Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Mencoba menahan


__ADS_3

Khayalan Mely untuk mencium punggung tangan suaminya, ternyata tetap menjadi khayalan. Karena setelah Rival melakukan sholat berjamaah itu. Dia langsung berdiri, tanpa berbalik ke belakang. Padahal Mely sudah mengulurkan tangannya.


Rival yang tidak melihat tangan Mely terulur memilih berjalan ke rak tempat penyimpanan Al-Qur'an. Dia mengambil dua Al-Qur'an, berjalan ke arah Mely yang masih duduk di tempatnya semula. Kemudian Rival duduk bersila dihadapan Mely.


Mely hanya menunduk, hatinya kecewa. Entah kenapa Dia sangat menginginkan hal-hal yang romantis dari Rival. Tapi nyatanya tidak demikian.


"Adek kenapa?" Rival memperhatikan wajah Mely yang sedikit murung. Padahal tadi saat Rival mengajaknya untuk sholat Mely begitu senangnya.


Mely hanya menggeleng menjawab pertanyaan Rival. Dia tidak punya hati yang sabar, untuk menghadapi sifat suaminya yang cuek. Jelas saja cuek, Rival belum punya rasa kepadanya.


"Kita belajar mengaji lagi ya?" Rival tersenyum, berusaha melihat wajah Mely yang tertunduk itu, wajah Mely sangat cantik dengan mukena yang digunakannya. Wajah Mely yang putih bersih, dengan hidung mancung, serta mata yang indah dengan bulu mata yang lebat dan lentik, membuat Rival tersadar bahwa Mely kalau sedang kalem begini sangat menggemaskan sekali.


"Ini terima lah." Rival menyodorkan sebuah Al-Qur'an kepada Mely. Al-Qur'an itu dikhususkan untuk orang yang baru belajar mengaji.


"Apa kita akan mengaji?" Ucap Mely pelan, Dia sudah tidak semangat lagi. Karena Rival tidak seromantis yang dibayangkannya.


"Iya, kita lanjutkan pelajaran Adek. Terakhir Abang ingat. Kita masih belajar sampai iqro 3." Ucap Rival tersenyum, Dia pun membuka lembaran Al-Qur'an itu.


"Kalau Aku sudah lancar membacanya, maksudku sudah lancar Sampai Iqro 5. Apa hadiahnya untukku?" Mely menampakkan wajah puppy eyes. Rival sangat gemes melihatnya.


"Apapun Adek minta akan Abang berikan. Tapi, jangan minta harta. Abang belum punya." Ucap Rival terkekeh.


"Kalau itu Aku juga tahu." Jawab Mely, Kini Dia sedang memandangi wajah Rival dengan lekat yang membuat Rival sedikit malu dan menunduk, melihat tulisan Arab di Al-Qur'an yang di hadapannya.

__ADS_1


"Apa malam ini kita bisa bersama?" Mely langsung to the point. Yang membuat Rival sontak terkejut, Dia pun langsung melihat ke arah Mely. Mendengar ucapan Mely, pikiran Rival pun berkelana. Apa Mely akan meminta hak nya malam ini?


Kenapa pula Mely yang meminta hak nya. Dimana-mana selalu pria yang meminta hak nya untuk dilayani. Sungguh pikiran Rival terlalu jauh. Tapi, mengingat sikap Mely yang selalu agresif. Rival Yakin, maksud dari perkataan Mely itu adalah 'itu'.


"Iya " Jawab Rival singkat. Dia pun langsung menundukkan pandangannya. Dia melihat aksara Arab dihadapannya. Tapi, Dia hanya melihat tidak fokus lagi.


"Yang mana yang harus Adek baca?" ucap Mely dengan terseyum, karena Rival mengiyakan permintaannya.


Rival pun mengatakan suroh dan ayat yang harus dibaca Mely. Benar saja Mely sudah bisa membaca Al-Qur'an hanya panjang pendek serta tajwidnya yang belum Dia mengerti.


Rival tidak menyangka, Mely cepat mempelajarinya. Dia bangga kepada Mely. Setelah selesai mengaji. Mely membuka mukenanya. Menyimpannya di lemari kaca, tempat mukena disimpan, yang terlebih dahulu mukena yang dipakainya, digantung di hanger.


