Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 360


__ADS_3

Arumi membuka matanya ketika merasakan tangan suaminya yang melingkar dipinggangnya. Arumi tersenyum ketika melihat wajah suaminya yang saat ini sedang tertidur. "Arum diselimutin, Mas kenapa nggak pakai selimut, apa gak dingin." Arum menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya saat merasakan udara dingin dan sejuk di puncak.


Di tatapnya wajah suaminya dengan senyum yang merekah dibibirnya. Ia tahu bahwa sejak tadi dia sudah ketiduran, sehingga suaminya tidak akan membangunkannya. Suaminya selalu menggendongnya ke kamar bila Arum tertidur di mobil. Suaminya akan membukakan jilbab dan sepatu yang dipakainya tanpa membangunkannya sama sekali. Memiliki suami yang begitu sangat mencintai dan menyayangi adalah suatu anugerah yang paling berharga bagi setiap wanita. Arumi merasa menjadi salah satu wanita yang paling bahagia di atas dunia, karena memiliki pasangan dan imam yang mampu membimbingnya dan menyayanginya.


Sepuluh tahun sudah dilewatinya bersama dengan suaminya. Selama itu juga suaminya tidak pernah marah dengannya. Suaminya selalu bersikap bijaksana dan selalu bisa menjadi penenang dalam dirinya.


"Mas itu sudah tua, tapi kenapa gantengnya nggak ilang-ilang,” ucap Arumi yang tersenyum menatap wajah suaminya.


“Perasaan Arum, Mas masih sama seperti waktu kita baru nikah. Untung aja Arum gak tipe istri pencemburu, kalau Arum ini tipe istri pencemburu, Arum sudah pasti bakal ngikutin mas setiap kali kantor,” ucap Arumi yang menatap wajah suaminya.


Arumi sedikit mengangkat tangan suaminya yang tadi melingkar di pinggangnya dengan sangat berhati-hati agar suaminya tidak terbangun.


Arumi mencium punggung tangan suaminya. “Makasih ya mas karena selama ini sudah sayang sama Arum. Terima kasih sudah jadi pipi yang sempurna untuk anak-anak kita,” ucapnya yang menempelkan tangan suaminya di pipinya.


“Iya,” jawab Habibi.


Arumi memandang wajah suaminya, “Mas sudah bangun.”


“Belum,” jawab Habibi.


“Kalau belum kok bisa ngomong,” ucap Arumi.


“Ini lagi mimpi,” jawabnya.


Arum tertawa saat mendengar jawaban suaminya. “Jangan pura-pura tidur cepat buka mata,” ucapnya yang menggelitik pinggang suaminya.


“Kalau mau mas bangun cium dulu.” Habibi memajukan bibirnya agar istrinya mencium bibirnya.


Arumi tersenyum dan kemudian mencium bibir suaminya. Ia mencium bibir suaminya dengan sangat lembut.


Arumi membuka matanya dengan sangat lebar ketika suaminya memegang tengkuk lehernya dan membalas ciumannya.


Arumi memejamkan matanya ketika tangan suaminya membelai lembut kulitnya.


"Di sini dingin Dek, Abang jadi pengen,” ucap Habibi yang merasakan keinginannya yang mulai naik.


Arumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia mengangkat baju kaos yang dipakai Suaminya ke atas.


Berada berdua di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu seperti ini membuat mereka benar-benar ingin merasakan kemesraan. Udara dingin di puncak membuat mereka begitu sangat ingin menghangatkan tubuh pasangannya.


****


“Apa kita cuma di dalam kamar ini aja,” tanya Habibi yang sedikit membesarkan matanya ketika pria itu memandang istrinya yang begitu sangat nyaman berada di dalam kamar dan bersembunyi di dalam selimut tebal.


Arumi tersenyum saat mendengar pertanyaan suaminya. “Tadi udah dua kali Mas, kalau di dalam kamar lagi nanti jadi yang ketiga,” ucapnya.


“Mas sanggup kok." Habibi yang menarik hidung istrinya.


Arumi tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Ia kemudian mencium bibir suaminya sekilas dan dengan cepat melepaskan bibirnya tersebut.


“Kenapa ciumnya buru-buru,” goda Habibi.


“Biar nggak kejebak kayak yang tadi,” ucap Arumi.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya. “Tadi sewaktu Mas tidur, Mas dengar ada yang bilang Mas itu ganteng terus, juga katanya Mas itu nggak tua-tua,” ucapnya yang memandang wajah istrinya.


