Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Bercerita part 2


__ADS_3

"Kalau Abang rindu. Abang akan memutar video Adek dan kebersamaan kita." Dengan berurai air mata, Rili menonton videonya. Video sewaktu mereka remaja. Yang bermain di pantai. Video Rili setelah dewasa. Dimana ternyata Yasir diam-diam selalu mengambil video Rili saat bekerja. Dan video keadaan Yasir yang sangat memprihatinkan.


Rili terduduk di sofa yang terdapat di depan layar monitor, dengan kedua tangan berpangku, sambil mengusap wajahnya. Sedangkan Yasir duduk disebelah Rili. Ternyata, disetiap kota yang ada rumah Yasir. Pasti ada ruangan khusus, untuknya melepas kerinduannya kepada Rili.


"16 tahun yang lalu, sejak perpisahan kita. Enam bulan kemudian, seperti janji kita berdua. Abang akan datang berlibur ke kota S. Tapi, kejadian naas terjadi. Pesawat yang Abang tumpangi bersama Bunda mengalami kecelakaan, yang menyebabkan Abang terluka parah. Semua organ tubuh Abang hancur. Tulang banyak yang patah. Otak cidera. Abang koma selama 2 tahun. Sedangkan Bunda, meninggal di tempat.


"Tragedi yang mengerikan itu membuat traumah besar kepada Ayah. Sehingga sifat Ayah berubah menjadi tidak rasional


Ayah menjadi membenci Adek. Ayah beranggapan, kejadian itu terjadi, karena Adek." Yasir menghentikan ceritanya sejenak. Dia menghirup udara sedalam-dalamnya. Dia ingin menenangkan dirinya. Karena jikalau Dia menceritakan kecelakaan itu. Maka, Dia akan mual dan pusing. Dia tidak mau menunjukkan kelemahannya dihadapan Rili. Dia pun sedang mencoba menahan kepalanya yang sakit. Rilipun akhirnya menoleh ke arah Yasir.


"Apa hubungannya dengan Adek bang?" tanya Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia refleks memegang tangan Yasir. Yang berada dipaha Yasir.


"Abang, meminta Bunda. Untuk berlibur ke kota S. Tempat tinggal Adek. Padahal Ayah tidak mengizinkannya. Karena Ayah masih sibuk. Ayah punya jadwal ke kota S, untuk mengontrol Hotel Minggu berikutnya. Tapi, Abang selalu merengek kepada Bunda. Akhirnya, Ayah mengizinkannya dan Ayah menyusul seminggu kemudian.


"Ayah beranggapan, karena ingin bertemu dengan Adek. Bunda menjadi meninggal. Ayah dan Bunda, sudah tahu. Kalau Abang suka sama Adek. Abang selalu cerita sama bunda mengenai Adek. Abang tunjukin foto-foto kita, video kita juga saat bermain pasir dan bermain ombak." Yasir meraih tangan Rili. Dia menempatkan telapak tangan Rili di pipi kanannya.


"Wajah ini hancur, pipi Abang ini seperti terbacok, tulang pipi juga retak. Otak Abang juga hancur parah. Tulang kaki, punggung patah. Abang koma selama 2 tahun. Ayah sudah defresi. Usaha Ayah hancur. Bunda juga telah tiada. Yang semakin memperburuk keadaan Ayah. Selama 2,5 tahun, Abang dirawat di Australia. Wajah Abang, sudah 6 kali dioperasi." Ucap Yasir, kali ini Dia tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis seperti anak kecil yang mengaduh kepada Ibunya.


Rili merasakan ngilu dan perih mendengar cerita Yasir. Dia pun meraba wajah Yasir dengan lembut. Dan melap air mata yang membasahi wajah Yasir. Dia memeluk Yasir. Mereka menangis sambil berpelukan. Air mata membasahi punggung keduanya.


