
"Iya, tapi kamu jangan ngebut dek," ucap Yusuf dengan takutnya, Yusuf sampai memegang handle pegangan tangan atas mobil windi atau hand grip.
"Ini semua gara-gara Abang," ucap Windi lalu melirik Yusuf sebentar dan kembali fokus memacu mobilnya.
"Kenapa gara-gara abang?" tanya Yusuf dengan bingungnya.
"Coba waktu itu Abang mau ceritakan kondisi Abang Yasir, mungkin Rili tidak akan menikah dengan pria yang tidak dicintainya," ucap Windi kesal dan menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.
"Jangan ngebut dek, Abang belum mau mati, Abang belum kawin. Abang tahu Abang pasti masuk surga di akhirat. Tapi, Abang juga masih pingin merasakan surga dunia!" ucap Yusuf spontan. tapi, masih tetap dengan ekspresi ketakutan karena Windi mengendarai mobilnya dengan kecepatan 100km/jam.
Windi yang ngebut itu, tiba-tiba ngerem mendadak. Dia terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria yang nampak Sholeh itu.
"Dasar laki-laki kawin aja yang diotaknya," gumam Windi dalam hati.
Windi yang tiba-tiba ngerem membuat badan Yusuf oleng dan hampir terjedot ke dashboard mobil.
"Kenapa tiba-tiba ngerem dek?" ucap Yusuf dengan kesal sambil memegang dadanya yang kembang kempis karena napasnya tidak teratur tersebut karena ketakutan.
Jarak rumah Rili dan Windi adalah 20 KM. Dan untuk sampai ke rumah Rili dari rumah Windi, tidak melulu melewati tempat Ramai atau perkampungan yang terdapat dipinggir jalan, tapi ada perkebunan sawit dipinggir jalan yang harus dilintasi. Saat melintasi perkebunan inilah Windi ngebut, karena suasana jalan yang sepi.
"Aku terkejut mendengar ucapan Abang!" ucap Windi dan kembali memacu mobilnya dengan langsung tancap gas. Sehingga Yusuf dibuat oleng lagi yang badannya terbentur kuat kebelakang masih dalam posisi duduk di jok mobil.
"Astaga...... Ini benar-benar ya perempuan membuat adrenalinku terpacu. Sepertinya dia punya tenaga extra. Apa wanita ini nantinya sangat agresif di ranjang?" gumam Yusuf dalam hati. Bibirnya tersenyum sedikit membayangkan apabila Windi menjadi istrinya.
Windi melirik ke arah Yusuf, Dia heran melihat Yusuf yang senyum-senyum kepadanya.
"Apa? kenapa senyum-senyum?" tanya Windi ketus.
"Tidak apa-apa, konsentrasi aja dek nyetirnya." ucap Yusuf dan mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil sambil senyum-senyum.
"Apa Abang Yasir akan datang?" tanya Windi.
__ADS_1
Yusuf yang sedang melamun hanya menjawab pertanyaan Windi dengan.
"Eehhmmmm...!"
"Syukurlah, sebelum akad nikah dimulai kita harus sampai kesana." Ucap Windi.
"Eehhmmmm...!" ucap Yusuf masih dengan ekspresi wajah yang senyum-senyum dan tidak mau melihat ke arah Windi.
🌻🌻🌻
Di kediaman Rili nampak orang sudah ramai berkumpul. Kali ini pak KUA juga hadir dalam acara pernikahan Rili. Pak KUA juga sudah berkhutbah tentang pernikahan yaitu kewajiban dan hak suami dan istri.
"PERNIKAHAN adalah ikatan kuat dan suci antara laki-laki dan perempuan. Ikatan yang akan terus berlangsung dari dunia hingga akhirat kelak. Karenanya, pernikahan tak akan luput dari berbagai ujian dan cobaan. Hanya pernikahan berlandaskan iman yang abadi." Lanjut Pak KUA memberi peringatan kepada kedua calon mempelai.
"Karena syarat rukun nikah sudah lengkap dan hanya tinggal syarat kelima yaitu ijab kabul. Maka sebaiknya acara kita mulai saja." Ucap Pak KUA dengan tegas dan penuh wibawa.
