
Rival meraih dan menggendong putranya itu dengan sayangnya. Dia menciumi pipinya dengan gemes, yang membuat putranya itu menangis. Bayi yang masih dibedong itu merasa terusik dengan kelakuan Ayahnya.
"Ayah sudah kangen banget anakku sayang." Ucap Rival terseyum. Berusaha mendiamkan putranya itu dengan mengayun-ayunkan dalam gendongannya dengan membacakan ayat suci Al-Qur'an.
"Feb, kemana istriku? kenapa tidak ada di kamar ini?" tanya Rival, masih menatap lekat putranya. Dia akhirnya menoleh kepada Febri yang tidak kunjung memberi jawaban atas pertanyaan.
Febri menampilkan raut wajah sedih, yang membuat Rival heran. Kemudian Rival melempar pandangannya kepada Ririn yang juga terbangun.
"Kalian kenapa sedih gitu? istriku di mana?" kali ini Rival sudah mulai tidak tenang, Dia yakin ada masalah di rumah ini. Dia masih saja mengayun-ayunkan putranya dalam gendongannya. Yang hampir terlelap karena syahdunya suara Rival saat mengaji.
Febri meremas-remas tangannya. Entah kenapa lidahnya terasa sulit berucap. Dia takut majikannya itu syok, mendengar berita buruk dari Mely.
"Katakan, Isteri ku di mana Febri?" Rival sudah mulai kesal, dari tadi mulut kedua Babysitter nya itu, membisu.
"Non Mely dan Nyonya masuk di rumah sakit tuan." Jawab Febri dengan mata berkaca-kaca. Hatinya merasa sedih, melihat majikannya dalam keadaan terancam. Dia tahu, wanita yang sering pendarahan setelah melahirkan, biasanya tidak tertolong.
"Apa? kapan itu terjadi?" tanya Rival panik, Dia mendekat kepada Febri. Menggoyang lengan Babysitter nya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih menggendong Raynan.
"Sudah dua hari non Mely dan Nyonya di rumah sakit tuan. Semalam Pak Firman menelpon, keadaan Non Mely semakin kritis." Ucapnya sedih. Tiba-tiba saja Rania bangun dan menangis. Ririn pun dengan cepat menggendongnya.
"Astaghfirullah... Kenapa kalian tidak memberi kabar. Haahh----!" ucap Rival frustasi, Dia menyerahkan putranya kepada Febri.
Meninggalkan kamar itu dengan tergesa-gesa menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman. Dengan perasaan bersalah dan begitu khawatirnya Rival menyetir sendiri mobilnya menuju rumah sakit.
Dugaannya sejak di Danau ada yang tidak beres memang benar. Dan Dia yakin, Mely juga sudah Menonton video dirinya dengan Rayati.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang tanpa hambatan, Karena jalanan masih sepi, membuatnya tidak tenang. Dia sudah bisa menebak bahwa istrinya itu akan marah sekali kepadanya.
Dia pun berdoa dalam hati, semoga istrinya tidak kritis seperti apa yang dikatakan oleh Febri.
__ADS_1
Hanya butuh waktu lima belas menit, Rival sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Dengan berlari Dia memasuki rumah sakit yang paling bagus di kota M itu.
Rival yang tidak sabaran, malah Asal bertanya kepada perawat yang nampaknya sedang berjalan di parkiran. Tentu saja perawat memintanya bertanya ke pihak administrasi.
Akhirnya Rival pun menemukan kamar rawat inap nya Mely. Perasaannya sangat kacau hari ini. Tapi, Dia sudah menyiapkan mental, apapun yang akan terjadi kepada nya. Dia harus sabar dan mengakui semua kesalahannya.
Tanpa mengucap salam, Rival menekan handle pintu kaca itu. Saat di ambang pintu, suasana ruangan sunyi senyap. Karena semuanya sedang tertidur. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 04. 45 Wib. Belum dapat waktu shubuh di kota M.
Matanya yang berkabut, Karena menahan air mata, kini luruh juga. Rival jadi lemah. Perasaan bersalah menyerangnya. Sehingga Dia merasa sangat sedih.
Kedua manik matanya langsung tertuju ke sebuah bed yang menampakkan seorang wanita sedang terlentang. Rival melangkah cepat menuju Bed itu. Dia tidak melihat keberadaan orang lain di ruangan itu. Hanya keberadaan istrinya yang ingin dilihatnya, saking paniknya. Padahal ada Mama Maryam, Firman dan Bi Ida di ruangan itu.
Merasa ada yang masuk, Mama Maryam yang memang sudah terbangun, tapi masih lebih memilih berbaring, akhirnya bangkit juga dari tempat tidurnya.
Dia menghampiri Rival yang kini sedang duduk di kursi di dekat bed Mely, Saat itu, Rival sedang menggenggam tangan Mely merangkumnya dan menciuminya tanpa suara.
Rival sangat merindukan istrinya itu. Perasaan bersalah membuat rasa rindunya jadi bertambah dua kali lipat. Dia tidak mau membangunkan Mely. Karena Dia belum siap mendengar amukan Istrinya itu. Jadilah Dia meluapkan kerinduannya, menciumi jari jemari Mely, pipi serta kening Mely.
