Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Sari naksir Rival


__ADS_3

Rival sungguh jadi tidak berselera melihat nasi goreng extra pedas yang dimasaknya dengan penuh cinta, ucapan Mely yang membahas mantan istrinya membuat hatinya sakit. Walau yang dikatakan Mely benar adanya.


Mantan istrinya Rili mengatakan memilih Dia, tapi nyatanya Dia malah jalan dengan mantan kekasihnya, disaat Dia jauh dari istrinya itu. Mengingat kejadian enam bulan lalu, disaat Rili dibawa Yasir ke Hotelnya, membuat dada Rival semakin sesak saja. Ada luka yang tidak berdarah di rongga dadanya itu, yang setiap saat luka itu bisa kambuh lagi. Karena jujur saja, Dia masih ada rasa dengan mantan istrinya itu.


Walau begitu, Dia ingin serius dengan Mely. Bukan berarti Dia akan mempermainkan Mely. Tapi, sikap Mely satu Minggu ini membuat nyali Rival menciut, Dia tidak percaya diri lagi. Apalagi Mely membahas materi.


"Tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti saya. Sebelum hubungan ini terlalu dalam. Ada baiknya dipertegas. Besok disaat Ayah pulang, Aku akan membuat keputusan. Mungkin Aku akan pergi dari rumah ini. Karena masa laluku dan statusku yang miskin ini. Akan selalu diungkit Mely kelak. Itu berarti Dia tidak serius dengan pernikahan ini." Gumam Rival dalam hati. akhirnya Dia memakan juga nasi gorengnya. Walau tidak selera, tidak mungkin Dia menyia-nyiakan makanan. Sedari kecil, Dia sudah terbiasa hidup susah dan sangat sulit mendapatkan makanan.


Setelah selesai sarapan sendirian, Rival memacu mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan semua perlakuan Mely melintas dipikirannya, yang terkadang membuat Dia, tersenyum dan merengut sendiri. Istri kecilnya itu, sukses membuat hatinya tidak tenang. Ditambah kejadian pagi ini.


🍁🍁🍁


Mely sangat kesal di kamarnya. Dia sampai mengobrak-abrik ranjangnya, seprey sudah lepas dari bed bantal terlempar ke semua sudut ruangan kamar. Dia berharap hubungan dengan Rival membaik hari ini. Tapi, nyatanya malah perang dingin yang terjadi.


"Dasar laki-laki tidak peka, sudah tahu istri merajuk bukannya dibujuk saat marah, ini malah ditinggal lagi. Harusnya tadi disaat Aku menolak untuk tidak mau makan. Dia itu tetap ngotot maksain. Ini tidak. Kesal.....!" teriaknya, Mely kembali membenamkan wajahnya di ranjang empuknya.


"Baiklah, lihat saja nanti. Kalau Dia pulang kerja. Aku tidak akan pedulikannya." Ucapnya, sambil memukul bed yang sedang ditidurinya.


Setelah merasa puas melampiaskan kekesalannya, Mely masuk ke kamar mandi. Dia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Setelah mandi Dia pun siap-siap untuk pergi ke kampus. Yang terlebih dulu Dia berjalan menuju ruang makan.


"Bi Ina, Aku mau sarapan nih!" teriak Mely, ternyata disaat hatinya kacau sifat liarnya kambuh lagi. Ilmu yang didapatnya dari istri Ary dan perkumpulan Mamanya hanya berlaku jikalau dekat dengan Rival.


Bi Ina menyajikan semua menu yang dimasak hari ini. Dia juga menyodorkan nasi goreng masakan Rival dihadapan Mely.


Mely sangat tergiur melihat tampilan nasi goreng dihadapannya. Warnanya sangat menarik gabungan antara kecap manis dan cabe, karena Rival membuat bumbu extra pedas sungguh menggugah selera Mely.


Dengan lahapnya Dia memakan nasi goreng itu, hingga Dia tambah satu piring. Rasanya sangat pas, pedasnya juga membuat lidah bergoyang. Sehingga Mely melupakan sejenak rasa kesalnya kepada Rival.

__ADS_1


Melihat Nona mudanya selesai makan, Bi Ina memberesi meja makan.


"Masakan Bibi Ina kali ini enak banget, Aku sangat suka nasi gorengnya." Ucap Mely, sembari memegang perutnya yang sudah membuncit karena kelebihan muatan.


Bi Ina tersenyum, "Itu Abang Rival yang masak Nona." Ucap Bi Ina, Dia sibuk memberesi meja makan. Memindahkan lauk dan sayur yang tidak di makan Mely ke tempat pemanas.


"Apa? Abang Rival?" ucap Mely terkejut, "Pantesan rasanya seperti pernah Aku makan." Gumam Mely dalam hati.


Astaga.... Mely menjadi merasa bersalah, sikap baik Rival yang mengajaknya makan, malah ditanggapinya dengan kata-kata yang tidak sepantasnya keluar dari mulutnya.


