Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Tawaran apa?


__ADS_3

Ayah Mely sungguh tergugah hatinya mendengar suara Adzan di Mushollah kantor Polisi tersebut.


“Ternyata Bapak Polisi ada juga yang jago adzan.” Gumamnya, Dia masuk ke dalam kamar mandi yang di dekat Mushollah. Kemudian berwudhu. Dia memasuki Mushollah, duduk bersila dibelakang Rival, menunggu Rival selesai mengumandangkan Adzan. Setelah selesai mengumandangkan Adzan. Rival mundur kebelakang, Dia melihat sudah ada sekitaran 20 orang yang akan melaksanakan Sholat.


Rival diminta sebagai imam, Dia menolak. Karena Dia merasa tidak pantas. Secara masih ada yang lebih tua dilihatnya di dalam Mushollah itu. Tapi, pria yang lebih tua yang dimaksud Rival, tidak pernah jadi imam, bahkan Dia jarang sholat. Mau tak mau Rival pun mau menjadi imam sholat shubuh. Sedangkan Ayah Mely, hanya diam memperhatikan gerak-gerik Rival, yang membuatnya sangat simpatik.


Setelah sholat shubuh, Rival kembali digiring masuk ke jeruji besi. Ayahnya Mely heran melihatnya. Ayah Mely beranggapan Rival adalah salah satu Polisi, ternyata seorang tahanan. Dia pun menggelengkan kepalanya.


Ayah Mely pun menyusul istrinya ke dalam kantor polisi. Dia melihat istrinya dan putrinya itu berpelukan sambil menangis, istrinya dengan lembut mengusap-usap kepala putrinya itu. Ibu dan anak itu menangis , karena Mely pun kembali menceritakan semuanya kepada Ibunya itu.


“Bagaimana Ma?” Apa sudah bisa kita bawa putri kita. Sudah beres urusannya?” tanya Ayah Mely setelah duduk dibangku panjang disebelah istrinya.


“Belum Ayah, ceritanya sangat rumit dan Bapak polisi tidak percaya dengan penjelasan putri kita.” Ucap Mamanya Mely, masih merangkul putrinya yang juga duduk disebelahnya.


“Emang masalahnya bagaimana Ma? Tadi Mama hanya bilang putri kita kena grebek saat menginap di Hotel. Itu berita bagus Ma. Biarin saja Dia dinikahkan disini. Ayah sudah tidak sanggup mendidiknya. Biar suaminya aja yang mendidik Dia ” Ucap Ayah Mely dengan raut kesal. Mendengar ucapan Ayahnya itu, Mely semakin mengencangkan tangisannya. Yang membuat Mamanya kembali membujuk putrinya itu.


Setelah membujuk Mely sampai 10 menit, Ibu Mely pun kembali menceritakan yang dialami putrinya itu.


“Apa? Itu sudah sangat berbahaya Ma. Kita harus buat laporan mengenai putri kita yang dikejar-kejar Penjahat dan ingin menghabisinya. Gara-gara mengincar tas Mely.” Ucap Ayah Mely, Dia bergerak dari tempat duduknya berjalan kesebelah Mely.


Melihat Ayahnya disebelahnya Mely pun memeluknya. “Beneran Ayah, kami tidak melakukan hal tidak baik itu, bahkan kami tidak saling kenal. Abang itu sudah rela mengorbankan nyawanya Ayah, untuk menyelamatkan Mely. Kalau Abang itu tidak ada, mungkin Mely sudah dihajar Munkar dan Nakir di dalam kubur.” Ucapnya sambil menangis semakin kencang. Dia tidak bisa membayangkan mati konyol dan nantinya akan masuk neraka.


“Makanya dengarkan kata Ayah, berapa kali Ayah bilang laksanakan perintah Allah dan jauhi larangannya. Kamu malah bandel. Kita tidak tahu, kapan nyawa kita akan dicabut sama Malaikat Izrail. Kalau kamu mati sekarang, Ayah sangat yakin memang kamu akan disiksa dikubur dan masuk neraka.” Ucap Ayah Mely dengan Ekspresi menakutkan. Dia sengaja mengerjai putrinya itu.


Mely semakin mengencangkan tangisannya, Ayahnya bercanda keterlaluan. “Ayah koq jahat banget sich, ngomongnya begitu sama putri sendiri.” Ucap Mely. Dia pun melepas pelukannya dari Ayahnya. Karena kesal. Ayahnya tertawa dan kembali meraih putrinya itu kepelukannya.


“Ayah becanda sayang. Ayah jadi penasaran sama pria yang menolongmu. Di ruang mana Dia sayang?” tanya Ayah Mely, Dia pun mencium bau tubuh putrinya yang tidak sedap itu.

__ADS_1


“Kamu koq jadi bau Mely?" tanya Ayahnya dan melepas pelukannya. “Ini yang kamu pakai baju siapa?” timpal Mamanya Mely.


“Baju abang itu Ma." Ucap Mely, Dia menciumi ketiak dan bajunya, memang agak acem sedikit.


