Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 I u


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rival dan Mely mengantar orang tua nya sampai ke luar lobby Hotel. Pagi ini Pak Ali dan istrinya bertolak ke kota M. Begitu juga dengan pembantu mereka Sari yang tidak senang harus pulang dan mengakhiri liburannya kali ini, yang tidak asyik sama sekali. Gara-gara insiden penculikan Mely.


"Ayah dan Mama pulang duluan. Kalian baik-baik disini. Jangan berantem lagi." Ucap Pak Ali lembut dan mengelus kepala Mely. Dengan begitu sayangnya, Mely langsung memeluk Ayahnya itu.


"Iya Ayah." Ucapnya tersenyum, menoleh ke arah Ayahnya kemudian beralih ke Mamanya. Mely melepas pelukannya dan kemudian memeluk Mamanya juga.


"Nikmati liburan kalian. Kamu Mely, jangan susah diatur sama Rival." Mama Mely membalas hangat pelukan putrinya.


"Iya Ma. Tidak akan, nanti Aku yang rugi, dicuekin Abang Rival." Ucapnya dalam dekapan Ibunya itu dengan tersenyum. Yang membuat Rival ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


🌻🌻🌻


Setelah kepergian kedua orang tuanya. Rival dan Mely memasuki kamar mereka. Mely masih merasa sangat lelah dan kantuk sekali. Sehingga Dia meminta Rival menemaninya tidur seharian ini. Sekaligus Rival memijat tangan Mely yang terkilir, tentunya Dia juga memijat seluruh tubuh Mely. Yang membuat Mely merasa Rileks dan tertidur.


Pasangan suami istri itu tidur dengan pulasnya, mulai dari jam sembilan pagi sampai jam satu siang. Mereka berdua seperti kerbau saja. Yang tidur dan malas-malasan. Padahal Rival tidak suka tidur pagi menjelang siang, seperti yang mereka lakukan saat ini. Tapi entah kenapa hari ini Dia juga merasa sangat lelah dan bawaannya kantuk. Mungkin semalam karena kurang tidur, serta tubuh yang sedang tegang, saat aksi penyelamatan Mely.


Rival terbangun, Dia kemudian melirik ke arah Mely yang tidur telentang di sebelah kanannya.


Tangannya bergerak menyentuh pipi Mely yang halus dan lembut. Dia mengagumi kecantikan wajah istrinya itu. Yang mirip artis Korea.


Rival mencium kening Mely, kemudian Dia turun dari ranjang, berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan dirinya sebelum melaksanakan sholat Dzuhur.


Mely terbangun, tetapi kedua bola matanya masih tertutup. Rasanya kelopak matanya seperti ditimpah batu yang besar, berat sekali. Dengan perlahan Dia memaksa dirinya untuk bangun. Kini mata beratnya sudah terbuka sempurna. Dia melihat ke sebelahnya dan tidak menemui Rival di atas ranjang. Dengan perlahan Mely duduk dan bersandar di headboard tempat tidur dan menarik selimutnya. Karena saat ini tubuh Mely tidak memakai pakaian, tubuhnya hanya ditutupi selimut.


Saat kedua bola mata Mely menyoroti semua ruangan yang bisa dijangkau mata indahnya. Dia melihat Rival berjalan keluar dari kamar mandi, menuju lemari pakaian. Dengan bertelanjang dada, serta handuk yang membelit di pinggangnya. Pemandangan siang bolong begini membuat Mely terpesonanya. Tak bisa dipungkiri Mely benar-benar terpesona melihat keindahan dada bidang Rival.


Rival yang menyadari Mely memperhatikannya tanpa berkedip saat itu, langsung berniat menggoda.


"Mely sayang, apakah Adek tidak pernah melihat orang setampan suamimu ini, sehingga dari tadi matamu tidak berkedip, dan mulutmu yang menganga itu sudah mengalirkan air liur." Goda Rival dan dengan sengaja menjatuhkan handuk nya di depan Mely.

__ADS_1


"Haaaaaaaaaa, apakah Abang sudah ikutan gila sehingga Berani sekali menanggalkan handuk dihadapan ku?" Sontak Mely kaget dan langsung menutup mukanya dengan selimut. Setelah Dia melap mulutnya, yang tidak mengeluarkan air liur itu, seperti yang dikatakan suaminya itu. Entah kenapa Dia jadi pemalu kepada Rival. Padahal Dia juga sudah pernah melihat junior suaminya itu.


Melihat Mely berubah jadi pemalu, membuat Rival jadi gemes.


"Biasanya juga Dia yang ingin membuka dan melihatnya, kenapa sekarang Dia jadi malu begitu." Gumam Rival, Dia pun berbalik dan membuka lemari pakaian yang ada dihadapannya. Dia memakai dalaman, kaos polo warna hitam dan memakai sarung.


