Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Jangan menilai orang buruk


__ADS_3

Hendrik nampak memasuki ruang kerjanya yang pintunya masih terbuka. Dia melihat Rili dan sepupunya duduk bersandar di sofa. Dia tidak mengetahui kedua wanita yang mempunyai perbedaan karakter itu, sedang sama-sama galau. Rili galau karena Yasir dan Windi galau karena akan dijodohkan, ditambah Dia bertengkar dengan Yusuf pria aneh menurutnya.


"Kalian berdua mau minum apa? kenapa wajah kalian berdua kecut begitu?" tanya Hendrik sembari duduk di sofa yang menghadap kedua wanita itu.


"Terserah Abang mau kasih minum apa?" jawab Windi malas.


"Ok!"Hendrik nampak memesan minuman dengan menelpon karyawannya.


"Itu asisten Yasir menyebalkan sekali ya?" ucap Windi kesal. Nampak sekali kekesalannya dari mukanya yang sudah cemberut.


"Jangan menilai orang buruk, kalau belum kenal betul. Menurut Abang Pak Yusuf orangnya baik, Sholeh dan ramah." Ucap Hendrik dengan menatap Windi. "Kamu itu yang harus menjaga sikap. Ingat kamu itu seorang wanita, harus lembut." Ucap Hendrik lagi menasehati adik sepupunya itu.


"Tapi, Dia kasar bang. Makanya, aku juga kasarlah sama Dia." Jawab Windi.


"Kasar bagaimana?" tanya Hendrik.


"Tadi Abang tidak lihat Dia mendorongku sangat kuat, sehingga kepalaku terbentur ke ember. Caranya itu kasar banget!" jawab Windi.


"Jelaslah Dia mendorongmu kuat, kamu itu menimpa tubuhnya. Dia itu sholeh. Dia takut dosa kalau kelamaan kamu itu menimpanya." Jawab Hendrik.


"Iya, tapi jangan gitu dong caranya. Cara Dia memperlakukan aku, seolah-olah aku ini najis saja." Jawab Windi kesal.


"Jangan diambil hati sikap pak Yusuf ya adikku yang bawel!" hendrik nampak mendekatkan tubuhnya dan meraih hidung mancung Windi untuk di toel. Hendrik geram lihat sepupunya yang sudah berumur 28 tahun itu. Ya, Rili lebih tua dari Windi, tapi memang mereka lebih suka memanggil nama dari pada sebutan kak atau adik.


"Dia seperti itu karena terkejut, otaknya memerintah tubuhnya untuk mempertahankan diri dari benda asing yang menempel dibibirnya. Abang lihat bibirmu bertemu dengan bibirnya. hahahaha.... !" Hendrik ketawa lepas. Adegan Windi dan Yusuf yang dilihatnya tadi menurutnya lucu.


Mendengar ucapan Hendrik, Windi mendadak diam. Mukanya bersemu merah dan jantungnya berdetak cepat. Dia kesal sekali melihat sepupunya menertawakannya. Bibir Yusuf yang memang menurutnya sangat menggoda melintas lagi dipikirannya. Tentu kejadian itu akan diingatnya terus. Karena memang Dia belum pernah ciuman. Walau sebenarnya dulu Dia pernah punya kekasih sewaktu kuliah.


"Udah, jangan dibahas lagi. Aku kasihan sama kamu RIli," ucap Windi dengan sendunya sembari memegang tangan sahabatnya itu.


Rili diam saja tidak menjawab perkataan Rili, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Hendrik yang melihat Rili tidak tega, tapi Dia tidak bisa membantu.


"Apa Abang memang tidak punya no lain yang bisa dihubungi untuk berkomunikasi dengan Abang Yasir?" tanya Rili kepada Hendrik.


"Sejak perayaan ulang tahun perusahaan, no ponsel Bos Yasir memang tidak bisa dihubungi." Jawab Hendrik.

__ADS_1


"Apa ini no yang ada sama Abang? tanya Rili sambil menunjukkan no ponsel Yasir yang ada samanya kepada Hendrik.


Hendrik memperhatikan no yang dikasih Rili, dan ternyata nonya berbeda. "Bukan," jawab Hendrik. "Ini no yang ada sama Abang." Hendrik memberikan ponselnya kepada Rili.


"Apa selama ini Dia mempunyai no khusus untuk berkomunikasi denganku?" gumam Rili dalam hati.


"Berarti Dia punya banyak no." Ucap Windi.


"Iyalah Dia pasti banyak punya no dan ponsel. Namanya juga orang kaya. Tidak seperti saya ponselnya cuma satu." Jawab Rili makin kesal. Ternyata Yasir mempunyai banyak rahasia.


