
"Ooohh... itu. Iya, Abang memang melakukannya." Ucap Yasir dengan wajah serius. Hatinya juga sedang bertanya-tanya. Kenapa Rili membahas darah yang di seprei.
"Dasar, Lelaki brengsek..., tidak punya akhlak, teganya Abang lakukan ini samaku." Ucap Rili sambil menangis. Dia meremas keras seprei tempat tidurnya.
Yasir mendekat, dan mendudukkan bokongnya dipinggir ranjang.
"Bukannya Adek yang memaksa Abang semalam. Adek bilang, sangat merindukan Abang. Terus Adek minta dicium disini, disini, disini. Dan semuanya yang ditubuh Adek " Ucap Yasir genit sambil menunjuk bibir, leher, dan dada.
Rili nampak berpikir. Dia diam. tapi, air mata terus saja mengalir. Memang benar yang dikatakan Yasir, Dia bermimpi aneh sewaktu pingsan. Dia bermimpi merayu Yasir. Bahkan dimimpi itu Dia sangat agresif. Dan begitu bahagia. Dia merasa seperti terbang ke awang-awang. Ringan, tenang, damai. Dia seperti kecanduan dengan rasa nikmat dari setiap sentuhan yang diberikan Yasir dalam mimpinya.
"Itu, tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu. Aku tidak mungkin berzina. Apa yang harus kulakukan. Semua orang pasti membenciku." Gumam Rili dalam hati. Dia sekarang terduduk, dengan kaki berseloncor yang masih ditutupi selimut. Dia tidak berani menatap Yasir. Wajah Rili nampak panik dan menyesali semuanya.
Yasir tidak tahan melihat ekspresi wajah Rili yang benar-benar sedang bersedih itu.
"Sudah, jangan menangis. Abang akan bertanggung jawab." Ucap Yasir, tangan kanannya bergerak melap air mata Rili yang membanjiri pipinya.
Rili menepis tangan Yasir. "Kenapa...? Kenapa...? Abang selalu membuatku menderita. Kenapa Abang lakukan itu kepadaku? Aku sudah menikah. Dan Abang juga sudah menikah. Kenapa Abang membuatku menjadi wanita yang tidak berharga lagi Dimata suamiku." Ucap Rili, Dia menunduk, dan menangis.
"Tidak pernah, ada niat Abang untuk membuatmu menderita. Bahkan, dari dulu tujuan hidup Abang hanya satu. Yaitu membahagiakanmu." Ucap Yasir, Dia nampak mengelus rambut Rili.
"Jangan sentuh Aku." Ucap Rili sambil menepis tangan Yasir.
"Tenang ya dek, tarik napas. Perhatikan bagus-bagus tubuhmu. Abang sangat mencintaimu. Walau kamu mengatakan sudah menikah. Abang akan tetap menjadikanmu milik Abang. Abang mengambil makanan dulu." Yasir pun keluar dari kamarnya, Dia berjalan cepat menuju dapur.
Sepanjang perjalanan menuju dapur. Yasir berfikir keras. Dia yakin, pernikahan Rili ada yang tidak beres. Kenapa Dia sangat terkejut, ada darah dibawah tubuhnya. Berarti Rili masih perawan?" gumam Yasir dalam hati.
Rili mencerna ucapan Yasir. Dia menggerakkan bokongnya untuk mengubah posisi duduknya. Betapa terkejutnya Dia melihat darah keluar sedikit mengental dari kemalu*annya.
"Apakah Aku datang bulan?" Ucap Rili sambil memeriksa *********** dengan jarinya.
Darah kembali lengket dijarinya. "Iya, Aku menstruasi. Ya Allah. Betapa bodohnya Aku." Ucap Rili. Dia begitu paniknya, karena dipengaruhi oleh mimpinya yang seperti nyata itu.