"Bagaimana pak Ridwan, nak Rival. Apa sudah bisa kita mulai ijab kabulnya?" ucap Pak KUA.
Rival sangat gugup, jantungnya berdetak cepat. Dia grogi, Dia merasa tubuhnya sudah panas dingin.
"Aku harus tenang, tarik napas" ucap Rival dalam hati. Dia berdoa dalam hati agar bisa sekali ucap kabul langsung benar dan di sah kan oleh saksi.
Dia tidak mau mengalami kejadian seperti yang dialami kawannya sewaktu merantau di Batam. Dimana ijab kabul selalu salah dan di ulang-ulang sehingga mempelai pria di suruh berwudhu. Walau sudah berwudhu tetap saja salah ucap kabul. Kemudian pengantin pria disuruh mandi dan akhirnya bisa juga kawannya mengucap kabul tersebut, tapi tentunya temannya itu jadi perbincangan orang di acara akad nikah tersebut
"Insyaallah saya sudah siap pak!" ucap Rival dengan tersenyum.
Rival sangat tampan hari ini. Dia memakai stelan jas hitam dipadu dengan kemeja putih dan memakai peci warna hitam. Tak heran ibu-ibu yang ikut dalam acara ijab kabul tersebut. Berbisik-bisik memuji ketampanan Rival.
Pujian untuk Rival juga bertambah, karena Rival juga baru selesai melantunkan ayat suci Alquran dengan merdunya .
Rili juga tak kalah cantiknya hari ini, Dia memakai kebaya brokat bertabur swaroski warna putih dipadu dengan kain Songket Palembang warna merah. Rili juga berada diruangan tersebut. Tepatnya dibelakang Rival yang berjarak satu meter dengannya.
__ADS_1
Kalau Rival nampak begitu bahagia dan selalu tersenyum, beda lagi dengan mempelai wanitanya yaitu Rili.
Wanita itu tampak tidak bersemangat, ekspresi wajahnya datar. Tidak nampak bahagia, tapi tidak nampak bersedih. Dia malah memikirkan mimpinya tadi malam.
"Benarkah Abang Yasir akan datang di hari pernikahanku ini dan membawaku pergi?" gumamnya dalam hati. "Tapi, kalau itu terjadi, ku harap ayah ibu tidak kecewa. Apakah aku akan sanggup membatalkan pernikahan ini seumpama mimpiku menjadi nyata?" gumamnya lagi dalam hati.
Rili teringat wejangan Pak kuA, yang membuat Rili semakin setres dan sedikit pucat, Pernikahan adalah ikatan suci yang terus berlangsung dari dunia sampai akhirat. Kalimat itulah yang terngiang-ngiang di otaknya.
"Apa yang harus kulakukan, apabila mimpiku semalam menjadi nyata?" tanyanya dalam hati.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap Ayah Rili.
"Saya nikahkan engkau Rival Youman bin Ahmad Rusyidi dengan putri kami Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 20 juta rupiah dibayar, tunai!"
"Saya terimah nikah dan kawinnya Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!" ucap Rival dengan tegas dan lantang.
"Tunggu.....!" Ucap seorang pria dari luar dengan berteriak. Dia nampak memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, sehingga ada beberapa kaum bapak-bapak yang kakinya sedang bersila kena kaki pria itu saat berjalan tidak hati-hati.
Rili yang mendengar suara teriakan dari luar, dibuat panik dan takut. Dia merasa mimpinya menjadi nyata.
Saking takutnya, Rili tidak berani memutar lehernya kebelakang untuk melihat pria yang berteriak tersebut.
"Kenapa begini nasibku Ya Allah? kenapa Dia datang disaat seperti ini? Ya Allah, Aku pasrahkan semuanya padaMU!" ucap Rili dan kemudian wanita itu ambruk, Dia pingsan, dan tubuhnya bersandar di bahu Tante Mirna yang berada tepat disamping Rili duduk
Melihat mempelai wanita pingsan, ditambah kedatangan seorang pria yang mencoba menghentikan pernikahan. Sehingga jawaban dari saksi belum sempat keluar yaitu kata Sah!
Bersambung.
Mohon beri like, coment,vote dan rate bintang 5, serta jadikan novel ini favorit.
Terimah kasih
__ADS_1