Yasir melepas pelukannya. Dia meraih tangan Rili dan mencium punggung tangan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Keajaiban pun datang, setelah sadar. Kamu tahu dek, kata yang pertama keluar dari mulut Abang adalah Namamu. Abang tetap dirawat di Rumah sakit. Hingga memakan waktu setengah tahun. Tubuh Abang ternyata bisa normal. Dan Lihatlah wajah Abang ini semakin tampan kan?" ucap Yasir dengan tertawa kecil, yang membuat keduanya menangis kembali. Rilipun memeluk tubuh Yasir. Dia tidak menyangka, begitu banyak kejadian yang di alami Yasir setelah mereka berpisah 16 tahun yang lalu.


"Ayah menyembunyikan tentang kematian Bunda. Setelah Abang sudah pulih total. Abang baru mengetahui fakta yang sangat menyakitkan kalau Bunda sudah tiada. Ayah pun akhirnya turun ranjang.


"Usaha Ayah kembali dirintis dengan bantuan modal dari Paman Indra Sakti. Ayah angkatnya Maura." Ucap Yasir, setalah Rili melepas pelukannya dari Yasir. Kini Rili nampak menyandarkan kepalanya di bahu Yasir. Dia dengan khidmat mendengar cerita yang begitu menyedihkan tentang kisah hidup Yasir.


"Maura? jadi Murti itu siapa? apa Dia yang benar istri Abang?" Rili melirik Yasir.


"Murti?"


"Iya, Murti. Abang bilang semalam Dia istri Abang?"


"Abang belum pernah menikah. Mana mungkin punya istri."


"Jadi Murti itu siapa?"


Yasir pun, dibuat bingung dengan pertanyaan Rili.


"Murti? ooohhh.... Murti itu, putrinya Bi Siti, pembantu di rumah ini." Jawab Yasir. Dia pun memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan dalam kondisi duduk di sofa.


"Jadi, yang namanya Murti bukan istri Abang?" Rili menatap wajah Yasir yang bingung.


"Abang belum menikah, Wanita yang akan Abang nikahi dan sangat Abang cintai. Meninggalkan Abang." Ucap Yasir dengan sedih. Yang membuat Rili merasa bersalah. Rili pun akhirnya mengubah posisi duduknya menghadap layar monitor yang sedang memutar slide foto-foto Yasir semasa berada Di Rumah sakit Di Negara Australia.


Air mata kembali menetes tanpa permisi di wajah Rili. "Kenapa nama Abang berganti?" tanya Rili. Dia masih menonton video yang diputar di monitor.


"Abang bisa kembali pulih dan normal. Merupakan suatu keajaiban. Menurut Ayah, Abang menjadi sosok yang baru. Sehingga nama Abang berganti dari Andre Dermawan menjadi Yasir Kurnia. Kata Ayah Yasir mempunyai makna yang bagus. Artinya bisa kaya, mudah, tenang. Sedangkan Kurnia itu maksudnya. Allah masih memberi Kurnia kehidupan kepada Abang." Ucap Yasir. Entah kenapa Dia merasa tenang setelah menceritakannya kepada Rili. Padahal sebelumnya. Mengingat perjalanan hidupnya yang mengerikan itu, akan membuatnya muntah dan pusing.


"Abang sungguh tega, memblokir no ku." Ucap Rili, Dia menatap Yasir yang disebelah kirinya dengan berurai air mata.


"Abang terpaksa melakukannya, agar Ayah benar-benar merestui kita. Kamu pikir Abang tidak tersiksa. Abang lebih tersiksa lagi. Setiap merindukanmu. Abang akan putar videomu. Bahkan video mu mau chating ke warnet, ada disini." Ucap Yasir dengan cemberut. Dia kesal dengan Rili yang punya kebiasaan cari kenalan di dunia Maya.

__ADS_1


Yasir kembali meraih kepala Rili dan menempatkannya, di dadanya. Rili bersandar, dimana tangan kanan Yasir merengkuh tubuhnya. Rili seolah lupa, kalau Dia istri seseorang. Dia terhanyut dengan kisah mereka berdua.


