
Arum memperhatikan sahabatnya yang tampak tidak tenang. “Ada apa?” Tanya gadis tersebut.
Ara memandang wajah Arum. Ia menarik nafas panjang dan kemudian menundukkan kepalanya.
“Kenapa?” Tanya gadis tersebut yang merasa belum puas, disaat sahabatnya belum memberikan jawaban.
Ara mengangkat kepalanya dan kemudian gadis itu memajukan bibir bawahnya sedangkan bibir atasnya masuk ke dalam.
“Ara mau cerita. Tapi jangan di sini.”
Arum menganggukkan kepalanya. “Nanti kita ke coffe shop ya.” Ucap gadis itu.
Ara menganggukkan kepalanya dan kemudian kembali menundukkan kepalanya. Arum memperhatikan sahabatnya yang biasanya cerewet namun hari ini lebih banyak diam. Mereka mengikuti perkuliahan sampai selesai tanpa banyak berbicara. Setelah dosen meninggalkan kelas mereka Arum memasukan binder kampus serta buku kuliahnya yang cukup tebal ke dalam tas dan alat-alat tulis miliknya. Naura melakukan hal yang sama.
Mereka berjalan ke parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil putih tersebut. Arum menstater mobil tersebut dan menjalankannya.
“Ada apa ?” Tanya Arum
“Pusing.” Jawab Ara.
“Ara bisa pusing juga?”
“Iya bisalah Rum.” Sambil memajukan bibir bawahnya.
Ara mengusap wajahnya. Arum Hanya diam sambil mengemudikan mobilnya. Ia juga bingung, harus ngomong apa. Lihat ekspresi dari wajah sahabatnya tampak jelas bahwa sahabatnya itu sedang galau tingkat tinggi.
Arum memarkirkan mobilnya disebuah coffe shop yang tidak jauh dari kampusnya. Mereka memesan milk shake. Mereka lebih menyukai minuman yang berbahan susu dari pada coffe dan juga memesan cemilan kentang goreng, sosis dan bakso pedas.
“Cepatan dong cerita penasaran ini. Udah penasaran sejak pagi.” Ucap gadis tersebut.
Ara memasukkan kentang kedalam mulutnya dan mengunyah kentang tersebut dengan ekspresi kesal. Arum mengerutkan keningnya melihat sahabatnya itu.
“Mas Androw mau masuk Islam.”
Mata Arum terbuka sempurna mendengar apa yang di sampaikan sahabatnya itu. “Terus?” Tanyanya kembali.
“Mas Androw bilang. Kalau dia sudah menjadi muslim, dia mau lamar Ara.”
“Apa?” Suara Arumi, membuat pengunjung yang rata-rata mahasiswa di tempat tersebut melihat kearah mereka.
“Hussss.... jangan kaget gitu dong.” Omel gadis tersebut.
“He....he.... Maaf refleks. Soalnya Ara sama Mas Bul kan baru kenal 3 hari. Tersebut ara jawab apa?”
“Belum jawab apa-apa.”
“Kenapa?”
“Masih belum yakin.”
“Kata umi dan aby apa?”
__ADS_1
“Mereka menyerahkan semua keputusan sama Ara. Saran umi, Ara terima. Menurut umi mas Androw sopan dan baik. Jarak umur kami 15 tahun.”
“Berarti umur mas bul 34 tahun?”
Naura menganggukkan Kepalanya.
“Mas bul kelihatan masih muda kok. Seperti umur 28.”
Naura diam tampak mengangkat kepalany nya. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
“Udah shalat istikharah?” tanya Arum lagi.
Naura menganggukkan kepalanya.
“Udah dapat petunjuk?”
Ara kembali menganggukkan kepalanya.
“Apa?” Tanya Arum kemudian.
“Ara mimpi mengendong seorang bayi yang wajah nya mirip bule.”
Arum ketawa ngakak. “Terima dong.” Ucap gadis itu dengan semangatnya. “Waktu Arum mau dilamar mas Bibi juga gitu. Arum mimpi Arum wisuda. Mas Bibi datang di wisuda Arum sambil menggendong anak laki-laki berumur 2 tahun.”
Ara mengangkat kepalanya. Ia juga ingat bagaimana ia menyemangati sahabatnya itu agar mau menerima lamaran pria yang sebentar lagi berstatus suami sahabatnya itu.
