
"Berarti Abang ada niat untuk kembali kepada mantan istri Abang itu." Mely sudah menangis sesunggukan dihadapan Rival.
Rival garuk-garuk kepala, Dia bisa cepat botak punya istri yang labil seperti Mely.
"Kalau Abang ingin kembali, untuk apa Abang bercerai dengannya." Rival beranjak dari ranjang yang diduduki nya. Dia menatap Mely yang masih menangis itu. Kemudian Dia menjawir dagu Mely dengan lembut.
"Saat ini dan selamanya hanya Adek wanita Abang. Abang harap, Adek jangan membahas-bahas masa lalu Abang lagi." Rival menatap lekat wajah istrinya yang childist itu.
"Tapi, Abang tidak mencintai ku, tidak menyayangiku." Mely kesal, Dia menepis tangan Rival yang menjawir dagunya
"Siapa bilang?" Rival meraih Mely ke dalam dekapannya. Mengelus lembut punggung Mely yang masih menangis sesunggukan itu.
"Hati Adek yang bilang." Masih menangis dan melap ingusnya di kaos yang dikenakan Rival.
Sabar...sabar...
"Sekarang dengarkan Abang." Rival melepas dekapannya, memegang kedua bahu Mely dan menatap lekat kedua bola mata istrinya itu.
"Di hati Abang ini sekarang penghuninya adalah Mely Anisah Ajib. Abang akan merasa sedih,resah dan gelisah. Apabila istri Abang yang cantik ini selalu merajuk dan marah-marah tidak jelas."
"Adek marah, karena alasan yang jelas." Langsung memotong ucapan Rival.
"Karena mantan istri Abang?" ucap Rival masih memegang kedua bahu Mely.
"Iya." Jawabnya kembali menangis.
"Astaga Dek, sejak Adek bilang Abang salah sebut nama. Abang sudah berusaha melupakan masa lalu Abang. Apa ada Adek dengar Abang menyebut namanya lagi? tidak kan?" Rival hampir frustasi menjelaskannya kepada Mely, sepertinya masalahnya itu-itu saja. Yaitu Mely yang tidak bisa menerima masa lalu Rival.
"Jangan menangis lagi. Kalau benar Adek cinta dan takut kehilangan Abang. Buat Abang nyaman. Terimakasih kekurangan Abang yang Duda miskin ini. Kalau Adek tidak bisa menerima kenyataan itu. Pasti nanti Adek akan bertingkah tidak jelas lagi seperti saat ini."Rival melap air mata Mely, kemudian mendekapnya kembali.
"Abang cinta dan sayang kan kepada ku?" tanyanya dengan suara gemetar dalam dekapan Rival.
"Iya, Cinta dan sayang." Jawab Rival lembut.
"Terimakasih." Ucapnya mendongak, Rival pun mencium kening Mely.
__ADS_1
"Ini terakhir kita bahas mantan istri Abang ya? jangan buang-buang tenaga dan fikiranmu memikirkan Dia. Dia saja mungkin sudah bahagia dengan suaminya sekarang. Kalau pun Abang ingin kembali. Mana mungkin Dia mau sama Abang yang miskin ini." Ucap Rival yang membuat Mely kembali marah. Dia langsung melepas pelukan suaminya itu.
"Itukan ada niat untuk kembali." Mely kesal dan cemberut.
"Astaghfirullah.... !" Rival sudah mulai pusing, bicara dengan istrinya ini. Sungguh sangat sensitif.
"Itu seumpama. Bukan mau balik." ucap Rival kesal. Dia merasa buang-buang tenaga saja berdebat dengan istrinya ini.
"Kalau tidak bisa menerima status Abang dan mengungkit itu lagi. Ya sudah, terserah Adek saja mau nya apa sekarang. Pusing Abang dari tadi Abang sudah jelaskan. Kamunya tidak connect." Rival berjalan ke arah koper mereka. Dan menyeret koper itu.
"Tunggu dulu," Mely langsung berjalan cepat dan menahan tangan suami nya itu.
"Tenangkan hatiku dulu." Ucapnya dengan sendu. Yang membuat Rival ingin tertawa, tapi Dia masih kesal sama istrinya itu.
"Katakan bagaimana cara menenangkannya?" Rival sungguh tidak bisa memahami cara berfikir Mely. Sudah dijelaskan tadi panjang lebar. Bahwa Dia tidak mau mengingat masa lalunya. Tapi Mely selalu membuat status Rival sebagai bahan pertengkaran.
"Katakan kamu hanya mencintaiku." Ucap Mely dengan tidak tahu malunya.
"I love you." Ucap Rival cepat.
"Koq begitu sih, cara ungkapinnya?" Mely tidak terima, Dia merasa Rival tidak serius.
