
"Siapa sayang?" ucap Mely dengan mata masih terpejam. Dia masih menikmati permainan yang baru mereka lakukan
"Indah." Ucap Rival, Dia masih menatap layar ponsel Mely.
"Coba angkat sayang dan speaker kan ya?" ucap Mely malas. Dia masih berbaring di dalam selimut. Rasanya Mely malas untuk mendengar kabar yang akan disampaikan teman satu kelasnya itu di kampus.
"Mely gila...!" terdengar suara sangat keras dari sambungan telepon, yang membuat Rival terkejut dan langsung menjauhkan Ponsel itu dari tatapannya. Sungguh suara Indah, tidak seindah namanya.
"Apaan sih? koq teriak-teriak." Ucap Mely kesal, masih menutup matanya. Sedangkan Rival berjalan cepat menuju kamar mandi, setelah Dia meletakkan Ponsel Mely di atas ranjang dekat Mely berbaring.
"Lusa terakhir pendaftaran untuk sidang skripsi, kalau kamu mau ikutan wisuda bulan depan." terdengar suara Indah tak kalah kesal menjawab pertanyaan Mely. Gimana tidak kesal, Mely sendiri yang berpesan, kalau ada informasi tentang urusan kampus Dia segera dihubungi.
"Kalau itu kan Aku sudah tahu." Ucap Mely, Dia pun bangkit dan menyandarkan punggungnya di head board tempat tidur.
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu belum mendaftar. Dan tiba-tiba menghilang sudah empat hari tidak muncul di kampus. Bukannya kamu bilang, mau fokus dan harus wisuda bulan depan?" ucap Indah.
"Eehhmmm..." Jawab Mely malas. Entahlah, setelah baikan dengan Rival. Dia rasanya malas memikirkan skripsi Dia masih ingin bersama terus dengan Rival, tanpa harus memikirkan karya ilmiah yang membuat otak panas itu.
"Kamu kenapa seperti tidak semangat begitu?" ucap Indah dengan penasaran nya. Dia heran, padahal seminggu yang lalu Mely sangat semangat untuk menyelesaikan studi nya itu.
"Entahlah, terimakasih banyak ya Indah sudah mengingatkanku. Semoga mood ku kembali. Assalamualaikum." Mely pun mematikan ponselnya. Dia tidak sadar ada Rival yang sudah berdiri di sisi kanan tempat tidur.
"Sayang, cepatlah mandi." Ucap Rival, menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos Mely. Sehingga terpampang tubuh indah istrinya itu yang kini sedang telentang. Ingin rasanya Rival menungganginya lagi.
"Mandiin dong...!" Mely terseyum dengan membuka satu matanya melirik ke arah suaminya itu. Yang membuat Rival gemes dan tak sabar untuk melahap istri cabe rawit ya itu.
Dengan satu gerakan, Mely sudah berada dalam gendongan Rival. Dia membopong tubuh istrinya itu sambil berlari ke dalam kamar mandi. Sungguh tubuh istri cabe rawit nya itu, seperti kapas saja. Rival sama sekali tidak merasa berat.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang, nanti kaki Abang sakit lagi loh." Ucap Mely dengan tertawa kecil dan malu-malu.
"Sudah sembuh, seperti tangan Adek yang cepat sembuhnya." Ucap Rival dan langsung menyalakan shower Dia memandikan Mely dengan sentuhan plus-plus. Yang membuat keduanya terhanyut dalam aliran irigasi.
Setelah selesai bercocok tanam dengan bantuan aliran irigasi, kini keduanya nampak sedang menikmati sarapannya di balkon kamar Hotel tempat mereka menginap.
"Indah itu siapa?" tanya Rival, Dia sudah selesai melahap nasi gorengnya. Kemudian Dia menyeruput teh nya.
"Teman satu kampus." Ucap Mely dengan lahapnya memakan ayam goreng fried chicken dicocol dengan saus extra pedas. Yang membuat saos belepotan di bibir tipis nya Mely.
"Ada masalah di kampus?" Rival sudah ingin tertawa melihat pinggir mulut istrinya itu yang belepotan. Mely seperti balita saja, makan tidak becus.
