
PoV Rival
Aku sungguh tidak bisa memejamkan mataku bareng sedetikpun hingga waktu shubuh pun tiba. Ku lirik Mely yang tidur pulas di sebelahku. Dengan perasaan tidak karuan, Aku mengecup keningnya dan mengusap perutnya lembut. Saat Aku mengusap perutnya, Aku berdoa dalam hati semoga anak-anak ku sehat begitu juga dengan ibunya.
Sebelum Aku turun dari ranjang, ku kecup lagi kening Mely. Ternyata sentuhanku membuatnya terbangun.
"Sudah dapat waktu shubuh ya?" tanya nya dengan membuka sebelah matanya. Dia menggeliat.
"Sudah sayang, sholat yuk?!" ucapku menyambut dirinya yang ingin memelukku.
"Iya, tapi tunggu sebentar. Adek masih ingin memeluk Mas berlama-lama. Masih kangen." Ucap Mely manja, yang membuat hatiku, merasa bersalah kepadanya. Bisa-bisanya semalaman ini Aku memikirkan mantan istriku. Padahal Aku sudah punya istri lagi.
"Sama, Abang juga masih kangen. Kebersamaan kita yang tiga hari ini rasanya belum bisa mengobati rasa rindu Mas yang berpisah denganmu seminggu lebih." Ucapku dengan tersenyum, membalas semua perlakuan manjanya.
"Kita mandi yuk?!" ucapku lembut. Dia mengangguk. Dengan pelan-pelan Aku membopongnya ke kamar mandi.
Mely turun dari gendonganku, dan Aku pun mengisi bathtup dengan air hangat dan menuangkan aroma lavender. Itu aromaterapi kesukaan kami berdua. Menunggu Bathup penuh, Mely sudah membuka semua pakaian yang menutup tubuhnya. Dia tertawa kecil dan membantuku membuka pakaian.
Dengan tubuh polos, kami berdua melakukan mandi plus-plus. Aku ingin melakukan semua permintaannya. Agar disaat Aku meminta izin untuk pulang ke Indonesia hari ini. Dia membolehkannya. Karena memang, jadwal kepulangan kami ke Indonesia dua hari lagi. Dan Aku tidak sabar lagi untuk menunggu duaa hari itu. Aku harus berangkat pagi ke kota S. Tempat tinggalnya Rili.
"Mas, kenapa memasukkan pakaian ke ransel? Mas mau kemana?" tanya Mely, menghampiriku, saat memasukkan beberapa helai pakaian ke tas ranselku. Ya Aku ingin memakai ransel saja. Tidak mau direpotkan dengan membawa koper.
"Mas harus pulang pagi ini Sayang. Ada rapat penting yang harus Mas ikuti sore ini." Ucapku berbohong dan tidak berani menatap wajahnya. Memang benar Aku ada rapat penting. Tapi bukan hari ini. Itu tiga hari lagi.
"Belum juga full seminggu Mas disini, sudah balik lagi. Bukannya kita akan sama baliknya ke Indonesia lusa?" tanyanya dengan kesal. Dia menghentakkan kakinya. Sebagai aksi protesnya padaku.
"Iya sayang. Mas minta maaf ya tidak bisa berlama-lama disini. Beneran ada pertemuan penting yang harus Mas ikuti. Ini menyangkut perkembangan perusahaan kita, terutama cabang di kota S." Ucapku keceplosan, menyebutkan kota tempat Rili tinggal.
Ucapanku itu membuatnya menatapku tajam dengan raut wajah penuh tanda tanya dan penasaran. Aku tidak sanggup menatap kedua bola matanya yang sedang menilik itu. Aku pun menyibukkan diri, memasukkan barang-barang yang ku perlukan ke dalam tas ranselku.
__ADS_1
"Ke kota S? apa kita sudah punya cabang usaha disitu?" tanya Mely dengan penuh selidik dan curiga.
"Ada sayang, baru Mas buka disana. Di kota itu peluang usaha kita untuk maju sangat besar. Usaha kita yang bergerak di bidang import eksport cocok banget dikembangkan disitu. Karena kota itu memilki akses jalan darat, udara dan laut." Ucapku meyakinkannya. Ya memang kota S. Semua akses transportasi lengkap. Bandara ada, pelabuhan pun ada.
"Kalau begitu Aku ikut, Aku belum pernah kesana. Bukannya itu kota tempat tinggalnya Rili. Mantan istrinya Mas itu?" ucapnya dengan cemberut dan menangis. Dia menarik ransel yang sedang ku kemasi.
"Iya memang itu tempat tinggalnya Rili. Tapi apa hubungannya usaha kita dengan Dia." Aku mencoba meraih tas ranselku dari tangannya.
"Apa Mas ingin menemuinya?" tanya Mely yang membuat jantungku rasanya mau copot mendengar ucapannya itu. Kenapa Dia tahu tujuanku. Dan kenapa Dia membahas Rili. Apa Dia sebenarnya mendengar pertengkaran ku dengan Yasir. Tapi, kemarin Aku tanyain Dia bilang tidak mendengarnya.
"Kemarikan tas Mas. Kita jangan membahas masa lalu lagi. Dari dulu itu terus yang jadi permasalahan. Jangan buat Mas kesal kepada Adek, yang bisanya hanya membahas masa lalu Mas. Kalau Adek tidak bisa menerima dengan ikhlas masa lalu Mas. Terserah Adek mau apa. Mau tinggalkan Mas. Silahkan..!" ucapku dengan emosi. Sungguh saat ini Aku merasa sangat kesal kepadanya. Saat ini yang ingin kulakukan adalah melaksanakan apa yang ada dihatiku. Hatiku mengatakan Aku harus menemui Rili.