Rili pun turun dari ranjang dengan terpincang-pincang. Hanya memakai baju kaos dari Yasir, yang panjangnya Hanya menutup bokongnya saja. Dia masuk kedalam kamar mandi. Dia begitu takjub melihat desain interior kamar mandi Yasir yang begitu mewah.
Mulutnya menganga melihat kamar mandi Yasir. "Ini kamar mandi bagus banget." Ucap Rili. Dia pun berjalan pelan, karena kakinya sebelah kanan masih sakit. "Luas kamar mandinya aja seluas rumah kami." Ucap Rili lagi sambil geleng-geleng kepala.
Rili tidak menyukai kamar mandi orang kaya. Karena tidak ada gayung dan bak penampungan air. Semua pakai kran atau shower.
"Dia pun mengambil kran cebok dan mengarahkannya kekemaluannya. Dia menekannya terlalu kencang. Sehingga, tekanan air yang keluar banyak dan keras. Yang membuat Dia terkejut.
__ADS_1
Yasir, masuk ke dalam kamar. Dia tidak mendapati Rili di kamar tersebut. Dia memanggil-manggil nama Rili. Tapi, tidak ada sahutan. "Apa Dia dikamar mandi?" Gumam Yasir. Dia pun berniat menunggu Rili keluar dari kamar mandi.
Ceklek..
Rili keluar dari kamar mandi. Dengan kondisi baju bagian bawahnya basah. Rili memang sedikit kolot. Karena Dia dari keluarga miskin. Dia memang pernah menggunakan fasilitas kamar mandi yang modern, saat Tim kerja mereka melakukan studi banding. Dan menginap di hotel. Tapi, sungguh Dia lebih suka kamar mandi yang ada bak penampungan airnya.
Rili menepis-nepis bajunya yang basah, sambil berjalan sedikit pincang. Dia tidak mengetahui bahwa Yasir dari tadi melihatnya.
"Kenapa jadi basah semua?" tanya Yasir. Dia nampak berjalan mendekati Rili.
"Stop...Stop disitu. Jangan dekat-dekat." Ucap Rili. Dia sekarang jadi bingung. Kemana istrinya Yasir. Kenapa Yasir dari tadi mengurusi dirinya terus.
"Baiklah. Sini Adek makan dulu, baru minum obat. Terus istirahat." Ucap Yasir dengan tersenyum.
Rili diam saja berdiri didekat ranjang.
Setelah Dia memeriksa alat reproduksinya tadi di kamar mandi. Dia baru yakin, kalau Dia sedang menstruasi. Keyakinannya itu diperkuatnya, karena ini memang tanggalnya Rili menstruasi. Siklus menstruasinya selalu pas 30 hari. tidak pernah maju, malahan mau mundur Samapi 2-4 hari kalau Dia sedang setres.
"Koperku dimana?" tanya Rili sambil berdiri. Dia ingin memakai celana, karena darah dari kemalu*annya sudah terasa mau keluar. Dia sudah merasa tidak nyaman.
Dia tidak mungkin duduk. Kalau Dia duduk, maka darah haidnya akan menempel ditempat Dia mendudukkan bokongnya.
Rili sebenarnya sudah tidak tahan lagi berdiri. Dia juga merasa perut bagian bawahnya semakin sakit, ditambah Dia pun merasa demam. Tapi, Dia bingung. Bagaimana caranya mengatakan kepada Yasir, kalau Dia membutuhkan celana dalam dan pembalut. Dia malu.
Yasir nampak berjalan ke arahnya. "Tolong, jangan mendekat. Aku istri seseorang. Tolong hargai Aaakuu!" ucap Rili bingung dan takut.
"Iya, Kamu akan menjadi mantan istri seseorang." Ucap Yasir tegas dan menarik lengan Rili. Rili melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Yasir.
"Ayo duduk, kita makan. Abang juga sangat lapar." Ucap Yasir. Yasir pun memegang kedua bahu Rili dan hendak mendudukkan Rili.