“Arum gak tahu kalau mas tadi nggak tidur. Bila Arum tahu mas cuma pura-pura tidur, sudah pasti Arum nggak bakalan ngomong gitu,” ucap Arumi yang begitu malu saat ia memuji kegantengan suaminya.


Pria itu hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.“Kangen nggak?” tanya Habibi.


Arumi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Belum pernah pisah sama si kembar, ini untuk yang perdana,” ucapnya.


“Ini Mami dari tadi banyak ngirimin video si kembar sama mas,” ucapnya.


Arumi langsung mengambil ponsel yang ada di tangan suaminya. Ia memandang video-video bayi kembarnya yang begitu sangat lucu ketika kedua bayi kembar itu berlari ke sana ke sini.


“Arum nggak pernah mimpi Mas, bakal punya anak kembar,” ucapnya yang begitu sangat senang ketika memandang layar ponsel suaminya.


“Nanti setelah selesai acara Mami bakalan datang ke sini bawa si kembar, Vira, dan juga Rangga,” ucap Habibi.


Arum menganggukkan kepalanya. “Di sekolah nggak ada yang berani gangguin Vira, karena selalu ada Rangga yang lindungin,” ucapnya yang begitu sangat bangga melihat sikap anak laki-laki tersebut.


“Walaupun mereka tidak saudara kandung tapi terlihat mereka sangat saling menyayangi dan melindungi satu sama lain,” ucap Habibi yang mengingat sikap Vira kepada Rangga dan begitu juga sikap Rangga kepada Vira.


“Iya Mas terkadang perjalanan hidup itu unik ya,” ucap Arumi.


Habibi menganggukkan kepalanya, “nanti kita bakar jagung di luar,” ucapnya.


“Iya Arum mau," ucap Arum.


“Ya udah cepat mandi, ini udah sore,” ucap Habibi.


“Arum malas mandi masih dingin,” ucapnya.


“Nggak bisa sholat dek kalau nggak mandi," Habibi menjepitkan dagu istrinya dengan jarinya.


“Tapi mas yang gedong Arum ya,” ucapnya.


“Ya ampun, ini si Arum udah tahu Suaminya udah tua, masih juga minta digendong,” ucap Habibi yang mencubit hidung istrinya.


Arumi memajukan bibirnya dan mencium bibir suaminya. “Itu hadiah supaya Mas kuat,” ucapnya.


Habibi tersenyum dan mengikuti apa yang diinginkan oleh istrinya. Pria itu menggendong istrinya ke kamar mandi dan mandi bersama.


****


Arumi memakai jaket yang sangat tebal begitu juga dengan suaminya. Mereka sedang membakar daging, kemudian sosis, dan juga jagung.


Habibi yang berada sejak tadi di belakang istrinya hanya memeluk istrinya dari belakang, sambil menunggu daging yang dibakar istrinya masak. “Udah lapar Mas Dek,” ucap Habibi.


“Sabar Mas ini sebentar lagi matang,” ucap Arumi ketika membalikkan daging yang dibakarnya.


Habibi tersenyum dan mencium pipi istrinya.


Arumi memasukkan daging yang sudah masak tadi ke dalam piring, sedangkan saos dan juga pastanya sudah disiapkan oleh pelayan di Villa tersebut.


Arumi duduk di meja makan yang berada di taman belakang vila. Lilin-lilin kecil disusun rapi di meja makan tersebut, sehingga suasana makan malam mereka terasa begitu sangat romantis.


“Mas, ini menu kita malam ini bakaran semua,” ucapnya.


“Iya, ini semua yang bakar Mimi Arumi,” ucap Habibi Ya memasukkan daging bakar kedalam piringnya. Habibi memotong daging tersebut dan menyiramkan saos berwarna putih diatasnya.


Arumi tersenyum dan memakan steak daging yang tadi dimasaknya. Steak yang masih hangat itu terasa begitu sangat enak ketika ia menikmatinya di udara dingin seperti ini.


“Setelah ada si kembar kita bisa dikatakan sangat jarang bisa menikmati suasana berdua seperti ini,” ucap Habibi yang memasukkan steak daging ke mulutnya.


“Iya, waktu cuman Vira aja kita suka kabur-kabur, kalau Vira diajak Mami ke rumah atau pergi jalan-jalan,” ucap Arumi yang selalu memanfaatkan kondisi disaat putrinya tidak di rumah. Mereka akan menghabiskan waktu semalaman di hotel bersama atau ke tempat romantis yang sudah disediakan oleh suaminya.


“Jadi momen seperti ini memang harus benar-benar dinikmati.” Habibi begitu sangat menikmati sensasi rasa steak daging yang dimasak oleh istrinya.