Puukkkk....
Rival pun menoleh kebelakang, melihat siapa orang menimpuk kepalanya. Tidak sopan sekali orang yang berani memukul kepalanya. Padahal kepala adalah organ yang harus dilindungi dari timpukan.
"Lepas tangan putriku! Pergi kau dari sini. Pergi kau manusia munafik." Mama Maryam yang baru saja memukul kepala Rival dengan tangannya, karena emosi menarik jaket yang menempel di tubuhnya. Cara Mama Maryam, menarik jaket Rival itu agar keluar dari ruangan itu, penuh kebencian.
Rival hanya terbengong memperhatikan mertuanya yang berdiri dihadapannya itu. Dia bertahan diposisinya dengan berpegangan di pinggir Bed tempat Mely berbaring.
Tidak pernah mertuanya itu, bersikap sekasar ini. Selama ini Ibu mertuanya itu sudah menjadi teman curhatnya yang penuh pengertian dan selalu memberi nasehat. Bahkan Ibu mertua nya selalu menyalahkan putrinya dan membelah dirinya.
"Mama," ucap Rival memegangi pinggir Bed dengan rasa takutnya. Dia lagi memikirkan kata-kata yang pas, agar mertuanya itu percaya kepadanya. Bahwa Dia dijebak. Dia adalah korban.
__ADS_1
"Untuk apa kamu kemari? mau menyakiti putriku lagi? kali ini, Aku tidak akan memberimu ampun. Pergi kau dari sini." Mama Maryam, kembali menyeret Rival, dengan menarik jaket yang dikenakannya. Tapi, Rival sama sekali tidak bergeming. Dia terus mempertahankan posisinya.
Mama Maryam yang ribut, membuat Firman dan Bi Ida terbangun. Mereka pun menghampiri Rival. Sedangkan Mama Maryam masih menampilkan ekspresi wajah penuh kebencian kepada Rival.
Rival tidak bisa membela dirinya, Dia juga masih syok dengan apa yang terjadi kepadanya. Masalah seolah tidak pernah lepas dari hidupnya.
"Keluar kamu---- Kamu tidak diperlukan disini. Sana kamu ke kampungmu. Urusi saja Keluarga mu yang di kampung. Urusi juga istri-istri mu itu." Ucap Mama Maryam dengan histeris. Dia tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Dia benci Rival. Sejak Rival hadir di hidup putrinya. Putrinya itu tidak bahagia, hanya air mata yang selalu menemani hari-harinya. Mama Maryam, lebih memilih putrinya yang dulu, bebas dan penuh keceriaan.
Rival hanya diam, menatap satu persatu manusia yang mengelilingi.
"Sudah Dek, kamu masih sakit. Biar masalah ini. Abang yang urus. Kamu istirahat lagi ya?" ucap Firman, meraih Maryam kepelukannya.
"Tidak,----- pria ini harus pergi dari sini. Entah apa maksudnya datang kemari. Dia mungkin ingin membuat putriku tiada. Usir Dia, jangan perbolehkan Dia hadir lagi dalam hidup putriku.
"Dia tega, tega sekali kepada Mely. Dia pikir melahirkan itu tidak sakit. Melahirkan itu sakit, Mely membutuhkan dukungan dan perhatian dari suaminya, tapi Dia lebih memilih berlama-lama di kampungnya sana daripada mengkhawatirkan istrinya yang memang sejak melahirkan sudah kritis dengan plasenta yang tertinggal." Ucap Mama Maryam, memukul dada Rival sesekali. Sedangkan by Firman berusaha menahan tangan Mama Maryam, agar berhenti memukul Rival.
"Mesti kali harus tiga hari di kampung. Setelah dikebumikan. Dia bisa saja pulang, memberikan semua urusan kepada Firman adiknya. Tapi, Dia malah memilih bersenang-senang disana dengan istrinya. Sudah tahu istri bermasalah saat melahirkan, bukannya dikhawatirkan. Menelpon pun tidak pernah. Bahkan saat di telpon, Dia malah menonaktifkan ponselnya." Ucap Mama Maryam, menepis tangan Firman yang ingin menjauhkan nya dari Rival.
"Pergi kamu, Pergi--- Bersamamu putriku menderita. Pergi kau-----!" teriaknya histeris, hingga Mama Maryam tidak berdaya, keringat bermunculan di keningnya.
Mely yang masih tertidur, seperti mendengar keributan, Dia terusik dengan suara Mama Maryam. Tapi, Karena efek obat. Rasanya sangat susah membuka mata. Dia kantuk sekali.
"Kamu tunggu, diluar saja. Kita perlu bicara." Ucap Firman lemah kepada Rival.
"Tapi, tapi Pak, Aku ingin disini menemani Mely." Ucap Rival, tidak sudih Dia menunggu di luar.
"Keadaan sangat kacau. Kalau pun Mely sadar, Dia juga akan membencimu. Kamu tunggu di luar. Kita bicarakan semuanya di luar." Firman mendorong tubuh Rival.
__ADS_1
Dengan langkah lemas, Rival meninggalkan kamar itu. Sedangkan Mama Maryam, kini kembali berbaring di bed nya. Dadanya naik turun, Karena emosi.