Mely memukul kepala sendiri, karena Dia selalu salah bersikap kepada Rival, yang akhirnya Dia pusing sendiri. "Apa Aku yang harus mulai lagi yang mendekatinya. Padahal tadi pagi, Dia sudah berusaha komunikasi denganku. Tapi rasa cemburu ini, membuat pikiranku jadi tidak jernih." Mely bermonolog, Dia kemudian menghentikan Bi Ina, yang berjalan menuju wastafel.


"Bi Ina kenapa Memanggil Abang juga kepada Abang Rival. Emang Dia Abang Bi Ina?" tanya Mely dengan sewot dan sangat kepo. Enak saja para ART memanggil Abang sama suaminya.


"Tuan itu yang meminta kami memanggilnya Abang. Maaf Nona muda." Ucapnya gugup, sebenarnya para ART yang ada di rumah Mely, belum tahu kalau Rival dan Mely sudah menikah.


Para ART mengganggap Rival hanya menumpang di rumah itu, sejak kejadian Mely menabrak Rival. Lagian para ART tidak pernah melihat mereka satu kamar.


Mely beranjak dari duduknya, berjalan lemas ke garasi. Dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena Dia sudah telat untuk berjumpa dengan Dosen Pembimbing nya. Sudah seminggu Dia tidak ke kampus, semoga Dosennya berbaik hati. Karena Dia juga sudah menyiapkan buah tangan.


Suasana hati Rival saat bekerja sungguh tidak semangat, Dia sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. Apakah keputusan yang terbaik, pergi saja dari keluarga Pak Ali. Akan sangat susah buat orang kaya menerima dirinya yang berstatus duda dan miskin.


Sikap Mely yang seolah tiba-tiba saja berubah, membuatnya tidak percaya diri lagi. Mungkin akan lebih baik. Dia menceraikan Mely. Toh mereka belum melakukan hubungan suami istri dan pernikahan mereka hanya siri.


❤️❤️❤️


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Rival masih betah saja duduk di kursi kerjanya. Otaknya sudah mulai panas, karena kebanyakan berfikir tentang keputusan yang akan diambilnya. Tapi, seharian berfikir Dia belum juga mendapatkan keputusan yang menurutnya baik.


Rival beranjak dari kursi kerjanya, Dia mencuci wajahnya, menggosok gigi dan berwudhu. Dia akan sholat Isya. Setelah sholat Isya. Dia membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah itu di atas ranjang yang ada dikamar ruang kerjanya. Dia akan tidur di kantor malam ini.

__ADS_1


Dia belum siap untuk pulang dan mendapati Mely kembali merendahkan dirinya.


Aroma tubuh Mely yang tertinggal di bantal membuatnya merindukan sentuhan liar istrinya itu. Jujur saja, disaat lelah seperti ini pasti indah rasanya apabila bisa bercanda dengan pasangan. Tapi, jikalau Rival pulang, takutnya bukan kemesraan yang didapat, tapi pertengkaran. Lama berfikir dan mengkhayalkan Mely yang lucu dan penuh kejutan itu, akhirnya Rival pun tertidur.


Ditempat lain dan masih diwaktu yang sama, nampak seorang wanita semakin frustasi saja. Dia adalah Mely. Dia yang dari tadi sore menunggu kedatangan Rival, tapi tidak kunjung datang, membuatnya mengamuk di dalam kamar hingga terdengar keluar, karena pintu kamarnya Mely tidak dikunci.


Para ART yang mendengar Nona Mudanya marah-marah, dibuat takut, was-was dan bingung. Apa yang harus mereka lakukan.


"Apa yang kita harus lakukan?" ucap Bi Ina kepada Adiknya dan putrinya. Mereka mondar-mandir di depan kamar Mely.


Prang.... terdengar suara benda dilempar dan pecah, yang membuat mereka semakin ketakutan. Mereka tidak berani masuk ke kamar Mely.


"Kita panggil aja Pak Budi," ucap Sari, Adik Bi Ina.


"Kalau Nono muda semakin mengamuk, bagaimana?" Bi Ina, begitu ketakutan dengan sikap Mely.


"Oh, kita hubungi aja Abang Rival." Ucap Sari.


"Emang kamu ada no ponselnya?" tanya Bi Ina kepo, kenapa pula Adiknya itu sampai memiliki no ponsel Rival.


"Adalah, Aku mintain kemarin saat kita duduk di taman belakang." Ya kemarin, Rival yang merasa pusing dan setres memikirkan Mely yang menghilang. Memutuskan bermain gitar di taman belakang. Dia melihat ada gitar di ruang kosong di rumah itu.


Saat itu, para ART ikut nimbrung dengan Rival, mereka bernyanyi bersama. Dan saat itu pula Sari menaruh hati kepada Rival.


"Ya udah coba kamu hubungi Abang Rival, siapa tahu Dia bisa menenangkan Non Mely." Ucap Bi Ina sambil mengintip-intip Mely yang mengacak-acak kamarnya dari sela-sela pintu kamar yang terbuka.


Sari pun menghubungi no ponsel Rival dengan hati berdebar dan senyam-senyum.


TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote


🤗🙏


__ADS_2