"Ucapinnya dengan penghayatan." Ucap Mely berbalik, membelakangi Rival dengan menggerutu dalam hati. Rival diam memandangi punggung istrinya itu. Sungguh, ini wanita rada-rada lari kiloannya.
Dengan lembut Rival melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mely, yang membuat Mely tersontak kaget. Jantungnya langsung berdetak cepat.
"I love You." Bisiknya di telinga Mely. Dia pun mengecup telinga Mely setelah menyisipkan rambut Mely ke daun telinganya. Perlakuan Rival membuat hati Mely begitu senang. Dia pun tersenyum. Memegang tangan Rival yang membelit di pinggangnya.
"Jangan marah tidak jelas lagi. Abang mencintaimu. Abang akan sedih, jika Adek marah-marah begini." Ucap Rival lembut, bibir tipisnya pun mulai menjelajahi ceruk leher Mely yang jenjang dan indah itu. Yang membuat Mely membalikkan badannya sehingga keduanya bersitatap dengan tatapan saling mendamba.
Melihat tatapan istrinya itu, membuat gairah Rival tersulut. Sehingga bibirnya pun mulai mengecup bibir Mely yang memang sudah sangat ingin disentuh itu.
Mereka pun akhirnya melakukan kegiatan bercocok tanam lagi. Rival sangat berharap, Mely bisa tenang. Setelah mereka melakukan penyatuan.
Tidak ada niat Rival saat ini kembali kepada mantan istrinya. Dia bukan jenis manusia yang larut dalam masa lalu. Ada Mely sekarang yang menjadi masa depannya. Untuk apalagi Dia memikirkan mantan istrinya yang jelas-jelas tidak mencintainya.
__ADS_1
Begitulah sekarang pemikiran Rival. Tapi, hati manusia bisa berubah. Karena Allah yang maha membolak-balikkan perasaan ummatnya. Semoga Rival Istiqomah dengan ucapannya dan tidak ada niat kembali kepada mantan istrinya itu.
Saat bercocok tanam. Rival berusaha untuk menyenangkan Mely dengan menyebut namanya lembut disaat pelepasan. Hal itu membuat Mely sangat senang. Mely pun yakin, saat ini hanya dirinya lah di hati suaminya itu.
🌻🌻🌻
Kini mereka sedang diperjalanan menuju pulang ke kota M. Sepanjang perjalanan, Mely tidak bosan-bosannya menghadiahi Rival kecupan-kecupan kecil di wajah atau pun tangan Rival yang selalu digenggamnya.
Sehingga Pak supir yang mobilnya mereka rental sedikit risih.
"Pengantin baru ya Pak?" ucap Pak supir, menatap pasangan itu dari kaca spion. Nampak Mely sedang menyandarkan kepalanya di bahu Rival. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kanan Rival.
Rival tersenyum melihat Pak supir dari kaca spion dan melihat ke arah Mely yang bermanja-manja di di bahunya.
"Iya Pak." Jawab Rival tersenyum, Dia pun mencium kening Mely yang juga senyum-senyum tak tahu malu itu.
"Jadi kangen istri." Ucap Pak supir tertawa kecil.
"Maaf ya Pak, tidak ada maksud memamerkan kemesraan. Tapi jujur, Aku sayang banget sama Suami Ku. Inginnya nempel terus kayak perangko." Ucap Mely menatap suaminya itu. Sungguh Mely tidak tahu malu. Yang membuat Rival geleng-geleng kepala.
"Suka-suka mu lah Dek, nanti dilarang merajuk lagi. Dibilang lah tidak cinta, tidak sayang." Rival membathin, Dia pun memencet hidung Mely dengan gemas.
Mungkin Dia yang harus lebih bersabar menghadapi Mely yang usianya terpaut jauh darinya itu.
"Iya Non, suaminya harus dikekep terus. Sosor terus. Jangan kasih kendor." Pak Supir yang gesrek itu tertawa. Bisa-bisa Pak supir banyak pertanyaan.
"Iya Pak." Jawab Mely Dia kini malah memeluk Rival. Yang membuat Rival protes.
"Jaga sikap." Ucap Rival menatap tajam. Yang membuat Mely melepas pelukannya, tapi Dia malah merebahkan tubuhnya dan membuat paha Rival sebagai bantal.
"Iya Non, mana suaminya cakep gitu. Awas loh banyak yang godain." Pak supir memanas-manasi Mely.
"Mana Berani Dia Pak." Ucap Mely tersenyum.
"Ooh. Sudah kena mantra-mantra ya Bang?" tanya Pak supir yang sok akrab.
__ADS_1
"Iya Pak." Jawab Rival cepat.
TBC