Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Belum memaafkan


__ADS_3

Suara Alarm yang nyaring membangunkan Yasir dari tidur pulasnya. Dengan mata masih tertutup, Dia mengelus lengan Rili yang masih dalam dekapannya. Suami istri ini, akan selalu berpelukan sepanjang malam disaat tidur.


Yasir rela tangannya kram disaat bangun tidur. Karena Rili membuat tangannya sebagai bantalnya. Sebenarnya diawal-awal menikah, Rili tidak menyukai dirinya menempel terus kepada Yasir saat tidur. Dia merasa kurang nyenyak dan badannya akan terasa sedikit pegal disaat bangun.


Tapi, Yasir inginnya seperti itu. Jadilah Rili terbiasa setiap malam tidur dalam dekapan Yasir. Sentuhan lembut Yasir di lengan dan menjalar ke perut Rili yang sudah nampak buncit itu, membuatnya terbangun. Rili yang sudah terbangun itu, masih pura-pura tertidur. Dia sangat menyukai tangan Yasir, apabila mengelus-elus bagian tubuhnya. Rili merasa begitu disayang dan dipuja.


Lama Yasir mengelus-elus perut Rili dengan berdoa dalam hati, semoga anak mereka kelak menjadi anak yang Sholeh.


"Richay, bangun...." Ucap Yasir lembut ditelinga Rili yang membuat Rili bergidik, karena kegelian.


"Eehhmmmm..." ucap Rili sambil mengubah posisi yang lebih nyaman saat dipeluk suaminya itu.


"Koq pelukannya malah semakin dieratkan?" tanya Yasir tersenyum bahagia. Inilah yang sangat membahagiakan dalam hidupnya. Akhirnya bisa bersama dengan Rili setiap malam.


"Dingin.... Masih kantuk juga, masih pingin dipeluk." Ucap Rili dengan suara parau. Semakin menaikkan kepalanya ke dada Yasir yang bidang dan liat itu. Tubuh polos mereka bergesekan, yang membuat junior Yasir tambah tegang. Sudah tadi saat bangun juniornya sudah bangun duluan. Ditambah tingkah istrinya yang manja, membuat juniornya semakin tegang saja.


"Mandi Yuk, terus kita sholat. Ini sudah setengah enam loh." Ucap Yasir sembari menahan hasrat birahinya yang sudah tersulut. Karena Bukit kembar Rili yang semakin montok itu, bergesekan ke dadanya Yasir.


"Baiklah, tapi gendong...!" ucap Rili manja, mendongak menampilkan wajah puppy eyes nya yang membuat Yasir gemes.


"Apasih yang tidak untukmu sayang. Tidak usah diminta gendong. Abang akan gendong koq." Ucap Yasir, menjepit hidung Rili dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.


🌄🌄🌄


Di rumah sakit.


Putrinya Rival menangis, Rival yang baru selesai sholat shubuh itu. Langsung bergerak menggendong putrinya itu. Sesaat Rival baru sadar kalau putrinya itu pup. Dengan tersenyum, Dia mulai membersihkan putrinya itu. Saat itu juga Mama Maryam menghampirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ma, kenapa pup nya berwarna hitam?" tanya Rival bingung dan takut. Setahu Dia kalau kotoran orang sudah hitam, itu tandanya akan meninggal. Dia takut itu terjadi kepada putrinya.


Mama Maryam tersenyum memperhatikan cucunya. "Bayi yang baru lahir itu fesesnya memang warna hitam. Feses Ini disebut sebagai mekonium dan mengandung lendir, sel kulit, dan cairan ketuban yang ditelan bayi selama dalam kandungan." Jelas Mama Maryam. Sambil membantu Rival mengganti popok Putrinya.

__ADS_1


"Mama tahu dari mana penjelasan itu? setahu Rival kalau feses sudah berubah warna jadi hitam. Maka itu tanda-tanda akan meninggal." Ucapnya, kini Dia hanya memperhatikan mertua, sekaligus Ibu tirinya itu mengganti popok putrinya.


