
"Ma, Rili tidak mau melanjutkan perjodohan ini. Rili belum siap ma. Rili baru patah hati ma." Ucapnya pelan, sambil memegang paha ibunya. Rili takut pembicaraannya dengan ibunya di dengar oleh Rival. Rili ingin mamanya saja yang mengatakan keputusannya kepada Rival.
"Justru karena kamu lagi patah hati, maka kamu harus mencari gantinya. Kamu harus membuka hatimu lagi kepada pria lain. Jangan harapkan lagi pria yang kaya itu nak." Ucap mama Rili dengan menatap lekat wajah putrinya sembari menghapus air mata yang jatuh dipipi putihnya Rili.
Rili meraih tangan ibunya yang berusaha menghilangkan cairan bening yang jatuh dipipinya tersebut, kemudian dia menggenggam tangan ibunya. "Ma, Rili tidak mengharapkan Abang Yasir lagi, tapi Rili belum siap ma kalau harus menikah secepat ini." Ucap Rili dengan berusaha meyakinkan ibunya.
Rili sekarang mengubah posisi tubuhnya dengan bersandar di kepala ranjangnya dan kakinya dalam keadaan berseloncor.
"Sampai kapan kamu menutup hatimu nak, ingat umur. Biasanya kalau wanita sudah berumur 30 tahun, belum juga menikah. Maka, jodohnya akan semakin jauh." Ucap mama Rili.
"Kalau memang seperti itu takdirku ma, maka aku tidak bisa menolak. Kalau di umur 40 tahun jodohku datang, tidak apa-apa. Aku akan ikhlas menjalani hidupku." Ucap Rili dengan ekspresi wajah yang datar, matanya menatap lurus ke depan, menatap dengan penuh kehampaan.
"Coba dulu nak, seiring berjalannya waktu dan seringnya kamu bersalah Rival. Maka, mama yakin cinta itu akan tumbuh nak." Ucap Mama Rili sambil berusaha meraih dagu putrinya. Mama Rili berusaha membujuk putrinya tersebut.
"Menikah tidak bisa coba-coba ma, gimana kalau kami tidak cocok dan sama-sama menderita." Ucap Rili sambil menangis sendu. Sungguh Rili tidak habis pikir dengan pemikiran mamanya.
"Mama yakin, Rival bisa membuatmu bahagia, mama yakin kamu akan jatuh cinta padanya. Ini firasat mama nak." Ucap mama Rili sambil meraih tangan kanan putrinya dan menggenggamnya.
"Keyakinan dari mana yang mama dapatkan itu? kita belum kenal keluarganya ma. Terus dia itu tinggal jauh dari kita. Jarak tempat tinggal kita dengan Abang Rival itu jauh dipisahkan oleh dua kabupaten. Apa dia mau tinggal disini setelah menikah?" tanya Rili dengan beruntun dan penuh dengan air mata.
Mama Rili diam sejenak, wanita yang sudah berambut putih itu, mencerna kata-kata yang diucapkan putrinya
"Diajaran agama dan adat kita, seorang wanita yang sudah menikah, maka wanita itu akan mengikuti kemanapun suaminya membawanya." Ucap mama Rili.
"Aku tidak mau ma, kalau harus jauh dari Ayah dan mama. Kalaupun harus menikah, Aku ingin tinggal di kota ini saja. Walau tidak satu atap sama Ayah dan mama." Ucap Rili dan menggoyang lengan mamanya.
"Kalau nak Rival ingin berhijrah dan tinggal disini, apa kamu mau menikah dengannya?" tanya mama Rili.
__ADS_1
Rili yang mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya, malah membuat wanita itu bingung. "Aku tidak mau menikah dengannya ma." Ucapnya sambil menangis dan membaringkan tubuhnya kembali, kemudian membelakangi mamanya tersebut. Dia menangis dan mengambil bantal untuk dipeluknya.
"Udah jangan menangis lagi. Bentar lagi Tante Ros akan datang memijat kakimu yang terkilir." Ucap mamanya sembari mengusap kepala belakang putrinya tersebut dan berlalu pergi meninggalkan putrinya yang lagi galau itu di kamarnya.
Di ruang tamu nampak Rival dan Ayah Rili sudah akrab. Mereka membahas politik dan kasus Bank Century yang lagi hangat-hangatnya diberitakan di Tv dan surat kabar.
Melihat istrinya keluar dari kamar putrinya tersebut, membuat ayah Rili dan Rival menghentikan topik hangat yang mereka bincangkan.
Mama Rili kembali duduk di sebelah suaminya. "Nak Rival, ada yang ingin ibu tanyakan?" ucap mama Rili dengan melihat dengan seksama Rival yang ada di depannya yang dibatasi oleh meja di ruang tamu tersebut.
"Iya Bu, ibu mau menanyakan apa?" jawab Rival dengan sedikit suara yang agak gemetar. Entah kenapa melihat ekspresi wajah mama Rili yang keluar dari kamar Rili dengan ekspresi seperti kabut hitam. Sehingga membuat Rival kembali takut di tolak.
