Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Kehadiran Ibu Durjanna


__ADS_3

Rili mengendarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan kamar yang luas dengan interior modern klasik itu. "Mana si kembar?" tanya Rili mencari topik pembicaraan. Dia sudah mulai tidak nyaman dengan cara Mely yang menatapnya. Rili merasa sedikit takut dan tidak tenang.


Mely menepuk ranjangnya dengan lembut. "Silahkan duduk kak, atau duduk di kursi ini pun jadi." Ucap Mely ramah, senyum mengembang menghiasi wajah nya yang semakin bersinar. Berniat menarik kursi dekat ranjang yang mentok di dinding untuk diduduki oleh Rili.


Masih dengan perasaan tidak tenang, akhirnya Rili mendudukkan bokongnya dibibir ranjangnya Mely. Jangan tanya bagaimana gugupnya Rili saat ini. Ucapan Yasir yang mengatakan gara-gara dirinya. Rival dan istrinya bertengkar, menjadi momok yang menakutkan buatnya.


Dia berdoa dalam hati, semoga tidak ada pertengkaran. Rili mau melakukan ini semua, karena tidak tega menolak permintaan Yasir suaminya. Yasir seolah ingin balas Budi kepada Rival. Karena Rival yang menolongnya saat dirampok Bajing lompat, yang hampir menewaskannya.


"Aku bawain ini untuk si kembar. Si kembarnya di mana Dek?" tanya Rili, meletakkan paper bag yang berisi perlangkapan bayi, mulai dari baju, celana, kaos kaki, topi dan sepat frewelker.


Mely tersenyum, tapi sorot matanya terlalu lekat menilai Rili, yang membuat Rili bertanya-tanya dalam hati. Pandangan Mely buat orang yang melihat nya takut.


"Si kembar di kamarnya kak, sama Babysitter. Terimakasih banyak ya." Mely meraih paper bag yang diberikan Rili. Dia pun mulai membukanya. Memeriksa isi paperbag itu.


"Ya ampun, ini lucu-lucu sekali bajunya. Si kembar belum punya model begini." Ucap Mely dengan bahagainya. Memperhatikan detail semua pemberian Rili.


"Kakak baik banget sih, pantesan Mas Rival tidak bisa melupakan kak."


Deg....


Kalimat yang keluar dari mulut Mely yang polos itu membuat Rili takut dan tidak enakan. Kenapa Dia jadi alasan pertengkaran suami istri ini. Padahal Dia tidak ada mengganggu Rival.


Bahkan Rival menceraikan nya. Dia diam saja. Kenapa sekarang Dia dibawa-bawa.


"Aku hanya ingin dicintai seorang saja, oleh Mas Rival. Aku ingin hanya ada aku dihatinya. Tapi, nyatanya bukan Aku dihatinya. Tapi, kak Rili. Kak tahu gak sih, itu rasanya menyakitkan sekali." Ucapnya dengan perasaan kacau. Kini kedua mata indahnya mulai berkabut.


Rili melongok dan tercengang melihat Mely yang tega bicara seperti itu. Siapa coba yang tidak senang dicintai dan mencintai. Jadi, masalah nya apa, buat Rili. Banyak orang yang cinta terpendam.


Rili memilih untuk diam, Dia akan mendengar curahan hati istrinya Rival ini.


"Malang banget nasibku kan kak?" ucapnya meraih tangan Rili yang berada di atas pahanya.


Rili memasrahkan tangannya digenggam. Dia merasa si Mely ini sangat bodoh. Apa Dia tidak bisa menilai suaminya sendiri. Harusnya Dia lebih bersabar dan banyak berdoa. Bukannya menyusahkan orang untuk menemuinya. Sudah Rili lagi hamil lagi.


"Kamu tidak malang Dek, tapi sangat beruntung." Ucap Rili tersenyum membalas genggaman tangan Mely.


"Beruntung? Apanya yang beruntung?" tanya Mely heran. Dia tidak sabar lagi untuk mendengar Rili melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu itu beruntung mendapatkan pria seperti Abang Rival." Mely menggelang.


"Dia tidak mencintaiku." Jawabnya sendu menatap Rili.


"Cinta bisa tumbuh dengan seringnya bersama. Lagian sudah punya anak juga, koq bilangnya tidak cinta." Ucap Rili ketus, wanita dihadapannya ini terlalu kekanak-kanakan dan memperbesar masalah.


Mely tertawa mendengar ucapan Rili. "Tidak cinta, tapi koq sudah punya anak." Mely mengulang ucapan Rili.


Kening Rili menyergit. "Tidak mungkin, Abang Rival memaksamu melakukan itu, sehingga kamu hamil. Dia bukan pria seperti itu. Jadi, kesimpulannya Adek salah paham besar kepada Abang Rival. Adek mengandung, kalian melakukannya atas dasar suka sama suka. Jadi, Abang Rival mencintaimu." Ucap Rili lembut, memberi pengertian kepada Mely.


"Tapi, Dia juga mencintai kakak." Ucapnya dengan raut wajah sedih. Air mata sudah membasahi pipi.


"Dia tidak mencintaiku sayang, kalau Dia mencintaiku. Tidak mungkin kami berpisah. Sudah ya, masalah kalian tidak besar. Tapi, Kak sangat terkejut mendengar cerita kamu sampai kabur dari rumah selama empat bulan dalam keadaan hamil besar.


