Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 345


__ADS_3

Sudah berhari-hari Yuli berada di rumah sakit ini. Kondisinya sudah mulai membaik, luka-luka pada wajahnya sudah mulai sembuh. Yuli berjalan-jalan di taman rumah sakit sendirian.


Yuli tidak banyak bercerita kepada siapapun termasuk kepada dokter dan juga perawat yang ada di rumah sakit ini. Dia duduk di kursi taman sambil memikirkan apa langkah yang harus diambilnya. Yuli tidak mungkin kembali lagi kerumahnya. Mengingat apa yang telah dilakukan suaminya kepadanya. Namun saat ini Dia tidak memiliki apa-apa. Saat dia pergi lari ke rumah sakit dia tidak membawa apapun termasuk uang dan juga ponselnya. Yuli duduk sambil memandang ke arah bunga-bunga yang ada di taman rumah sakit. Air matanya tidak ada henti-hentinya menetes. Berulang kali diusapnya air matanya tersebut.


Yuli memandang bangunan rumah sakit yang begitu amat besar. Sekitar 5 beberapa tahun yang lalu ia pernah datang ke rumah sakit ini dan kali ini dia juga datang ke rumah sakit ini.


****



"Assalamu'alaikum," ucap Habibi yang masuk keruangan istrinya. Pria itu membawa dua anaknya.


“Wa’alaikum salam," ucap Arum yang tersenyum memandang suami dan juga anak-anaknya.


"Mimi," ucap Vira yang berlari memeluknya.


"Ini si genit sudah cantik, pasti minta jalan-jalan?" Tebak Arum Yang sudah bisa mengetahui tujuan kedatangan anak-anaknya. Arum menarik hidung putrinya.


"Pipi udah janji mau bawa kami makan di luar, kata pipi ada tempat makan restoran yang enak,” jelas Vira.


“Kata pipi cuma bawa Mimi,” ucap Arum.


"Mimi nggak bisa pergi Kalau Vira nggak ikut,” ucapnya.


Arum tertawa saat mendengar ucapan gadis kecilnya.


"Yang buat peraturan itu siapa?" Tanya Arum yang mencubit hidung putrinya.


“Shavira Iskandar mi," jawabnya.


"Apakah peraturan dari Shavira Iskandar itu berlaku?" tanya Arum yang memandang wajah putrinya.


Gadis kecil itu tampak berfikir. Dengan ragu gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.


Arum tertawa melihat tingkah Lucu putrinya. Arum memandang Rangga yang berdiri tidak jauh dari Vira.


Arum mengembangkan tangannya dan tersenyum memandang anak laki-laki yang berwajah tampan tersebut.


Rangga tersenyum dan mendekat kearahnya, Rangga kemudian memeluknya. "Mana ciumnya?" Pinta Arum.


Rangga tersenyum dan mencium pipinya kiri dan juga kanan.


"Mimi mau siapkan barang Mimi dulu, habis ini kita baru berangkat,” jelas Arum.

__ADS_1


Rangga dan Vira menganggukkan kepalanya. Kedua anaknya itu duduk di sofa dan kemudian mengambil remote TV. Vira menyalakan televisi yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Mimi cuma siapkan barang sebentar aja TV udah di hidupin,” ucap Arum.


Habibi hanya tersenyum saat melihat sikap kedua anaknya.


"Gimana ada mual?" Habibi memandang istrinya dan mengusap perut istrinya.


Arum menggelengkan kepalanya. “Si kembar baik Mas nggak rewel." Arum tersenyum memandang suaminya.


Habibi memandang wajah istrinya dan mengusap kepala istrinya.


Apa sudah siap tanyanya saat istrinya sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


“Sudah Mas,” jawab Arum.


"Vira, Rangga ayo,” ajak Habibi yang memanggil kedua anaknya.


"Ya Pi,” ucap Vira yang mematikan televisi.


Arum keluar dari ruangannya bersama dengan suaminya. Tangan suaminya melingkar dipinggangnya sedangkan kedua anaknya berlari lebih dulu di depannya.