"Setelah 3 tahun, Abang pun pulih total. Dengan ngotot, Abang minta liburan ke kota S. Tapi, Abang tidak pernah melihat mu dipantai lagi. Selama 2 Minggu Abang mencarimu. Mendatangi rumah Adek. Tapi, katanya kalian sudah pindah ke kampung Ayahnya Adek. Dan tetangga Adek, yang Abang tanyakan Alamat Adek, Tidak ada yang mengetahui alamat kampung Ayah." Yasir masih terus mengelus lengan Rili. Kedua tangan Rili nampak berkeringat mendengar cerita Yasir.


"Aku juga selalu menunggu kedatangan Abang. Setelah dua tahun kita berpisah. Kami mengalami musibah. Rumah kami kebakaran. Sehingga Ayah memutuskan untuk tinggal di kampung Ayah. Kami di kampung sampai Adek lulus kuliah. Setelah Adek dapat pekerjaan, kami pindah ke kota S." Ucap Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat rumah mereka yang habis dilalap si jago merah.


"Abang selalu mencarimu, seperti janji Abang. Akan selalu datang ke pantai. Satu kesalahan Abang yang sangat Abang sesali."


"Apa?" tanya Rili, Dia mendongak ke arah Yasir.


"Abang tidak tahu nama lengkap Adek saat itu. Yang Abang tahu hanya Rili. Abang juga mencari data adek di Perguruan Tinggi seluruh SUMUT. Tapi, tidak ada hasil. Akhirnya keajaiban pun datang. Saat Abang, diundang sebagai pembicara disalah satu Hotel di kota S. Disitulah Abang dapat informasi mengenai Adek." Tangan kanan Yasir meraih tangan kiri Rili, Dia pun mengecupnya dengan gemes. Yang membuat Rili menarik Tangannya.


"Saat itu, kantor pemerintahan mengadakan acara di hotel itu. Terus Abang melihat Adek, di Hotel. Awalnya Abang Ragu. Kalau itu Adek. Karena Adek sangat cantik. Tahu gak sayang, pertama kali Abang melihat Adek dan teman kerja Adek lainnya masuk dari loby. Saat itu Abang sedang duduk di sofa yang ada di depan Receptionis. Jantung Abang, berdegup kencang. Jantung Abang berontak tak karuan.


"Abang yakin itu Adek, ingin rasanya saat itu Abang berteriak dan memanggil nama Adek, kemudian memeluk erat dan mencium semua wajah Adek. Begini.... begini..... begini....!" Yasir menciumi wajah Rili. Dia mempraktekkan keinginannya saat pertama kali melihat Rili.


Rili tercengang. Dia pun akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Yasir. Dia keluar dari ruangan itu. Sungguh Rili tidak tahan lagi, mendengar cerita Yasir yang sangat memprihatinkan itu. Berlama-lama dengan Yasir, akan membuat dosanya menjadi begitu besar.


Yasir mengekori Rili. Rili nampak mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada dihadapan ranjang.


"Koper dan tas adek mana bang?" tanya Rili, Dia melirik Yasir yang juga ikut duduk disebelahnya.


"Koper Adek, Abang bawa ke loundri. Tapi, kalau Tas, tidak ada Abang temukan di dalam koper Adek." Ucap Yasir. Di menyandarkan tubuhnya di badan sofa. Dia nampak memijat keningnya.


"Abang kaya, kenapa malah menjadi PNS di tempat Adek bekerja?"


"Saat Abang melihat Adek di Hotel itu, Abang ingin segera menculik Adek dan mengatakan bahwa Abang ini adalah Andre. Tapi, setelah Abang pikir, tindakan itu pasti akan membuat Adek takut dan malah menganggap Abang orang gila. Secara wajah Abang berubah tambah ganteng, setelah operasi." Ucap Yasir dengan membubuhi candaan. Dia tidak mau menceritakan kisahnya dengan dramatis yang akan menguras air mata. Makanya kemarin disaat Rili mendesaknya, untuk bercerita. Yasir malah meninggalkan Rili.