"Stop memikirkan hal yang tidak penting, lihat anakmu. Kalau kalian bertengkar terus, karena alasan yang aneh. Yaitu Abang Rival mencintai ku. Kalau begitu, buat Dia mencintaimu seutuhnya." Ucap Rili masih dengan kelembutan menatap lekat mata Mely yang sudah memerah itu.


"Aku sudah berusaha, supaya Dia mencintaiku. Tapi, nyatanya Aku gagal."


"Itu karena Adek tidak sabar dan masih mementingkan Ego. Yang akhirnya merugikanmu. Kamu lalui kesendirian mu dalam keterbatasan saat hamil besar. Karena kesal kepada Rival.


Mely menangis, "Kak juga mencintainya ternyata." Ucapnya semakin mengencangkan tangisannya.


Di beranda rumah, Rival sedang menyambut keluarganya yang datang dari kampung. Sementara itu, Yasir sedang pamit ke toilet.


Rival memeluk semua anggota keluarga nya yang dari kampung.


"Ayo masuk.... " Rival memapah Ayahnya yang nampak lemah karena lelah. Perjalanan yang mereka tempuh tidak lah dekat.


Mama Durjana, nampak berpengangan tangan pada putrinya Sekar. Kakinya kebas, karena kelamaan menggantung di mobil.


Mila mengejar-ngejar anak kembarnya, yang langsung berlari ke taman, setelah turun dari mobil. Anak kembar yang aktif itu takjub melihat rumah Rival yang besar dan juga ada ayunan di taman.


Firman dan Amrin, mengekori Rival ke dalam rumah. Mereka duduk di sofa empuk di ruang tamu Rival.


Mata Mama Durjana, menyeroti setiap sudut ruangan rumah Rival yang bisa dijangkau matanya.


"Koq sepi?" tanya Mama Durjana.

__ADS_1


"Sebagian sudah berangkat ke rumah Ayah Bu. Kita juga sebentar lagi akan berangkat. Tapi, Ayah dan Ibu serta semuanya istirahat dan makan dulu." Ucap Rival ramah, menatap satu persatu keluarga nya dengan penuh rasa kebahagiaan.


"Kalau Mely dimana Nak?" tanya Mama Durjana lagi.


"Mely di kamarnya Bu." Ucapnya.


"Yuk Sekar, kita ke kamar kakak mu dulu." Mama Durjana dan Sekar berjalan menuju kamar Mely yang letaknya sudah ditunjukkan oleh Rival.


Sementara di dalam kamar Mely masih menangis. Rili sudah berusaha menjelaskan kepada Mely kalau Dia tidak mencintai Rival.


Dia memuji Rival, bukan karena Dia cinta.


Tapi, Dia ingin mempromosikan Rival. Agar Mely sadar dan merasa beruntung mendapatkan suami seperti Rival. Mely salah paham, yang membuat Rili jadi serba salah.


"Mely, Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai suamiku. Tolong, mengertilah. Jangan seperti ini." Ucap Rili prustasi, Dia merasa perutnya jadi kram. Dia memegang kedua bahu Mely, menatap lekat mata Mely. Agar Mely bisa tenang.


Paakkkk....


Suara pintu terdengar keras membentur dinding kamar. Pintu yang terbuka sedikit itu. Didorong keras oleh Sekar. Dia penasaran mendengar suara wanita yang menangis di dalam kamar. Dia berfikiran ada sesuatu yang serius terjadi di dalam kamar itu.


Pintu yang didorong keras itu, berulang kali mental dan kembali terbentur ke dinding.


Deg, saat itu juga Rily menoleh ke ambang pintu, dadanya bergemuruh. Tubuhnya bergetar, karena ketakutan melihat tatapan tajam wanita tua dihadapannya. Kejadian di kampung kembali melintas di pikiran Rili. Dimana Ibu mertuanya itu membuka jendela dengan keras di waktu shubuh. Suaranya persis seperti suara pintu barusan dibuka.


"Bo---u," ucap Rili dengan gugup, Dia takut bukan main. Dia bangkit dari duduknya. Berdiri dengan tubuh gemetar di sisi ranjanganya Mely.


"Ada apa ini? kenapa menantuku menangis? kamu apakan Di---a?!" ucap Ibu Durjana, dengan intonasi suara tinggi. Dia yang masih benci kepada Rili, karena Dia dipenjara. Belum memaafkan Rili seutuhnya.


Disaat Ibu Durjana mendekat ke arah mereka. Dengan tatapan sulit diartikan. Tatapan itu dingin dan membuat bingung.


"Kamu kenapa disini?" Ucapnya lagi.


Air mata menetes di pipi nya Rili. Dia pun merasakan perutnya semakin kram. Dia melihat Ibu Durjana jumlahnya lebih dari lima sedang mendekat kepadanya, dengan mulut komat-kamit. Membuat kepalanya pusing dan pandangannya jadi kabur...


Sebelum Rili ambruk tergeletak di lantai, Sekar berlari cepat menahan tubuh Rili.


"Kak .. Kak Rili....!" teriak Sekar sambil menangis. Sekar sangat menyukai Rili sejak dari awal dikampung. Dia sedih melihat Rili jatuh pingsan

__ADS_1


__ADS_2