Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Serangan mendadak


__ADS_3

Dengan tangan gemetar, dada terasa sakit, setelah sholat shubuh secara terbaring, akhirnya Rival menandatangi semua berkas permohonan perceraiannya kepada Rili. Air mata jatuh tepat di atas berkas tersebut.


Setelah semalaman merenung, meminta petunjuk kepada Allah. Akhirnya Dia menceraikan Rili. Semoga Rili istri yang begitu dicintainya itu akan bahagia dengan Yasir. Sudah dua orang memintanya melepaskan Rili. Yaitu Yasir dan Pak Ali.


Perawat telah selesai membersihkan tubuh Rival dan juga memberinya makan. Perawat juga sudah melatih Rival unyuk menggerakkan kaki, pinggul dan punggung dan melatih keseimbangan saat berdiri. Perawat pun meminta izin keluar sebentar.


Sepeninggalannya perawat Pak Ali masuk ke kamar Rival. Pak Ali hanya tersenyum dan mengambil berkas yang ada di atas meja dan kemudian hendak meninggalkan kamar itu. Tapi, langkahnya ditahan Rival.


“Ayah, kenapa tidak memeriksa dulu berkasnya?” ucap Rival dengan menatap tubuh pria tua yang membelakanginya itu.


“Ayah sudah tahu, kamu pasti menandatanganinya. Selama ini juga kamu ingin melepasnya kan? Tapi, rasa egomu masih tinggi.” Pak Ali berbalik badan menghadap Rival.


“Bukan karena egoku saja Ayah. Tapi, karena memang perceraian sesuatu yang halal tapi dibenci Allah.” Ucap Rival dengan lirih, Dia kembali menitikkan air matanya.


“Pernikahan yang tidak didasari cinta, dan istrimu memikirkan pria lain. Apa kamu pikir, istrimu tidak menjadi istri pendosa?” Pak Ali akhirnya berjalan ke arah Rival yang sedang menatapnya itu. Dia memeluk Rival. “Ini yang terbaik Nak, percayalah kamu akan mendapat gantinya yang lebih. Bagaimana besarnya rasa cintamu kepada istrimu. Nanti kamu akan merasakan dicintai seseorang yang lebih besar lagi. Sudah saatnya kamu akan merasakan dicintai. Bersabar dan ikhlaslah.” Pak Ali melepas pelukannya. Pak Ali pun meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Rival menarik napas dalam. Pertanda Dia baru saja melakukan hal yang sangat besar.


🌻🌻🌻🌻


Tiga bulan kemudian


Rival yang sudah berjalan tanpa alat bantu itu kini nampak sedang berolah ringan, hanya merentangkan tangan, menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, sambil menghirup udara pagi di taman belakang rumah Pak Ali. Hanya butuh empat bulan, Rival sudah bisa dikatakan pulih, tapi melakukan gerakan ekstrem belum boleh dilakukan.


Tanpa Rival ketahui, ada sepasang mata yang selalu mengawasi aktivitasnya, yaitu Mely.


Selama tiga bulan terakhir ini pun Mely seolah takut untuk berkomunikasi dengan Rival, sejak Rival mengusirnya dari kamar. Dia tidak pernah ke kamar Rival lagi atau menggoda Rival. Dia berubah menjadi wanita yang dewasa dan banyak diam. Dia berubah seperti itu, karena nasehat Pak Ali.


Flash Back On


“Apa kamu benar menyukainya Nak?” tanya Pak Ali di kamar putrtinya itu, disaat Mamanya membujuknya untuk diam. Karena Rival yang mengusirnya dari kamar membuatnya sakit hati. Mely dan Mamanya duduk berpelukan di dipinggir tempat tidur.

__ADS_1


“Iya Ayah.” Jawab Mely masih dalam pelukan Mamanya.


“Abang Rival itu pria baik, sholeh. Kalau kamu ingin berjodoh dngannya. Maka, kamu harus perbaiki dirimu sayang. Berubahlah perbaiki akhlak, kerjakan perintah Allah dan jauhi larangannya. Kalau kamu sudah berubah jadi baik, Ayah yakin Abang Rival pasti melirikmu juga. Tentunya nanti akan Ayah bantu dengan Mama.” Pak Ali meyakinkan putrinya itu.


“Tapi, Aku lihat dikehidupan ini, tidak begitu Ayah. Ada itu kawan kuliahku, anaknya baik banget sholeha dan sabar. Tapi suaminya pemabuk dan tukang selingkuh.” Ucap Mely, Dia tidak setuju seratus persen dengan teori yang dikatakan Ayahnya itu.


“Kenapa masih ada pasangan yang salah satunya jelek perilakunya sedangkan yang satunya selalu taat kepada Allah? Itu bisa jadi Allah berikan pasangan itu ujian dan menjadikan yang tidak baik itu menjadi baik. Karena jika sabar menerimanya akan Allah berikan sesuatu kebaikan yang tidak pernah terbayangkan.” Ucap Pak Ali, memberi pengertian kepada putrinya itu. Diapun duduk di sebelah Mely, mengelus punggung Mely yang masih dirangkul Mamanya itu.


