
Kini Yasir dan Rili sedang berada di Restoran Hotel tempat Yusuf dan Windi menginap. Menunggu Windi dan Yusuf datang, dari Rumah sakit. Windy melakukan pemeriksaan kesehatannya sebelum pulang ke kota S.
Yasir dan Rili memesan ruangan VIP. Rili duduk berpangku insang, memandangi suaminya yang sibuk dengan laptopnya yang mulai nampak bosan. Ternyata mereka terlalu cepat sampai di tempat itu. Padahal Windi dan Yusuf masih di rumah sakit.
"Butuh bantuan sayang?" tanya Rili, Dia bangkit dari duduknya. Kemudian duduk disebelah Yasir. Dia sudah bosan, tanpa kegiatan.
"Untuk kali ini, tenaga Adek sedang tidak diperlukan. Siapkan saja nanti malam tenaganya di ranjang." Ucap Yasir dengan mengedipkan sebelah matanya. Rili jengah melihat ekspresi wajah mesum suaminya itu.
"Apa isi kepala ini, hanya itu-itu saja. Setiap bicara, pasti larinya kesitu." Rili, memegang kepala Yasir. Yang dipegang kepalanya mlaah minta dibelai.
"Pantes ya, saat di pulau Abang itu mau merenggut kesucianku. Ternyata Abang maniak." Ucap Rili sewot. Menarik tangannya dari tangan Yasir yang menuntun tangan itu, untuk membelai kepala Yasir. Rili pun menampilkan ekspresi wanita yang baru selesai dinodai. Aktingnya membuat Yasir tertawa dan memeluk Rili.
"Salah Adek sendiri, kenapa dulu buat Abang cemburu." Ucap Yasir masih Memeluk Rili.
"Abang itu tidak maniak. Tapi, Abang itu sudah ketergantungan kepada Adek. Kalau Abang maniak. Mungkin Adek tidak akan Abang biarkan tidur. Kerjaan kita begitu terus.
"Saat Adek masak pun Abang akan minta jatah. Saat seumpama lagi di pasar. Abang juga minta jatah, itu baru namanya maniak. Abang kan tidak seperti itu." Ucap Yasir tersenyum, mentoel hidung Rili, kemudian memeluknya lagi.
"Di pasar? kalau Abang mintanya di pasar. itu namanya orang gila. Bukan maniak lagi." Ucap Rili malas.
Kini tangan Yasir sudah mengelus-elus, perut Rili. "Ibu hamil itu tidak boleh marah-marah. Harus tenang dan sabar. Agar nanti anak kita lahir dalam keadaan sehat dan mudah diasuhnya. Tidak rewel, ceria dan sehat." Ucap Yasir lembut yang membuat Rili terdiam.
Dia sebenarnya tidak marah sungguhan. Dia hanya pura-pura marah saja. Agar Yasir merayunya.
"Itu Adek tahu, jadi kalau Ayahnya bagaimana?" tanya Rili. Dia menikmati sentuhan lembut suaminya di perutnya.
"Ya Ayahnya tugasnya mendoakan anaknya, mencari rezeki yang halal." Ucap Yasir. Walau Dia tidak alim. Tapi, Dia tahu sedikitlah tentang agama.
"Ooh.. !" jawab Rili malas. Kenapa gak ada dirinya disebutkan.
"Dan yang paling utama, membahagiakan wanita yang cerewet ini. Memberinya uang banyak, biar senang hatinya." Ucap Yasir serius,, mulai menggoda Rili.
"Tahu aja kalau Adek suka uang." Jawab Rili tak mau kalah. Kini Rili sudah duduk dipangkuan Yasir. Mengalungkan satu tangannya dileher Yasir.
"Bukan Adek saja yang suka uang. Semua orang suka uang. Kan ada itu istilahnya. Ada yang Abang sayang, gak ada yang Abang melayang." Ucap Yasir, terkekeh.
"Tapi Adek gak gitu."
"Bukannya tadi katanya suka uang."
"Iya, tapi gak harus menghalalkan segala cara juga untuk menghasilkan uang." Ucap Rili, Dia mulai malas membahas topik uang.
Saat itu juga, pintu ruangan itu terbuka. Nampaklah sepasang suami istri yang sedang berdiri di ambang pintu. Menatap lekat Yasir dan Rili. Rili tidak sadar bahwa saat ini, Dia sedang berada dalam pangkuan Yasir.
"Mesra-mesraannya nanti saja di kamar. Jangan disini dong!" ucap Windi, Dia berjalan menuju meja tempat Rili dan Yasir, sedangkan Yusuf mengekor dibelakang.
Yusuf iri melihat Yasir dan Rili. Kapan Dia bisa romantis seperti itu.