"Mama juga dulu seperti kamu panik, lihat kotorannya Mely warna hitam. Ya Mama tanya Dokternya. Begitulah penjelasan Dokternya." Terang Mama Maryam.


"Sana kamu buatin susu untuk putrimu!" titah Mama Maryam, menggendong cucunya sambil berdendang Ria lagu Sinanggar tullo. Yaitu lagu dari suku Batak.


"Koq putriku dinyanyikan lagu seperti itu sih Ma?" protes Rival, Dia tidak suka Mamanya meninabobokan putrinya dengan lagu itu.


"Emang kenapa? lagunya bagus, Mama ingin cucu Mama ini jadi penyanyi terkenal. Makanya dari sekarang Mama ingin mengajarinya lagu Batak. Suara orang Batak itu bagus-bagus." Jawab Mama Maryam masih terus melanjutkan lagunya.


"Iya sih Ma, tapi akan lebih bagus lagi, kalau putriku ini punya suara bagus dalam mengaji. Kalau Dia mau, Aku akan mengarahkannya jadi Hafidzah."Jawab Rival meraih putrinya dari Mamanya. Dia pun memberikan sufor kepada putrinya itu, sambil mengaji. Tentunya suara Rival sangat merdu.


"Oohh... itu bagus juga. Rival, kalau bisa kita pulang saja hari ini. Disini juga keperluan kita serba terbatas. Mama sedikit capek. Lagian, dua hari lagi. Ayahmu sudah tujuh hari wafat. Apa kita tidak mengadakan acara pengajian di rumah?" tanya Mama Maryam dengan sedih, air mata sudah jatuh dipipinya.


"Ma, pelan sedikit bicaranya. Nanti Mely dengar, Aku takut Mely nanti tambah down jikalau mengetahui berita itu." Bisik Rival kepada Mama Maryam, kini mereka sedang duduk di sofa dengan posisi bersebelahan.


"Ma, Mely mau ke kamar mandi." Suara Mely mengangetkan Rival dan Mama Maryam. Apa Mely mendengar percakapan mereka.


"Sana temani Mely kekamar mandi. Biar Mama yang kasih cucuku yang cantik ini mimik susu." Ucap Mama Maryam. Rival pun dengan senang hati memberikan putrinya itu kepada Mama Maryam. Dia berjalan cepat menghampiri istrinya yang masih merajuk itu.


"Mas gendong ya sayang.!" ucap Rival dengan terseyum, Dia sudah tidak sabar untuk menggendong istrinya itu. Mely mengangguk. Rival bersorak riang dalam hati, sepertinya istrinya itu sudah tidak marah kepadanya.


Rival melingkarkan tangan kirinya dipunggung Mely, dan tangan kanannya diletakkan dibawah pahanya Mely. Dengan tersenyum Dia pun menggendong Mely ke dalam kamar mandi. Mely hanya diam, tapi wajahnya memerah. Sebenarnya Dia sangat merindukan sentuhan suaminya itu. Tapi, Dia belum bisa memaafkan Rival. Atas sikapnya yang memilih untuk menjumpai mantan istrinya.


"Sebaiknya Adek sekalian mandi saja ya? biar Abang yang mandiinnya." Ucap Rival, mulai menampung air ke ember. Karena rumah sakit itu masih tergolong kecil. Maka tidak ada pilihan air panas di krannya.


Mely mengangguk, sebagai jawaban Dia mau mandi. Tapi Dia tidak mau dimandikan oleh Rival. Dia merasa canggung, sekaligus malu. Apalagi sekarang bodynya tidak bagus lagi. Terutama dibagian perut yang nampak masih besar.


"Sebentar ya sayang, Mas cariin air panas dulu. Disini airnya dingin sekali. Adek tidak akan tahan." Rival pun keluar dari kamar mandi. Berniat menampung air panas dari dispenser yang ada dikamar itu.