"Jangan..!" Ucap Rili histeris. Dia sudah tidak nyaman sekali. Karena darah haidnya nampak mengalir di pahanya. Ya, darah haid Rili sangat deras kali ini.
Rili merapatkan kedua pahanya, sedangkan kedua tangannya memengangi perut bagian bawahnya yang sakit dan kram itu.
"Adek kenapa? kenapa darah mengalir dipaha Adek?" Ucap Yasir dengan paniknya. Dia pun berjongkok dihadapan Rili. Dia ingin memeriksa asal darah yang mengalir tersebut.
Dia takut, ada tubuh Rili yang terluka parah, yang tidak diperiksa Dokter.
__ADS_1
Rili mundur dua langkah, Dia menjauhkan tubuhnya dari Yasir yang sedang berjongkok.
"Aku tidak apa-apa?" Ucap Rili dengan gugup dan keringat dingin. Ya, Rili kalau datang bulan. selain perut sakit. Dia juga sering keringat dingin. Dia mengalami Dismenorea ringan.
"Adek kenapa? jangan membuat Abang tambah panik. Itu wajah Adek sudah pucat. Tubuhmu juga demam. Terus darah kenapa mengalir dipaha adek?" Ucap Yasir dengan begitu khawatirnya Dia masih berjongkok di hadapan Rili, dengan wajah mendongak.
"Sini Abang periksa." Ucap Yasir dan dengan cepat membuka kedua paha Rili. Rili terkejut sehingga Dia hendak terjatuh saat Yasir membuka paksa pahanya. Tapi, dengan cepat Yasir menangkap tubuh Rili, sehingga kini Rili berada di gendongan Yasir.
Yasir menatap lekat kedua mata Rili yang masih nampak bengkak itu. Rili mengalihkan pandangannya. Tangannya menahan kaos yang dikenakannya, yang hendak tersingkap ke atas.
Yasir membaringkan Rili ditempat tidur, yang sudah ada bercak dari haid Rili.
"Kenapa tadi tidak dipakai trainingnya ?" Ucap Yasir setelah Dia membaringkan Rili, kemudian menutupnya dengan selimut.
"Sebenernya Aku datang bulan." Ucap Rili gugup dan malu.
"Apa itu datang bulan." Tanya Yasir dengan polosnya. Dia memang tidak tahu datang bulan.
Rili bingung harus menjelaskannya. "Datang bulan itu, ada darah keluar dari alat reproduksi wanita." Ucap Rili, Dia pun memalingkan wajahnya karena malu.
"Oohh... Adek sedang Menstruasi?" tanya Yasir dengan mimik wajah tersenyum.
Rili mengangguk. "Itu Abang tahu. Tadi kenapa tidak tahu." Ucap Rili kesal. Dia merasa dikerjai Yasir.
"Abang tahunya Menstruasi atau haid. Karena dulu waktu sekolah guru Biologi Abang bilangnya Menstruasi atau haid. Gak pernah sebut datang bulan." Jawab Yasir.
"A...ku membutuhkan ce..lana daalaam, Pemmbalut juga." Ucap Rili dengan terbata-bata.
"Ya udah, pakai celana dalam Abang saja. Bentar Abang ambilkan." Ucap Yasir. Dia pun bergerak ke ruang ganti untuk mengambil underwearnya.
Yasir datang membawa banyak celana dalam. "Mau pakai yang mana? Yang sudah pernah Abang pakai? atau yang masih disegel?" Ucap Yasir, sambil memamerkan berbagai model celana dalamnya kepada Rili. Ada jenis brief, jockstrap, boxer, trunk, dan low rise.
"Yang ini, atau yang ini?" Yasir pun memperagakan seperti Abang-abang penjual pakaian dalam yang sering Rili lihat dipasar, yang membuatnya tertawa.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak! Karena itu adalah amunisi untuk membuat semangat menulis.
__ADS_1
Terima kasih