Rival memang suka pakai sarung, maklum bekas orang kampung.


"Bukalah matanya sayang, Abang sudah rapi ini. Adek mau mandi sendiri atau Abang mandikan?" tanya Rival tersenyum dan berjalan menuju ke arah Mely yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Aku akan coba mandi sendiri." Ucapnya ragu. Walau tangan nya sudah banyak perubahan tapi kalau terlalu banyak digerakkan maka masih akan terasa sakit.


"Kenapa sekarang kamu jadi malu-malu begini. Buat Abang penasaran saja. Kemarin-kemarin tidak begini." Ucap Rival terseyum menyeringai. Dia dengan cepat menyibak selimut yang menutupi tubuh Mely. Yang membuat Mely terkejut.


"Abang mau apa?" ucapnya mencoba menutupi gunung kembarnya dengan satu tangan dan tangan lainnya menutupi yang dibawah sana.


"Adek kenapa sih? kenapa tingkahnya jadi begini." Rival menatap istrinya itu dengan lekat dan menelan ludahnya kasar, memperhatikan lekuk tubuh Mely yang memang indah. Dia sangat menyukainya. Ditambah kulit Mely putih dan halus.


"Aaadek malu." Ucapnya tidak berani melihat Rival.


"Kemarikan selimutnya!" ucap Mely kesal. Rival pun diam dan hanya tersenyum melihat Mely.


"Emang Adek mau pakai selimut untuk mandi?"


"Tidak begitu, Aakkuu malu Bang." Ucapnya dengan wajah merah merona.


"Baiklah." Rival menutupi tubuh Mely sampai dada, kemudian menggendongnya menuju kamar mandi. Dia pun memaksa untuk memandikan Mely yang malu-malu mau itu. Entah apa yang ada dipikiran Mely. Yang pura-pura menolak dimandikan, tapi seolah ingin dibantu untuk mandi.


Setelah memandikan Mely, Rival membantu Mely memakai pakaian.


"Abang seperti merawat bayi besar." Ucap Rival saat mengancing pengait dalaman Mely.

__ADS_1


"Emang bayi nya besar. Tapi, sepertinya sudah bisa buat bayi." Jawab Mely tersenyum dan melihat Rival dari pantulan kaca.


"Eehhmmmmm.... sudah mulai berani." Rival mengecup pundak Mely dan memakaikan dresnya.


"Pingin sih dan penasaran?" ucap nya polos. Sambil ketawa kecil cekikikan.


"Nanti aja kita buat bayinya, kalau tangan Adek sembuh total. Biar maksimal mencetaknya." Ucap Rival, Dia kini mengambil sisir di atas meja rias di kamar Hotel itu. Menyisir rambut Mely yang mengeluarkan wangi mint yang sangat segar di indera penciuman Rival.


"Adek sudah sembuh koq." Ucapnya dengan raut wajah ceria.


Aku bingung dengan sikapnya kadang agresif, tadi malu-malu dan sekarang blak-blakan.


"Adek harus sembuh dulu, baru kita akan berkebun?" ucap Rival tersenyum. Membalik tubuh Mely sehingga menghadap dirinya.


"Berkebun? untuk apa kita berkebun? uang Ayah sudah banyak. Kita tidak usah berkebun. Kalaupun mau buka usaha perkebunan, ya tinggal kita suruh orang saja mengerjakannya." Ucap Mely dengan bingungnya. Apa pula hubungan nya membuat anak dengan berkebun.


Rival mencium kening Mely yang bingung itu.


"Bukan berkebun menanam tumbuhan maksud Abang. Tapi, menanam benih cinta kita nanti disini." Ucap Rival, tangannya bergerak menyentuh perut Mely yang datar.


Sebelum kita melakukan itu, Abang ingin Adek memastikan hati Adek. Benarkah, Adek ridho kita melakukannya. Jangan karena penasaran saja, seperti yang Adek bilang tadi." Rival mengamati raut wajah Mely yang masih bingung.


Sebenarnya Mely sangat mencintai suaminya itu. Tapi, karena sifatnya yang kekanak-kanakan dan Dia juga baru pertama kali ini merasakan yang namanya cinta. Jadi wajar saja, Dia bersikap labil. Dia ingin diutamakan.


"I love you." Ucap Mely dengan penuh penghayatan dan wajah yang sendu, serta mata yang berkaca-kaca, Rival sampai terharu melihat ekspresi wajah istrinya itu.


"Beginikah rasanya dicintai?" gumam Rival dalam hati, Dia pun memeluk tubuh Mely.


"Ayo kita sholat dulu." Rival Kembali berjalan menuju kamar mandi yang diikuti oleh Mely. Mereka pun berwudhu. Kemudian melakukan sholat berjemaah.


TBC.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote 🙏🤗😍


"Cepatlah kau bersihkan dirimu baru kita ke


__ADS_2