Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Aku mencintainya


__ADS_3

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Jelita dengan herannya. Rival tidak mengangkat atau pun menolak panggilan. Malah dibiarkannya ponselnya itu berdering terus.


"Biarin saja, nanti diangkat malah bertengkar." Ucap Rival dengan malasnya. Dia masih tetap saja membuang pandangannya ke hamparan Danau yang luas. Mencoba menenangkan hatinya yang masih kesal kepada Mely.


Jelita memperhatikan ponsel Rival yang berdering dan bergetar terus. Nama Mely terus saja memanggil.


"Bukannya yang menelpon ini istrimu? disini yang memanggil, namanya Mely?" tanya Jelita, memperhatikan ponsel Rival yang berwarna hitam yang tidak pernah berhenti berdering itu. Ini sudah lima kali, panggilan tidak dijawab Rival.


"Iya. Yang menelepon memang istri saya." Jawab Rival datar. Masih setia memandangi hamparan Danau yang luas.


"Kenapa tidak diangkat? coba angkat, siapa tahu penting?" Jelita masih saja memaksa Rival dengan mengambil ponsel yang tergeletak di lantai pondok dan menyodorkannya. Rival menerima ponsel itu. Tapi, tidak mau menerima panggilan Mely.


"Kami sedang bertengkar. Dia lagi kesal padaku. Aku juga seperti itu. Jadi, Aku malas mengangkatnya. Nanti malah bertengkar." Ucap Rival jujur. Dia benar-benar takut, mereka akan bertengkar jika komunikasi melalui udara.


"Suasana hatiku sedang buruk. Aku takut terpancing, kalau bicara dengannya. Dia kalau bicara tidak enak didengar, kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu pedas." Ucap Rival dengan berdecak kesal. Dia nampak frustasi. Dia juga manusia biasa, yang mempunyai batas kesabaran. Dia bukan Tuhan, yang maha mengetahui apa isi hati seseorang.


"Tapi, kamu mengabaikannya begini. Malah membuat keadaan makin runyam nanti. Coba kamu angkat. Bicaranya jangan pakai emosi." Ucap Jelita, mencoba memberi pengertian dan masukan kepada Rival.


"Entahlah, Aku sedang malas bicara dengannya. Semua yang kulakukan selalu salah dimatanya. Aku sudah minta maaf pun. Tetap kesalahan ku diungkit-ungkit. Aku mulai merasa tidak nyaman bersamanya." Ucap Rival dengan lirih. Dia tidak ingin perasaan ini muncul di hatinya. Tapi, nyatanya itu yang dirasakannya sekarang. Mengingat Mely membuat suasana hatinya jadi buruk.


"Emang masalah kalian seberat itu? sehingga kau mengabaikan istrimu yang baru melahirkan?" tanya Jelita, menatap Rival, yang kini juga menatapnya dengan tatapan bingung.


"Tidak berat, tapi Dia yang membuat semuanya jadi terasa berat untuk dijalani." Ucap Rival.

__ADS_1


"Kenapa hanya menyalahkan istrimu? apa kamu sedikit pun tidak merasa bersalah juga?" tanya Jelita, memegang lengan atas Rival. Dia menegur Rival dengan penuh perasaan dan penghayatan.


Rival berdecak kesal, mengalihkan pandangannya dari Jelita. Sepertinya Dia harus cerita masalahnya kepada mantannya yang selalu pengertian itu


"Aku sudah mengakui kesalahanku. Dia juga sudah menghukum ku dengan sangat berat sekali. Karena kesalahan itu. Dia meninggalkan ku selama empat bulan, saat Dia Hamil besar. Dan kami baru bertemu saat Dia akan melahirkan.


"Empat bulan berpisah dengannya. Membuatku benar-benar menyadari bahwa Dia sangat berarti untukku. Walau sifatnya yang kekanak-kanakan. Tapi, Dia orangnya baik dan ceria. Dia benar-benar wanita yang berbeda." Ucap Rival menarik napas dalam. Dia pun kembali menatap Jelita yang masih setia mendengarkan ceritanya.


"Terus masalahnya apa?" Jelita tidak sabar mendengarkan inti permasalahannya.


"Gimana menceritakan nya padamu, Ceritanya panjang sekali. Satu hari tidak akan selesai menceritakannya." Ucap Rival terseyum kecut.


"Ceritakan inti permasalahannya saja." Jelas Jelita.


Rival kembali menghela napas, mencoba menyusun kata yang pas. Agar Jelita cepat mengerti masalahnya.