“Kan bisa saja seperti itu ayah, abang rival baik dan aku kan tidak baik. Terus Abang Rival menuntunku jadi lebih baik lagi.”


“Abang Rival kan sudah menuntunmu jadi lebih baik. Dia kan sudah mengajarimu sholat dan mengaji.” Timpal Mamanya dan melepas pelukannya.


“Sudah Mama mengantuk, Ayo Ayah keluar. Ingat, kalau kamu ingin Abang Rival melirikmu berubahlah.” Ucap Mamanya dan menarik lengan Pak Ali untuk pergi dari kamar Mely.


Flash Back Of


🌻🌻🌻


Melihat Mely tersedak, Rival yang memang duduk di sebelah Mely langsung meyodorkan air putih. Mely langsung menyambarnya meneguknya sampai habis. Rival pun tersenyum.


Kini mobil yang dikenderai Rival sedang membelah jalanan kota menuju kampus Mely. Suasana di dalam mobil adalah mode hening. Karena keduanya memang diam seribu bahasa. Mely yang takut salah bersikap, yang nantinya akan membuat Rival ilfeel menahan diri untuk bersikap menjadi wanita yang punya attitude baik.


Rival melirik ke arah Mely yang sedang memandang keluar jendela mobil.


“Dek, kampus Adek abang belum hapal jalannya. Habis ini belok atau lurus?” tanya Rival dengan lembut.


“Masih lurus, nanti dapat simpang tiga baru belok.” Ucap Mely dan tidak melihat ke arah Rival.


“Apa Adek masih marah sama Abang, gara-gara kejadian tiga bulan yang lalu?” tanya Rival dengan tetap konsentrasi menyetir walau terkadang Dia melirik Mely yang tidak mau melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Mely terkejut mendengar ucapan Rival. Memang sejak kejadian itu, mereka tidak pernah komunikasi. Walau kadang Mely sering mencuri curi pandang ke arah Rival disaat Rival berlatih berjalan dengan perawat atau saat Rival duduk sendiri atau berlatih berjalan sendirian di taman menggunakan alat penyangga.


“Dek, kalau ada orang ajak ngobrol jangan buang muka begitu. Yang sopan lah, lihat orang yang ajak kamu bicara.” Ucap Rival datar, Dia juga sebenarnya merasa bersalah kepada Mely. Dia yang lagi banyak pikiran, tiba-tiba Mely datang dengan tingkah nyelenehnya yang membuat Rival semakin pusing saat itu.


“Aku memang wanita yang tidak sopan, wanita yang tidak baik. Sehingga Aku tidak pantas untuk dicintai.” Ucap Mely dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah Rival. Rival menoleh sekilas dan kemudian konsentrasi menyetir.


“Apa abang salah ngomong lagi ya?” Ucap Rival dengan lembut. Dia pun akhirnya memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Karena Dia melihat Mely menangis.


“Maafin Abang ya?” Rival mengelus lembut kepala Mely. Kepala yang dielus tidak ada respon. Sehingga Rival memegang kedua bahu Mely memutar tubuh Mely agar menghadapnya.


Mely menjauhkan pandangannya, Dia malu karena menangis dihadapan Rival.


“Kenapa malah tidak mau menatap abang? Sudah tiga bulan loh kamu berpecat dengan Abang.”


“Bukannya itu yang Abang mau?”


“Abang tidak suka berpecat atau bermusuhan. Sejak kejadian itu, Abang juga merasa bersalah kepadamu. Ingin meminta maaf, tapi kamunya tidak pernah Abang lihat. Abang juga setelah bisa jalan pakai bantuan tongkat selalu ikut makan malam di ruang makan tapi Adek tidak ikut makan. Maafkan Abang ya..!” Ucap Rival dan mengatupkan tangannya. Tapi Mely masih memalingkan wajahnya.


Melihat sikap Mely seolah membencinya. Rival merangkum wajah Mely. “Kenapa tidak mau melihat Abang? Abang minta maaf!” Ucap Rival dan kini menurunkan tangannya setelah Mely melihat ke arahnya.


Mely masih diam, Dia menatap lekat wajah Rival. Wajah yang selama tiga bulan ini tidak pernah dilihatnya dengan jarak dekat, walau mereka satu rumah. Dia menatap Rival dengan mata yang menyimpan segudang kerinduan. Sedangkan Rival yang ditatap dengan tatapan mematikan itu, akhirnya ingin mengalihkan pandagannya. Tapi Rival kalah cepat. Mely langsung merangkum wajah Rival dan menciumnya.


Dia tidak bisa menahan rindu yang membuncah itu. Perlakuan Mely itu membuat kedua bola mata Rival membulat penuh, dengan debaran jantung yang semakin cepat.


TBC


Mampir juga ke novelku yang berjudul


Dipaksa menikahi Pariban

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2