Dari dulu Rili terus yang dipermasalahkan nya. Dia tidak tahu apa, Aku juga sudah setres memikirkan jalan hidupku yang berjodoh dengannya. Aku tidak menyukai karakternya yang kekanak-kanakan. Dan entah kenapa sejak mengetahui Rili tidak kembali kepada Yasir. Aku tiba-tiba kesal kepada Mely mengingat pertemuan kami di Bus. Gara-gara tingkah mesumnya itu. Aku jadi menikah dengannya.
Dengan kasar Aku menarik tas ranselku dari tangannya. Aku seperti orang kemasukan setan saja. Yang tidak bisa sabar untuk tidak menjumpai Rili.
Aku keluar dari ruang ganti, ternyata Dia mengikutiku dan langsung memelukku dari belakang. Tangannya tidak bisa membelit pinggangku sempurna. Karena dihalangi perutnya.
Sesaat Aku sadar dengan sikapku yang kasar. Aku meraih tangannya yang memelukku dan berbalik. Hatiku sakit melihatnya menangis. Tapi, Aku harus pergi pagi ini.
"Jangan menangis, Mas hanya dua hari disana. Mas hanya ingin mengurus pekerjaan. Untuk apa Mas menjumpai Dia. Apa untungnya buat Mas." Ucapku sedikit berbohong. Karena memang Aku ingin ke kota S. ingin memastikan keadaan Rili dan juga mengurus cabang perusahaan yang baru ku buka di kota S.
"Adek ingin ikut." Ucapnya lagi, yang membuat Aku kesal dengan permintaannya itu.
"Abang kesana mau kerja. Abang akan sibuk, nanti Adek kesepian di Hotel sendirian. Adek disini saja ya? jaga anak kita. Abang tidak mau Adek kecapean." Ucapku berusaha membujuknya. Aku mencium puncak kepalanya, berusaha menenangkannya. Akhirnya Dia pun akhirnya mengangguk.
"Sayang, anak-anak Ayah. Jangan rewel ya. Ayah pergi dulu." Ucapku lembut, mengelus-elus perut Mely dan menciumnya. Dia memegang kepalaku saat Aku berjongkok menyapa anak kami.
"Aku mencintaimu." Ucapnya kembali memelukku erat. Aku mengelus punggungnya pelan. "Mas juga mencintaimu sayang. Tunggu Mas ya. Mas disana hanya dua hari." Ucapku lagi dengan terseyum, menyeka air matanya dengan jemariku. Dan Aku menghadiahi banyak kecupan di wajahnya. Dia tersenyum tapi menangis. Sikapnya itu membuatku merasa bersalah. Tapi, Aku harus meluruskan kesalahpahaman ku dengan Rili.
__ADS_1
Hatiku tergerak untuk membahagiakan Rili. Karena sekarang Aku punya segalanya.
Dengan berat hati Mely mengizinkanku pergi. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajahnya yang murung dan bahasa tubuhnya yang lemas.
Ayah, Mama Maryam dan Mely istriku mengantarkan ku ke landasaan. Ya sejak kami LDR an. Aku sering menggunakan jet pribadi menjumpainya ke Australia.
Aku bisa meyakinkan Ayah, bahwa Aku ada urusan penting di kota S. Menyangkut pekerjaan. Dan Ayah pun percaya.
Waktu yang akan ditempuh pesawat dari Australia ke Indonesia kurang lebih tujuh jam. Entah apa yang terjadi, terjadi kami transit lagi di Kota Jakarta. Saat itu Aku sempatkan diri menghubungi ponsel Rili. Tapi, lagi-lagi Dia tidak mau mengangkat panggilanku. Hal itu semakin membuatku jadi tidak tenang dan penasaran. Kenapa Dia tidak mau mengangkatnya. Apa karena no pribadi?
Tepat pukul 14.30 Wib. Kami pun melanjutkan penerbangan menuju kota S. Yaitu ke Bandara Ferdinand Lumban Tobing. Bandara itu dekat dengan rumah Rili. Kalau tidak ada halangan sebelum pukul lima sore, Aku akan sampai di rumah Rili.
Benar saja, pukul 16.35 Wib. Aku sudah Sampai tepat di depan rumahnya.
Aku menarik napas dalam dan mengelus dadaku yang bergemuruh. Aku merasa tidak siap untuk berjumpa dengannya. Aku takut setengah mati.
Sudah sepuluh menit, Aku berdiri didepan pagar rumahnya. Berharap Ayah dan mantan Ibu mertuaku keluar dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumah yang pernah ku tempati seminggu lebih itu. Tapi, ternyata tidak ada orang yang keluar dari rumah sederhana itu.
Aku kembali menarik napas dalam, Aku mengulanginya sampai Aku merasa sedikit tenang. Dengan tangan gemetar Aku membuka pagar rumah itu. Tanpa menutupnya kembali, Aku berjalan dengan menahan debaran jantung yang detakannya meningkat tiga kali lipat.
Perasaan ini tidak bisa ku kuasai. Aku seperti orang yang kasmaran saja. Yang takut akan melakukan kesalahan dihadapan gadis yang ku puja. Dengan melafalkan basmalah dalam hati. Aku mengetuk pintu rumah itu dengan tangan gemetar.
"Assalamualaikum...!" ucapku lagi masih mengetuk pintu rumah nya Rili.
Untuk percakapan Rival dan Rili selanjutnya bisa dibaca ulang Kembali ke episode 139 - 142 ya sayang.
TBC.
Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote. Jangan lupa mampir ke novelku yang lain yang tak kalah seru yang berjudul Dipaksa Menikahi Pariban. 🙏😍😎
__ADS_1