"Awal mula permasalahan adalah, kata Si Mely. Aku sering menyebut namanya Rili mantan istriku. Baik sedang tidur atau kami sedang penyatuan. Tapi, sungguh Aku tidak menyadari itu." Ucap Rival serius. Jelita mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rival.


"Kamu menyebut nama mantan istrimu, saat kalian bersama? itu namanya kamu keterlaluan." Jelas Jelita dengan tersenyum mengejek. Rival jadi sedikit kesal melihat ekspresi Jelita, yang seperti mengolok olok nya.


"Itu kata Mely. Aku tidak merasa menyebut namanya." Rival membela diri.


"Kamu segitu cintanya kepada mantan istri. Sehingga saat istri Mely, selalu sebut nama mantan istri. Ya jelaslah Mely nya cemburu. Kenapa kamu gak sebutin namaku juga sekalian?" tanya Jelita dengan tertawa kecil. Dia merasa lucu mendengar cerita Rival.

__ADS_1


"Kamu sudah lama saya lupakan. Mana ingat lagi." Ketus Rival, mulai jengah lihat Jelita yang tidak serius mendengarkan curhatan nya.


"Tadi ngajak nikah. Koq sekarang bilangnya sudah lama melupakan." Ucap Jelita pura-pura cemberut.


"Udah aah, jangan bahas itu lagi. Aku serius ini." Rival menampakkan wajah kesal.


"Lanjut, Aku belum bisa kasih saran. Kalau Ceritanya tidak dilanjut." Ucap Jelita. Dia benar-benar tertarik dengan masalah mantan terindah nya ini.


"Ya masalahnya hanya itu. Dia tidak bisa terima kenyataannya, Kalau Aku duda. Ditambah Dia mikirnya, Aku tidak bisa melupakan mantan istriku Rili. Padahal Aku sudah melupakannya dan tidak mencintainya lagi.


"Setelah merenung, saat Mely meninggalkan ku selama empat bulan. Aku baru menyadari bahwa rasa yang tertinggal buat Rili bukanlah rasa cinta. Tapi rasa kasihan dan rasa bersalah. Sehingga, Aku dihantui rasa bersalah itu." Jelas Rival dengan mata berkaca-kaca. Sungguh kalau Dia mengingat Rili yang babak belur dibuat Ibu Durjanna. Dia akan sangat sedih.


"Berarti, kamu baru menyadari kalau kamu mencintai istrimu. Setelah kamu ditinggal pergi Mely selama empat bulan?" tanya Jelita, memastikan dugaannya.


Rival mengangguk. "Aku sudah minta maaf. Mengatakan padanya kalau Aku sungguh mencintainya sekarang. Dan hanya akan hidup bersama nya. Membesarkan anak kembar kami. Tapi, Dia kembali buat tingkah." Ucap Rival mengusap wajahnya kasar. Bangkit dari duduknya menendang botol minuman kosong yang ada didepannya sehingga melayang ke permukaan Danau.


Jelita melihat keputusasaan dalam diri Rival. Jelita pun bangkit dari duduknya. Mengikuti Langkah Rival menuju bibir Danau.


"Lagi-lagi cemburu butanya dimainkannya. Dia kembali cemburu buta kepada Rili. Sehingga. membahayakan nyawa Rili.


"Kamu tahu gak Jelita? saat aku mengetahui Rili pingsan dan dibawah ke Rumah sakit. Rasa bersalah Kembali menerjang ku hingga beribu kali lipat, dari rasa bersalah sebelumnya. Aku kecewa kepada Mely." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Memegang lengan atas Jelita dengan kuat. Dia benar-benar kesal kepada istrinya itu.


Jelita tidak tahu lagi harus berkata apa. Mungkin lebih baik, Dia jadi pendengar yang Budiman. Sebelum ikut campur dengan masalahnya Rival.

__ADS_1


"Aku sangat mencintainya. Aku juga sangat merindukannya. Empat bulan berpisah dan kami baru bersama selama empat hari. Dan selama empat hari itu. Aku selalu memohon maaf kepadanya. Melakukan semua keinginan nya. Agar Dia percaya kepadaku bahwa aku mencintainya. Aku hanya mencintai nya sekarang. Tidak mencintai mantan istri ku lagi. Tapi, semuanya tidak ada gunanya lagi. Rasa cinta yang kurasakan kepadanya kembali diuji.


"Ya sekarang Aku sedang ujian. Aku sedang mengevaluasi diriku. Pantaskah Aku bersanding dengannya. Baikkah Aku untuk kehidupannya. Itu yang sedang ku pikir kan sekarang." Ucap Rival dengan penuh penghayatan, Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Rasanya semakin sesak setelah curhat kepada Jelita. Dia malu kepada mantannya itu.


__ADS_2