"Abang langsung mencari informasi mengenai Adek. Disaat Abang dapat informasi mengenai Adek, Abang sangat lega. Ternyata adek masih jomblo akut atau karatan." Ucap Yasir dengan tertawa. Yang membuat Rili kesal dan memukuli dada Yasir.


"Abang berusaha sekeren mungkin di tempat kerja, Abang berharap Adek melirik Abang. Eehhhh.... Abang selalu Adek cuekin. Abang mencoba mengakrabkan diri. Adek malu-malu. Benar-benar susah deketin Adek. Pantas aja Adek jomblowati akut. Adek sih, jual-jual mahal. Jual murah aja gak laku, sok jual mahal lagi." Ucap Yasir. Dia menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat wajah Rili yang sangat kesal itu.


"Ooohhh... gak laku? Kalau Begitu. Izinkan Aku keluar dari rumah ini. Aku sudah laku dan punya suami." Ucap Rili, Dia beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat dan kuat Yasir menarik tangan Rili. Yang membuat Rili terduduk dipangkuan Yasir. Yasirpun akhirnya mengunci tubuh Rili dengan kedua tangannya.


Mata keduanya bertemu. Rili tidak sanggup melihat mata Yasir, yang merubah menjadi ganas. seperti ingin menerkam Rili.


"Lepasin bang, jangan begini." Rili berontak dan meronta di pangkuan Yasir.


"Abang tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Semua Abang lakukan. Agar bisa bersamamu seumur hidup Abang. Jangan tinggalkan Abang ya sayang? please....!" Yasir masih merengkuh tubuh Rili dipelukannya. Matanya menatap tajam ke mata Rili.


"Abang berusaha, agar dekat dan Mengetahui isi hatimu. Sampai Abang melakukan hal-hal kurang kerjaan. Chating denganmu dengan menyamar. Untuk mengetahui sifat Adek yang tidak Abang dapat di dunia nyata.


"Kamu mencurhatkan isi hatimu ke Ryan Perdana. Kamu mengatakan mencintai teman masa kecilmu. Makanya kamu menutup diri dengan pria lain. Terus kamu curhat ke Ryan Perdana. Bahwa Kamu naksir kepada Yasir Kurnia temanmu bekerja." Rili sangat malu mendengar ucapan Yasir. Dia ketahuan.


"Jadi, sekarang Abang ke GR an nih ceritanya. Tapi, itu dulu. Sekarang Aku sudah menikah. Lepasin Bang! jangan buat Adek menjadi istri Durhaka. Yang bersama dengan pria lain.!" ucap Rili. Dia sangat bingung saat ini. Mengetahui fakta yang menyakitkan dari Yasir. Membuatnya jadi susah bersikap. Tidak mungkin, Dia bermesraan dengan pria lain. Padahal status Dia istri seseorang.


"Kamu tidak akan pernah Abang lepaskan lagi.!" Yasir semakin mengeratkan pelukannya.


"Setelah, kesepakatan Ayah Abang habis, yang tiga bulan itu. Kenapa Abang tetap tidak ada kabar. Karena setelah tiga bulan Abang meninggalkanku. Aku melihat Abang dengan Maura di acara ulang tahun perusahaan itu.


"Kamu janji dulu, setelah Abang ceritakan. Jangan ada niat pergi dari kehidupan Abang.! Yasir menatap lekat kedua bola mata Rili yang jernih itu.


Rili mengangguk.

__ADS_1


Derttt....Dert....Dert....


Ponsel Yasir bergetar di atas nakas. Rili hendak turun dari pangkuan Yasir. Tapi, Yasir tidak mengizinkannya. Yasir malah menggendong Rili ala Bridal style. Yang membuat Rili berontak.