“Katanya, kalau yang cantik-cantik itu nikahnya cepat karena rame yang naksir. Jadi anggap aja kita cantik.” Arum berbica dengan semangatnya.
“Arum juga belum siap. Tapi setelah menjalani proses demi proses akhirnya siap.” Ucap sahabatnya dengan senyum yang mengembang dibibir nan tipis dan mungil tersebut dengan terus memberikan semangat untuk sahabatnya. Setidaknya ia punya teman. Itu pikirnya.
“Tapi...”
“Mas bul kurang apa coba. 1000% idola wanita.”
“Kebanyakan itu. Yang ada hanya100%.”
Arum ketawa. “Kurang apa coba. Agama sudah oke gak ada masalah. Ganteng pakai banget, postur tubuh gak usah ditanya. Udah jelas oke banget. Duit? Jangan di tanya. Pengusaha mall terbesar di dunia. Hotelnya hampir diseluruh dunia ada. Pabrik barang bernditnya juga ada
dia seorang miliyoner dinegaranya juga di negara kita. Apa di lagi juga yang kurang? Kalau yang nilai 100 sudah di depan mata kenapa cari yang nilai 78.”
Ara diam.
Ponsel milik Arum berdering. Gadis itu dengan cepat melihat layar yang menyala di ponselnya. Terlihat di sana calon suami memanggil. Arum menyentuh tanda telpon berwarna hijau tersebut.
“Hallo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Lagi di mana sayang?”
“Arum lagi di coffe shop yang dekat kampus.”
“Mas ke sana ya.”
__ADS_1
“Arum sama Ara.”
“Iya gak apa.” Jawab pria tersebut.
“Mas, apa gak ke kantor lagi?” Tanya gadis tersebut.
“Baru habis miting di luar sayang. Mau balik ke kantor udah nanggung.”
“Oh iya udah kalau gitu Arum tunggu.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Jawab pria di seberang telpon.
“Mas Habibi mau ke sini?” Tanya Ara.
“Iya.” Jawab Arum. “Udah punya no hp mas bule?” Tanya gadis tersebut.
Ara menggelengkan kepalanya.
“Jadi gimana mas bul jemput Ara?”
“Gak tau. Ara pakai busway aja.”
“Nanti Arum minta pengawal mas Bibi antar Ara.”
Mereka menikmati cemilan yang sudah dipesannya. Arum tetap meyakinkan sahabatnya dan memberikan semangat serta keyakinan. Mata mereka tertuju ke arah rombongan yang yang masuk ke dalam coffe shop tersebut. Rombongan pria tampan yang memakai stelan jas. Arum melihat wajah-wajah yang masuk ke dalam coffe shop tersebut. Wajah-wajah yang tidak asing baginya. Namun ia melihat ada Androw dan juga Danill bersama dengan rombongan tersebut. Androw dan juga Habibi duduk di meja Arum sedangkan Danill dan juga para pengawal duduk di meja terpisah.
Ara yang melihat Androw yang mendekat kearahnya tampak sangat gugup, jantungnya berdebar-debar. ya tidak sanggup memandang wajah pria tersebut. Ia hanya menundukkan kepalanya. Kentang goreng yang tadi dimakannya terasa begitu nikmat namun sekarang mendadak tidak ada rasa. Kedua pria tersebut duduk didepan mereka. Habibi mihat gelas mereka yang sudah habis.
“Kami haus. Mas pesan lagi ya.” Ucap pria tersebut
Arum menganggukkan kepalanya.
“Hai grill. Apa kamu masih haus?” Tanya Androw.
Ara hanya menggelengkan kepalanya.
“Habis ngapain?” Tanya Arum yang terkejut melihat pria tersebut datang bersama.
“Kami tadi habis miting, pembangunan hotel Mr Androw.”
Androw terkeh. “Di sini tolong, jangan panggil aku Mr. Panggil saja Brother.”
Habibi tertawa. “Itu bukti aku menghormati mu brother.”
“Tapi kau justru membuat aku semakin tua.” Ucap pria bule tersebut.
Mereka saling bercanda. Namun Naura tampak diam tanpa mengangkat kepalanya. Sekali-kali mereka membahas kerja sama pembangunan hotel Androw. Habibi menawarkan kepada Androw, agar pengislamannya di mesjid keluarganya. Androw menyetujuinya.
*********
__ADS_1