"Begini, seumpama nak Rival dan nak Rili berjodoh dan menikah. Nak Rival akan tinggal di mana?" tanya wanita yang memakai kerudung instan warna toska yang panjang menutupi dada sampai perutnya.
Mendengar pertanyaan mama Rili, Rival sedikit lega. Rival berpikir Rili tidak menolaknya.
"Diajaran agama kita jelas dikatakan bahwa seorang istri harus mengikuti suaminya. Karena, setelah menikah seorang suami bertanggung jawab penuh kepada istrinya." Jawab Rival dengan tersenyum.
"Sebenarnya Bu, saya tidak mempermasalahkan mau tinggal dimana? Di kota kelahiran sayapun boleh merantau ke kota ini pun saya tidak keberatan, sejak tamat MA( Madrasah Aliyah) saya sudah merantau Bu." Ucap Rival mencoba menenangkan orang tua Rili.
"Itu dia yang ibu pikirkan, kalau sudah menikah bagaimana kehidupan kalian, secara nak Rival pun ada kerjaan di kampungnya dan Rili pun sudah terikat jadi PNS disini. Apa kalau kalian berjodoh, untuk sementara kalian pisah rumah. Nak Rili disini dan nak Rival di kampungnya." Ucap mama Rili dengan melirik suaminya dan nak nak Rival secara bergantian.
"Sebaiknya sebuah keluarga itu tinggal bersama ma. Setelah menikah, semua keputusan dan tanggung jawab sudah beralih kepada anak Rival. Jadi, kita harus memberi kepercayaan penuh kepadanya." Ucap Ayah Rili dengan melihat Rival.
Rival langsung bisa membaca pikiran mama Rili, Mama Rili pasti khawatir putrinya tidak bisa dibuat bahagia olehnya.
"Begini Bu, kalau kami berjodoh. Untuk sementara biarlah kami berjauhan. Rili disini dan saya di rumah orang tua saya." Ucap Rival dengan sedikit berat hati.
__ADS_1
"Mengapa seperti itu?" tanya ayah Rili.
"Pak, saat ini kondisi keuangan saya lagi tidak baik. saya hanya bekerja serabutan. Tentu putri bapak, akan merasa tidak bahagia, apabila saya tidak bisa menafkahinya. Benar kata ibu, mengurus pindah memakan waktu dan uang yang tidak sedikit, apalagi kita tidak punya koneksi orang dalam, maka mengurus pindah itu tidak mudah." Ucap Rival dengan sedikit malu, dia menurunkan lagi harga dirinya.
Ayah Rival yang mendengar pernyataan Rival, dibuat bimbang. Benarkah keputusannya menikahkan putrinya dengan Rival adalah keputusan yang tepat.
"Jadi, seperti apa rencananya nak?" tanya Pria yang memakai baju Koko cream serta peci dengan warna senada dengan baju Kokonya.
"Kalau berjodoh dengan Rili, untuk sementara. Rili tinggal disini dan saya tinggal di kampung saya seperti yang sudah saya katakan tadi. Saya sampai hari ini masih terus mencari pekerjaan yang layak. Saya masih selalu menjatuhkan lamaran pekerjaan keperusahaan di kota tempat tinggal saya dan saya juga akan menjatuhkan lamaran dikota ini." Ucapnya.
"Saya sebenarnya tidak keberatan untuk tinggal di kota ini, tapi saya merasa tidak berharga sebagai suami. Apabila saya tidak punya pekerjaan dan istri saya harus pergi bekerja." Ucapnya dengan sedikit menunduk, dia malu dengan dirinya yang tidak punya harta untuk dibanggakan.
"Baiklah, ibu sudah bisa menyimpulkan semuanya. Mendengar jawaban nak Rival, sepertinya nak Rival bukan tipe pria yang keras kepala." Ucap Mama Rili.
"Iya Bu, terima kasih." jawab Rival.
"Rili putri kami ingin diberi waktu berpikir, dia tidak ingin memutuskan sesuatu dengan instan. Maka beri dia waktu berpikir Selama satu bulan ini," ucap mama Rili dengan intens menatap Rival.
"Rili juga tidak mengekang nak Rival selama satu bulan ini, seumpama dalam satu bulan ini nak Rival menemukan calon lain yang lebih baik. Maka Rili bukan jodoh nak Rival." Ucap mama Rili dengan tersenyum. Wanita itu menyampaikan berita bohong kepada Yasir, jelas. tadi Rili tidak mau menikah dengan Rival.
Rival yang mendengar ucapan mama Rili dibuat senang, wajah pria itu memancarkan sinar kebahagian yang dihiasi dengan senyum mengembang, kedua tangannya ditautkan dan saling menggesek. Dia ingin menghangatkan tangannya yang sempat dingin karena takut ditolak.
Rival tidak tahu bahwa sebenarnya ibu Rili berbohong.
Ibu Rili yang melihat ekspresi Rival yang bahagia tersebut, berdoa dalam hati semoga dalam satu bulan ini Allah membukakan pintu hati putrinya, agar mau menikah dengan Rival.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon beri like, coment dan vote. Agar author lebih semangat untuk menulis.
Terima kasih.