Arumi tersenyum ketika melihat pelayan yang datang dengan membawa kue tart yang berukuran cukup besar, dan memiliki susunan tinggi 10 tingkat.

__ADS_1


“Mas ini kue besar banget, terus susunannya juga sampai 10 tingkat. Siapa yang ngabisin,” ucapnya yang sedikit mencubit pinggang suaminya.


Habibi tersenyum ketika mendengar pertanyaan istrinya. “Mas mau buat satu tingkat, tapi ini ulang tahun pernikahan kita yang ke 10,” ucapnya.


Arum tersenyum mendengar jawaban suaminya.


“Di sini kita akan memotong kue ulang tahun pernikahan kita yang ke-10, dan nanti kue yang lain. Mas sudah bilang Sama pelayan untuk bagi-bagi ke tetangga-tetangganya dekat rumah, jadi nggak mubazir,” ucapnya.


Arumi sangat senang ketika mendengar ucapan suaminya.


“Mas sudah siapkan 10.000 nasi kotak beserta dengan kue untuk diberikan ke warga-warga yang ada di sini,” ucap Habibi.


Arumi hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. “Arum pengen tiup lilinnya,” ucapnya. Ia memandang kue yang tingginya 10 tingkat itu.


Habibi berdiri dari tempat duduknya. Ia berdiri disamping Istrinya.


“Yang lainnya panggil ke sini,” ucapnya meminta kepada pelayannya, mengingat divilanya begitu banyak bodyguardnya yang ikut serta, dan juga pelayan-pelayannya yang ada di villa tersebut.


“Baik Tuan,” ucap pelayan tersebut.


Pesta pernikahan mereka dibuat sesederhana mungkin, namun Habibi tidak pernah lupa untuk merayakannya dengan cara berbagi untuk sesama.


Arumi meniup lilin setelah mereka sudah selesai menyanyikan lagu Selamat ulang tahun. Ia memotong kue tersebut dan memasukkan kue itu ke dalam piring putih. Arumi menyuapi kue itu ke mulut suaminya.


Habibi melakukan hal yang sama yaitu menyuapkan kue ke dalam mulut istrinya.


Arumi tersenyum dan kemudian memeluk suaminya, “terima kasih Mas,” ucapnya.


“Mas yang seharusnya mengucapkan kata terima kasih, karena Adek sudah selalu setia mendampingi Mas. Adek selalu membuat Mas bahagia. Adik juga sudah memberikan Mas anak-anak yang sholeh dan sholehah,” ucap Habibi yang kemudian mencium kening istrinya.


Arumi tersenyum ketika mendapat kejutan kecil dari suaminya.


“Mas udah nggak tahu lagi mau ngasi hadiah apa, karena rasanya semua hadiah sudah Mas berikan, dan pada akhirnya Mas memutuskan untuk memberi hadiah ini,” ucapnya yang menunjukkan cincin di dalam kotak berwarna biru.


Arumi memandang cincin berlian yang begitu cantik di dalam kotak tersebut.


“Ini hadiah yang paling sangat indah Mas, Arum suka,” ucapnya.


“Alhamdulillah kalau istri Mas suka,” ucap Habibi yang mengeluarkan cincin itu dari dalam kotaknya. Habibi memasukkan cincin berlian ke dalam jari istrinya.


“Setelah ini kita akan jalan-jalan ke Jepang bersama dengan anak-anak kita. Kita akan menikmati pesta pernikahan ulang tahun kita di Tokyo,” ucapnya.


“Beneran Mas,” tanya Arumi yang membesarkan matanya.


“Iya, si Vira ingin foto di bunga sakura,” ucap Habibi yang mengingat permintaan Putri sulungnya.


“Arum juga Mas, bukan Vira aja,” ucap Arumi yang tidak ingin kalah dengan putrinya.


“Kita ke kamar ya,” ucap Habibi ketika mereka selesai merayakan pesta pernikahannya di halaman belakang Villa.


“Iya mas," jawab Arumi yang tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


****


Tidak ada kebahagiaan yang paling berharga selain memiliki pasangan yang mampu menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Saling berbagi, saling melengkapi, dan menutupi kekurangan satu sama lain, adalah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga.


Alhamdulillah akhirnya author bisa menyelesaikan satu karya author. “Dokter Arumi” adalah karya pertama author. Terima untuk reader semua, yang sudah mau dengan ikhlas mengikuti kisah dokter Arumi dari awal hingga saat ini. 😍😍


Terima kasih ya atas dukungannya, dan selalu memberikan semangat untuk author.


Yang mau mengikuti kisah Ardi bisa langsung di klik ya di profil author.

__ADS_1



__ADS_2