"Menurutku ini ya Rili, sudah saatnya kamu move on. Tidak ada gunanya lagi kita cari informasi mengenai Yasir. Tidak akan dapat! Dia memang tidak serius denganmu!" ucap Rili tegas dan menatap mata sahabatnya itu dan memegang bahu Rili.


"Lagian kita ini tidak level Dia. Mana mungkin Dia menjadikan kita wanita yang biasa-biasa ini menjadi istrinya. Sudah jelas dimana-dimana. Orang kaya ya pasti nikahnya sama orang kaya juga." Ucap Windi to the point.


Windi melihat wajah Rili berubah karena ucapannya, kabut hitam di wajah Rili sepertinya akan berubah menjadi air mata.


"Maaf! kamu jangan marah dan tersinggung. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu," ucap Windi sambil meraih tubuh sahabatnya yang sedang duduk di sofa tersebut dan memeluknya.


Hendrik yang melihat pemandangan mewek di depannya hanya bisa diam, Dia juga bingung harus berbuat apa. Akhirnya Dia meminum Juice terong Belanda yang baru saja diantar pelayan restoran ke ruangannya tersebut.


"Lupakan Dia!" ucap Windi tegas.


"Pasti bisa, kamu saja yang terlalu berharap dan tidak mau membuka hati." Ucap Windi.


"Coba kamu bukan mantan bos Abang. Abang pasti akan melamarmu langsung." Ucap Hendrik serius.


"Aduhh bang, jangan ngacok dech ngomongnya." Ucap Windi.


"Iya, Abang suka loh samamu Rili. Tapi,......"


"Tapi, Abang takut dengan Bos Abang kan?" jawab Windi.


"Maaf bang, aku tidak ada perasaan sama Abang. Abang sudah seperti Abang sendiri buatku." Jawab Rili dan melepas pelukannya dari Windi. Kemudian Dia menyedot Juice miliknya.


Hendrik yang mendapat jawaban mematikan itu dari Rili, akhirnya diam. Dia berdiri dari sofa yang difungsikan untuk menjamu tamu tersebut dan berjalan menuju kursi kerjanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang saja yuk Windi?" ucap Rili.


"Ayok, tapi entar aku habiskan dulu minumanku ini. Haus sekali rasanya karena bertengkar dengan asisten Yasir itu." Ucap Windi dan kemudian menyedot Juice yang sama dengan Juice milik Hendrik.


"Bang, kami pulang dulu ya, jangan pernah mimpi mau menikahi Rili." Ucap Windi mengejek dengan ketawa kecil.


"Kamu, dasar!" Hendrik hendak menimpuk kepala adik sepupunya itu dengan file laporan yang ada di meja kerjanya, tapi sejurus kemudian Windi mengelak.


"Bye....! Windi melambaikan tangannya kepada sepupunya dan membantu Rili berjalan keluar Hotel.


Hendrik yang sedang duduk di kursi kerjanya, kemudian menyandarkan tubuhnya. Pandangannya menerawang ke atas. "Betul juga kata Windi, aku tidak boleh memupuk perasaanku untuk bersama dengan Rili. Dia Wanita yang pernah dicintai Bos Yasir. Huufft..!" Dia membuang napasnya kasar.


Di dalam mobil Windi yang sedang melaju Rili mengeluarkan suaranya.


"Kamu percaya, Abang Yasir sedang berada di luar negeri?" tanyanya kepada Windi.


"Yakin," jawabnya singkat.


"kira-kira ngapain ya diluar negeri, apa bulan madu?" tanya Rili lagi.


"Mungkin!" jawab Windi singkat dan tetap fokus menyetir.


"Kamu koq gitu sich sikapnya Windi?" ucap Rili kesal merasa tidak direspon dengan baik.


"Aku bosan bahas Yasir terus, dan itu kamu meracuni pikiranmu sendiri dengan menduga-duga kegiatan apa saja yang sedang dilakukan Yasir. Sudahlah lupakan saja Dia. Anggap saja kisahmu dengannya sebagai pelajaran. Yakinlah, apabila kamu bisa melewati ini maka hatimu akan semakin kuat." Ucap Windi.


Rili diam dan menimbang-nimbang ucapan Windi. "Aku akan mencobanya." Ucap Rili.


"Baguslah, moga berhasil." jawab Windi.


"Gimana tadi rasanya jatuh di tubuh pria ganteng?" tanya Rili mencoba menggoda Windi.


ciitttt....! Windi tiba-tiba ngerem mobilnya.


Bersambung

__ADS_1


Mohon beri like, coment, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit, serta jangan lupa beri penilaian bintang 5.


Terima kasih


__ADS_2