Rival sudah meninggalkan ruang sholat, Dia berjalan menuju ruang keluarga, masih menggunakan kain sarung dengan kaos polo. Dia duduk di sofa dan menyalakan TV. Mely pun mendudukkan bokongnya disebelah Rival dengan melempar senyuman yang sangat manis, yang membuat Rival juga ikut tersenyum.


Dengan pelan-pelan Mely menyandarkan kepalanya dengan malu-malu ke bahu Rival, yang membuat Rival terkejut, hatinya berdebar. Tapi, Dia berusaha bersikap biasa saja. Dia melirik ke arah Mely yang tersenyum kepadanya.


Lama Mely bersandar di bahu Rival, hingga Dia merasa matanya sangat berat. Gimana tidak mengantuk, Rival tidak mau buka suara. Mely menguap berkali-kali. Dia tidak tertarik dengan tontonan di depan matanya.


"Adek mengantuk?" tanya Rival melirik wanitanya. Mely pun mengangguk.


"Ya sudah sana masuk ke kamar tidur duluan. Tapi, sebelum tidur sholat isya dulu." Ucap Rival masih melihat ke arah Mely.


Mely diam, kekesalannya kepada Rival semakin Bertambah saja. Kenapa Rival tidak mengerti yang diinginkannya. Padahal Mely sudah memberi kode agar didekati.

__ADS_1


Rival bukannya tidak mengerti, tapi Dia masih merasa tidak enak an bermesraan dengan istrinya itu.


Mely yang merasa kesal itu, akhirnya menjatuhkan kepalanya di paha Rival. Rival kaget, hampir bangkit dari sofa. Tapi, Mely menahan tubuh Rival dengan menarik kaos yang dikenakan Rival. Gimana Rival tidak kaget. Mely Menghentakkan kepalanya dengan kuat dan menekan juniornya Rival. Mely sengaja melakukan itu. Dia ingin melihat reaksi Rival. Apakah Rival akan protes atau diam saja.


Ternyata Rival tidak protes, melihat Rival diam saja. Mely pun menggerak-gerakkan kepalanya di pangkal paha Rival. Yang membuat Rival jadi tidak nyaman. Jelas saja, junior Rival sudah on.


"Kepala Adek kenapa tidak bisa diam?" ucap Rival dengan suara berat. Dia sedang menahan dirinya agar tidak terangsang.


Kepala Mely yang tidak bisa diam itu. Akhirnya menghidupkan kepala Rival yang dibawah. Rival sudah frustasi menahannya. Apa Dia mencampakkan kepala Mely saja dari pangkal pahanya. Tapi, jika Dia melakukan itu. Mely pasti tersinggung.


"Adek sedang mencari posisi yang enak, agar kepala ini nyaman berada di paha Abang." Ucap Mely tersenyum. Kini pandangannya tertuju kegulungan sarung Rival yang ada di perut bawah Rival.


"Kalau Aku lepas gulungan sarung ini. Kira-kira reaksinya bagaimana ya?" gumam Mely dalam hati. Kini tangan kanannya refleks bergerak ke gulungan penahan sarung agar tidak lepas.


"Adek jangan banyak gerak di paha Abang. Paha Abang masih sakit." Ucapnya bohong, padahal paha Rival sudah tidak sakit lagi.


"Baiklah." Jawab Mely pelan, Dia pun tidak banyak gerak. Tapi matanya selalu melihat ke arah perut Rival yang disitu ada gulungan penahan sarung. Tangan kanan Mely bergerak menyentuh perut Rival. Dia merabanya dengan pelan Yang membuat Rival menahan napas.


Rival mengalihkan pandangannya ke arah ujung sofa. Ternyata dres yang dikenakan Mely sudah tersingkap menampakkan betis dan paha yang putih, mulus dan sangat menggoda itu. Tentu saja darahnya berdesir hebat. Hormon kelaki-lakiannya masih bekerja dengan bagus. Tentu saja si junior yang didekat kepala Mely makin mengeras. Dan itu bisa dirasakan oleh Mely.


Rival menggoyang kepalanya, membuyarkan pikiran mesumnya. Dia laki-laki normal, mendapat perlakuan seperti itu siapa yang tahan. Tapi, Rival terus saja bersikap seolah tubuh dan pikirannya tidak menginginkan itu.


"Kita lihat saja sampai kapan Dia akan menahannya." Gumam Mely dalam hati sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


TBC


Mohon Beri like coment positif rate 🌟 5 dan vote bunga, kopi juga boleh apalagi Vote rekomendasi nya.🤗😍


__ADS_2