Rili pun turun dari pangkuan Yasir dengan tersenyum, menahan rasa malu. Beda dengan Yasir yang malah bangga dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Hai bro, mantan asisten!" ucap Yasir berdiri dan memeluk temannya itu.
"Kasih Aku jampi-jampinya." Bisik Yusuf, yang membuat Yasir tertawa dan melepas pelukannya.
"Beneran mau ngelakuinnya?" Yasir mendekat ke telinga Yusuf "Per*kosa Dia" bisik Yasir yang membuat Yusuf merinding.
"Gila loh...!" ucap Yusuf mendorong Yasir dengan kuat. Tapi, Yasir tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa terbahak-bahak. Dia merasa lucu, Yusuf yang serius menanggapinya diawal.
"Kenapa kamu setelah menikah jadi eror." Ucap Yusuf ketus, yang membuat Windi dan Rili, heran. Emang suami-suami mereka itu sedang membahas apa sebenarnya.
"Kamu juga nanti kalau sudah ngerasain ya, akan eror." Ucap Yasir mempersilahkan Yusuf untuk duduk.
Sedangkan Rili dan Windi, malah mengasingkan diri. Duduk di pojokan di atas karpet lembut.
Windi dengan wajah berbinar-binar mengelus-elus perut Rili bahkan menciumnya.
"Jenis kelaminnya apa Rili?" ucap Windi mendongak, sedangkan tangannya masih mengelus-elus perut Rili. Kemudian Dia mengelus perutnya.
"Menular-menular." Ucapnya terkekeh. Yusuf yang melihat tingkah istrinya itu dibuat sedih. Gimana mau menular. Dicetak aja gak pernah.
"Laki-laki." Jawab Rili tersenyum bahagia.
Windi kembali mengelus-elus perut Rili.
"Ucok, Hai Ucok, ini Aku Tante Windi." Ucap Windi lembut, yang membuat Rili membulatkan kedua bola matanya. Enak saja anaknya dipanggil si Ucok.
"Nanti kalau kamu sudah besar, Tante ceritain deh. Gimana merabanya Mamamu saat ditinggal Ayahmu." Ucap Rili dengan intonasi suara tinggi. Sehingga didengar semua penghuni ruangan itu.
Melihat Yasir seperti tertarik dengan apa yang diucapkan Windi. Rili pun melototkan matanya kepada Windi. Jangan sempat Windi menceritakan kepada Yasir. Begitu frustasinya Dia saat Yasir menghilang tanpa kabar.
Windi menatap Rili dengan cengir kuda. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan keadaan Rili yang patah hati, dibuat Yasir.
"Emang dulu Rili seperti apa kacaunya saat, kami putus komunikasi?" tanya Yasir, ingin cerita detailnya. Walau memang Rili pernah mengatakan dirinya menderita saat ditinggal Yasir. Tapi, penggambaran menderitanya, tidak bisa dibayangkan oleh Yasir. Karena Rili tidak menceritakan kegalauan nya secara detail.
"Kasih tahu gak ya?" ucap Windi, kembali menatap Rili.
"Kasih tahu dong!" desak Yasir.
"Gak, takut dipecat sama Rili." Ucap Windi cepat. Dia menoleh ke arah Yusuf suaminya yang diam tanpa ekspresi itu. Yusuf sedang sedih, memikirkan Pernikahannya yang tidak seperti pasangan suami istri lainnya. Entah kapan Windi akan membalas cintanya. Padahal Dia sudah berkorban banyak.
"Nanti malam Abang ingin dengar ceritanya." Ucap Yasir mengarahkan telunjuknya kepada Rili. Sebagai ancaman. Rili hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yasir.
"Aku lapar nih..!" celetuk Windi, menatap Yusuf yang menampilkan ekspresi sedih itu. Dia tiba-tiba sensitif. Iri melihat kemesraan Yasir dan Rili. Dia entah kapan bisa seperti itu dengan istrinya itu.
"Iya," Jawab Yusup dengan mencoba tersenyum.
"Baiklah, kita pesan makanan." Yasir berdiri, menekan tombol bel di dinding ruangan itu. Tak butuh berapa lama waiters pun datang.
"Tadi, Aku seperti melihat Abang Rival di rumah sakit." Ucap Windi, disela-sela mereka menyantap hidangannya. Saat itu Aku dan Abang Yusup sedang berjalan dikoridor menuju ruang Neurologi. Rival sedang di dorong terbaring di bed menuju kesebuah ruangan kalau gak salah." Ucap Windi, masih menikmati Tom Yum nya.
__ADS_1
Yasir melirik Rili yang masih menikmati nasi goreng. Entah kenapa Rili suka sekali memakan nasi goreng beberapa hari ini.
Rili ternyata lebih memilih tidak menanggapi ucapan Windi. Rili kapok sudah berhubungan dengan keluarga sableng itu.