"Anak-anak itu apa nggak bisa jalan ya Mas." Arumi memandang suaminya.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. “Jangankan jalan lari aja bisa,” ucapnya.


"Namanya juga anak pintar, pasti aktif,” ucap Habibi.


“Tapi nanti jatuh,” ucap Arum.


“Jatuhkan udah biasa, namanya juga anak kecil.” Habibi yang tidak ingin istrinya memikirkan hal tersebut.


Arum melihat Yuli yang duduk di kursi tunggu di depan kamar perawatannya


“Sebentar ya Mas," ucap Arum.


“Ada apa,” tanya Habibi.


“Arum mau nanyain kabar Pasien itu dulu,” ucapnya yang memandang ke arah Yulia.


Habibi Menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki istrinya.


"Mbak Yulia gimana kabarnya,” ucap Arum yang berdiri di dekat kursi yang diduduki Yulia.

__ADS_1


Yulia yang hanya duduk dengan menundukkan kepalanya, dengan cepat mengangkat kepalanya saat mendengar ada yang berbicara dengannya.


"Kondisi saya sudah sangat baik dokter Arumi," ucapnya yang tersenyum.


“Alhamdulillah kalau kondisi Mbak Yulia semakin membaik, mungkin sekitar 3 hari lagi sudah bisa pulang,” ucap Arumi.


Yulia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Terima kasih Dokter Arumi,” ucapnya.


"Mimi, pipi, kami udah nyampai ke depan ternyata Mimi sama Pipi berhenti di sini,” ucap Vira yang berlari mendekati mimi dan juga pipinya.


“Yang nyuruh lari-lari siapa,” tanya Arumi memandang putrinya.


“Biar cepat sampai mi,” ucap Vira.


“Emangnya mimi bisa lari-lari,” tanya Arumi.


Vira Menggelengkan kepalanya.


“Savira tidak apa-apa kita tunggu Mimi sebentar,” ucap Rangga yang berdiri di sebelah Vira.


Vira memandang Rangga dan menganggukkan kepalanya.


"Ini kalau nggak digendong lari-lari terus," ucap Habibi yang membungkukkan tubuhnya dan menggendong putrinya.


Vira hanya tertawa mendengar ucapan pipinya.


"Apa ini anaknya dokter Arumi,” ucap Yulia yang memandang Vira dan Rangga.


Arumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mbak Yulia banyak-banyak istirahat ya,” ucapnya.


“Iya dokter Arumi,” jawab Yulia.


"Saya permisi mau bawa anak-anak jalan dan makan,” jelas Arumi.


“Terima kasih ya dokter Arumi,” ucap Yulia.


“Iya mbak cepat sembuh,” ucap Arum yang kemudian pergi meninggalkan wanita tersebut.


Yulia hanya diam memandang Arum serta anak-anaknya. Mata Yulia tertuju kearah Rangga yang berjalan sambil memegang tangan Arum.


****


Yuli berjalan-jalan sendiri mengelilingi halaman depan Rumah Sakit, guna menghilangkan rasa jenuhnya. Saat ini kondisinya sudah jauh lebih baik. Setelah puas berkeliling di taman dan melihat-lihat bunga yang ada di taman itu, Yuli kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit. Yuli berhenti di depan ruang persalinan. Matanya tertuju memandang ruangan yang pintunya tertutup rapat.

__ADS_1


Air matanya menetes dengan sendirinya saat memandang pintu ruangan persalinan yang begitu sangat diingatnya. Ia duduk di kursi tunggu tersebut. Air matanya tidak berhenti menetes, bahkan air matanya menetes dengan sangat deras hingga terisak. "Mama gak tahu kamu sekarang di mana. Apa bila mama jumpa dengan kamu, apa yang harus mama lakukan," ucapnya yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ini balasan yang saya dapat. Saya pantas mendapatkan ini semua,” ucapnya lirih sambil mengusap air matanya.


***


__ADS_2