"Tidak ada sayang. Indah hanya mengingatkan tanggal akhir pendaftaran untuk ikut sidang. Masih asyik menyantap Ayam goreng fried chicken, yang sudah dua potong Mely habiskan.
"Adek kenapa belum daftar. Apa Adek tidak ingin cepat wisuda?" tanya Rival dengan penasaran nya.
"Tadinya pingin mendaftar, tapi setelah hubungan kita sudah seperti ini. Adek jadi malas memikirkan skripsi itu. Izinkan otak dan pikiran ku ini hanya memikirkan Abang seorang." Mely kembali menggoda suaminya itu dengan mengedipkan matanya.
"Abang akan senang, jika Adek menyelesaikan studinya dan hubungan kita tetap baik-baik saja."
"Pinginnya sih begitu. Tapi, kalau sudah memikirkan Skripsi, muka bawaannya kusut." Jawab Mely malas.
"Begitukah?" tanya Rival bingung.
"Iya Bang." Jawab Mely cepat.
"Siang ini kita pulang. Besok Abang temani Adek di kampus ya?" ucap Rival, kini Dia beranjak dari tempat duduknya. Berdiri dihadapan Mely. Mendekatkan wajahnya, yang membuat Mely bertanya-tanya. Akan sikap suaminya itu.
__ADS_1
Rival membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke wajah Mely yang membuat Mely Dag Dig dug. Kira-kira suaminya itu mau apa?
Masih memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan suaminya itu. Dengan cepat Rival sudah melap saus yang menempel di pinggir bibir Mely dengan lidah dan bibirnya. Yang membuat kedua bola mata Mely membulat, dan jantungnya berdegup kencang.
"Makan saja tidak becus. Pantesan baru dapat satu tantangan untuk menyelesaikan skripsi, sudah menyerah." Ucap Rival, Dia kembali membersihkan sisa Saus di sisi bibirnya Mely.
"Sudah bersih. Ayo kita beres-beres." Rival menarik pelan lengan istrinya itu. Mereka pun mempacking barang-barangnya.
"Kita harus cepat sampai, agar Adek bisa menyelesaikan skripsinya dan besok tinggal mendaftar." Ucap Rival memasukkan baju-bajunya dengan baju-bajunya Mely ke koper. Sedangkan ransel Rival yang sudah lusuh dan jelek itu. Langsung dicampakkan Mely ke tempat sampah.
"Kenapa tas ransel Abang dicampakkan ke tong sampah sayang?" ucap Rival sedih, Dia hendak memungut tasnya kembali. Tapi Mely langsung melarang nya, yang membuat Rival menohok dengan ucapan istrinya itu.
"Buanglah mantan pada tempatnya." Ucap Mely dengan nada tegas dan muka sedikit seram. Yang membuat Rival mengurungkan niatnya untuk memungut tas itu kembali. Dia sungguh bingung dan heran dengan ucapan istrinya itu.
"Mantan?" ucap Rival spontan, yang membuat Mely Kembali cemburu. Entahlah, Dia akan kesal mengingat foto yang ditemukan nya di dalam Tas ransel itu.
"Iya, foto mantan Abang ada di dalam Tas ransel itu kan? makanya Abang tidak mau tas nya dibuang, berserta foto-fotonya
Karena Abang masih mencintainya dan selalu merindukannya kan?" ucap Mely lembut, air mata sudah membanjiri pipinya. Dia tidak mau terlalu emosional seperti sebelumnya, yang membuat Rival menjauh darinya.
Rival sangat terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Kenapa istrinya itu mengetahui Rival menyimpan foto Rili dan juga foto kebersamaan mereka.
Rival diam tak bergeming. Sungguh, jikalau mendengar nama Rili disebut. Maka suasana hati nya akan berubah menjadi kacau. Dia memang masih ada rasa untuk istrinya itu. Tapi bukan berarti Dia tidak serius dengan Mely.
"Kalau Abang sayang kepada ku. Biarkan tas ini ku bakar." Mely berjalan menuju tempat sampah mengambil tas Rival dan akan membakarnya.
"Terserah Adek mau lakukan apa. Abang jelaskan panjang kali lebar pun, pasti Adek tidak akan bisa mempercayainya.
__ADS_1
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote ya kak. Silahkan berikan vote bunga, kopi dan rekomendasi.🙏🤭🤗😍