"Selesai makan kita jenguk Abang Rival yuk?" ucapan Windi, membuat Rili tersedak, sehingga satu bulir nasi goreng sampai keluar dari hidungnya.
"Tobat, tobat, kalau bisa jangan lagi dech Aku berjumpa dengan Rival, serta keluarga besarnya." Ucap Rili, Dia memasrahkan hidungya di bersihkan oleh Yasir dengan tisu
Sungguh Yasir begitu mengkhawatirkan Rili yang tersedak.
Windi tercengang mendengar ucapan Rili. Tapi, Windi tidak terlalu mau membahasnya. Mungkin Rili tidak mau bertemu lagi dengan mantan suaminya itu.
"Rival sedang ada masalah dengan istrinya. Dan Rili dibawa-bawa. Jadi, untuk sementara, biarlah silaturahmi dengan Abang Rival di putus dulu. Demi kebaikan bersama." Ucap Yasir bernapas lega, setelah melihat Rili sudah dalam keadaan baik-baik saja.
Kebayang nggak sih nasi goreng extra pedas masuk ke saluran pernapasan dan keluar dari lubang hidung?
❤️❤️❤️
Kenapa matahari terbenam terdengar lebih romantis dari fajar? Karena perpisahan akan lebih mudah dikenang dari pada pertemuan.
"Selamat sore Bu Maryam, Adek Mely--!" Sapa Dokter Anna dengan ramahnya. Setelah Dokter cantik yang nampak masih muda itu, sudah masuk ke ruang rawat inapnya Mely beserta satu perawat perempuan juga.
"Sore Dok," jawab Mama Maryam, yang baru saja selesai mandi. Mama Maryam sudah rapi dengan pakaian one set yang dikenakannya.
Mama Maryam yang sudah merasa sehat itu. Memutuskan mandi air hangat, setelah Dia sudah dua hari tidak mandi. Sekarang Dia merasa segar, dan pikirannya mulai tenang.
"Bagaimana keadaanmu Bu Mely. Apa perutnya masih terasa sakit?" tanya Dokter, sambil memeriksa dada, serta perut Mely.
"Sudah mendingan Dok, tapi masih ada sedikit nyeri." Ucap Mely pelan.
"Apa kami sudah bisa pulang Dok?" tanya Mama Maryam. "Kami dirawat di rumah saja." Ucap Mama Maryam, merekakan punya Dokter pribadi, jadi kalau ada yang serius bisa memanggil Dokter itu.
"Bisa sih Bu. Tapi, Bu Mely ini masih harus ditangani oleh Dokter spesialis. Saya tahu, pasti Keluarga Ibu punya Dokter pribadi. Kalau Dokter pribadi Ibu sekeluarga bisa menangani Bu Mely, ya gak apa-apa. Besok pagi, bisa pulang dan dirawat di rumah. Tapi, Ibu Mely harus di USG dulu. Keadaan rahimnya sudah bagaimana saat ini." Ucap Dokter, meminta perawat menyiapkan semuanya. Untuk Mely dibawah ke ruang USG. Yang pastinya hanya ada di ruang praktek Dokter Obgyn.
"Baiklah Bu Dokter. Kami Mamut saja dengan keputusan Ibu Dokter. Yang penting putri saya cepat sembuh." Ucap Mama Maryam sedih. Dia tidak menyangka, putrinya akan banyak mengalami komplikasi Setelah melahirkann.
"Iya Bu. Nanti setelah USG, baru bisa kita keputusan. Kalau rahim Ibu Mely sudah bagus dan tidak infeksi lagi. Besok pagi Ibu Mely bisa pulang." Ucap Dokter ramah.
Perawat pun mulai mendorong bed Mely. Mely akan diperiksa rahimnya. Saat itu, Bi Ida yang menemani Mely ke ruang pemeriksaan.
Saat Mely hilang dari pandangan matanya Mama Maryam. Dia pun menelpon Firman.
"Sudah sampai mana persiapannya?" tanya Mama Maryam kepada Firman melalui sambungan telepon.
"Sudah beres semua. Malam ini juga bisa dilaksanakan." Ucap Firman dengan penuh semangat. Tentu saja Dia senang. Tugas yang diberikan Mama Maryam dengan gampang dikerjakannya. Firman sedang berusaha mengambil hati Maryam.
"Besok pagi saja, kita bergeraknya. Kalau memang sudah beres. Kamu istirahat di rumah saja. Tidak usah kemari lagi." Ucap Maryam.
"Tidak, Aku mau ke sana. Menemani kalian. Ini Aku sudah mau jalan." Jawab Firman.
__ADS_1
"Baiklah, terserah Abang saja." Mama Maryam menutup panggilan.