"Kamu ngapain?" tanya Mama Maryam, melihat Rival menampung air panas dari dispenser menggunakan gayung lalu menampungnya di ember.

__ADS_1


"Mau tampung air panas Ma. Untuk mandinya Mely." Jawabnya masih menunggu gayungnya


penuh.


"Ambil yang di termos aja. Nanti Mama minta perawat isinya lagi." Titah Mama Maryam. Rival pun membawa ember yang berisi sedikit air panas dan termos ke dalam kamar mandi.


Dia pun mulai menyiapkan air mandinya MeLy.


"Biar Aku saja, Aku bisa membukanya." Ucap Mely canggung, disaat Rival membantunya melepas semua pakaiannya. Empat bulan berpisah, rasanya sulit dijelaskan disaat pasangan kita, bersikap intim seperti ini.


"Tidak apa-apa, biar cepat sayang." Jawab Rival lembut. Dia pun mulai membantu Mely melepas pakaian Mely termasuk korset dan dalaman Mely.


"Sudah, biar Aku saja. Aku itu bau amis. Mas tunggu disitu saja. Nanti jika aku butuh bantuan, Aku panggil." Ucap Mely masih malu dan enggan.


Rival sangat kecewa dengan penolakan istrinya itu. Dia sebenarnya tidak mempermasalahkan, istrinya yang merasa bau itu. padahal Mely sama sekali tidak bau. Dia malah merasa saat ini Mely semakin cantik saja. Kulit Mely nampak semakin bersih setelah melahirkan. Walau memang perutnya Mely masih sedikit besar. Karena belum kempes. Akibat rahim yang belum mengecil.


Akhirnya Rival memilih mengalah, dengan berdiri dipojokan menyaksikan Mely yang mandi sendiri yang bagian tubuhnya dari dada sampai lutut ditutupinya dengan kain salin. Sungguh Mely sangat malu kepada Rival saat ini.


Mely kesusahan untuk membersihkan punggungnya. Rival tidak tega melihatnya. Akhirnya Dia bergerak ke arah Mely dan langsung meraih sabun dari tangan Mely. Yang membuat Mely sedikit terlonjak kaget.


"Kenapa malah kemari, Aku bisa sendiri." Ucap Mely, merasa kesal sekaligus senang. Rival mengerti kalau Dia butuh bantuan.


"Kalau Adek mandi sendiri, jadi lama. Adek tidak boleh kelamaan berdiri. Biar Mas yang sabunin badan Adek, sekarang Adek diam saja." Ucap Rival dan langsung menyingkirkan kain salin yang menutupi tubuhnya Mely. Yang membuat Mely malu dan langsung menutup bukit kembar bagian atasnya dengan tangan kanannya. Dan menutup lembah yang berawa-rawa bagian bawahnya dengan tangan kirinya.


Sungguh, Mely merasa sangat malu saat ini kepada Rival. Beda dengan dirinya yang dulu yang selalu berani dan liar kepada Rival.


Rival sudah menyabuni semua tubuh istrinya itu. Jangan tanya, bagaimana kondisi si Ucok kecilnya didalam balik celananya. Meronta-ronta. Apalagi, bukit kembar istrinya itu nampak semakin besar dan berisi. Tapi, Dia harus bisa menguasai dirinya. Istrinya baru satu hari melahirkan. Dia tidak boleh mengikuti hawa nafsunya, yang sudah puasa selama empat bulan. Ditambah lagi Dia akan puasa sampai nifas nya Mely habis.


Rival membuang pikiran mesumnya itu, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku mau disentuh begini. Karena Aku sedang tidak punya tenaga untuk berdebat. Jangan Mas kira Aku sudah memaafkan Mas." Ucap Mely tegas memperhatikan Rival yang menggosok kakinya. Rival pun akhirnya mendongak untuk melihat wajah istrinya yang bicara seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2