"Jangan berontak, kalau tidak kamu akan Abang hukum." Ucap Yasir genit. Dia pun mendudukkan tubuhnya dipinggir tempat tidur dekat nakas.


"Ambilkan ponsel Abang," ucap Yasir. masih memangku Rili. "Abang, lepasin dulu." Rili berontak dan menggerakkan-gerakkan tubuhnya.


"Tidak akan, ambilkan ponselnya." Yasir memaksa. Rili pun meraih ponsel Yasir dan memberikannya kepada Yasir.


"Ya Arini, kenapa menggangguku. Bukannya semalam sudah saya katakan. Bahwa semua pekerjaan Asisten saya yang handle." Ucap Yasir melalu sambungan telpon dengan sekretarisnya.


"Iya Bos. Tapi, Asisten Bos dari tadi pagi tidak datang. Berulang kali saya hubungi tidak diangkat. Tadi rapat jam 10 di handle Manager. Tapi, nanti siang pukul 14.00. Ada pertemuan dengan pihak komisaris independen.


"Apa...? Dia tidak datang sampai saat ini. Bentar Saya akan menghubunginya." Yasir mematikan ponselnya. Rili pun akhirnya berhasil turun dari pangkuan Yasir.


"Kamu ya, pandai sekali mengambil celah disaat Abang lengah. Lihat saja kalau kita sudah menikah. Abang akan mengurungmu selama 7hari 7 malam dikamar ini." Ucap Yasir gemes. Dia mencubit hidung Rili yang mancung.


Yasir pun berjalan ke arah jendela, Dia akan menghubungi Rival. Sedangkan Rili masuk ke kamar mandi, Dia ingin buang air kecil.


Sudah 10 kali Yasir menghubungi no ponsel Rival, tapi tidak diangkat juga. Yasir melirik jam di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00.


Yasir mencoba penggilan sekali lagi ke no Rival. Akhirnya Rival mengangkatnya.


"Assalamualaikum Bang..!" ucap Yasir.


"Waalaikum salam...! Jawab Rival singkat dengan suara serak. Suara khas orang baru bangun tidur dengan keadaan tidak sehat.


"Abang sakit kah?"


Rival tidak menjawab. Dia merasa kepalanya sangat sakit. Semalaman Dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya untuk mengetahui keberadaan Rili. Sehingga setelah sholat shubuh. Dia baru tertidur. Mungkin karena lelah, baru pulang dari luar kota. Ditambah mengetahui istri melarikan diri dengan selingkuhannya. Membuat jiwa Rival terguncang.


"Bang... Bang Rival...!"


Ceklek... Rili keluar dari kamar mandi. Melihat Yasir masih menelpon. Akhirnya Rili turun ke bawah. Dia haus.


"Bang, Bang Rival,!"


"Iya Bos. Saya kurang sehat. Bolehkah saya izin dua hari ini tidak masuk kerja?" ucap Rival dengan lemas.


"Ooohhh... baiklah bang. Semoga cepat sembuh. Saat Ini saya lagi membutuhkan Abang. Karena Saya lagi ada urusan pribadi. Tapi, karena Abang lagi sakit. Biar saya saja yang menghandle."


Yasirpun mematikan ponselnya. Dia beres-beres dan turun ke bawah. Untuk pamit kepada Rili. Dia akan ke Perkebunan.


"Jangan pernah mencoba untuk kabur!" Yasir mengancam dan dengan cepat mencium puncak kepala Rili, sebelum Rili menghindar.


Di atas ranjang, seorang pria nampak tidur miring sebelah kanan. Dia akan mencari Rili hari ini ke kota S. Dia juga akan menanyakan kepada Ibu Rili, tentang mantan kekasih Rili. Tapi, sebelumya Dia akan pergi ke rumah Mila Adiknya.


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak!

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2