"Tadikan Mely sudah cerita semua sama Mama.” Ucap Mely kesal, karena orang tuanya mengatainya bau. Dia sudah tidak menangis lagi.


“Abang itu ditahan Ayah, Dia tidak terima difitnah. Abang itu marah dan menghajar Pak Polisi. Aku kasihan lihat Abng itu Ayah. Sepertinya Dia itu sedang ada masalah besar. Ayah bebaskan Dia, pakai ini. Mely menggesek telunjuknya dengan jempolnya, memberi kode pakai uang.


“Iya Ayah paham.” Ucap Ayah Mely, Dia pun berjalan ke meja piket menjumpai Bapak Polisi. Ayah Mely, ingin bertemu dengan pria yang menolong putrinya. Pak polisi pun membawanya ke sel tahanan sementara Rival ditahan.


Di sel Rival sedang duduk bersandar di dinding sel tahanan yang berukuran 3x2m itu. Tidak ada alas untuk duduk. Dia menekuk kaki kanannya dan menautkan kedua tangannya di atas lututnya, sedangkan kaki kirinya terjulur di lantai yang dingin. Dia menatap lurus ke arah tembok dihadapannya dengan tatapan kosong. Hatinya menangis, penderitaan tidak kunjung selesai. Mungkin akan lebih baik Dia dipenjara ini. Dia tidak akan mau menikahi gadis itu. Dia sangat mencintai istrinya.


“Rili, kamu lagi apa? Apa kamu sedang memikirkan Yasir? Aku yakin kamu sedang memikirkan Yasir, diriku tidak pernah ada dihati dan pikiranmu.” Gumamnya dalam hati, tak terasa matanya berkaca-kaca. Lamunannya pun buyar disaat Aparat menegurnya.


“Ada yang mencarimu.” Ucap Pak Polisi. Rival menoleh ke asal suara. Dia melihat dua pria berdiri diluar jeruji besi. Satu Pak Polisi dan satu pria yang tidak dikenalnya, yang tidak lain adalah Ayah Mely.


“Iya silahkan.”


“Aku ingin bicara empat mata dengannya.” Ucap Ayah Mely dan langsung memasukkan uang ke dalam kantong celana Pak Polisi. Siapa sih yang tidak suka uang. Anggap saja uang dari Ayahnya Mely, adalah Tip, karena Bapak Polisi piketn.


“Baiklah, Ayo pak.” Ucap Pak Polisi, setelah membuka gembok jeruji besi tempat Rival ditahan sementara.


Pak Polisi membawa Ayah Mely dan Rival ke ruangan kedap suara. Mereka duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu dengan berhadap-hadapan.


Ayah Mely menatap Rival dengan perasaan yang tidak biasa. Dia simpatik kepada pria itu.


"Ali Amsa, Saya Ayahnya Mely.” Ucapnya dengan menjulurkan tangannya, Dia ingin berjabat tangan dengan Rival. Rival pun menyambutnya.

__ADS_1


“Rival.” Ucapnya tanpa Ekspresi. Tapi dalam hati Dia berfikir. Berarti nama wanita itu adalah Mely.


“Saya mengucapkan banyak terima kasih. Nak Rival sudah mau menolong putri saya.” Ucapnya dengan tersenyum dan terharu.


“Iya Pak, sama-sama.” Jawab Rival datar.


“Tadi saya sudah berbincang sebentar dengan aparat, katanya keputusan mereka tidak boleh diganggu gugat. Kalian tetap akan dinikahkan.”


“saya tidak bisa menikahi putri Bapak, saya sudah punya istri, dan saya tidak melakukan tuduhan yang mereka katakan.” Ucap Rival memalingkan wajahnya. Dia akan kesal, dituduh berzina.


“Iya, saya paham maksud Nak Rival. Tapi saya punya tawaran, agar Nak Rival bisa bebas.” Ucap Ayah Mely.


“Apa?” Kali ini Rival sudah menoleh ke Ayahnya Mely.


“Kamu ikutin saja apa maunya Pak Polisi.” Belum selesai Pak Ali bicara, langsung dipotong Rival.


“Saya tidak bisa menikahinya, saya tidak mau menikahi putri Bapak.” Ucap Rival dengan nada sedikit tinggi.


“Iya, saya pun tidak mau memaksa Nak Rival.” Ucap Bapak Ali, walau sebenarnya Dia sangat ingin Rival menikahi putri liarnya itu. Walau jadi istri keduanya Rival pun, Dia tidak akan mempermasalahkannya. Karena Dia merasa, sudah tidak bisa mendidik putrinya itu. Siapa tahu setelah menikah dengan Rival. Mely bisa berubah.


“Saya menawarkan kesepakatan buat Nak Rival?” Ayah Mely menatap mata Rival, menunjukkan kesungguhannya, untuk memberi solusi, agar Rival terbebas dari tuntutan penganiayaan yang dilakukannya kepada aparat.


“Tawaran Apa?”


TBC.


Mohon beri like, coment, jadikan novel ini sebagai favorit ya kak.🙂

__ADS_1


Hadiah bunga dan kopinya juga sangat ku harapkan kak.🙂🤗


__ADS_2