbah atau lamaran adalah preses perkenalan untuk menuju pada pernikahan. Khitbah bukanlah tujuan, tapi jalan menuju pernikahan. Maka salah jika ada kesan dan anggapan bahwa dengan khitbah sudah menjadi separuh halal. Anggapan ini total salah. Orang yang masih hanya berkhitbah tetap haram melakukan apapun seperti ia sebelum khitbah. Mulainya halal itu dimulai sejak akad nikah dilakukan, bukan khitbah, sehingga tidak terjadi perzinahan atau perbuatan menuju perzinahan. Rasul juga mengisyaratkan dalam khitbah hanya diperbolehkan untuk berkenalan dan melihat saja, tidak lebih dari itu, apalagi berpacaran. Dan hadis mengatakan Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu Rasul SAW. Bersabda, ‘Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua’. Lalu ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu”. (hr. Ibnu majah). Maka, bahwa berpacaran sebelum akad itu tidak dibenarkan.” Jelas Arumi panjang lebar kepada Habibi.


Habibi diam dan terasa tenggorokannya jadi kering seketika. kemudian dia menelan air ludahnya.


“Mas tunggu kamu.”


Arum tersenyum lega.


“Tapi ingat jangan pegang-pegang tangan Arum, apa lagi sampai cium Arum.”


“Maaf mas hilaf,” jawab Habibi.


“Hilaf kok dua kali.”


“Itu karena suasana.”


Mereka menjalani semua seperti biasa, walaupun tidak bisa di pungkiri, bahwa Habibi memperlihatkan perhatian lebih terhadap Arumi.


***


 


__ADS_1


kalau lihat cewek nya. secantik ini. gimana mas bibinya bisa tahan. untuk secepatnya menghalkan gadis impian nya. 😂


__ADS_2